Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya yang Mulai Bingung
Tiga hari Fira nggak membalas chat. Tiga hari Fira nggak dateng ke kafe pas Ditya mampir. Tiga hari juga Fira seperti lenyap dari hidup Ditya.
Dan Ditya nggak bisa tidur, nggak bisa makan dengan tenang, nggak bisa fokus kerja. Pikirannya cuma satu. Fira. Kenapa Fira menjauh? Kenapa tiba-tiba dingin banget?
Hari ini hari Rabu sore, Ditya langsung ke rumah Dimas setelah pulang kerja. Dia butuh ngomong. Butuh bantuan sahabatnya.
Dimas membuka pintu dengan kaus lusuh, sama celana training. Begitu melihat wajah Ditya yang berantakan, dia langsung tau ada masalah besar.
"Kamu kenapa, Dit? Wajah kamu kayak orang nggak tidur seminggu."
"Aku nggak tau harus gimana lagi, Dim." suara Ditya lemes banget.
"Masuk dulu. Cerita dalem aja."
Mereka duduk di sofa, Dimas menyodorkan sebotol air minum pada Ditya yang langsung diminum habis.
"Jadi, ada apa? Masalah sama Fira lagi?"
Ditya mengangguk sambil mengusap wajah frustasi.
"Aku nggak ngerti, Dim. Tiba-tiba Fira dingin banget. Dia nggak membalas chat aku, nggak mau ketemu, bahkan waktu aku dateng ke kafe, dia kayak ngeliat aku itu menyakitkan buat dia."
"Emang kamu apain Fira, sampai dia bersikap kayak gitu?"
"Aku nggak ngapa-ngapain. Maksud aku, terakhir kali kita ngobrol di Alun-Alun, dia bertanya soal Jessica."
Dimas langsung melotot. "Anjir, dia tau tentang Jessica? Dari mana?"
"Dari kamu Dim. Kamu kan nggak sengaja nyebut nama Jessica, waktu ngobrol sama Fira di kafe."
"Oh shit.." Dim ngepalm mukanya. "Aku lupa cerita sama kamu soal itu. Terus? Terus kamu ngomong apa?"
"Aku jujur, aku cerita semuanya tentang Jessica. Tentang gimana kita putus, tentang trauma gue, bahkan tentang gimana aku masih menyimpan rasa bersalah."
"Terus Fira bilang apa?"
Ditya diem sebentar, mencoba mengingat percakapan itu.
"Dia nanya 'apa aku bagian dari proses move on kamu?' Dan aku nggak bisa jawab Dim. Aku bingung sama perasaan aku sendiri."
"TOLOL!" Dimas tiba-tiba teriak sambil nonjok bahu Ditya. "Kamu emang bego, Dit! Dasar tolol!"
Ditya kaget. "Apaan sih, Dim?!"
"Kamu nggak bisa jawab pertanyaan itu?! Kamu tau itu artinya apa buat Fira?! Artinya kamu mengakui, kalau dia cuma pelarian! Cuma pengalih dari luka kamu sama Jessica!"
"Tapi aku beneran bingung Dim. aku sayang sama Fira, tapi aku juga masih..."
"Masih apa? Masih sayang sama Jessica? Masih berharap Jessica balik? Apa?"
Ditya nggak bisa menjawab. Tangannya menggenggam celananya erat.
"Dengerin aku baik-baik, Dit," kata Dimas sambil menatap Ditya serius. "Kamu udah ngasih harapan ke Fira. Kamu bilang, kamu sayang, kamu jemput dia tiap hari, ajak jalan bareng, kamu nyuapin dia, cium kening dia. Semua itu secara nggak langsung ngasih harapan, kalau kamu serius sama dia. Tapi ternyata? Ternyata kamu belum bisa move on dari Jessica. Kamu belum siap buat hubungan yang bener."
"Tapi aku beneran sayang sama Fira, Dim."
"Sayang aja nggak cukup, Dit! Cewek mana yang kuat jadi pilihan kedua? Jadi bayangan dari mantan kamu? Apalagi setelah tau, ternyata kamu pacaran sama Jessica lima tahun! Lima tahun Dit! Gimana Fira nggak ngerasa dia cuma pengganti?"
Kata-kata Dimas begitu menusuk dalem banget. Ditya ngerasa dadanya sesak, nafasnya berat.
"Aku nggak bermaksud buat nyakitin dia."
"Tapi kamu nyakitin dia, Dit. Mau kamu sengaja atau nggak, faktanya kamu udah nyakitin dia. Kamu kasih harapan, tapi nggak kasih kepastian. Kamu bilang sayang, tapi nggak bisa bilang cinta. Kamu kayak Anggara, yang ninggalin Fira tanpa alasan. Bedanya, kamu ninggalin dia secara emosional walau fisik kamu masih di sini."
Ditya menutup wajah pake kedua tangan, nafasnya mulai sesak.
"Aku nggak mau kayak, Anggara. Aku nggak mau jadi orang yang nyakitin Fira kayak gitu."
"Tapi kamu udah melakukan itu, Dit. Kamu udah nyakitin dia."
"Terus aku harus gimana?! Aku bingung Dim! Aku sayang sama Fira, tapi aku juga masih menyimpan perasaan bersalah sama Jessica. Aku pengen ingin ninggalin Jessica sepenuhnya, tapi aku nggak tau gimana caranya!"
Dimas menghela nafas panjang, duduk di sebelah Ditya sambil mengelus bahunya.
"Dit, dengerin aku, kamu harus memutuskan. Mau kamu beneran ninggalin Jessica dan fokus sama Fira, atau kamu melepas Fira dan membiarkan dia menemukan, orang yang bisa memberikan hati sepenuhnya buat dia."
"Tapi aku nggak mau kehilangan Fira."
"Terus kamu mau apa? Mau bikin Fira menunggu, sampai kamu bener-bener move on dari Jessica? Itu nggak adil Dit. Nggak adil buat Fira yang udah membuka hati buat kamu."
Ditya hanya diam, mencoba merenungi kata-kata Dimas.
"Aku tau kamu punya trauma, aku tau keluarga kamu berantakan, dan itu bikin kamu takut komitmen. Tapi Fira bukan ibu kamu, Fira bukan Jessica. Fira hanya Fira. Orang yang beda. Dan dia berhak dapet cinta yang utuh, bukan cinta yang dibagi-bagi sama bayangan mantan kamu."
Air mata Ditya mulai turun. Dia menangis sambil masih menutup wajahnya.
"Aku bego ya, Dim. Aku bener-bener bego."
"Iya, kamu emang bego. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyesel. Sekarang waktunya kamu benerin, dan kamu harus nemuin Fira, bicara dengan jelas, dan keputusan kamu apa."
"Tapi aku harus bicara apa? Aku sendiri masih bingung sama perasaan aku."
"Ya kamu cari tau dulu! Duduk sendiri, mikir beneran. Kamu lebih sayang siapa? Jessica atau Fira? Kamu mau apa? Balikan sama Jessica, yang udah jelas udah punya pacar baru, atau maju sama Fira yang masih ada di sini, yang masih sayang sama kamu, meskipun kamu udah nyakitin dia?"
Ditya mengangkat kepala, menatap Dimas dengan mata sembab.
"Jessica udah bahagia Dim, dia udah punya pacar baru. Aku nggak bisa ganggu kebahagian dia."
"Nah itu dia. Berarti kamu tau kan? Kamu sebenarnya udah lepas Jessica. Yang belum lepas itu rasa bersalah kamu. Rasa nyesel karena ninggalin dia dulu. Tapi itu bukan berarti kamu masih cinta sama dia Dit. Itu cuma guilt, dan kamu nggak bisa hidup dalam guilt terus-terusan."
Ditya terdiam, merenungkan kata-kata Dimas yang bener banget. Dia bukan masih cinta sama Jessica, dia cuma ngerasa bersalah, karena udah ninggalin cewek sebaik Jessica. Tapi bukan berarti dia masih cinta.
"Dim," bisik Ditya pelan. "Aku rasa, aku udah sayang sama Fira. Beneran sayang. Bahkan mungkin lebih dari sayang."
"Terus kenapa kamu nggak bilang ke dia dari awal?"
"Soalnya aku takut Dim. Takut nggak bisa jadi pacar yang baik, takut nyakitin dia kayak aku nyakitin Jessica. Takut kalo aku jadi kayak ayah aku."
"Dit," Dimas menggenggam bahu Ditya kuat. "Kamu bukan ayah kamu. Kamu orang yang beda, dan selama kamu sadar sama kesalahan kamu, selama kamu belajar dari trauma kamu, kamu nggak akan jadi kayak dia. Tapi kamu harus berani Dit, berani mengalahkan rasa takut kamu."
Ditya mengelap air matanya, tarik nafas dalem-dalem.
"Aku mau nemuin Fira. Mau ngomong semuanya dengan jelas."
"Bagus. Tapi Dit, sebelum kamu nemuin dia, kamu harus yakin dulu. Yakin kamu udah bener-bener ninggalin Jessica. Bahwa kamu udah siap buat Fira, jangan sampai kamu dateng ke dia dengan hati yang masih setengah-setengah. Itu cuma bakal nyakitin dia lagi."
Ditya mengangguk.
"Aku harus meyakinkan diri aku dulu. Harus beneran ninggalin Jessica, dan hapus semua yang masih mengikat aku ke dia."
"Nah gitu dong. Sekarang pulang, mikir beneran. Terus besok kamu temuin Fira, dengan hati yang udah bulat. Oke?"
"Oke Dim. Makasih udah nampol aku."
Dimas ketawa kecil. "Itu tugas aku sebagai sahabat. Nampol kamu kalau kamu lagi bego."
***
Malem itu Ditya balik ke apartemen dengan hati bercampur aduk. Dia langsung membuka laptop, buka semua folder yang menyimpan foto Jessica. Foto di galeri ponsel, laptop, foto di cloud. Semuanya, dan satu persatu dia hapus permanen.
Nggak cuma masukin ke folder sampah, tapi beneran hapus sampai nggak bisa direcover. Tangannya gemetar setiap kali pencet tombol hapus. Hatinya sakit, tapi dia tau dia harus lakuin ini.
"Maafkan aku, Jess." bisiknya sambil nangis. "Maafkan aku yang nggak bisa jadi orang yang kamu harapkan. Tapi sekarang aku harus move on, buat aku sendiri, dan juga buat Fira."
Setelah semua foto kehapus, Ditya ngerasa lega, sedih, tapi lega. Dia membuka chat terakhir sama Fira, yang nggak dibales. Jarinya ngetik pelan.
...💌...
Ditya: Fira, besok aku mau ketemu sama kamu. Ada yang pengen aku bicarakan, sesuatu yang sangat penting banget. Kumohon, kasih aku kesempatan terakhir buat bicara. Please.
Ditya pencet tombol kirim, terus menaruh ponselnya sambil menghela nafas panjang.
Besok dia bakal nemuin Fira, dan ngomong semuanya. Ditya bakal bilang, apa yang seharusnya udah dia bilang dari dulu.
Tapi pertanyaan nya.
Apa Fira masih mau dengerin?
Apa Fira masih mau kasih kesempatan?
Atau Fira udah mutusin buat bener-bener ninggalin dia?
Ditya nggak tau, tapi dia harus mencobanya, dan harus memperjuangkan Fira sebelum terlambat. Sebelum dia kehilangan cewek yang beneran sayang sama dia, dan sebelum Ditya menyesal seumur hidup.