NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Sore itu, angin berhembus kencang. Pohon-pohon di sekitar area rumah sakit ikut bergoyang. Debu-debu berterbangan. Langit yang awalnya cerah, berubah menjadi gelap. Seolah menjadi penanda hujan akan segera datang.

Chandra berjalan dengan gontai. Penampilannya acak-acakan. Kemeja yang semula dia masukan ke dalam celana, kini hampir semuanya keluar. Ada jejak keringat yang tertinggal di bagian depan bajunya. Sementara bagian lengannya kusut, bekas cengkraman. Saat ini pikiran pria itu bak laut yang bergelombang, bergulung-gulung, seolah siap untuk menelannya hidup-hidup.

Chandra tak melepaskan pandangan. Netranya terus memindai sekitar. Sesekali menyipit, sesekali tertunduk lemah. Rumah sakit ini sangat besar. Dengan total tiga bangunan. Setiap bangunan memiliki dua lantai. Dan Chandra sekarang ada di lantai satu bangunan utama. Dengan tempat seluas itu dan banyaknya orang disana, kemana ia harus mencari anak-anak?

"Maaf ibu, mengganggu sebentar. Saya mau tanya. Lihat anak kecil pakai seragam SD tidak? Barangkali lewat sini."

Ibu-ibu yang sedang menggandeng anaknya itu menggeleng. Menandakan bahwa ia tidak tahu. Chandra tersenyum singkat, setelah mengucapkan terima kasih, ia kembali melanjutkan pencariannya.

Beberapa langkah setelahnya, seorang tenaga medis lewat disampingnya, Chandra juga menghentikannya. Kembali bertanya tentang keberadaan Jeffrey dan Andra. Dan lagi-lagi mereka mengangkat bahu, tidak tahu.

Kemana sebenarnya mereka?

***

Di lain tempat, dua bocah yang menjadi sumber kerisauan, tampak asik bercerita. Sesekali tertawa, sesekali terkekeh pelan. Bayangan indah mewarnai angan-angan. Andra mengangkat tangan, lalu menekuk jarinya satu demi satu seiring dengan rencana-rencana yang telah ia susun terutarakan.

Sedangkan Jeffrey sendiri hanya mengangguk dan menggeleng sebagai tanda bahwa ia setuju dan tidak. Tak jarang juga menatap sebal akan kecerewetan orang disampingnya.

"Nanti kalau Lily udah segini..." Andra menaruh tangan kecilnya sebatas pinggang. "Aku bakal ajarin dia naik sepeda." Ucapnya bangga. Kemampuan bersepedanya lebih unggul dari Jeffrey, dan ia bisa menyombongkan hal itu selama seribu tahun lamanya.

Jeffrey diam saja. Enggan menanggapi. Tetapi kepalan tangannya menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Meninggalkan cekungan dalam dari kuku yang menancap. Egonya merasa terusik.

"Aku juga mau ajak dia main mobil-mobilan. Dia boleh pilih mobil mana aja yang dia suka. Aku nggak akan marah." Janjinya, sembari menerawang jauh ke depan. Berapa mainan mobil yang ia miliki dan berapa yang rela ia serahkan pada Lily nanti. Ia hitung dengan cermat.

Alis Jeffrey terangkat satu. Menatap aneh pada Andra layaknya ia adalah seorang alien yang baru saja jatuh dari langit.

"Dia cewek. Harusnya main boneka." Katanya malas.

Ditempatnya, Andra terdiam lama. Tangannya bersarang di kepala, menggaruknya. Meski bagian itu tak gatal sama sekali. Mencoba memikirkan sesuatu, lalu kembali menatap Jeffrey. "Emang kalau cewek nggak boleh main mobil-mobilan yah Jeff?"

Jeffrey juga tidak tahu. Ia mengangkat bahu. Dalam hidupnya, ia tidak pernah bergaul dengan anak perempuan manapun. Tidak dirumah, tidak pula di sekolah. Temannya selama ini hanya satu, yaitu Andra. Tidak ada yang lain. Namun dari yang ia tahu, bukannya tidak boleh anak perempuan bermain mobil-mobilan, tetapi karena memang kebanyakan dari mereka minatnya bukan disana.

Kaki yang telah lama berdiri, kini mulai terasa pegal. Jeffrey membalik badan. Lalu menyandarkan tubuhnya dan meluruh ke lantai. Sedangkan nafasnya terasa berat terhela. Ia membuat kepalan dari tangan kecilnya, kemudian memukul-mukulkannya pada kaki dengan pelan. Rasanya tak ada bedanya dengan berdiri lama saat upacara bendera disekolah.

Kapan Lily akan keluar dari sana? Sudah lama sekali ia menunggu.

Andra memposisikan dirinya disamping Jeffrey, ikut duduk dengan nyaman. Keduanya sama-sama menatap ke depan, tanpa bicara. Seolah anak sekecil itu dapat merasakan penderitaan yang ada.

Dari kejauhan, Chandra datang setengah berlari. Suara sepatunya bergema memenuhi koridor, menyatu dengan suara langkah kaki orang lain. Nafasnya terengah-engah. Namun raut lega tak dapat ditutupi.

"Kalian dicari dimana-mana nggak taunya disini."

Dua bocah itu serempak mendongak saat mengenali suara itu. Kemudian berdiri tegak. Di depannya, seorang pria dewasa berdiri menjulang, dengan tangan di pinggang. Raut wajahnya tak begitu baik. Ada kemarahan dan rasa frustasi yang samar terasa.

"Papa kok disini?" Tanya Andra heran. Matanya menatap tak fokus. Tanda ia sedang gugup. Kaki kecilnya yang masih berbalut sepatu, bergerak-gerak tak tenang. Kini ia sangat ketakutan, takut dimarahi.

"Papa yang harusnya tanya, kalian kok bisa ada disini?" Suara itu begitu tegas, lugas dan dalam. Membuat nyali Andra semakin menciut.

"Kita ngikutin baby Lily om." Jawab Jeffrey, menatap tepat di mata. Seolah ketegangan yang terjadi tak pernah ada, seolah kemarahan orang dewasa di depannya tak terasa.

Chandra mengerut kebingungan. Ekspresinya melembut. Kerutan samar di dahi, perlahan menghilang. Tangannya bergerak ke belakang kepala, menggaruk bagian yang tak gatal disana. "Siapa itu Lily?" Tanyanya.

"Adik Andra papa. Tuh, yang ada di dalam box." Tunjuk anak itu penuh semangat pada salah satu box bayi yang berisi Lily di dalamnya.

Chandra termenung untuk beberapa saat. Ternyata banyak waktu terlewat tanpa ia sadari. Bahkan hal seperti memberikan nama untuk anak keduanya saja, ia tidak sempat. Tidak ada waktu untuk mendiskusikan itu bersama sang istri. Hingga sembilan bulan berlalu dan anak mereka lahir, ia malah lupa.

Lily...

Lily...

Lily...

Nama itu terus terulang di dalam hati. Menyebarkan getar tersendiri. Perlahan sebuah senyum terbit di bibirnya. Chandra menyukainya. Menyukai nama itu. Lily... Terdengar sangat indah. Memberi kesan yang anggun dan suci. Sangat cocok untuk bayi mereka.

Tubuh Chandra membungkuk untuk menyamai tinggi badannya dengan anak-anak. Lalu mendekat. Wajahnya hampir menempel pada jendela kaca. "Di box yang mana baby Lily?"

"Itu om, box nomor dua sebelah kanan. Yang paling lucu. Yang tangannya gerak-gerak dari tadi."

Chandra menatap lama pada tubuh kecil yang terlihat sangat kasihan di dalam sana. Merasa tak tega. Hingga air mata turun perlahan tanpa ia sadari.

"Papa kenapa nangis?" Tanya Andra dengan bibir bergetar. Tangan kecilnya terangkat, berusaha menggapai wajah sang ayah. Sementara air mata mulai menggenang diujung mata, siap tumpah kapan saja.

Chandra segera mengusap kasar, lalu tersenyum lebar. "Papa nggak nangis, ini namanya air mata bahagia. Papa itu lagu senang karena akhirnya Lily lahir ke dunia."

Andra mengangguk. Tangannya turun perlahan. Usapan lembut dapat ia rasakan dipuncak kepalanya. Ia juga senang bisa memiliki adik perempuan yang cantik dan lucu seperti Lily. Papa tidak sendiri.

Hujan mulai turun. Gemuruh guntur terdengar hingga ke dalam. Begitu keras, begitu memekakkan telinga. Andra berkali-kali terkejut, sementara Jeffrey tampak tenang seperti biasa. Hanya kepalan tangan yang semakin menguat setiap kali guntur datang yang menjadi bukti bahwa ia masih lah anak-anak pada umumnya. Kini mereka kembali duduk di lantai, dengan Chandra berada di tengah. Merangkul keduanya.

"Kenapa kalian nggak bilang kalau mau kesini? Kalau bilang kan kami nggak khawatir?"

"Kita bilang kok. Ya kan Jeff?" Balas Andra.

Jeffrey mengangguk untuk mengkonfirmasi. Ia memang melakukan itu. Tapi tak ada yang menghiraukannya. "Om lagi ngobrol sama papa."

Jawaban yang terdengar membuat Chandra sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya sedang kacau saat itu. Tentang kondisi emosional Sarah, tentang kondisi kesehatan Lily dan juga tentang dirinya yang merasa gagal menjadi seorang ayah dan suami. Jadi itu memang karena kesalahannya, karena keteledorannya yang tidak mengawasi mereka dengan baik.

Diraihnya ponsel dalam saku celana, lalu tangannya dengan cekatan mengetik beberapa kata untuk dikirim kepada Rama. Segera balasan ia dapatkan dengan perasaan lega.

"Ayo kita kembali. Kalian harus segara pulang karena ini hampir malam." Kata Chandra.

Tak ada yang mengikutinya berdiri. Membuat Chandra berbalik dan menatap bingung. "Kenapa?"

"Kita mau nungguin Lily om." Ujar Jeffrey, yang disetujui oleh Andra.

"Lily akan disini untuk sementara waktu. Dia..."

"Sakit kan om?" Potong Jeffrey cepat.

Chandra mengangguk. "Iya, dia perlu dirawat supaya cepat sembuh. Kalian bisa kesini lagi besok setelah pulang sekolah."

Keduanya terdiam, lama. Ada rasa tidak rela, juga tak tega. Rasanya mereka ingin terus bersama-sama. Lalu suara lirih terdengar memecah sunyi. "Kita pengin disini aja pa, jagain Lily. Kasian kalo sendirian."

Terenyuh hati Chandra mendengar itu. Ada kehangatan yang menelusup perlahan. Juga keraguan yang perlahan hilang. Kekhawatirannya selama ini telah menemukan jawaban.

"Tolong nanti dijagain yah adiknya, kakak-kakak." Mohonnya. Terdengar seperti gurauan. Namun itu adalah isi hatinya yang terdalam. Yang selama ini terpendam.

Kedua anak laki-laki itu mengangguk dengan semangat. Dengan senyum lebar hingga gigi mereka terlihat.

Tak jauh dari situ, seorang perawat yang sebelumnya telah berjanji akan mengantar Jeffrey dan Andra bertemu orangtuanya, ikut menyaksikan dari balik dinding. Ia berlari kesini tadi, dengan rasa bersalah yang tinggi. Harusnya ia mengantar mereka dulu sebelum kembali bekerja. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dan untungnya kini mereka telah bertemu orangtuanya. Ia merasa lega.

***

Di dalam ruang perawatan, suasana terasa sunyi. Seolah waktu berjalan sangat lambat. Bau antiseptik yang bercampur obat, menyapa hidung. Yang diiringi dengan suara mesin medis.

Sarah membuka kelopak matanya perlahan, lalu menutupnya kembali kala sinar dari lampu yang berada tepat diatasnya membuatnya merasa tidak nyaman. Butuh beberapa saat untuk membiasakannya. Saat ia dapat melihat hal disekitar dengan jelas, wajah Mona lah yang pertama kali ia lihat. Tengah menunduk disamping ranjang. Dengan kepala yang hampir jatuh.

Sarah mencoba bangun, membuat ranjang sedikit bergoyang dan berderit. Mona terkejut dan menegakkan tubuh.

"Maaf."

"Kamu sudah bangun?"

Sarah mengangguk lemah. "Dimana Mas Chandra?"

"Ini minum dulu."

Mona menyerahkan segelas air putih kepada Sarah. Lalu membantu menata bantal dibelakang punggungnya sebagai penyangga.

"Makasih Na."

Mona mengangguk. "Sama-sama. Gimana keadaan kamu?"

"Pinggangku rasanya mau patah." Balas Sarah.

Mona terkekeh. Tangannya bergerak kebelakang punggung Sarah, memberi tekanan yang menenangkan.

Hening sejenak, mereka saling menatap. Dalam tatapan itu seolah ada sesuatu yang tersirat. Yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Hingga tak lama, sebuah tawa muncul. Tawa pertama untuk hari ini.

"Kayak kamu dulu."

"Kamu sih nggak percaya. Sekarang ngerasain sendiri kan?"

"Maaf-maaf, soalnya pas Andra lahir aku nggak ngalamin hal kaya gini. Ya emang sakit, tapi nggak terlalu berasa banget kaya sekarang dan itu juga nggak lama. Kalo ini emang bener-bener sakit banget Na."

Sarah meneguk air dalam gelas hingga tandas. Terasa segar air itu mengaliri tenggorokannya yang sejak tadi kering. Ternyata sehaus itu dirinya.

Diletakkannya kembali gelas itu di atas meja. Bergabung dengan buah-buahan yang entah sejak kapan ada disana. Mungkin Mona yang melakukannya.

Mengalihkan tatapannya, Sarah kembali bertanya tentang sang suami yang tak terlihat dimanapun. "Mas Chandra kemana yah na?"

"Sama anak-anak diluar. Bentar lagi juga dateng." Jawab Mona.

Dan benar saja apa yang wanita itu katakan. Karena sedetik kemudian pintu terbuka. Memunculkan tiga kepala yang masuk satu demi satu. Chandra datang sambil menggendong Andra yang tertidur. Sementara disampingnya ada Jeffrey yang berjalan dengan mata setengah tertutup. Terlihat mengantuk.

"Kalian dari mana?" Tanya Sarah begitu mereka masuk.

Apa yang harus Chandra katakan? Haruskah ia jawab dari ruang perawatan Lily dan membuat Sarah sedih? Tidak. Chandra tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Biarlah seperti ini dulu...

"Kami habis melihat hujan diluar. Tadi anak-anak merasa bosan." Satu kebohongan tercipta. Yang diharapkan tidak akan ada kebohongan lain.

Sarah tak bertanya lagi. Dari balik jendela, ia bisa melihat hujan turun dengan deras. Seakan langit ikut mewakilkan kesedihan hatinya yang kini coba ia tutupi. Kilat menyambar sesekali. Memancarkan cahaya yang langsung hilang dalam sekejap.

Chandra menaruh Andra di kursi panjang, membaringkannya. Lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dibawa Mona dari rumah.

Rama baru datang, entah dari mana. Menaruh beberapa barang yang ia bawa diatas meja, kemudian mengambil tubuh kecil putranya. Kakinya mendekat pada Chandra tanpa disadari istri-istri mereka. Lalu berbisik tepat di telinganya. "Kamu menemukan anak-anak dimana?"

"Di tempat Lily dirawat."

Rama mengangguk. Tak merasa heran.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!