Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketertarikan Revan
Seminggu kemudian, Revan makin sering dateng ke kafe. Hampir tiap hari. Dan nggak cuma pesen kopi, dia juga sering ngajak Fira ngobrol pas kafe lagi sepi.
Hari ini, hari Jumat sore, Revan dateng pas Fira baru selesai shift siang.
"Fira, kamu udah makan siang belum?" tanya Revan sambil senyum ramah.
"Belum nih. Baru mau makan."
"Ayo makan bareng yuk. Gue tau tempat makan enak nggak jauh dari sini."
Fira ragu. Ini udah ketiga kalinya Revan ngajak makan bareng seminggu ini. Dan setiap kali makan bareng, Revan makin.. makin perhatian. Makin deket.
"Aku nggak enak Revan. Kamu udah sering traktir."
"Nggak papa Fira. Anggap aja kita temenan. Ayolah, aku nggak suka makan sendirian."
Akhirnya Fira nurut juga. Mereka jalan ke restoran Jepang kecil di Jalan Kaliurang. Tempatnya cozy, nggak terlalu rame, ada booth booth kecil yang privat.
Mereka duduk di salah satu booth, pesen ramen dan gyoza.
Sambil nunggu pesanan, Revan ngeliatin Fira lama.
"Fira."
"Iya?"
"Kamu tau nggak, kenapa aku sering banget ke kafe kamu?"
Fira ngerasa jantungnya mulai berdetak kenceng. Dia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Kenapa?" tanya nya pelan, walau sebenernya dia udah tau jawaban nya.
"Soalnya aku pengen liat kamu. Pengen ngobrol sama kamu, pengen deket sama kamu."
Deg.
Fira diem, nggak berani menatap mata Revan.
"Fira, aku suka sama kamu."
Kata-kata itu keluar jelas, tegas, dan nggak ada keraguan.
Fira mengangkat kepala, menatap Revan yang melihat dia dengan tatapan serius.
"Aku tau ini mendadak. Kita baru kenal dua minggu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan aku. Dari pertama kali liat kamu, aku langsung tertarik. Dan makin kenal kamu, aku makin yakin kalau kamu itu cewek yang aku cari."
Fira ngerasa dadanya sesak. Ini bukan yang dia harapkan.
"Revan."
"Tunggu Fira, dengerin aku dulu," potong Revan sambil ngangkat tangan. "Aku nggak minta jawaban sekarang. Aku cuma pengen kamu tau, kalau aku serius sama kamu, dan aku nggak main-main."
"Tapi Revan, kita baru kenal."
"Aku tau, makanya aku bilang aku nggak minta jawaban sekarang. Aku bisa kasih kamu waktu buat mikir. Waktu buat kenal aku lebih dalam. Tapi, setidaknya aku udah jujur sama perasaan aku."
Pesanan dateng, tapi Fira udah nggak ada selera makan. Perutnya mual, kepalanya terasa pusing.
"Revan. Maaf, aku nggak bisa nerima kamu sebagai pacar. Mungkin lebih baik kita hanya temen saja."
"Ehm... Kita lanjut makan dulu aja ya. Nanti kita ngobrol lagi."
Tapi Fira nggak bisa makan dengan tenang. Pikirannya kemana mana. Revan suka sama dia. Cowok yang jelas-jelas mapan, ganteng, perhatian, dan yang paling penting siap.
Beda sama Ditya yang masih bingung sama perasaannya sendiri, dan tetap dengan pendiriannya yang hanya menjalin hubungan HTS.
Saat selesai makan, mereka jalan keluar restoran. Revan nganterin Fira sampe depan kafe.
"Fira," panggil Revan pelan.
"Iya?"
"Aku serius sama kata-kata aku tadi. Aku suka sama kamu, dan aku pengen kamu jadi pacar aku."
Fira diem, ngeliatin tanah. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.
"Revan, maaf. Aku bener-bener nggak bisa."
"Kenapa? Apa sudah ada orang lain?"
Fira mengangguk pelan.
"Iya. Aku sudah ada orang lain."
Revan diem sebentar, nafasnya berat.
"Apa dia pacar kamu?"
"Bukan, kita hanya HTS. Tapi aku merasa nyaman sama dia."
"Apa, HTS? Fira dengerin aku, HTS itu cuma hubungan yang nggak sehat. Kalian sama-sama takut kehilangan, padahal sudah jelas kalian nggak pacaran."
Ucapan Revan memang benar, Fira dan Ditya nggak pacaran, tapi mereka sama-sama takut kehilangan.
"Soalnya, aku udah sayang sama dia Revan. Walaupun kita cuma HTS, tapi aku berharap suatu saat nanti, kita bisa mempunyai hubungan yang resmi."
Revan menghela nafas panjang, menatap langit yang mulai gelap.
"Fira, aku ngerti kamu sayang sama dia. Tapi jangan menyiksa diri kamu sendiri. Jangan menunggu orang yang nggak jelas, sampai kamu lupa menghargai diri sendiri."
Air mata Fira turun, soalnya kata-kata Revan bener banget.
"Aku tau Revan, aku tau aku bodoh. Tapi aku nggak bisa pindah hati gitu aja. Jujur aku mula sayang sama dia."
Revan melangkah maju, berdiri di depan Fira sambil menatap matanya yang berkaca-kaca.
"Fira, aku bakal tunggu."
Fira mengangkat kepala, kaget.
"Tunggu apa maksudnya?"
"Aku bakal tunggu sampai kamu siap. Sampai kamu bener-bener lepas dari dia. Dan kalau suatu saat kamu udah siap, kabarin aku ya. Aku bakal selalu ada buat kamu."
"Tidak Revan, itu nggak adil buat kamu. Aku mohon, jangan pernah menunggu aku. Masih banyak wanita lain yang bahkan jauh lebih baik dari aku."
"Aku nggak peduli, Fira. Aku rela menunggu. Karena aku yakin, kalo kamu itu cewek yang worth it buat ditunggu."
Fira menggelengkan kepala sambil menangis.
"Jangan Revan, jangan tunggu aku. Kamu pantas dapet cewek yang lebih baik. Yang nggak ribet kayak aku. Yang bisa kasih hati sepenuhnya buat kamu."
"Tapi aku maunya cuma sama kamu, Fira. Cuma kamu."
"Kenapa kamu bisa sesuka itu sama aku? Kita bahkan baru kenal dua minggu!"
Revan senyum tipis, senyum sedih.
"Soalnya, dari cara kamu senyum, aku tau kamu lagi sakit hati. Dari tatapan kamu yang kosong, ketika kamu lagi sendirian, aku tau kamu lagi memikirkan seseorang. Dan aku pengen jadi orang yang bisa membuat kamu senyum lagi. Yang bisa membuat kamu melupakan sakit hati itu. Walaupun itu butuh waktu yang lama."
Fira menangis makin kenceng. Kenapa? Kenapa harus ada cowok sebaik Revan di saat yang salah?
Kenapa Revan nggak dateng waktu Fira udah bener-bener ikhlas meninggalkan Ditya? Kenapa semuanya harus serumit ini?
"Revan, maafkan aku. Tapi aku nggak bisa menerima perasaan kamu. Aku udah nyaman dan sayang sama dia. Dan aku nggak bisa menerima perasaan kamu."
"Aku ngerti Fira, dan aku nggak akan memaksa. Aku cuma pengen kamu inget, kalau ada cowok yang beneran suka sama kamu. Yang siap buat kamu, dan nggak akan membuat kamu menunggu tanpa kepastian."
Revan mengelus pipi Fira pelan, menghapus air mata yang mengalir.
"Jaga diri ya, Fira. Dan kalau suatu saat kamu butuh temen, atau lebih dari temen, aku akan selalu ada."
Revan jalan pergi, dan meninggalkan Fira sendirian.
***
Malam itu, Fira sedang rebahan sambil memikirkan kata-kata Revan.
"Aku bakal tunggu."
"Kamu worth it buat ditunggu."
"Ada cowok yang beneran suka sama kamu. Yang siap buat kamu."
Kenapa harus ada Revan sekarang?
Kenapa harus ada cowok yang jelas-jelas siap, yang jelas-jelas suka, di saat Fira masih menunggu Ditya yang nggak jelas?
Fira mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik pesan Untuk Aditya.
...💌...
Fira: Dit, hari ini ada cowok yang mengaku suka sama aku. Dia meminta aku jadi pacarnya. Tapi aku tolak, karena aku udah nyaman sama kamu.
Fira pencet kirim, terus menaruh ponselnya sambil menangis.
Dan di apartemennya, Ditya yang lagi tidur-tiba kebangun karena notifikasi ponselnya yang bunyi. Dia membaca pesan Fira dengan mata yang masih setengah merem.
Tapi begitu membaca sampai selesai, matanya langsung melek.
Ada cowok yang suka sama Fira, dan meminta Fira jadi pacarnya. Tapi Fira menolaknya, karena Fira udah nyaman sama Ditya.
Ditya ngerasa dadanya sesak, dan merasa bersalah, karena Fira menolak cowok yang jelas-jelas jauh lebih baik, hanya demi dia yang masih belum pasti.
Ditya membalas pesan dari Fira, dengan tangan yang gemetar.
^^^Ditya: Fira, kenapa kamu meladeni dia sih. Aku nggak suka ya kamu deket sama laki-laki lain.^^^
Tapi setelah mengirim pesan itu, Ditya duduk di pinggir kasur, sambil menggenggam kepalanya. Dia harus bisa membuktikan, bahwa hanya dirinya yang pantas buat Fira.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅