NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Perubahan Sikap Ibu Adrian

Rombongan penelitian akhirnya bergerak meninggalkan area penginapan menuju jantung hutan Bukit Lawang yang lebih dalam.

Udara pagi yang lembap dan aroma tanah basah menyambut langkah mereka. Karena lokasi penelitian berada di titik yang cukup ekstrem, diputuskan bahwa mereka akan berkemah di puncak bukit selama tiga hari dua malam.

Nenek Adrian dan Sarah, demi keamanan dan kenyamanan, diantar terlebih dahulu menuju kediaman Kepala Suku.

Rumah panggung besar yang kokoh itu akan menjadi tempat menginap mereka sementara waktu, karena medan menuju puncak bukit dianggap terlalu berisiko bagi lansia.

Aurora benar-benar telah bertransformasi kembali menjadi sosok pemimpin yang tangguh.

Pagi itu, ia mengenakan outfit sporty yang pas di tubuhnya—celana cargo teknis berwarna pasir dan kaos dry-fit premium yang tetap menonjolkan sisi femininnya.

Rambut hitam tebalnya diikat tinggi satu (pony-tail) sejajar dengan pangkal kepala, mengekspos leher jenjang dan garis rahangnya yang tegas namun cantik.

Setiap langkahnya di jalur setapak hutan terlihat begitu ringan dan terlatih. Pesonanya bukan lagi sekadar kecantikan kota, melainkan aura wanita mandiri yang menguasai medan.

Ibu Adrian, yang selama bertahun-tahun melihat Aurora dengan kacamata penuh tuntutan, kini mulai membuka matanya. Beliau berjalan di samping Aurora, sesekali menerima bantuan tangan Aurora saat melewati akar pohon yang besar.

"Aurora, Tante benar-benar minta maaf soal kejadian asam lambungmu kemarin ya," ucap Ibu Adrian dengan nada yang jauh lebih lembut, hampir seperti seorang ibu yang merangkul anaknya sendiri.

"Tante baru sadar, selama ini Tante terlalu banyak menuntut padahal kamu sudah memberikan segalanya."

Aurora tersenyum tulus, sebuah senyuman yang membuat hati Ibu Adrian terasa sejuk.

"Sudahlah, Tante. Yang penting sekarang Tante sehat dan penelitiannya bisa lancar. Itu tujuan utama saya."

Sementara itu, di barisan depan, Ayah Adrian tampak berbincang sangat hangat dengan Aurora tentang sejarah suku lokal dan konservasi hutan.

Beliau terlihat sangat bangga dan nyaman, layaknya seorang ayah yang sedang berbincang dengan putri kesayangannya yang sangat cerdas.

"Kamu tahu, Ra? Ayah selalu mengagumi cara berpikirmu. Kamu punya visi yang luas. Adrian sebenarnya beruntung pernah memilikimu," ujar Ayah Adrian tanpa saringan, membuat Adrian yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka tertunduk dengan rasa sesak yang kembali menghantam dadanya.

Adrian melihat pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia bahagia melihat keluarganya kembali diterima oleh Aurora.

Namun di sisi lain, ia menyadari betapa kontrasnya Aurora dengan Sherly yang ia tinggalkan di vila. Di sini, di bawah kanopi hutan yang megah, Aurora adalah ratu yang sesungguhnya—dicintai, dihormati, dan sangat berkompeten.

Sore hari, mereka tiba di puncak bukit yang menawarkan pemandangan spektakuler: hamparan hutan hujan tropis yang tertutup kabut tipis.

Rian dan Rico mulai sigap mendirikan tenda-tenda berkualitas tinggi yang sudah disiapkan tim Aurora.

Saat matahari mulai terbenam, suasana menjadi sangat melankolis.

Adrian berdiri di tepi bukit, menatap ke arah penginapan di bawah sana, memikirkan Sherly.

Namun, anehnya, ada perasaan hampa dan tidak nyaman yang terus menghantui pikirannya—sebuah firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.

Api unggun kecil mulai menyala, memantulkan cahaya jingga di wajah Aurora yang tampak bersinar meski tanpa riasan. Ibu Adrian perlahan mendekat, berdiri di samping suaminya yang masih asyik mendengarkan penjelasan Aurora tentang flora endemik di bukit tersebut.

Ada ganjalan aneh di hati Ibu Adrian. Ia melihat betapa akrabnya suaminya dengan Aurora, bahkan sejak tadi ia mendengar Aurora dengan sangat sopan memanggil suaminya "Ayah".

Sebuah panggilan yang terasa begitu hangat dan sakral.

"Aurora..." sela Ibu Adrian dengan nada bicara yang tidak lagi angkuh, melainkan sedikit malu-malu dan ragu.

Aurora menoleh ramah. "Iya, Tante?"

Mendengar sebutan 'Tante', Ibu Adrian sedikit meringis. Ia menunduk sebentar sebelum memberanikan diri menatap mata Aurora.

"Ra... Tante perhatikan, kamu panggil Om ini dengan sebutan 'Ayah'. Rasanya hangat sekali didengar. Tapi... kenapa ke Tante masih panggil 'Tante'? Jujur, ada rasa cemburu sedikit di hati Tante."

Ibu Adrian menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa gengsinya.

"Boleh tidak... kalau kamu panggil Tante dengan sebutan 'Ibu' juga? Seperti dulu, atau setidaknya seperti kamu memanggil Ayahnya Adrian."

Suasana mendadak hening. Adrian yang sedang menyusun kayu bakar di dekat sana langsung terhenti gerakannya.

Ia tidak menyangka Ibunya yang dulu sangat menjaga jarak dan sering meremehkan latar belakang Aurora, kini justru "mengemis" sebuah panggilan sayang dari wanita yang pernah ia sakiti.

Aurora tersenyum sangat tipis, ada kedewasaan yang luar biasa di matanya.

"Tentu, Bu. Kalau itu membuat Ibu merasa lebih nyaman."

Mendengar kata 'Ibu' keluar dari bibir Aurora, mata Ibu Adrian berkaca-kaca. Ada beban besar yang seolah luruh dari pundaknya.

Ayah Adrian kemudian berdehem, mencoba mengalihkan suasana haru menjadi perbincangan yang lebih mendalam.

"Ra, Ayah mau tanya satu hal. Ayah dengar dari Rico dan Sarah, banyak sekali pria hebat yang mencoba mendekatimu. Termasuk Bram, kolega penelitianmu yang kabarnya sangat mapan itu. Tapi kenapa sampai sekarang kamu sepertinya masih menutup hati rapat-rapat? Apa karena... trauma masa lalu?"

Ayah Adrian melirik sekilas ke arah Adrian yang kini pura-pura sibuk, ingin memastikan apakah anaknya masih punya harapan.

Aurora menatap kobaran api unggun dengan pandangan menerawang.

"Bram pria yang sangat baik, Yah. Dia mapan, cerdas, dan sangat menghargai saya. Tapi ada satu tembok besar yang tidak bisa saya lalui bersamanya."

"Apa itu, Ra?" tanya Ibu Adrian penasaran.

"Perbedaan keyakinan, Bu," jawab Aurora tenang namun tegas.

"Bram memiliki iman yang berbeda dengan saya. Setelah apa yang saya lalui, saya sadar bahwa saya butuh seseorang yang tidak hanya mencintai saya, tapi juga bisa membawa saya ke arah yang searah dengan Tuhan saya. Saya tidak ingin lagi berjuang sendirian di jalan yang bercabang."

Jawaban itu seperti petir di siang bolong bagi Adrian. Ia tahu betul bahwa ia dan Aurora memiliki keyakinan yang sama, sementara dengan Sherly... meski secara status sama, namun perilaku Sherly yang menjijikkan di balik kedok agama membuat Adrian menyadari bahwa "kesamaan agama" saja tidak cukup tanpa akhlak yang benar.

Adrian merasa jawaban Aurora adalah kode keras bahwa wanita itu sebenarnya merindukan sosok imam yang benar, namun pintu itu kini terasa tertutup baginya karena noda yang ia buat sendiri bersama Sherly.

Suasana emosional yang sempat menyelimuti puncak bukit itu seketika pecah saat Rico muncul dari balik tenda besar sambil membawa nampan berisi daging dan jagung yang baru saja selesai ia panggang.

Dengan celemek merah menyala yang entah sejak kapan dipakainya, ia melenggak-lenggok jenaka.

"Aduh, aduh! Ini kenapa jadi sesi curhat nasional di tengah hutan? Ayo, ayo! Energi galau tidak akan bikin perut kenyang, tapi protein dari panggangan Rico ini dijamin bikin awet muda!" teriak Rico dengan gaya centilnya yang khas, membuat Ibu Adrian spontan tertawa kecil.

Rico meletakkan nampan itu di atas meja lipat, lalu dengan sigap ia mengeluarkan ponselnya dan memasangnya di atas tripod kecil.

"Eits! Sebelum kita serbu makanan ini, kita butuh bukti sejarah! Kapan lagi keluarga konglomerat, keluarga peneliti, dan asisten paling cantik sejagat raya ini kumpul di puncak bukit?" Rico mengatur posisi kamera sambil terus mengoceh.

"Ayo, Ayah... Ibu... Mas Adrian, jangan mojok saja kayak cucian basah! Merapat ke Kak Aurora!"

Tanpa sadar, mereka semua menuruti perintah Rico. Ayah dan Ibu Adrian berdiri di tengah, mengapit Aurora yang tersenyum sangat tulus—senyum yang benar-benar sampai ke mata.

Adrian berdiri di samping Aurora, meski tetap menjaga jarak sopan, ia bisa merasakan aroma wangi rambut Aurora yang tertiup angin bukit.

"Satu... dua... tiga! Gaya bebas!" seru Rico sambil berlari kecil masuk ke dalam bingkai foto dan berpose peace di depan kamera.

Cekrek!

Suasana benar-benar pecah. Tawa meledak saat melihat hasil fotonya, di mana Rico sengaja membuat wajah konyol, sementara Ayah Adrian tertawa lebar hingga matanya menyipit.

Untuk sejenak, semua beban, pengkhianatan, dan drama Sherly seolah menguap terbawa angin malam Bukit Lawang.

Mereka mulai makan bersama di depan api unggun. Rico terus melemparkan candaan tentang betapa takutnya Bang Rian saat melihat ulat bulu tadi siang, yang disambut protes keras dari Rian.

Suasana begitu hangat, begitu intim, layaknya sebuah keluarga besar yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah tersesat cukup lama.

Adrian mencuri pandang ke arah Ibunya yang sedang asyik menyuapkan jagung bakar ke arah Aurora, dan Aurora menerimanya dengan senang hati.

Ini adalah pemandangan yang dulu sangat ia impikan, namun kini terasa begitu ironis karena ia sedang memilikinya di saat status mereka sudah bukan lagi siapa-siapa.

Hutan yang gelap dan dingin itu seolah menjadi saksi bahwa di tengah luka yang paling dalam pun, tawa masih bisa tumbuh jika hati mau saling membuka.

Setelah kehangatan makan malam, Rian yang memang sudah sangat mengenali karakter hutan Bukit Lawang mulai menatap ke arah kegelapan rimba dengan pandangan ahli. Ia menyesap kopi hitamnya sejenak sebelum memecah keheningan.

"Tante..." ujar Rian sambil tersenyum ke arah Ibu Adrian.

"Menjelang malam begini, justru 'pesta' hutan yang sesungguhnya baru dimulai. Ada beberapa jenis bunga anggrek hutan yang hanya mekar di jam-jam ini, aromanya sangat khas. Belum lagi satwa-satwa endemik Deli yang mulai keluar mencari makan. Kalau Ibu mau bahan penelitian yang otentik, sekarang waktunya."

Mata Ibu Adrian langsung berbinar. Semangat akademisnya terbakar seketika.

"Benarkah, Rian? Ya ampun, saya tidak boleh melewatkan ini! Ini bisa jadi poin penting di jurnal saya nanti."

Ayah Adrian yang melihat semangat istrinya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Namun, sebagai pria yang waspada, ia memberikan instruksi tegas.

"Boleh, Ibu boleh pergi. Tapi Ayah kasih izin cuma satu jam, ya? Ini malam pertama kita di hutan asing tanah Deli ini. Kita tidak tahu medannya kalau terlalu jauh di malam hari," ujar Ayah Adrian dengan nada berwibawa.

"Setuju, Yah! Satu jam sudah cukup untuk mengambil beberapa sampel dan foto," jawab Ibu Adrian antusias.

Aurora segera berdiri, mengecek senter dan perlengkapannya.

"Saya temani Ibu. Saya tahu area mana yang banyak ditumbuhi tanaman itu."

"Aku juga ikut! Lumayan buat konten penelitian!" seru Rico dengan gaya hebohnya, sementara Siska pun ikut berdiri karena merasa sangat antusias dengan suasana baru yg belum pernah dia dapatkan sebelumnya.

Akhirnya diputuskan rombongan kecil itu—Ibu Adrian, Aurora, Rico, Siska, dan dipandu oleh Rian—mulai melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan yang misterius namun indah.

Kini tinggal Ayah Adrian dan Adrian yang duduk berdua di depan api unggun yang mulai mengecil. Suasana mendadak menjadi sangat maskulin dan penuh tekanan.

Ayah Adrian menatap kobaran api, lalu menoleh ke arah anaknya yang tampak merenung.

"Adrian," panggil Ayahnya pelan.

"Duduklah lebih dekat. Ada hal yang perlu kita bicarakan sebagai sesama laki-laki, mumpung wanita-wanita itu tidak ada."

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!