NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Merendahkan Diri (Menemui Daviko)

     Dunia terasa seperti sedang mempermainkan Saliha. Di bawah guyuran hujan yang semakin menggila di pinggiran Depok, ia berdiri mematung di depan gerbang kosannya yang terkunci rapat.

    Barang-barangnya yang kini hanya berupa tumpukan sampah basah seolah menertawakan nasibnya. Ia mencoba menghubungi Helda satu kali lagi, tapi suara operator yang dingin memberitahunya bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi. Helda benar-benar sedang berada di luar jangkauan untuk menyelamatkannya.

     ​Saliha memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat. Ia tidak punya pilihan. Di kota sebesar ini, satu-satunya alamat yang tersisa di ingatannya hanya satu, rumah besar dengan pagar hitam tinggi milik Kapten Daviko.

     ​Sambil menyeret satu tas kecil berisi dokumen dan pakaian yang belum sempat basah total, Saliha berjalan kaki menyusuri trotoar. Pikirannya kembali ke masa lalu. Bayangan wajah Hendra yang dulu terlihat sangat manis kini berubah menjadi sosok iblis dalam ingatannya.

     ​"Liha, Daviko itu tentara. Dia tidak akan pernah punya waktu untukmu. Dia keras, kaku, dan membosankan. Ikutlah denganku, aku akan memberikan kelembutan yang tidak bisa diberikan pria berseragam itu." Hasutan Hendra menggema, membuat air mata Saliha luruh menyatu dengan air hujan.

     ​Andai saja ia tidak goyah. Andai saja ia tidak tertipu oleh kelembutan palsu Hendra yang akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah Daviko pergi. Sejak hari itu, kutukan Daviko seolah menjadi magnet bagi segala kemalangan dalam hidupnya.

     Hubungan-hubungannya selalu gagal, termasuk dengan Huda yang meninggalkannya sebulan lalu tepat di saat ia mulai berharap pada sebuah pernikahan.

     ​Kini, dengan sisa tenaga yang ada, Saliha sampai di depan rumah Daviko. Dengan tangan yang membiru karena kedinginan, ia menekan bel berkali-kali.

     ​Pintu terbuka. Daviko muncul dengan wajah yang jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya. Ia mengenakan kaos oblong hitam, matanya menyipit melihat sosok wanita yang sudah seperti gelandangan di depan pagarnya.

     "Assalamualaikum, Pakkk...." Ucapan salam itu terdengar bergetar. Mata Saliha menatap sekilas wajah Daviko, lalu segera menunduk ke arah lantai.

     "Waalaikumsalam." Jawabannya pelan, hampir tidak bersuara, seolah enggan membalas salam dari seorang Saliha.

     ​"Apa lagi, Saliha? Belum cukup uang yang aku berikan tadi siang?" lanjut Daviko dengan suara bariton yang berat.

     ​Saliha jatuh berlutut di depan gerbang. "Pak... tolong... saya tidak punya tempat tinggal. Saya diusir dari kosan... barang-barang saya hancur semua. Saya tidak tahu mau pergi ke mana lagi."

     ​Daviko terdiam sejenak, menatap Saliha dengan pandangan menghakimi yang tak terbaca. "Lalu? Mana suamimu? Mana ayah dari bayi yang kamu susui itu? Kenapa kamu malah mengemis di rumah mantan kekasih yang sudah kamu khianati?" Suara Daviko sinis.

     ​Saliha mendongak, wajahnya pucat pasi tapi matanya menyiratkan kejujuran yang pedih. "Saya... saya tidak punya suami, Pak. Saya belum pernah menikah."

     ​Alis Daviko bertaut tajam. "Jangan berbohong! Lalu ASI itu? Kamu pikir aku bodoh? ASI tidak akan keluar kalau seorang wanita tidak pernah melahirkan."

     ​Saliha terisak, suaranya terputus-putus karena hawa dingin.

     "Tapi ini benar, Pak. Saya belum pernah menikah atau hamil. Dan mengenai ASI saya ini...menurut dokter ini adalah efek obat yang saya minum. Saya...."

     "Obat? Kamu mengkonsumsi obat apa sampai ASImu bisa keluar. Kamu ngarang cerita?"

     "Ti~tidak, Pak. Demi Allah saya tidak berdusta. Ini benar-benar kondisi di mana tubuh saya mengalami stress dan efeknya ASI saya keluar dan melimpah. Dokter bilang, saya mengalami galaktorea," terang Saliha meski sedikit terbata.

     "Galaktorea, apa maksudnya?" gumam Daviko. Hatinya sedikit penasaran, apa yang dikatakan Saliha benar atau berdusta.

     ​Keheningan tercipta di antara mereka, hanya suara hujan yang mengisi udara. Daviko menatap Saliha dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada keraguan, ada kebencian, tapi ada juga sedikit getaran di wajah kaku sang Kapten.

     Ia belum sepenuhnya percaya, namun melihat kondisi Saliha yang sudah hampir pingsan, sisi kemanusiaannya sebagai prajurit masih tersisa.

     "Ah...sudahlah. Masa bodoh dengan alasanmu. Aku tidak paham apa yang kamu katakan. Apapun yang kamu katakan, aku juga tidak mau percaya padamu begitu saja. Lalu, sekarang apa maumu?" Sorot mata Daviko tajam menatap Saliha yang terlihat pucat.

     "Izinkan saya tinggal di sini, Pak. Saya bisa bekerja siang dan malam untuk putra Anda," mohonnya sambil menunduk, air matanya mulai tumpah.

     Daviko kembali menatap Saliha yang kali ini terlihat mengenaskan. Tubuh basah, tas yang ditentengnya ikut basah dan sedikit kotor. Daviko merasa iba, tapi bukan iba karena cinta.

     ​"Masuk," perintah Daviko dingin. "Jangan berpikir aku percaya semua bualanmu. Tapi, aku tidak ingin ada mayat di depan rumahku."

     ​Daviko memanggil Bi Tita untuk membawa Saliha ke kamar belakang, sebuah kamar kecil di dekat area dapur dan kamar pembantu. "Beri dia pakaian kering dan obat. Besok, aku akan menanyakan kebenarannya lagi."

     ​Malam itu, Saliha tidak bisa tidur meskipun tubuhnya sudah hangat. Namun, sekitar pukul dua pagi, sebuah keributan terdengar dari lantai atas.

     Suara tangisan Kaffara pecah, melengking tinggi dan penuh penderitaan. Saliha bisa mendengar suara langkah kaki Daviko yang terburu-buru, suara botol kaca yang berdenting, dan gumaman panik Bi Tita.

    ​Tak lama kemudian, pintu kamar Saliha diketuk kasar. Daviko berdiri di sana dengan wajah frustrasi. Di gendongannya, Kaffara menangis hingga wajahnya memerah.

    ​"Dia tidak mau minum dari botol. Dia menolak semua dot yang kami berikan. Dia hanya ingin menyusu langsung," ucap Daviko dengan suara yang sedikit melunak karena kelelahan. "Cepat, tolong dia. Aku tidak peduli siapa kamu sekarang, tolong selamatkan anakku dari rasa lapar."

     ​Saliha segera bangkit. Ia mengambil Kaffara dari dekapan Daviko. Dengan gerakan canggung namun penuh kasih, ia membawa bayi itu kembali ke ranjangnya di kamar bawah.

     Daviko berdiri di ambang pintu, memperhatikan dari jauh dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas mengawasi Saliha.

     ​Begitu Saliha mendekatkan Kaffara ke dadanya, tangis bayi itu perlahan mereda. Kaffara seolah mengenali aroma hangat dan detak jantung yang ia butuhkan. Bayi kecil itu menyusu dengan rakus, jemari mungilnya mencengkeram kemeja pinjaman yang dipakai Saliha.

     ​Saliha meneteskan air mata saat melihat wajah mungil itu. "Sayang... anak pintar... tenang ya," bisiknya lembut.

     ​Daviko terpaku di tempatnya. Melihat Saliha menyusui anaknya memberikan perasaan asing yang menyesakkan dadanya. Ada kemarahan yang masih membara, tapi melihat Kaffara yang akhirnya tenang setelah berjam-jam menangis membuat hatinya sedikit meluluh.

     ​Malam itu, Saliha tidak kembali ke kamarnya sendiri, setelah Kaffara ditidurkan di kamarnya. Kaffara tidak mau dilepaskan. Setiap kali Saliha mencoba meletakkan bayi itu ke box bayinya, Kaffara akan terbangun dan mulai merengek.

    Akhirnya, Daviko hanya bisa terdiam melihat Saliha berbaring menyamping di ranjang kamarnya, dengan Kaffara yang terlelap pulas dalam pelukannya.

     ​Daviko duduk di kursi di sofa tak jauh dari sana, menjaga mereka. Ia menatap Saliha yang sudah tertidur karena kelelahan, sementara tangannya masih memeluk Kaffara dengan protektif.

     ​"Siapa sebenarnya kamu sekarang, Saliha? Kamu tampak menyedihkan," bisik Daviko pelan, suaranya tenggelam dalam keheningan malam. "Apakah kamu malaikat pelindung anakku, atau kutukan yang sengaja kembali untuk menghancurkan sisa-sisa benteng di hatiku?"

     ​Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian istrinya, rumah Kapten Daviko tidak disambut dengan tangis bayi yang histeris.

     Kaffara bangun dengan senyuman kecil, masih berada dalam dekapan hangat wanita yang dulu pernah menyakitinya dan kini menjadi alasan bayinya untuk bertahan hidup.

     Apakah Daviko tetap tidak percaya kalau Saliha memang belum menikah, meskipun Saliha sudah berterus terang?

Jangan lupa dukungannya, ya. 🥰🥰🥰

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!