"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti penjara
"Lepaskan aku Jacob! Kau membuat tanganku sakit!" Yasmin mencoba memberontak, tapi tenaganya kalah jauh dengan tenaga Jacob.
Jacob menarik Yasmin masuk ke dalam mobilnya dengan paksa, bahkan sampai membuat tubuh Yasmin sedikit tersungkur di atas kursi penumpang.
"Maafkan aku, Yasmin. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di tempat ini lebih lagi. Apa lagi bersama Javier!" Tak Jacob hiraukan teriakan Yasmin yang terus meminta dilepaskan seraya memukul kaca jendela mobil.
"Diamlah, Yasmin! Cobalah untuk memahami betapa hancurnya perasaanku saat melihatmu berada di tempat ini bersama dengan pria lain. Kau kejam Yasmin!" Pekik Jacob dengan rahang yang mengeras.
Ini adalah kali pertama Yasmin melihat Jacob sampai semarah itu, hingga membuat nyali Yasmin sedikit menciut. Yasmin terdiam, Ia juga merasa lelah setelah menangis seharian, jadi Yasmin memilih untuk pasrah.
Sepanjang perjalanan dari Vila menuju Jakarta, Jacob dan Yasmin lebih banyak diam, tapi isi kepala mereka sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing.
Yasmin menatap jalanan yang melintas di luar kaca jendela, tanpa sadar air matanya menetes lagi. Tapi segera Yasmin hapus sebelum Jacob melihatnya.
"Mengapa kamu seperti ini, Jacob? Kamu menuduh aku tidak setia, padahal kamu sendiri yang sudah mengkhianati cinta suci kita." Suara hati Yasmin. Ia mengusap sedikit bagian dada yang terasa sesak.
"Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk bertanya apakah kamu benar-benar mencintaiku? Atau hanya melihatku sebagai milikmu yang harus kamu kendalikan?" Dalam benaknya, Yasmin terus mengulang kenangan di hari mereka menikah, hingga pengkhianat itu terjadi.
Senyum hangat Jacob yang dulu selalu membuat hati Yasmin berdebar, kini hanya tersembunyi di balik wajah yang keras dan dingin.
Sementara itu, Jacob menatap jalan dengan pandangan yang tajam, tangan kanannya erat menggenggam setir hingga buku tangannya memucat.
"Bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang kita cintai? Rasanya sakit bukan?" Gumam Yasmin, bibirnya tersenyum miring
Melihat Jacob sedih dan marah padanya. Yasmin malah merasa puas, tidak ada keinginan sedikitpun untuk menjelaskan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Yasmin menyipitkan mata kala mengingat insiden yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun yang lalu. Andai waktu bisa diulang, Yasmin lebih memilih untuk tidak menyelamatkan Jacob. Tidak membiarkan Jacob membalas cintanya. Dan akan menikmati perasaan cinta itu hanya untuk dirinya sendiri.
"Kita sudah sampai, turunlah." Suara Jacob membuyarkan lamunan Yasmin.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya mobil hitam Jacob tiba di rumah mewahnya. Jacob menarik tangan Yasmin untuk turun, menggenggam tangannya erat, seakan tidak membiarkan sang istri lari lagi.
"Jangan pergi dariku lagi Yasmin, aku tidak bisa hidup tanpa kamu di sisiku." Ucap Jacob dengan suara yang lebih lembut, meskipun tangannya masih tidak melepaskan genggamannya.
"Aku tidak akan marah padamu, dan aku akan menganggap yang terjadi antara kau dan Javier di Vila tidak pernah terjadi. Suatu hari nanti kamu akan mengerti mengapa aku melakukan semua ini, Yasmin." Lanjut pemilik jambang halus itu.
Yasmin menoleh ke sembarang arah, yang penting tidak melihat wajah Jacob. Yasmin tidak mau, terjerat dalam cinta palsu pria itu lagi.
"Akhirnya kita sudah pulang Yasmin." Ucap Jacob, sebuah senyuman mengembang di wajah tampannya.
"Pulang? Tempat ini bukan rumahku lagi, Jacob. Aku tidak mau tinggal satu atap dengan wanita selingkuhanmu." Ucap Yasmin dengan sangat pelan, saking pelannya suara itu hingga membuat Jacob tidak bisa mendengarnya.
Di hadapan mereka, berdiri rumah besar yang seharusnya jadi tempat pulang Jacob dan Yasmin setelah lelah dengan aktifitas kerja. Tapi bagi Yasmin, saat ini rumah itu hanya seperti sebuah penjara tanpa jeruji besi.
Bersambung.