Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delaney Opera Ballet
Saat aku dorong troli kebersihan ke kamar mandi dekat studio, beberapa balerina sedang berdiri di depan cermin.
Setelah mengoleskan lipstik lagi, yang paling dekat sama pintu bilang, "Aku lihat Rebecca Hadibroto sama Tuan Delaney jalan ke arah kantornya tadi."
Dia angkat alis ke teman-temannya. "Dia ganteng."
Masuk ke bilik pertama, aku mulai kerja dan menggosok toilet tanpa terlalu memperhatikan obrolan mereka.
"Kamu bisa bilang gitu lagi," desah cewek lain.
"Aku enggak lihat cincin nikah di jarinya, jadi dia masih target empuk," kata cewek yang pakai lipstik.
Temannya geleng-geleng kepala sambil mengejek. "Dia itu cowok tajir melintir. Apa yang bikin kamu mikir dia bakal ngelirik salah satu dari kita? Dia bisa milih perempuan mana pun di negara ini."
Cewek yang pakai lipstik melambaikan tangan, "Nggak ada cowok yang pernah nolak aku. Aku cuma butuh satu kesempatan buat narik perhatiannya."
Temannya geleng kepala lagi, dan saat aku menyiram toilet setelah membersihkan, dia melirikku dengan cuek sebelum bilang, "Ayo."
Para balerina keluar dari kamar mandi dan aku lanjut kerja sambil memikirkan pemilik baru perusahaan balet ini.
Namanya sudah diganti menjadi Delaney Opera Ballet beberapa waktu lalu, dan semua balerina yang aku temui hampir ngiler sama pemilik barunya, yang belum pernah aku lihat.
Aku sih, bodoh amat.
Begitu selesai membereskan bilik-bilik, aku cepat-cepat bersihkan wastafel sebelum mengepel lantai.
Aku dorong troli keluar kamar mandi, jalan menyusuri koridor sambil melirik semua studio. Jelas semua orang sudah pulang, jadi aku ke loker dan ganti pakai celana pendek ketat dan kaus pendek.
Setiap malam, saat tempat ini selalu kosong, aku nyolong tiga puluh menit buat menari. Itu bantu banget buat mengurangi stres.
Sejak kecil aku selalu suka menari. Dulu aku sering bikin pertunjukan konyol buat Nasrin, dan dia bakal tepuk tangan seakan baru lihat penampilan paling keren.
Senyum muncul di bibirku saat aku jalan ke studio.
Nasrin itu orang baik. Aku enggak tahu harus bagaimana kalau enggak punya dia sebagai tetangga.
Di studio, aku colokkan HP ke speaker buat memutar playlistku sambil menari.
Alive dari Sia mulai memenuhi ruangan, aku berdiri di depan cermin dan memperhatikan pantulan diri aku.
Aku tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan.
Aku pegang kendali hidup aku.
Hal-hal baik bakal datang ke aku.
Aku memilih buat meninggalkan yang buruk dan cuma mengundang hal positif ke hidup aku.
Sambil mengangguk ke diri sendiri, aku tarik napas panjang sebelum mulai bergerak. Semua stres dan pikiran berat pun menghilang, dan tubuh aku yang mengambil alih.
Detak jantungku makin cepat dan napasku ikut mengebut seiring irama musik yang naik. Aku berputar dan meluncur di lantai, kadang rasanya seperti sedang terbang.
Untuk satu momen yang terasa diberkati, aku merasa bebas dari semua batasan hidup aku.
Saat suara Sia melemah di nada-nada tinggi, aku berhenti dan dengan mata tertutup, aku dengarkan musiknya sampai selesai.
Aku tarik napas dalam dan perlahan angkat bulu mata.
Playlist aku lompat ke lagu berikutnya, dan begitu I'm Not Afraid dari Tommee Profitt dan Wondra mulai diputar, mataku langsung terpaku ke seorang cowok.
Dadaku naik turun karena semua gerakan barusan, dan tanganku mengepal saat terkejut melihat cowok yang membuatku linglung.
Dia bersandar di kusen pintu. Walaupun aku enggak terlalu paham soal merek mewah. Aku berani taruhan, tip lima ratus ribu yang aku dapat hari ini, kalau dibelikan jas seperti yang dia pakai, mungkin bisa satu tahun lamanya aku mengumpulkannya.
Rambut cokelat mudanya berantakan, kontras banget sama pakaiannya yang mahal, dan mata cokelatnya punya kilau yang enggak bisa aku jelasin. Dia lebih tinggi dari kebanyakan cowok dan kelihatan berpostur bagus.
Saat mataku balik lagi ke wajahnya, aku sadar aku sedang meliriknya sekali lagi. Ada sesuatu dari dia yang menarik aku.
Sudut bibirnya terangkat saat dia sedikit memiringkan kepala. Cowok itu kelihatan terhibur sama reaksi aku.
Sadar kalau aku enggak seharusnya ada di studio, aku cepat-cepat mengembalikan akal sehat dan jalan ke tempat aku meninggalkan HP.
Aku matikan playlist dan cabut HP sebelum jalan ke pintu, tempat cowok itu masih bersandar.
Begitu aku berhenti beberapa langkah dari dia, aku bertanya, "Bisa geser sedikit biar aku bisa lewat?"
Bukannya melakukan yang aku minta, dia malah bilang, "Aku kira tempat ini tutup jam sembilan."
"Ah ... iya." Lidahku keluar buat membasahi bibir. "Aku lagi bersih-bersih."
Aku terkejut saat dia mengulurkan tangan ke aku.
"Aku Farris."
Enggak mau terkesan enggak sopan, aku taruh tanganku di tangannya. Ada percikan aneh di lenganku yang menyambar ke seluruh tubuh bak petir.
Sial, cowok ini keterlaluan gantengnya.
Sambil berjabat tangan, dia bilang, "Farris Delaney."
Sial.
Kagetnya menusuk langsung ke dadaku dan mataku membelalak saat aku cepat-cepat menarik tanganku dari genggamannya.
Delaney.
Sepertinya dia pemiliknya.
Bosnya para bos aku.
Aku tertawa gugup, hal yang selalu aku lakukan saat lagi kepepet.
Aku mulai menyelip melewati dia buat kabur sambil bilang, "Aku harus pergi. Aku ada urusan."
Iya ... urusan kerja, membersihkan perusahaan dia.
Aroma parfumnya yang bikin mabuk kepayang, menyambarku dan aku enggak keberatan. Tapi karena takut ketahuan santai-santai di jam kerja, aku lari menyusuri koridor.
"Hey ... Kamu belum bilang nama kamu siapa!" teriaknya sambil tertawa.
"Aku tahu," jawabku sebelum menghilang di tikungan.
Takut dia mengejar, aku mulai lari dan enggak berhenti sampai ke loker. Aku cepat-cepat pakai jeans dan kaus sebelum pakai celemek biru tua milik perusahaan. Aku mengikat rambut jadi kuncir, dan kembali pakai topi perusahaan.
Aku menunggu sepuluh menit lagi, berharap Pak Delaney sudah pergi, lalu aku dorong troli ke koridor dan kembali bekerja.
Itu nyaris banget.
Aku harus lebih hati-hati, karena kalau Pak Delaney menangkap aku lagi menari di jam kerja, kemungkinan besar aku bakal dipecat dan aku enggak sanggup kehilangan pekerjaan ini.
JD penasaran Endingnya