Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Ruang makan rumah Pramudya siang itu benar-benar penuh.
Meja panjang dari kayu jati dipenuhi hidangan. Di kursi-kursi yang tersusun rapi duduk lima anak Kinara dan Arman, termasuk Kaisar dan Aksa, serta empat menantu yang ikut hadir. Suasana ramai, suara sendok beradu dengan piring bercampur tawa kecil anak-anak yang sesekali berlari di ujung ruangan.
Aksa duduk di sisi kanan Arman.
“Tunanganmu mana?” tanya Kinara lembut.
Aksa mengusap napkin di pangkuannya. “Belum kembali dari Shanghai. Masih urus proyek.”
Kinara mengangguk paham. “Sampaikan salam Mommy.”
Aksa hanya mengangguk singkat. Tak lama, pembicaraan beralih.
“Kaisar, kuliahmu bagaimana?” tanya Kinara sambil menatap putra bungsunya.
Kaisar duduk tegak. “Sidang sudah selesai, Mom. Tinggal revisi sedikit. InsyaAllah sebentar lagi wisuda.”
Aksa langsung menyela dengan nada tegas.
“Pastikan nilaimu tinggi. Aku nggak mau kamu masuk perusahaan cuma karena keluarga.”
Meja sedikit hening.
Aksa melanjutkan, “Kalau mau bantu di Pramudya, kamu harus layak.”
Arman menyender di kursinya, lalu tersenyum tipis.
“Kalau nggak mau di perusahaan, bantu Daddy di bengkel juga bisa.”
Kaisar langsung menoleh.
“Daddy…” Nada suaranya terdengar seperti protes kecil.
Arman tertawa pendek. “Kamu kan suka balapan motor. Cocoknya di bengkel.”
Beberapa orang di meja tersenyum tipis. Namun, bagi Kaisar, kalimat itu terasa seperti cap lama yang kembali ditempelkan.
Kaisar terdiam, tangannya menggenggam sendok sedikit lebih erat.
Shelina yang duduk di sampingnya menoleh pelan. Ia bisa merasakan perubahan kecil pada raut wajah suaminya.
Belum sempat Kaisar menjawab, suara Aurelia terdengar.
“Daddy, jangan gitu.”
Semua menoleh, Aurelia menatap Arman dengan tenang tapi tegas.
“Kalau Kak Aksa nggak terima Kaisar di Pramudya, perusahaan Trophy masih butuh orang.”
Serena langsung menyambung, “Iya, divisi strateginya malah lagi kosong.”
Aksa mengangkat alis tipis.
Aurelia melanjutkan, “Dan kami nggak pernah lihat Kaisar cuma sebagai anak nakal.”
Serena tersenyum kecil ke arah adiknya.
“Kamu lulus dulu dengan nilai bagus. Soal tempat, kamu nggak akan kekurangan pilihan.”
Suasana meja berubah, Kaisar menatap kedua kakaknya bergantian. Ada rasa hangat yang pelan-pelan merambat di dadanya. Arman terdiam beberapa detik, lalu berdeham kecil.
“Daddy cuma bercanda.” Tapi nada suaranya tak lagi sekuat tadi.
Kinara yang sejak tadi diam, menatap suaminya dengan ekspresi sulit ditebak.
Aksa akhirnya bersuara lagi.
“Aku bukan nggak mau terima kamu,” katanya pada Kaisar. “Aku cuma mau kamu masuk sebagai profesional. Bukan karena kamu adikku.”
Kaisar menarik napas pelan.
“Kak, aku ngerti.”
Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar mantap.
“Aku juga nggak mau masuk karena dikasihani.”
Aksa mengangguk kecil, Shelina menatap suaminya dengan bangga. Bukan karena pembelaan kakak-kakaknya. Tapi karena Kaisar tidak lagi menunduk seperti dulu.
Suasana yang sempat menegang itu perlahan mencair. Namun, sebelum benar-benar tenang, Elara yang sejak tadi duduk di samping suaminya kini ikut bersuara.
“Di kantor Mas Jack juga masih butuh karyawan, ya kan, Mas?” tanyanya sambil menoleh manja pada suaminya.
Jack, yang duduk dengan tenang sejak tadi, tersenyum tipis.
“Selalu butuh orang pintar,” jawabnya santai. “Apalagi kalau IPK-nya tinggi.”
Beberapa orang di meja tertawa kecil.
Kaisar menggeleng pelan. “Belum wisuda juga udah diperebutkan.”
Belum selesai, Dion, suami Serena ikut menimpali.
“Di perusahaan logistikku juga lagi ekspansi. Butuh orang yang ngerti strategi dan digital.”
Leo, suami Aurelia, langsung menyahut tak mau kalah.
“Tim keuangan kami juga lagi buka posisi. Tapi seleksinya ketat ya, Sar.”
Kaisar mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.
“Lho, kok jadi job fair keluarga begini?” Tawa kecil menyebar di sepanjang meja.
Shelina yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, merasa lega melihat suasana berubah hangat. Aksa menatap adik-adiknya, lalu bersandar tenang.
“Kalian ini,” katanya singkat, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Aurelia menyikut pelan lengan Aksa.
“Jangan galak terus sama adek sendiri.”
Serena menambahkan, “Kaisar cuma perlu kesempatan. Dia bukan anak kecil lagi.”
Arman menghela napas, kali ini lebih lembut.
“Daddy cuma mau kamu serius.”
Kaisar menatap ayahnya.
“Aku serius, Dad.”
Tak ada nada memberontak, hanya pernyataan sederhana. Kinara akhirnya tersenyum melihat semuanya.
“Yang penting,” ucapnya pelan namun jelas, “Kaisar kerja di tempat yang membuat dia berkembang. Bukan cuma karena nama keluarga.”
Semua mengangguk setuju. Aksa lalu menatap Kaisar lagi.
“Kita bicara berdua nanti,” katanya singkat.
Kaisar mengangguk.
“Siap, Kak.”
Di bawah meja, Shelina menyentuh tangan suaminya pelan.
Makan siang itu akhirnya berjalan hangat.
Setelah selesai makan, keluarga mulai berpencar.
Arman mengajak Aksa dan Kinara ke ruang kerjanya di lantai atas untuk membahas detail pernikahan Aksa.
Di ruang keluarga, Dion, Leo, dan Jack duduk melingkar membicarakan kerja sama bisnis yang sedang mereka rancang.
Sementara itu, di teras belakang yang lebih santai, Kaisar dan Shelina duduk bersama tiga kakak kembarnya, Serena, Aurelia, dan Elara.
Topik pembicaraan yang awalnya ringan perlahan berubah arah.
Elara tiba-tiba tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Aku mau kasih kabar,” katanya pelan tapi penuh senyum.
Serena langsung menoleh. “Apa?”
“Aku hamil dua bulan.”
“Serius?!” Serena dan Aurelia hampir bersamaan berseru. Keduanya langsung memeluk Elara bergantian.
“Ya ampun, akhirnya!” kata Aurelia senang.
Serena tertawa. “Berarti lengkap, kita bertiga hamil barengan.”
Shelina tersenyum ikut bahagia.
Serena menimpali, “Aku lima bulan.”
“Aku juga,” sahut Aurelia bangga.
Shelina terdiam sesaat, tiga kakak iparnya hamil. Suasana terasa penuh harapan. Lalu, ketiganya menoleh bersamaan ke arah Shelina.
Senyum mereka berubah menjadi tatapan penuh arti.
“Kapan nyusul?” tanya Serena santai.
Aurelia menyenggol pelan lengan Kaisar. “Masa yang paling muda kalah cepat?”
Elara tertawa kecil. “Mommy sama Daddy pasti seneng banget kalau tambah cucu lagi.”
Shelina mendadak salah tingkah. Ia menunduk sedikit, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan.
“Kapan saja boleh,” jawabnya pelan. “Kalau sudah dikasih kepercayaan.”
Jawaban itu lembut. Namun, sebelum suasana jadi terlalu serius, Kaisar tiba-tiba menyela.
“Jangan dulu buru-buru punya anak.”
Semua menoleh padanya.
“Aku sendiri masih anak-anak,” lanjutnya setengah bercanda. “Belum mau direpotkan sama anak kecil.”
Serena langsung mencubit lengannya.
“Kamu tuh ya.”
Aurelia menggeleng geli. “Masih denial.”
Elara tertawa kecil.
Shelina tersenyum kecut mendengar jawaban itu.
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara