NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ganti Rugi

“Aku bilang yang perlu disujud itu cuma orang mati,” ulang Mirea dengan nada datar.

Ucapan itu seperti percikan bensin ke api.

“Kamu berani menyumpahi anakku mati?!” teriak Bu Santi murka. Wajahnya memerah, dadanya naik turun menahan amarah. “Kelihatannya minta maaf saja nggak cukup!”

Ia melangkah maju satu langkah, suaranya menggema di aula.

“Aku bakal bikin keluarga Rothwell hancur!” “Jadiin kalian pelayan anakku, suruh kalian kerja buat anakku seumur hidup!”

Ancaman itu membuat suasana berubah drastis. Beberapa tamu terdiam, sebagian lain saling pandang dengan ekspresi kaget. Tekanan di udara terasa semakin berat, seolah ruangan menyempit.

Mendengar itu, Aren langsung menegang. Sorot matanya berubah bukan lagi marah, tapi penuh perhitungan.

Tak mau keluarganya benar-benar terjerumus dalam masalah yang lebih besar, Aren maju selangkah ke depan, berdiri di antara Bu Santi dan Mirea.

“Teo,” katanya cepat tapi tegas, “bawa Mirea pergi. Biar aku yang minta maaf sama Bu Santi.”

Sontak semua menoleh ke arah Aren.

Theo, Noel, bahkan Mirea sendiri terlihat terkejut. Mata mereka membelalak, jelas tak menyangka Aren akan mengucapkan itu, mengorbankan harga dirinya sendiri demi melindungi adiknya.

“Kakak kita nggak bersalah!” ujar Mirea dengan suara bergetar.

Ia menatap Aren dengan wajah penuh penolakan dan kesal.

Theo langsung menahan bahunya.

“Mirea, cukup…”

“Kamu nggak perlu bersujud ke orang kayak gitu!” lanjut Mirea, suaranya meninggi, jelas tak terima.

Namun Aren justru menggeleng pelan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk situasi seburuk ini.

“Patuhlah,” katanya rendah.

“Keluarga kita memang orang kaya baru.”

Kata-kata itu terasa seperti tamparan bagi semua yang mendengarnya.

“Keluarga Johnson punya kuasa,” lanjut Aren. “Bagi mereka, melawan kita cuma seperti menginjak semut.”

Ia melangkah satu langkah ke depan, berdiri lebih dekat ke arah Bu Santi.

“Sebagai kakak tertua, aku harus lindungi kalian.”

Suasana mendadak sunyi. Tidak ada yang menyela.

“Jika cuma sujud dan minta maaf saja…” Aren menarik napas dalam. “Aku bisa.”

Ucapannya lirih, tapi justru terasa paling berat. Theo dan Noel terdiam, rahang mereka mengeras, mata mereka memerah menahan emosi.

“Lepasin adikku!” kata Aren tegas, tanpa menoleh lagi. “Aku akan setuju… dan minta maaf ke kamu.”

Mendengar itu, Theo dan Noel spontan maju satu langkah, berdiri di kiri-kanan Aren.

“Kami juga,” ujar Noel. “Aku dan Theo juga akan minta maaf.”

Ucap mereka serempak.

Tiga kakak itu kini berdiri sejajar, seperti tembok terakhir yang siap runtuh demi melindungi satu orang di belakang mereka.

“Apa maksudmu dengan semua itu?” Bu Santi menyeringai, sorot matanya tajam penuh tekanan.

“Kalau mau adikmu dilepas, bisa saja,” lanjutnya dingin,

“tapi kalian bertiga harus sujud!”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

“Oke,” jawab Theo tanpa ragu sedikit pun.

Suasana seketika membeku. Bahkan beberapa tamu tampak terkejut dengan jawaban Theo yang begitu cepat dan tegas.

Melihat Bu Santi yang semakin menjadi-jadi, tangan Mirea mengepal erat di balik tubuh kakak-kakaknya. Kukunya sampai menekan telapak tangannya sendiri, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa tidak berdaya.

Anak buahku ada di lokasi… batin Mirea.

Tinggal aku kasih perintah, keluarga kaya di sini bisa langsung hancur.

Matanya bergetar.

Tapi kalau aku lakukan itu… kakak-kakakku bakal takut sama aku.

Hubungan keluarga yang susah payah aku dapatkan… bisa musnah begitu saja.

Pikirannya kacau. Amarah, takut, dan ragu saling bertabrakan di dalam kepalanya.

Semua itu tak luput dari pengamatan Kael yang sejak tadi berdiri di pojok aula, bersandar santai seolah tidak terlibat apa pun. Pandangannya tertuju lurus pada sosok Mirea.

“Dia menangis,” ujar Kael pelan, hampir seperti gumaman.

“Hah?” Farel menoleh heran.

“Siapa yang menangis?” tanya Farel.

Namun Kael sama sekali tidak menjawab. Ia hanya melangkah pergi, meninggalkan Farel yang berdiri terpaku.

“Eh?” Farel refleks memanggil, tapi Kael sudah keburu menjauh.

Langkah Kael mantap menembus kerumunan tamu. Jasnya rapi, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi sekeras ini. Ia berjalan lurus ke arah pusat keributan, tepat ke sisi Mirea.

Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik.

Mata Mirea masih tampak kebingungan, napasnya tertahan.

Sementara Kael menatapnya datar, seolah sedang memastikan sesuatu.

Lalu Kael maju setengah langkah ke depan dan menepuk bahu Aren.

Aren langsung membeku. Bahunya menegang, seakan baru sadar siapa yang berdiri di belakangnya.

“Hah! Anak dari mana ini?! Cepat suruh dia pergi!” teriak Bu Santi kesal, suaranya tinggi karena merasa posisinya tiba-tiba dipotong orang asing.

Namun sebelum Kael sempat bicara, Aren lebih dulu bersuara.

“T-Tuan Kael…”

Satu nama itu saja sudah cukup.

Bu Santi sontak terdiam.

Wajahnya yang tadi penuh amarah mendadak berubah kaku dan langsung terkejut.

“A-Apa? Tuan Kael?” ulangnya gugup. “Putra konglomerat Zhenkai itu?”

Beberapa tamu langsung saling pandang. Nama itu jelas bukan nama sembarangan.

Kael melangkah satu langkah ke depan. Ekspresinya tetap tenang, tapi sorot matanya dingin.

“Keluarga Johnson…” ucapnya pelan, namun nadanya menusuk. “Berani sekali.”

Ia melipat lengan kanan jasnya dengan gerakan santai, lalu mengepalkan tangannya perlahan.

“Berani-beraninya kalian menyuruh tunanganku dan kakak iparku bersujud dan minta maaf?”

Suaranya lantang, cukup untuk membuat seluruh aula terdiam.

Kael lalu menarik kerah baju Boris yang masih setengah sadar, dan tanpa ragu melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya.

“Ahhh!” teriak Bu Santi histeris.

Boris kembali terhempas lemas ke lantai.

Kael hanya mengibaskan tangannya seolah membersihkan debu, ekspresinya tetap datar.

“Sekarang,” ucapnya tenang sambil menatap seluruh tamu, “yang memukul dia adalah aku.”

Suasana aula membeku total.

“Silakan,” lanjut Kael dingin, “kalau mau tuntut ganti rugi… mau pakai cara apa?”

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!