Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Kembalinya Ren Zen
Permaisuri Mue Che melangkah setengah langkah ke depan, senyumnya melebar. “Putraku, Fui Che." ucapnya menatap Fui Che, lalu menatap Rin Che, "Dan Putriku, Rin Che. Latihan panjang yang kalian lakukan di Istana Kekaisaran Awan Oren, pasti melelahkan.”
Ia menatap kedua anaknya dengan kebanggaan yang tak disembunyikan. “Namun, semua itu terbayar tuntas. Lihat kalian sekarang.., aura kalian saja sudah membuat udara disekitar sini terasa berat.”
Fui Che tersenyum tipis. “Berkat restu Ibu, semuanya berjalan lancar.” ia sengaja melepaskan aura kultivasinya yang telah berada diranah Ekspert *3. Sesuatu yang sulit dicapai oleh pemuda seusianya.
Semua orang yang berada disitu terkejut kagum. Mereka tidak menyangka hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, Fui Che telah menerobos lima ranah kultivasi sekaligus.
Rin Che tidak mau kalah, ia juga menunjukkan aura kultivasinya yang sudah berada diranah Ekspert *1.
Para prajurit dan sebagian pejabat bertepuk tangan, kagum dengan kemampuan mereka berdua.
Sorot mata Permaisuri Mei Ling menyapu adegan itu dengan tenang, senyumnya terukir, senyum tulus tanpa adanya kebencian sedikitpun. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk singkat pada Fui Che dan Rin Che sebagai bentuk pengakuan dan kebanggaan.
Jenderal Gan Che melangkah maju dan memberi hormat.
“Pangeran Fui Che. Putri Rin Che. Kalian benar-benar Jenius Kekaisaran Awan Putih. Paman yakin, tidak ada pemuda di Kekaisaran Awan Putih ini yang sebanding dengan kalian.”
Fui Che menoleh, menatap sang jendral dengan tatapan percaya diri. “Paman tidak perlu memperjelas itu. Kami hanya berlatih lebih keras dari mereka semua.”
Rin Che mengangguk, setuju dengan pendapat kakaknya.
Beberapa pejabat tinggi mengangguk-angguk, bisik-bisik kekaguman terdengar di antara mereka.
“Pangeran Fui Che semakin pantas menjadi pilar kekaisaran…”
“Anak-anak Permaisuri Mue Che memang luar biasa…”
Kaisar Jack Zen mengangkat tangan.
Keramaian langsung mereda.
“Kita akan melanjutkan pembicaraan di dalam Aula Utama,” ujarnya. “Masih banyak hal yang harus dibahas, terutama menjelang Turnamen Jenius Kekaisaran.”
Fui Che menunduk sekali lagi. “Aku akan mengikuti turnamen tersebut ayah. Aku pasti akan menjadi pemenangnya.”
"Aku juga ayah." sahut Rin Che.
Rombongan mulai bergerak.
Namun tepat ketika mereka hendak melangkah menuju pintu Aula Utama—
Suara langkah kaki terdengar dari arah gerbang luar.
Langkah itu tidak tergesa, tidak pula ragu. Ritmenya tenang, mantap, seolah pemiliknya sama sekali tidak terpengaruh oleh kemegahan istana atau kehadiran para tokoh besar.
Beberapa prajurit penjaga menoleh.
Lalu mata mereka membelalak.
Dari balik gerbang, muncul seorang pemuda berusia belasan tahun, berpakaian sederhana namun rapi. Rambutnya hitam, tubuhnya kekar, matanya tajam dan tenang. Di sampingnya berjalan seorang wanita berambut ungu sebahu dengan senyum santai dan langkah ringan.
Ren Zen dan Lyra.
Suasana halaman istana berubah dalam sekejap.
Bisik-bisik kembali pecah, kali ini bukan karena kekaguman, melainkan keterkejutan.
“Siapa mereka?”
“Berani sekali masuk saat Kaisar berada di sini…”
“Tunggu—pemuda itu…”
Tatapan Kaisar Jack Zen berhenti.
Matanya yang tajam sedikit membesar—hanya sedikit, namun cukup bagi Permaisuri Mei Ling untuk menyadarinya.
Ren Zen melangkah maju hingga jaraknya cukup dekat untuk dilihat jelas oleh semua orang. Ia berhenti, lalu menangkupkan tangan dan menundukkan kepala dengan hormat yang sempurna.
“Putra Ren Zen,” ucapnya lantang namun tenang, “memberi hormat kepada Ayahanda Kaisar.”
Seluruh halaman istana seolah membeku.
Beberapa pejabat tinggi saling berpandangan. Jenderal Gan Che mengernyit, matanya meneliti Ren Zen dengan tajam.
Permaisuri Mei Ling menarik napas pelan.
Permaisuri Mue Che menyipitkan mata.
Fui Che berbalik.
Dan untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, ekspresi tenangnya retak. “Ren… Zen?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Lyra berdiri setengah langkah di belakang Ren Zen, tangannya terlipat santai. Ia melirik ke sekeliling, lalu berbisik kecil, “Wow… sambutan keluarga besar kekaisaran. Menegangkan sekali.”
Kaisar Jack Zen melangkah maju satu langkah. “Bangkitlah, putraku Ren Zen.”
Ren Zen menegakkan tubuhnya.
Tatapan ayah dan anak itu bertemu—yang satu penuh otoritas dan pengalaman, yang lain penuh ketenangan dan keteguhan tekad.
“Kau kembali,” kata Kaisar Jack Zen.
“Ya, Ayahanda.”
Permaisuri Mei Ling akhirnya melangkah maju, suaranya lembut namun jelas. “Ren Zen… Anakku, kau telah kembali.”
Ren Zen menoleh dan kembali menangkupkan tangan. “Salam hormat untuk Ibu.”
Senyum tipis muncul di wajah Mei Ling, mata teduhnya menghangat. Ia segera memeluk putranya, air matanya perlahan menetes. Rasa rindu yang selama ini ia pendam akhirnya terbayarkan.
Ren Zen membalas pelukan ibunya dengan hangat. Namun sebelum suasana itu sempat melunak—
“Hmph.”
Suara dingin terdengar.
Permaisuri Mue Che menatap Ren Zen dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Menarik sekali,” katanya pelan. “Putra yang lama tak terlihat… Berpetualang entah kemana... Pergi tanpa tujuan yang jelas... Dan sekarang memilih muncul tepat disaat Fui Che dan Rin Che kembali.”
Ren Zen menoleh, tatapannya tenang. “Putra itu hanya ingin kembali ke rumahnya, ibu Mue.”
Fui Che melangkah maju setengah langkah, berdiri sejajar dengan Ren Zen. “Rumah?” Ia tersenyum miring. “Aku tidak menyangka kau masih menganggap tempat ini rumah.”
Aura halus mulai bergetar di udara.
Lyra menguap kecil. “Wah… bahkan sebelum masuk Aula Utama suasana sudah sepanas ini.”
Jendral Gan Che ingin bicara, namun sebelum kata-kata keluar dari mulutnya, Kaisar Jack Zen mengangkat tangan.
“Cukup."
Semua terdiam.
“Semua urusan ini akan kita bicarakan di dalam Aula Utama.” lanjut Kaisar Jack Zen. Ia berbalik, berjalan lebih dulu.
Fui Che melirik Ren Zen sekali lagi—tatapan penuh tantangan dan kebencian.
Ren Zen membalasnya dengan ketenangan.
Saat mereka melangkah menuju Aula Utama, Lyra mendekat sedikit dan berbisik pada Ren Zen. “Sepertinya… kau benar. Dia memang lebih pantas disebut musuh.”
Ren Zen tidak menjawab.
Mereka semua pun memasuki Aula Utama.
Beberapa saat kemudian, Aula Utama Kekaisaran Awan Putih kembali dipenuhi keheningan yang menekan.
Pintu-pintu raksasa dari batu giok putih tertutup perlahan di belakang rombongan, menghasilkan gema berat yang bergulung di bawah kubah tinggi aula. Pilar-pilar berukir awan berdiri megah, memantulkan cahaya kristal yang tergantung di langit-langit.
Di sinilah keputusan-keputusan besar kekaisaran diambil—dan hari ini, dua nama yang sama-sama membawa darah Kaisar berdiri dengan niat dan tujuan yang berbeda.
Kaisar Jack Zen melangkah menuju singgasana di ujung aula. Ia duduk perlahan, punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Hanya dengan gerakan itu saja, tekanan tak kasatmata menyebar, membuat para pejabat secara refleks menundukkan kepala.
Di sisi kanan singgasana, Permaisuri Mei Ling duduk dengan anggun, wajahnya masih menyisakan kehangatan pertemuan barusan.
Di sisi kiri, Permaisuri Mue Che duduk tegap, dagunya terangkat sedikit, tatapannya tajam dan penuh kebencian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terussss........
reader yg setia masih menanti update yg terbaru