Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Gudang
🕊
Alea bangun lebih awal dari biasanya. Meski masih lelah akibat shift malam kemarin, semangatnya tetap tinggi. Ia sarapan sendiri di dapur rumah, menyiapkan roti dan teh hangat sambil memikirkan hari baru di restoran. Tas kerjanya sudah rapi, pakaian bersih, sepatu sudah dipoles, dan rambutnya terikat rapi. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri.
Sebelum berangkat, ia melihat Tante Gita menyirami tanaman di halaman, sementara Anggun duduk di bangku menunggu jemputan. “Pagi, Tante. Pagi, Anggun,” sapa Alea dengan senyum hangat. Tante Gita tersenyum. “Pagi, Alea. Semangat kerja hari ini, ya.” Anggun menepuk pundak Alea. “Pagi, Kak. Semoga nggak terlalu capek hari ini.”
Alea tersenyum tipis, “Iya, makasih. Aku akan berusaha.” Ia pun pamit, melangkah cepat menuju restoran. Sepanjang jalan, ia memperhatikan suasana kota pagi—anak-anak sekolah berlari-lari, pedagang mulai membuka lapak, dan suara kendaraan berdesir di jalan.
Sesampainya di restoran, suasana sudah lebih ramai dibanding hari pertama. Beberapa pelanggan yang sudah biasa datang duduk di meja masing-masing, beberapa staf terlihat sibuk menyiapkan meja dan makanan.
Seorang pelanggan tampak kesal karena menu yang diminta tidak sesuai. “Hei! Aku minta nasi goreng spesial, tapi kok ada telur mata sapi? Aku nggak mau telur!” Alea tersenyum ramah dan menunduk sedikit. “Maaf, Bu. Nasi goreng spesial Bunda akan kami buat ulang tanpa telur, segera ya. Terima kasih atas kesabarannya.”
Sambil berjalan ke dapur, Alea mendengar komentar dari salah satu rekan seniornya, Sarah, yang baru saja menepuk bahunya. “Kamu masih baru, ya. Hati-hati, Alea. Kalau salah sedikit, mereka bisa makin cerewet.” Alea mengangguk ringan. “Iya, aku paham.” Ia memilih fokus pada pekerjaannya, menyiapkan pesanan dengan teliti dan cepat.
Di dapur, Pak Rino menunggu. “Hari ini aku akan ajari kamu menyiapkan saus baru untuk pelanggan VIP. Harus rapi dan sesuai resep.” Alea tersenyum antusias. “Siap, Pak!”
Pak Rino menunjukkan langkah demi langkah, mulai dari menakar bahan, mengaduk dengan ritme yang tepat, hingga memasak dengan suhu yang pas. Alea mencatat dalam kepala dan sesekali bertanya, “Pak, kalau terlalu kental, apa yang harus saya lakukan?”
“Tambahkan sedikit air panas, perlahan. Jangan terburu-buru. Masak itu soal kesabaran, Alea,” jawab Pak Rino sambil tersenyum.
Saat shift berlanjut, Alea menghadapi pelanggan yang semakin cerewet. Beberapa menanyakan menu yang tidak tersedia, beberapa mengeluh tentang rasa dan porsi, sementara beberapa meminta layanan ekstra.
Satu pelanggan bahkan berteriak karena meja mereka tidak langsung dibersihkan. Alea menundukkan kepala, menatap mata pelanggan dengan tulus, dan berkata dengan tenang, “Maaf, Bapak. Meja akan segera dibersihkan. Terima kasih atas kesabarannya.”
Rekan senior lain, Budi, menatap Alea sambil tersenyum tipis dan berkata, “Lumayan, Alea. Bisa tetap tenang menghadapi orang ribut. Tapi ingat, besok mereka akan lebih menuntut lagi.” Alea mengangguk. “Terima kasih sarannya, Budi. Aku akan tetap fokus.”
Di sela shift, Alea mendapat kesempatan belajar memasak dessert baru dari Pak Rino. Ia belajar membuat adonan, menghias, dan menyesuaikan rasa. Meskipun lelah, senyum kecil muncul di wajahnya saat ia berhasil membuat hidangan yang sempurna.
Malam pun tiba. Shift malam lebih menantang dari pagi, pelanggan lebih cepat datang, dan beberapa meminta menu yang sulit disiapkan. Alea tetap fokus, langkahnya lincah, senyumnya tulus, dan pikirannya tertata.
Di akhir shift, Alea duduk sebentar di kursi belakang restoran, menarik napas panjang. Tubuhnya letih, tapi hatinya hangat. Ia sadar, setiap tantangan—pelanggan sulit, rekan kerja senior, tekanan ritme cepat—bukan untuk melemahkannya, tapi untuk membentuknya menjadi lebih tangguh. “Semoga besok aku bisa lebih siap lagi,” gumam Alea dalam hati sambil menatap lampu-lampu malam restoran yang mulai redup.
Alea melangkah keluar, menatap langit malam yang gelap namun tenang. Ia berjalan pulang, membiarkan angin malam membasahi wajahnya dan menenangkan pikiran. Jalanan sepi, hanya terdengar suara angkringan dan kendaraan jarang lalu lalang.
Ia menepuk pundak tasnya, tersenyum tipis. “Hari ini berat, tapi aku berhasil. Aku masih bisa berdiri, tetap tersenyum, dan belajar dari semuanya.”
Langkah Alea ringan meski tubuhnya lelah. Malam itu, ia merasa sedikit lebih dewasa, lebih siap menghadapi tantangan, dan lebih percaya bahwa meski dunia kadang terasa keras, ia memiliki kekuatan untuk bertahan.
–
Saat ini Alea tengah sibuk melayani pelanggan di meja VIP. Tangannya lincah, senyum tetap menempel di wajah, dan pikirannya fokus memastikan pesanan cepat sampai. Suasana restoran cukup padat, beberapa pelanggan tampak menikmati sarapan, sementara staf lain sibuk menyiapkan meja dan hidangan.
Tiba-tiba, Ka Wendy, rekan senior yang terkenal sinis, muncul di dekat Alea. Wajahnya menatap tajam. “Alea, ikut aku sebentar. Kita merapikan gudang,” katanya tegas, seolah memberi perintah langsung.
Alea menelan napas. Ia memang tahu bahwa tugas merapikan gudang hari itu seharusnya bukan tanggung jawabnya—jadwalnya hari ini fokus melayani VIP. Namun, ia menundukkan kepala dan mengangguk. “Iya, Ka Wendy,” jawabnya pelan.
Ia mengikuti Ka Wendy ke gudang, langkahnya berat namun tenang. Gudang itu berantakan, beberapa kardus bertumpuk, dan rak penuh peralatan masak yang berserakan. Alea mulai merapikan dengan cepat, tapi ada rasa malas kecil yang membuatnya tidak terlalu teliti. Ia menata barang-barang agar rapi secara umum, tapi tidak beraturan biasanya.
“Yah… cukup lah,” gumam Alea dalam hati, menepuk keringat di dahinya. “Yang penting terlihat rapi, bukan sempurna.” Setelah selesai, Alea kembali ke meja VIP, melayani pelanggan seakan tidak terjadi apa-apa. Namun beberapa menit kemudian, Bu Rina memanggil seluruh staf ke ruang utama.
“Semua berkumpul sekarang!” teriak Bu Rina tegas. “Saya ingin meninjau gudang dan melihat siapa yang bertanggung jawab atas kebersihan hari ini!” Alea menahan napas, langkahnya ikut mendekat. Ia tahu ini tidak akan mudah. Semua staf berdiri di barisan, wajah serius, menunggu penjelasan.
Bu Rina menatap tajam ke arah Alea dan Ka Wendy. “Siapa yang merapikan gudang hari ini?” Ka Wendy maju selangkah, menepuk dada nya. “Saya, Bu,” ujarnya dengan nada percaya diri, menatap semua orang seolah siap menerima pujian.
Tapi sebelum Bu Rina sempat menanggapi, Bu Rina menatap Ka Wendy lebih tajam. “Kamu? Tapi gudang ini… tidak rapi, dan beberapa barang masih berantakan. Tugasmu adalah merapikan dengan benar, bukan setengah-setengah!”
Ka Wendy tersentak, wajahnya memerah. Sebelum ia sempat membela diri, Sarah, rekan kerja yang selalu bersikap adil dan perhatian, menatap Bu Rina.
“Bu, tapi yang sebenarnya mengerjakan Alea, Bu. Ka Wendy hanya menyuruhnya. Alea sedang melayani pelanggan VIP, tapi digantikan untuk merapikan gudang,” kata Sarah dengan tegas namun lembut, menatap Alea sekilas agar ia tetap tenang.
Bu Rina menegakkan tubuhnya, wajahnya memerah. Suasana menjadi tegang. “Apa? Jadi yang melakukan pekerjaan ini bukan dia yang bertanggung jawab? Ini ketidakdisiplinan! Alea, kamu tahu aturan, siapa yang merapikan harus bertanggung jawab penuh!”
Alea menundukkan kepala. “Iya, Bu… saya hanya mengikuti perintah Ka Wendy,” jawabnya pelan, nada suaranya tenang meski hatinya berdebar. Ka Wendy menatap Sarah dan Alea dengan tatapan dingin. Mulutnya mengeras, lalu ia menundukkan kepala sedikit, menahan amarah yang terlihat jelas.
Bu Rina menepuk meja, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Ini tidak bisa dibiarkan! Tidak ada alasan untuk mengalihkan tanggung jawab! Semua harus belajar disiplin dan bertanggung jawab atas pekerjaan masing-masing. Siapa pun yang menyuruh staf lain untuk melakukan pekerjaannya sendiri, harus mengerti konsekuensinya!”
Sarah menatap Bu Rina, suaranya tetap tenang tapi tegas. “Bu, saya hanya ingin memastikan Alea tidak disalahkan. Dia hanya melaksanakan instruksi, tapi pekerjaan utama Alea hari ini adalah melayani pelanggan VIP. Kalau tidak ada pengaturan ulang, kesalahpahaman seperti ini akan terus terjadi.”
Bu Rina menghela napas, menatap semua staf dengan wajah serius. “Sarah benar. Tapi tetap saja, semua harus lebih berhati-hati. Tidak ada lagi kesalahan seperti ini.” Ka Wendy menundukkan kepala, wajahnya menegang. Matanya sesekali melirik Alea dan Sarah dengan dingin. Setelah pertemuan itu selesai, suasana di restoran sedikit canggung. Ka Wendy, yang biasanya suka mengedepankan senioritas, kini memandang Alea dan Sarah dengan rasa sinis yang lebih tajam.
Alea menarik napas panjang, menepuk bahu Sarah. “Terima kasih sudah membelaku, Sarah.” Sarah tersenyum tipis. “Tenang, Alea. Aku cuma ingin yang adil. Kamu lakukan yang benar hari ini.”
Alea menatap sekeliling restoran, melihat pelanggan mulai tersenyum kembali dan staf lain kembali bekerja. Ia sadar bahwa dunia kerja memang tidak selalu adil, tapi kadang keberanian untuk berbicara jujur dan tetap profesional bisa membuat orang lain menghargai integritasnya.
Saat ia kembali ke meja VIP, Alea merasakan kombinasi lega dan waspada. Shift malam masih panjang, pelanggan masih cerewet, dan Ka Wendy tetap menjadi tantangan. Tapi Alea meneguhkan hati: ia akan tetap tenang, tetap profesional, dan fokus pada pekerjaannya sendiri.
Di sudut hati, Alea tersenyum tipis. Ia tahu, setiap konflik seperti ini adalah latihan untuk bertahan dan berkembang. Dunia kerja keras, tapi setiap tantangan memberinya pengalaman, membuatnya semakin dewasa, dan mengajarkan bahwa kadang menghadapi orang sulit tidak selalu tentang menyerah, tapi tentang tetap berdiri dengan kepala tegak.
Alea menarik napas panjang, menatap lampu-lampu restoran yang hangat, dan berbisik dalam hati, “Aku akan kuat. Aku bisa melewati semuanya. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusak ritme kerjaku.”
☀️☀️