Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung Jawabku
Alisa mencoba meraih botol minyak zaitun yang terletak di rak paling atas namun jarinya hanya menyentuh ujung botol.
Ia berjinjit namun tetap saja kurang beberapa sentimeter, tiba-tiba ia merasakan sebuah dada yang bidang bersandar sangat dekat di punggungnya.
Sebuah tangan yang besar dan kuat terulur melewati bahu Alisa dengan mudah mengambil botol tersebut.
Alisa membeku.
Ia bisa merasakan napas Niko yang hangat mengenai tengkuknya.
Aroma parfum sandalwood dan sisa sabun medis dari tubuh Niko seolah mengunci paru-parunya, untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Niko tidak langsung menjauh tapi ia justru merunduk sedikit dan berbisik tepat di samping telinga Alisa.
"Rak ini terlalu tinggi untuk orang yang jarang makan kalsium sepertimu." ujar Niko yang bisa Alisa tangkap sebagai sindiran kepadanya.
Wajah Alisa memerah sempurna hingga ke telinga, ia berbalik dengan cepat dan justru berakhir terjepit di antara konter dapur dan tubuh Niko.
Jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter, mata tajam Niko menatap mata jernih Alisa.
Ada keheningan yang berbeda kali ini bukan kaku, melainkan penuh dengan ketegangan romantis yang membuat udara di dapur itu terasa lebih tipis.
"Niko..." bisik Alisa pelan.
Niko menatap bibir Alisa sejenak sebelum kembali menatap matanya, ia berdeham lalu menjauh selangkah dengan ekspresi yang kembali datar meski ada sedikit rona merah di tulang pipinya.
"Nyalakan kompornya.ku akan menumis ini sekarang." serunya.
Proses memasak berlanjut dengan bimbingan "instruksi medis" dari Niko, ia melarang Alisa menggunakan terlalu banyak garam.
"Natrium berlebih bisa membuatmu edema (bengkak) dan meningkatkan tekanan darah." jelasnya.
"Tapi tanpa garam rasanya hambar Dokter." protes Alisa.
"Kita pakai bawang putih dan lada hitam yang banyak, itu jauh lebih sehat bagi pembuluh darahmu." sahut Niko keras kepala.
Akhirnya tumis brokoli kale dengan irisan daging sapi tipis itu matang.
Mereka duduk di meja makan kayu kecil milik Alisa, cahaya lampu gantung yang kuning memberikan kesan hangat pada momen itu.
Arka yang sudah bangun pun ikut bergabung meski ia sempat cemberut melihat sayuran hijau di piringnya.
"Makan Arka, jika kau mau tumbuh tinggi dan pintar seperti Om dan sayuran hijau adalah bahan bakarnya." ucap Niko tegas.
Arka melirik Alisa dengan tatapan memelas, Alisa tersenyum dan memberikan potongan daging sapi yang lebih banyak ke piring Arka.
"Makan sedikit sayurnya nanti Bu Guru kasih stiker bintang di buku sekolah besok." lanjut Alisa.
"Bintang tiga?" tanya Arka menawar.
"Bintang lima!" jawab Alisa tertawa.
Niko memperhatikan interaksi itu dalam diam, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya saat melihat Alisa tertawa bersama keponakannya.
Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah fragmen kehidupan yang selama ini ia anggap mustahil untuk ia miliki yaitu sebuah keluarga yang normal.
Tanpa pembicaraan tentang saham rumah sakit, tanpa tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik dan hanya sebuah meja makan sederhana dengan makanan sehat dan tawa yang jujur.
"Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Alisa menyadari tatapan Niko yang tidak berpaling.
Niko segera mengambil sendoknya.
"Aku hanya mengamati apakah kamu mengunyah dengan benar, pencernaan dimulai di mulut Alisa, kunyah minimal tiga puluh kali." seru Niko.
Alisa memutar bola matanya.
"Kamu benar-benar tidak bisa berhenti menjadi dokter ya?" ucap Alisa.
"Itu identitasku." jawab Niko pendek.
"Tapi... masakannya ternyata tidak seburuk yang kubayangkan." balas Alisa.
"Itu pujian atau hinaan?"
"Itu pengakuan." ucap Niko pelan matanya menatap Alisa dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Alisa kembali merasa jantungnya berpacu liar.
Setelah makan malam selesai dan Arka kembali asyik menonton kartun di ruang tamu Niko membantu Alisa mencuci piring.
Sebuah pemandangan langka yaitu seorang dokter Niko Arkana, yang biasanya memegang instrumen bedah jutaan rupiah tapi kini memegang spons penuh busa sabun cuci piring.
"Alisa." panggil Niko di sela suara gemericik air.
"Ya?"
"Besok di sekolah... jika guru olahraga itu mendekatimu lagi, katakan padanya bahwa kamu sedang dalam pengawasan medis yang ketat dan tidak boleh diganggu oleh siapa pun."
Alisa berhenti mengeringkan piring dengan lap. Ia menoleh ke arah Niko.
"Niko, Pak Satria itu orang baik, dan dia hanya ingin berteman." seru Alisa.
Niko mematikan keran air, ia memutar tubuhnya menghadap Alisa, tangannya yang masih basah ia keringkan dengan tisu.
"Aku tidak peduli seberapa baik dia, aku hanya tidak suka dia berada di sekitarmu saat kamu sedang tidak fit."
"Hanya saat aku tidak fit? Jadi kalau aku sudah sehat, dia boleh mendekatiku?" goda Alisa dengan binar mata nakal.
Niko terdiam, rahangnya mengeras dan ia melangkah satu langkah lebih dekat membuat Alisa terdesak ke meja makan.
"Tidak. Tetap tidak boleh." tegas Niko.
"Kenapa?" pancing Alisa lagi, suaranya kini hanya berupa bisikan.
Niko menatap Alisa dengan intensitas yang seolah bisa menembus jiwa.
Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja, mengurung Alisa di tengahnya.
"Karena kamu adalah satu-satunya pasien yang tidak ingin kubagi dengan dokter lain dan apalagi dengan seorang guru olahraga yang bahkan tidak tahu bedanya dehidrasi dan haus biasa." seru Niko.
Napas Alisa tertahan, ini adalah pernyataan kepemilikan paling implisit namun paling kuat yang pernah ia dengar.
Niko tidak mengatakan cinta tapi caranya melindungi dan menguasai ruang di sekitar Alisa mengatakan segalanya.
"Aku bukan milikmu, Niko." bisik Alisa, meski hatinya berteriak sebaliknya.
Niko merunduk dengan wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alisa.
"Mungkin belum secara administratif tapi secara medis kamu berada di bawah tanggung jawabku dan aku sangat posesif terhadap tanggung jawabku." ucap Niko.
Niko menarik diri tepat sebelum suasana menjadi semakin tidak terkendali, ia mengambil jam tangannya di meja.
"Sudah malam, Arka harus tidur dan kamu juga harus istirahat. Aku akan menjemputmu besok pagi pukul tujuh, jangan terlambat." ujar Niko.
Niko memanggil Arka lalu berjalan menuju pintu depan, Alisa mengikutinya dengan perasaan yang berkecamuk.
Di ambang pintu Niko berhenti sejenak, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut Alisa dengan gerakan yang cepat namun penuh kasih sayang.
"Terima kasih untuk malam ini Alisa, dan ingat... habiskan sisa kalenya besok pagi." tutur Niko.
Mobil hitam Niko meluncur pergi meninggalkan rumah Alisa.
Alisa berdiri di depan pintu yang tertutup dan. memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ia menatap dapur yang kini kembali sunyi namun aroma masakan mereka dan bayangan Niko yang memakai celemek bunga matahari masih tertinggal jelas di sana.
Malam itu Alisa tidur dengan senyuman yang tak kunjung hilang.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi