NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenggelam dalam peran

“Bahuku menopang banyak hal bukan hanya milikku, tapi juga milik banyak orang. Namun dengan lantang aku tersenyum, menipu dunia bahwa aku tak apa.”

***

Makan malam itu berjalan lebih lama dari yang Nala perkirakan.

Awalnya ia mengira percakapan akan terasa kaku dan penuh jebakan. Namun justru sebaliknya—alurnya mengalir mulus. Dari topik desain, bisnis, hingga pandangan tentang masa depan industri kreatif. Nala menjawab dengan tenang, ritme bicaranya stabil, pemilihan katanya hati-hati namun terdengar natural.

Ia benar-benar tenggelam dalam peran itu. Bukan lagi sekadar menghafal. Ia menyesuaikan ekspresi, menata jeda, bahkan sesekali menyelipkan humor ringan yang elegan—seperti yang pernah ia lihat dalam video Arsha.

Dan Erlic memperhatikannya.

Bukan sekadar mendengar.

Mengamati.

Menilai.

Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari wajah Nala, seolah mencari retakan kecil pada topeng yang ia kenakan. Namun malam itu, Nala hampir tanpa cela.

“Kamu berubah,” ujar Erlic pelan sambil menyandarkan tubuhnya. “Lebih… menarik.”

Itu bukan pujian biasa.

Ada nada penasaran di dalamnya.

Nala tersenyum tipis. “Orang memang berkembang.”

Jawaban yang aman.

Jawaban yang tidak memberi celah. Erlic terkekeh pelan. Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan di dalamnya sebelum berbicara lagi.

“Aku tidak suka dibohongi.”

Kalimat itu diucapkan santai. Terlalu santai. Namun udara di antara mereka mendadak terasa lebih berat.

Nala tidak langsung bereaksi. Hanya menatapnya dengan tenang, alisnya terangkat tipis seolah tak memahami maksudnya.

“Bohong tentang apa?” tanyanya lembut.

Erlic tersenyum—senyum yang sulit ditebak maknanya.

“Secara umum saja,” jawabnya ringan. “Dalam hidup. Dalam bisnis. Dalam hubungan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

“Tapi… terkadang permainan menjadi jauh lebih menarik ketika ada kebohongan di dalamnya.” Jantung Nala berdetak satu kali lebih keras.

Ia tahu. Ia sangat tahu pria di hadapannya tidak berbicara sembarangan.

Namun ia tetap menjaga ekspresi. “Aku tidak suka permainan yang terlalu rumit,” balasnya halus.

“Sayangnya,” kata Erlic pelan, “aku justru menyukainya.”

Hening sesaat.

Tatapan mereka saling mengunci. Bukan tatapan dua calon pasangan yang sedang jatuh cinta. Melainkan dua pemain yang sama-sama sadar papan catur sudah disiapkan.Dan Erlic, tanpa menyebut nama Nala atau Arsha, tanpa membongkar apa pun secara langsung, sudah menyatakan sikapnya.

Ia tahu.

Ia tidak suka dibohongi.

Namun ia memilih untuk tidak menghentikannya.

Ia akan mengikuti permainan ini.

Karena di balik ketenangan Nala, di balik kecerdikan dan usaha kerasnya memainkan peran, Erlic menemukan sesuatu yang tidak ia duga—Ia tertarik.

Bukan pada Arsha yang seharusnya ia nikahi. Melainkan pada perempuan yang duduk di hadapannya sekarang. Perempuan yang berbohong dengan begitu indah dan tetap mampu menatapnya tanpa gemetar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nala menyadari bahwa permainan ini mungkin tidak hanya berbahaya. Tapi juga mulai menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar sandiwara.

***

Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Baskara.

Malam sudah semakin larut. Lampu taman menyala temaram, menerangi langkah Nala saat ia turun dari mobil. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, atau mungkin hanya perasaannya saja yang belum sepenuhnya tenang setelah makan malam penuh permainan tadi.

Erlic keluar sebentar, berjalan mengitari mobil hingga berdiri di hadapannya.

“Terima kasih untuk malam ini,” katanya pelan.

Nada suaranya tenang, tapi tatapannya masih sama—tajam dan penuh arti tersembunyi.

Nala membalas dengan senyum elegan. “Aku juga menikmatinya.”

Sebuah kebohongan kecil lagi.

Erlic menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu berkata lirih, “Sampai jumpa… Arsha.”

Ada penekanan yang nyaris tak terdengar pada nama itu. Nala menahan napas sepersekian detik, namun tetap mempertahankan ekspresinya. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu tertutup, senyum itu luruh.

Langkahnya belum sampai ke ruang tengah ketika suara Baskara sudah terdengar.

“Kamu dari mana saja?”

Nala berhenti.

Baskara berdiri di dekat tangga, wajahnya datar seperti biasa. Tidak marah. Tidak hangat. Hanya dingin dan penuh perhitungan.

“Erlic mengajakku makan malam,” jawab Nala tenang.

“Aku tahu.”

Jawaban singkat itu membuatnya menegang.

Baskara melangkah mendekat. “Mulai besok kamu pindah ke sini.”

Kalimat itu diucapkan tanpa jeda. Tanpa diskusi.

Nala mengangkat wajahnya. “Apa?”

“Kamu tidak bisa terus bolak-balik,” lanjut Baskara. “Terlalu berisiko. Kalau Erlic datang mendadak lagi dan kamu tidak ada di sini, semuanya bisa hancur.”

Nala menggeleng pelan. “Aku tidak bisa pindah begitu saja. Kala masih di rumah. Kalau aku tiba-tiba pergi, dia akan bertanya. Aku harus menjelaskan apa?”

“Itu bukan urusanmu.”

Jawaban Baskara cepat dan tajam.

“Aku akan mengatur semuanya.”

“Tapi—”

“Papah tidak mau dengar alasan.”

Kata “Papah” terdengar asing di telinga Nala, apalagi ketika diucapkan dengan nada sedingin itu.

“Hari ini kamu beruntung,” lanjut Baskara. “Kebetulan kamu ada di sini saat Erlic datang. Bagaimana kalau tidak? Apa kamu siap menanggung akibatnya?”

Nala terdiam. Ia tahu maksud “akibat” itu bukan sekadar teguran. Ini soal reputasi. Bisnis. Kesepakatan besar yang tak pernah benar-benar melibatkan perasaannya.

“Tinggal di sini adalah keputusan paling aman,” ujar Baskara tegas. “Kamu harus mulai hidup sepenuhnya sebagai Arsha.”

Kalimat itu terasa seperti vonis. Bukan hanya pindah rumah. Tapi meninggalkan satu-satunya kehidupan yang benar-benar ia miliki bersama Kala.

Nala menunduk. Dadanya terasa sesak.

Ia ingin berteriak lagi.

Ingin mengatakan bahwa ia punya adik yang menunggunya pulang. Punya rumah kecil yang meski sederhana, adalah tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Namun di hadapan Baskara, semua itu seperti tidak berarti.

“Aku akan mengatur agar terlihat wajar,” tambah Baskara. “Kamu hanya perlu menurut.”

Hanya perlu menurut.

Selalu begitu.

Nala perlahan mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya kembali menekan kulit telapak. Jika ia pindah ke rumah ini…Maka ia benar-benar kehilangan Nala. Yang tersisa hanya Arsha.

Dan malam itu, di bawah lampu rumah besar yang terasa begitu asing, Nala menyadari bahwa permainan ini semakin menelannya. Bukan hanya identitasnya. Tapi juga satu-satunya tempat yang membuatnya merasa punya keluarga.

***

Keputusan itu masih bergema di kepalanya saat Nala melangkah keluar dari rumah besar Baskara.

Ia tidak berdebat lagi.

Tidak memohon.

Tidak juga menyetujui sepenuhnya.

Ia hanya berkata pelan bahwa ia perlu waktu—lalu memesan taksi dari ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di kursi belakang taksi yang melaju meninggalkan kawasan elite itu. Gerbang tinggi dan lampu taman yang tertata rapi perlahan menjauh di kaca belakang.

Nala bersandar lemah.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak perlu tersenyum.

Tidak perlu menjaga postur.

Tidak perlu menjadi siapa pun.

Kota malam terbentang di luar jendela. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, kaca-kacanya memantulkan cahaya lampu seperti bintang buatan manusia. Jalanan ramai, lampu kendaraan berderet seperti garis cahaya tak berujung.

Indah.

Berkelas.

Gemerlap.

Dunia yang beberapa minggu terakhir memaksanya masuk tanpa persiapan. Nala menatap semuanya tanpa benar-benar melihat. Pikirannya kembali pada satu kalimat— Kamu harus mulai hidup sepenuhnya sebagai Arsha.

Sepenuhnya.

Berarti meninggalkan rumah kecilnya.

Berarti meninggalkan Kala. Berarti meninggalkan satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas tanpa topeng.

Dada Nala terasa semakin sesak. Ia mencoba menahan. Menarik napas panjang. Menegakkan bahu seperti biasanya.

Tapi malam ini terlalu berat.

Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca jendela taksi—wajah yang tadi tampil sempurna di restoran, yang tadi berdiri tegak di hadapan Baskara.

Kini terlihat rapuh.

Tanpa ia sadari, air mata itu jatuh.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Ia tidak terisak. Tidak bersuara.

Air mata itu hanya mengalir pelan, mengikuti garis pipinya, seolah tubuhnya tak lagi mampu membohongi keadaan.

Ia lelah.

Lelah menjadi bayangan.

Lelah menekan perasaan.

Lelah berpura-pura kuat.

Lampu-lampu kota terus berpendar di luar sana, seolah tak peduli pada satu perempuan yang duduk diam di kursi belakang taksi, sedang perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Nala mengusap air matanya cepat ketika sopir sempat melirik melalui kaca spion. Ia memalingkan wajah, kembali menatap keluar.

Kota tetap indah. Tapi malam itu, bagi Nala, semuanya terasa dingin. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut—Takut suatu hari nanti ia tak lagi ingat bagaimana rasanya menjadi dirinya sendiri.

1
Sopo Jarwo
lanjuttt thooooor
Qilass
jangan lupa di like, Komen sama di vote dong gengs. biar aku semangat up nya
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!