NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membumi

Homestay Ibu Wayan, Ubud, Pukul 06.30

Ayam jantan berkokok mengantarkan fajar. Ferdy terbangun dengan badan masih terasa ringan namun pikirannya penuh gejolak dari pengalaman meditasi kemarin. Ia berdiri di balkon kamarnya, memandang kabut tipis yang menyelimuti hamparan sawah berundak di hadapannya.

Udara pagi Bali yang sejuk dan harum bunga frangipani menenangkan sarafnya yang masih bergetar.

Dia tidak langsung kembali meditasi. Pak Ketut menyarankannya untuk "membumi" dulu, menikmati dunia nyata sebelum menyelam lebih dalam. Jadi, hari ini ia memutuskan untuk menjadi turis biasa—atau setidaknya, fotografer yang menikmati keindahan.

Setelah sarapan nasi campur sederhana buatan Ibu Wayan, ia menyewa motor matic butut dari tetangga. Dengan kamera DSLR-nya di tas khusus yang digantung di bahu, ia meluncur ke jalan.

---

Pura Luhur Uluwatu, Pukul 10.15

Angin laut bertiup kencang di tebing tinggi Uluwatu. Ombak Samudera Hindia menghantam karang di bawah dengan gemuruh. Ferdy berdiri di tepi tebing, memandang ke arah laut tak berujung.

Ia mengangkat kamera, bukan untuk mengambil foto pura atau pertunjukan Kecak, tetapi untuk menangkap momen: seekor elang laut yang melayang diam di antara angin, siluet sekelompok monyet yang duduk di pagar batu, garis tebing yang curam menantang langit.

Klik. Klik.

Setiap jepretan adalah sebuah latihan untuk tetap hadir di momen ini, di dunia ini. Tapi dalam setiap frame, ia merasa ada 'mata' lain yang juga menikmati pemandangan bersamanya.

Dasima. Dia seperti angin sepoi-sepoi yang berbeda di antara angin kencang, menemani setiap langkahnya.

---

Warung Sederhana, Jimbaran, Pukul 13.00

Ferdy berhenti untuk makan siang di warung pinggir pantai. Ikan bakar, plecing kangkung, nasi putih. Sambil makan, ia membuka ponselnya. Grup WhatsApp Project PAMOR dan grup skripsi "The Last Hope" sedang ramai.

Andika: "Fer, lo di Bali bawa pulang oleh-oleh gak? Gue mau kaos distro Bali yang keren."

Roni: "Loe ketemu cewek bule single gak di sana? Share dong tipsnya!"

Reza: "Gue liat story lo di Uluwatu. Keren banget pemandangannya!"

Siska: "Jangan lupa jaga diri, Fer! Jangan sampe ketipu harga!"

Bowo: "Cari inspirasi buat project selanjutnya ya!"

Ferdy tersenyum, membalas satu per satu dengan candaan singkat. Lalu, ia membuka kamera depan ponselnya. Di belakangnya adalah pemandangan pantai Jimbaran yang luas, dengan perahu-perahu nelayan dan langit biru cerah.

Dengan sedikit keraguan, ia mengambil foto selfie—bukan gaya-gayaan, hanya dirinya yang tersenyum tipis, dengan latar belakang indah. Ia mengunggahnya ke grup dengan caption:

"Masih hidup. Masih cari inspirasi. Doain ya."

Hampir seketika, notifikasi berdering. Komentar berdatangan.

Roni: "Wih, makin ganteng aja nih orang!"

Siska: "Cakep! Itu latar belakangnya bagus banget!"

Andika: "Kamu doyan sendiri ya di sana?"

Dan kemudian, sebuah notifikasi pribadi muncul. Dari Kirana.

Kirana: "Foto yang bagus. Senyummu terlihat tenang. Bali cocok untukmu."

Ferdy membalas: "Thanks. Iya, di sini tenang banget."

Kirana: "Jangan lupa juga nikmati liburannya, jangan cuma fotografi dan… urusan lain." Ada jeda. "Kapan pulang?"

Ferdy: "Belum pasti. Mungkin seminggu lagi."

Kirana: "Oke. Hati-hati ya. Dan… I miss our project discussions."

Kalimat terakhir itu sederhana, namun penuh makna. Ferdy menatapnya beberapa saat sebelum mengetik: "Iye, gue juga. Nanti kita lanjutin project budaya setelah gue pulang."

Balasan Kirana hanya berupa sticker senyum.

Ferdy tidak tahu, bahwa di layar ponsel Kirana di Jakarta, foto selfie-nya telah disimpan dengan cepat ke galeri.

Sebuah foto sederhana pria dengan senyum ringan dan mata yang melihat ke kejauhan, seperti sedang memandang sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.

---

Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Pukul 16.00

Naik motor ke Pura Besakih, pura terbesar dan tersuci di Bali, adalah pengalaman sendiri. Jalanan berkelok naik, dikelilingi oleh pemandangan gunung dan hutan. Suasana semakin hening dan sakral seiring mendekati pura.

Pura Besakih terbentang di lereng Gunung Agung, megah dan penuh aura spiritual yang kuat bahkan bisa dirasakan oleh orang yang tidak peka.

Ferdy parkir motornya, membayar tiket, dan mengenakan sarung serta selendang yang disewakan di pintu masuk.

Ia tidak langsung mengambil foto. Ia hanya berjalan pelan, menyusuri halaman demi halaman, mengamati kompleks pura yang luas, merasakan energi yang berbeda dari tempat lain. Ini bukan energi tenang seperti di Ubud. Ini energi yang besar, berwibawa, seperti sebuah kekuatan purba yang masih terjaga.

Ia teringat pesan ayahnya (atau sosok ayahnya di ruang antar-waktu): "Bawa keris ke Pura Besakih." Tapi kerisnya belum ia ambil.

Itu adalah tujuan berikutnya setelah Bali. Jadi untuk sekarang, ia hanya ingin merasakan tempat ini, mempersiapkan diri.

Dia menemukan sebuah sudut yang sepi, di antara dua bale, dengan pemandangan langsung ke Gunung Agung yang puncaknya tersembunyi awan. Di sana, ia duduk bersila, mencoba meditasi sendiri tanpa bimbingan Pak Ketut.

Napas dalam. Keluar. Ia mencoba mengosongkan pikiran. Tapi pikiran itu datang: keris, ayah, Dasima, Kirana, foto selfie tadi, pesan ayah tentang "cahaya dari kehidupan sekarang". Semuanya berputar.

"Tenang, Raden," sebuah suara lembut—suara Dasima yang kali ini terdengar lebih jelas, seperti bisikan di telinga batinnya—"Jangan dipaksakan. Biarkan tempat ini menyapamu."

Ferdy menurut. Dia berhenti berusaha meditasi 'dengan tujuan'. Dia hanya duduk, hadir, merasakan angin dingin pegunungan, mencium aroma dupa dari salah satu pelinggih (bangunan suci), mendengarkan gemerisik daun dan doa-doa yang samar dari umat yang lalu lalang.

Dan kemudian, tanpa ia duga, sebuah kejernihan datang. Bukan penglihatan atau memori. Tapi sebuah pemahaman.

Ia menyadari bahwa dirinya—Ferdy Wicaksono—adalah sebuah kapal. Di dalam kapal itu, ada muatan bernama Raden Wijaya, dengan cinta dan hutang nyawa pada Dasima. Tapi nahkodanya adalah Ferdy.

Dan kapal itu berlayar di laut yang bernama kehidupan sekarang, di mana ada pulau-pulau bernama Kirana, Ibu Surti, teman-teman, dan passion fotografi.

Membawa muatan masa lalu bukan berarti harus membuang muatan masa kini. Mungkin, justru kapal itu perlu keduanya agar seimbang untuk berlayar lebih jauh.

Pemikiran itu sederhana, namun terasa seperti beban yang sedikit terangkat dari pundaknya. Ia tidak harus memilih antara Dasima dan Kirana dengan segera.

Ia tidak harus segera menjadi Raden Wijaya atau tetap hanya sebagai Ferdy. Ia bisa menjadi keduanya, dalam waktu yang berbeda, dengan cara yang berbeda.

Dia membuka mata. Senja mulai turun, melukis langit di atas Gunung Agung dengan warna jingga dan merah muda.

Pemandangan itu begitu megah, begitu menghancurkan ego. Di hadapan alam dan waktu yang begitu besar, persoalan cinta dan jati dirinya tiba-tiba terasa kecil, namun tidak berarti tidak penting.

Justru, dalam skema besar semesta, cinta—baik yang dari masa lalu maupun sekarang—adalah bagian dari energi yang sama yang menggerakkan segala sesuatu.

Ia mengangkat kamera, memotret senja itu. Bukan untuk project, bukan untuk dijual. Hanya untuk mengabadikan momen pencerahan kecil ini.

---

Warung Kopi di Kota Karangasem, Pukul 19.00

Dalam perjalanan turun, ia berhenti di sebuah warung kopi sederhana. Sambil menikmati kopi Bali panas dan pisang goreng, ia membuka ponsel. Ada pesan dari Pak Ketut.

Pak Ketut: "Bagaimana perjalanannya, Mas? Sudah ke Besakih?"

Ferdy: "Sudah, Pak. Saya merasa… lebih jelas. Terima kasih bimbingannya."

Pak Ketut: "Bagus. Meditasi besok di tempat lain. Saya tahu tempat di dalam hunan dekat sungai. Energinya jernih untuk mendengar suara hati."

Ferdy setuju. Lalu, ia melihat galeri fotonya. Ada foto senja di Besakih, foto elang di Uluwatu, foto pantai Jimbaran, dan… foto selfie tadi siang. Ia menatap foto selfie-nya sendiri.

Di matanya, ia melihat sesuatu yang berbeda: ada kedamaian, tapi juga sebuah tekad. Dan di balik bahunya, dalam refleksi kacamata hitam yang ia pakai di foto, ada bayangan samar… seperti siluet seorang perempuan dengan rambut panjang. Hanya seorang yang sangat peka—atau yang mengetahui—yang akan memperhatikannya.

Dia tersenyum. Mungkin itu hanya pareidolia, tricks of light. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa itu adalah Dasima, yang bahkan dalam foto pun tidak ingin jauh darinya.

Malam itu, di homestay, ia tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya sejak datang ke Bali. Mimpi-mimpinya tidak tentang pedang atau racun, tetapi tentang sebuah kapal yang berlayar tenang di antara dua pulau—satu pulau penuh wangi melati kuno, satu pulau lainnya dipenuhi senyuman wanita modern yang sabar—di bawah langit berbintang yang sama.

Dan di buritan kapal, berdiri seorang pria dengan kamera di satu tangan, dan sebuah keris tua yang dibungkus kain di tangan yang lain, siap menjalani takdir ganda yang telah dituliskan untuknya oleh darah dan waktu.

1
♡✿⁠Almi_Wahy
haii... cerita nya bagus banget... semangat thor lanjut terus cerita
Bp. Juenk: thanks kaka 💪
total 1 replies
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!