Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Gelas teh
Suasana kedai yang tadinya hangat oleh aroma daging bakar mendadak mendingin.
Jian Feng masih mengunyah potongan daging terakhirnya saat wanita itu mencoba merayunya.
Dengan tatapan yang mampu membuat api di tungku kedai seolah membeku, Jian Feng mendengus.
"Mau apa kau, hah? Lebih baik kau pergi! Dasar pengganggu!" ketus Jian Feng.
Wanita itu terperanjat, mundur selangkah. "Kasar juga ya? Wajahmu saja yang tampan tapi sikapmu sangat dingin. Apa kau tidak pernah bermain dengan wanita?"
Jian Feng berdiri, tangannya sudah berada di hulu pedang. Aura membunuhnya tipis namun tajam, seperti silet yang mengiris udara. "Aku bukan seorang bajingan! Dan maaf saja ya... aku sudah menikah!" ucapnya dengan nada bangga sekaligus pedih.
Baginya, meskipun Lin Xue telah pergi, statusnya sebagai suami adalah harga mati yang tak bisa ditawar oleh godaan murahan.
Tepat saat ketegangan memuncak, pintu kedai ditendang hingga jebol.
BUGH!
"Waktunya kita pesta, teman-teman!" teriak seorang pria bertubuh besar dengan kapak di punggungnya, diikuti oleh lima orang anak buahnya yang tampak seperti sampah masyarakat.
Melihat itu, Jian Feng menghela napas panjang, tapi sebuah senyum tipis yang licik tersungging di balik cadarnya.
Ia menyimpan kembali niatnya untuk menebas wanita di depannya. "Sepertinya aku akan mendapatkan beberapa koin emas dan barang yang lumayan dari sampah-sampah ini, batinnya."
Jian Feng menoleh kembali ke arah wanita itu, matanya menyipit sinis. "Aku tahu kenapa kau mendatangiku. Kau melihat pedangku yang bagus, kan? Kau ingin merayuku lalu memeras ku? Kau pikir aku bodoh! Umurku saja sudah sangat tua! Aku ini seperti kakek-kakek yang sangat muda dan tentunya tampan!"
Petir Kecil yang sedang asyik menjilati sisa lemak daging di meja mendongak malas. "Kau jadi narsis begitu, Tuan. Memalukan sekali."
Jian Feng mengabaikan komentar peliharaannya dan kembali duduk dengan santai.
Ia ingin membiarkan para preman itu beraksi sedikit lebih lama agar ia punya alasan kuat untuk menghajar mereka dan menyerahkan mereka ke kantor keamanan kota demi uang hadiah.
"Duduklah dengan benar, wanita bodoh! Anggap saja kau sedang beruntung karena aku sedang bahagia. Aku akan mentraktirmu." perintah Jian Feng sembari menyesap teh oolong-nya dengan tenang.
Wanita itu menelan ludah. Intimidasi yang dipancarkan Jian Feng benar-benar tidak wajar. Ia merasa seperti sedang duduk di depan seekor naga yang sedang menyamar.
"S-siapa sih dia ini? Kenapa dia sangat tenang dan sikapnya seperti orang tua? Aku harus kabur!"
Baru saja wanita itu berniat bangkit untuk melarikan diri, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
Ia berbalik dan melihat mata Jian Feng melotot dengan tatapan yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Duduklah!" Perintah itu tidak bisa dibantah. Wanita itu langsung duduk dengan kaku, punggungnya tegak lurus karena ketakutan.
"Tuan, kenapa kau membiarkan dia duduk?" tanya Petir Kecil lewat transliterasi jiwanya.
"Nanti juga kau tahu. Dia akan berguna sebagai saksi atau apalah." jawab Jian Feng pendek sembari tetap memegang cangkir tehnya dengan gaya elegan.
Di tengah kedai, para preman itu mulai berulah. Si pemimpin preman mencengkeram kerah baju pelayan yang gemetar.
"Hei, pelayan sialan! Beraninya kau menyuruh kami untuk membayar?!"
"T-tapi Tuan, kemarin Anda belum bayar... dan hari ini Anda memesan banyak arak..." rintih si pelayan.
Preman itu mengangkat tinjunya yang besar. "Akan aku hajar kau, bangsat! Biar kau tahu siapa penguasa jalanan ini!"
Wuuush—TING!
Sebelum tinju itu mendarat, sebuah gelas keramik melesat secepat peluru, menghantam tepat di sendi pergelangan tangan si preman.
Pukulan itu terpental ke belakang, dan si preman melolong kesakitan sambil memegangi tangannya yang mendadak mati rasa.
Jian Feng masih duduk santai, tangannya yang tadi melempar gelas kini terangkat tinggi ke udara. Ia memberikan jari tengah dengan ekspresi paling datar yang pernah ada.
"Kau berisik sekali, tukang peras tolol!" ucap Jian Feng, suaranya menggema di seluruh kedai yang mendadak sunyi.
Para preman itu menoleh serentak ke arah meja pojok. Wajah mereka memerah karena amarah, sementara Petir Kecil di atas meja mulai mengeluarkan percikan listrik biru, siap untuk berpesta.
thor lu kaya Jiang Feng