Setelah ibu mertuanya meninggal, Zara Hafizah dihadapkan pada kenyataan pahit. Suaminya, yakni Jaka telah menceraikannya secara tiba-tiba dan mengusirnya dari rumah. Zara terpaksa membesarkan anaknya yang masih berusia 6 tahun, seorang diri
kehidupan Zara semakin membaik ketika ia memutuskan hijrah dan bekerja di Ibu Kota.
Atas bantuan teman dekatnya,
Suatu hari, Zara bertemu dengan Sagara Mahendra, CEO perusahaan ternama dan duda dengan satu anak. Sagara sedang mencari sosok istri yang dapat menjaga dan mencintai putrinya seperti ibu kandungnya.
Dua orang yang saling membutuhkan tersebut, membuat kesepakatan untuk menikah secara kontrak.
Sagara membutuhkan seorang istri yang bisa menyayangi Maura putrinya dengan tulus.
Dan Zara membutuhkan suami yang ia harap bisa memberinya kehidupan yang lebih baik bagi dirinya serta Aqila putrinya.
Bagaimanakah perjalanan pernikahan mereka selanjutnya, akan kah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan Dewi
Dengan menggunakan kendaraan umum yakni Bajai, akhirnya Zara dan juga Aqila tiba di salah satu perkampungan yang memiliki gang sempit serta padat penduduk, beruntungnya Zara masih ingat dimana letak rumah sahabatnya.
"Semoga Dewi masih tinggal di sini!" ucapnya bermonolog.
Dengan langkahnya yang cepat, akhirnya mereka tiba di depan rumahnya Dewi, sahabat semasa SMU nya, dan dulu Dewi pernah menawarkan iya bekerja Di Jakarta sebelum dirinya menikah dengan Jaka.
Zara mencoba mengucapkan kata salam dan beberapa kali mengetuk pintu rumah nya Dewi, namun sepertinya tidak ada jawaban dari dalam.
"Bun, kok gak ada yang jawab? Apa tante Dewi nya lagi pergi ya?" ujar Lala sembari menatap wajah Bundanya.
"Hemmm, bisa jadi La, terus bagaimana ini? Bunda tidak kenal siapapun di sini!" jawabnya sembari tengok ke kanan dan kiri.
Kemudian datanglah seorang wanita sekitar usia lima puluh tahunan dan mengenakan pakaian daster.
"Situ cari siapa? Rumah kosong kok di gedor-gedor!"
"Rumah kosong? Memangnya penghuninya kemana Bu?" tanya Zara semakin khawatir.
"Sudah dua hari ibu perhatikan si Dewi gak pulang-pulang, mungkin lagi di booking sama tamunya!"
Deg
Perkataan dari wanita paruh baya tersebut membuat Zara merasa syok.
"Ibu kalau berbicara jangan sembarangan! bisa timbul fitnah nantinya, temanku tidak mungkin seperti itu!" balas Zara berusaha membela Dewi.
"Yaelah, situ gak percayaan amat sih, warga satu kampung sini tuh sudah pada tahu kalau si Dewi itu pelac*r, semenjak dia di ceraikan sama suaminya, eh jadi wanita nakal seperti ini, sangat di sayangkan, padahal Dewi itu cantik loh!"
Tidak lama kemudian, munculah Dewi bersama seorang pria, iya berjalan sempoyongan seperti wanita sedang mabuk.
"Permisi Mba, apakah anda saudaranya Mba Dewi?" tanya pria berseragam hitam kepada Zara.
"S saya temannya Dewi, Mas!" jawabnya kembali gugup.
"Kalau begitu perkenalkan Mba, saya Roni, dan saya adalah seorang Security di tempat Mba Dewi bekerja, bisakah anda membantu saya untuk membawa Mba Dewi masuk ke dalam rumahnya?"
Zara pun mengangguk lalu kemudian mencari kunci rumah di dalam tasnya Dewi.
"Tuh, apa yang aye bilang barusan itu bener kan? Yasudah lah kalau begitu aye pamit pulang, nanti kita ngobrol lagi ya Mba." pamit si wanita paruh baya yang tidak menyebutkan siapa namanya.
Kemudian Zara membawa tubuh Dewi ke dalam rumahnya yang di bantu oleh Roni.
"Baiklah Mba, kalau begitu saya pamit untuk kembali ke tempat saya bekerja, soalnya belum waktunya jam pulang!" ucapnya sembari membungkuk.
"Baiklah, Terimakasih Mas Roni, sudah membantu dan mengantar teman saya!"
"Sama-sama Mba!" jawab Roni yang akhirnya berani menatap wajah Zara.
'Masya Allah, cantiknya wanita di hadapanku ini ,seandainya Allah memberikan ku jodoh seperti ini, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan nya!' ucapnya dalam hati.
Di tatap seperti itu, Zara malah menundukkan kepalanya dan ia enggan untuk menatap balik pria di hadapannya.
Setelah pria yang mengantar sahabat nya pergi, Zara buru-buru menemui Dewi, dimana sudah ada Lala yang menjaganya di sana.
"Air..mana air, aku haus ingin minum!" pintanya yang kemudian bangkit dari atas kursi sofa ruang tamu.
"Kau duduk saja Dew, biar aku yang ambilkan kau minum!" kini Zara buru-buru pergi ke dapur, iya bergegas mengambil gelas dan menuangkan air dari dalam dispenser.
Saat Zara akan memberikan minum untuk Dewi, ia malah kembali pingsan, Zara sampai kembali menghela nafasnya.
"Ya ampun Dewi, kenapa kau bisa mabuk seperti ini? Tubuhmu sangat bau alkohol!" kemudian Zara berinisiatif untuk mengganti pakaian Dewi.
Keesokan harinya
Dewi mulai terbangun dari tidurnya di atas kursi sofa, karena Zara tidak sanggup untuk memindahkan tubuh Dewi yang bobotnya cukup berat, seorang diri. Dewi pun sempat terkejut saat melihat sahabatnya, yakni Zara tidur di lantai bersama putrinya yang hanya beralaskan karpet cukup tipis.
"Ya ampun Zara, kau di sini?" ucapnya tidak percaya.
Kemudian sayup-sayup zara mulai membuka kedua kelopak matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga Dew!" ujar Zara sambil mengucek kedua matanya, kemudian iya melihat jam di dinding.
"Astaghfirullah sudah jam enam pagi, aku belum solat subuh Dew, aku tinggal solat dulu sebentar ya!"
"Ok siap, yasudah gih sana solat!" sahut Dewi menggeleng sambil tersenyum tipis.
Selesai solat subuh, rupanya Dewi membelikan sarapan nasi uduk beserta gorengan untuk mereka sarapan.
Zara yang melihat makanan tersebut langsung menelan Saliva nya karena semalam sempat kelaparan, begitu pun dengan Aqila yang terbangun karena mencium aroma nasi uduk yang menggugah seleranya.
"Ayo cepat sini Zara dan juga Aqila, kita sarapan bareng kebetulan aku membeli banyak untuk kalian sarapan, pasti kalian sangat lapar!" dan memang mereka berdua begitu lapar, beruntungnya Aqila tidak pernah rewel, baginya rasa laparnya yang semalam bisa ia tahan, malah Aqila anggap seperti menahan haus dan lapar saat sedang berpuasa.
Setelah selesai berdoa, kini mereka sarapan bersama-sama di ruang tamu. kali ini Aqila memakan sarapannya dengan lahapnya.
Setelah semuanya selesai, Dewi mengajak Zara untuk mengobrol sejenak, sedangkan Aqila lebih memilih untuk mengaji beberapa ayat Alquran.
"Zara, tumben kamu datang kesini tidak bersama suamimu?" tanya Dewi menatap heran Zara.
"Ceritanya panjang Dew!"
"Yasudah coba kamu ceritakan apa yang telah terjadi!" Dewi mulai memperhatikan Zara dengan serius.
Zara pun akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan juga Aqila.
seketika Dewi menggenggam kuat kedua telapak tangannya karena menahan rasa kesal.
"Dasar bedebah si Jaka itu Ra, aku tidak habis pikir dia akan setega itu padamu dan juga Aqila, ku kira dia adalah pria baik, namun nyatanya sifat aslinya ia tunjukan setelah ibunya meninggal, kamu yang sabar Zara, aku pasti akan membantumu, kamu tidak sendiri disini, ada aku yang selalu ada untukmu, kau adalah sahabat terbaikku sedari dulu!"
Perkataan dari Dewi telah membuat Zara menjadi terharu, ia pun memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu jauh lebih tenang. Dan tentu saja Zara tidak membuang kesempatan untuk meluapkan segala kekecewaan nya, iya butuh pundak untuk tempat nya bersandar dan iya butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahnya.
"hiks...hiks! padahal aku sudah memiliki rasa terhadap Mas Jaka Wi, tapi dengan teganya iya malah menghancurkan perasaanku seperti ini, hatiku benar-benar sangat sakit!" ucapnya sambil menangis.
Dewi pun membiarkan Sahabatnya itu menangis sepuasnya sampai benar-benar merasa lega.
selang beberapa menit kemudian, Zara ingin menanyakan sesuatu kepada Dewi, yakni sesuatu yang telah merubahnya menjadi berbeda seperti ini.
"Wi, ada apa dengan dirimu sekarang? Mengapa kau sangat jauh berbeda, Kau tidak seperti Dewi yang aku kenal dulu!"
Dewi hanya tersenyum hambar atas pertanyaan dari Zara.
"Keadaan yang telah memaksaku menjadi seperti ini Ra, aku terlilit hutang akibat ulah mantan suamiku, dan orang tersebut memintaku untuk menjadi pekerja di salah satu diskotik di kota ini tanpa di gaji."
Zara pun tercengang atas jawaban dari Dewi."Apa! Ini gila Wi, lantas kamu makan sehari-hari bagaimana?"
"Yaitu tadi Ra, aku bisa mencukupi kebutuhanku dengan uang tips dari tamuku, karena mereka merasa puas dengan servis yang telah aku berikan padanya!"
Mendengar hal itu, Zara langsung tercekat tidak percaya, kedua bola matanya sampai melotot.
"Dewi, apakah kau itu seorang pe..pel*cur?" tanya Zara terbata.
Bersambung....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
sabar saga tunggu halal 😁