Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1# Nama di balik Kabut
Dingin. Rasa dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke tulang belakang adalah hal pertama yang menyadarkan Arlo. Ia terbangun dengan napas tersengal, seolah paru-parunya baru saja dipaksa menghirup udara setelah tenggelam lama. Saat matanya terbuka, ia tidak melihat langit. Yang ada hanya jalinan dahan hitam pekat yang saling melilit di atas sana, membentuk atap alami yang menelan cahaya matahari.
Arlo mencoba duduk, kepalanya terasa seperti dipukul gada besi. Ia memejamkan mata, mencoba menggali ingatan paling sederhana. Siapa aku? Di mana ini? Namun, hasilnya nol. Pikirannya seperti perpustakaan yang habis terbakar hanya ada abu di sana.
"Woi! Siapa kalian?! Kenapa aku ada di sini?!"
Sebuah teriakan melengking memecah kesunyian yang mencekam. Arlo menoleh ke arah sumber suara. Seorang cowok dengan rambut berantakan sedang berdiri gemetar, menatap sekeliling dengan mata melotot panik. Tak jauh dari sana, lima orang lainnya juga mulai terbangun dari pingsan mereka di atas hamparan lumut yang terasa kenyal dan tidak alami.
"Jangan berteriak, bodoh! Suaramu bisa memancing sesuatu yang tidak kita inginkan!" sahut seorang gadis dengan nada tajam sambil memegangi pelipisnya. Gadis itu yang nantinya akan dikenal sebagai Lira tampak sangat tertekan. Wajahnya pucat, matanya terus bergerak liar menatap semak-semak hitam yang seolah bergerak mengikuti arah suara.
"Siapa kau menyebutku bodoh?! Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri!" balas cowok berambut berantakan itu lagi, suaranya naik satu oktav. Ia tampak seperti orang yang akan menangis sekaligus mengamuk.
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka selama beberapa detik. Tujuh remaja asing, terjebak di hutan yang tampak mati, tanpa satu pun memori tentang masa lalu.
"Tunggu..." Seorang gadis yang tampak tenang (Naya) mengangkat tangannya ke depan wajah. Matanya terpaku pada pergelangan tangan kirinya. "Ada sesuatu di tangan kita."
Arlo refleks melihat pergelangan tangannya sendiri. Sebuah lingkaran logam tipis berwarna perak kusam melingkar erat di sana. Tidak ada sambungan, tidak ada kunci. Ia menggosok permukaannya yang berdebu, dan perlahan, sebuah ukiran huruf mulai terlihat di bawah remang cahaya hutan.
A-R-L-O.
"Arlo..." gumamnya lirih. Nama itu terasa aneh di lidahnya, namun ada getaran di dadanya yang mengatakan bahwa itu adalah identitasnya.
"Rayden? Namaku Rayden?" cowok yang panik tadi ikut membaca gelangnya. Ia menatap gelang itu seolah-olah itu adalah bom yang siap meledak. "Nama macam apa ini? Kedengarannya seperti merek alat listrik! Dan kau," ia menunjuk gadis yang memarahinya tadi, "Namamu Lira. Tertulis di sana."
Lira melihat gelangnya sendiri dan mendengus. "Setidaknya namaku tidak terdengar seperti pemanggang roti, Rayden."
Satu per satu mereka menyebutkan nama yang tertera: Naya, Finn, Zephyr, Selene. Mereka tidak saling mengenal, tidak ada ikatan persahabatan, yang ada hanyalah kecurigaan satu sama lain di tengah hutan yang semakin menggelap.
"Kita tidak bisa diam di sini sambil berdebat tentang nama," ucap Arlo, suaranya terdengar lebih stabil dibandingkan yang lain, meskipun tangannya sendiri masih gemetar. "Hutan ini... lihat pohon-pohon itu."
Arlo menunjuk ke arah barisan pohon kelabu yang mengelilingi mereka. Pohon-pohon itu tidak memiliki daun hijau; daunnya hitam dan tajam seperti silet. Dan yang lebih mengerikan, pohon-pohon itu seolah bergeser perlahan setiap kali mereka tidak memperhatikannya.
Under the Sleeping Trees. Nama itu tiba-tiba terlintas di kepala Arlo seperti bisikan gaib.
"Kenapa kau yang memerintah?" tanya Zephyr dengan suara rendah dan dingin. Ia sudah memegang sepotong kayu tajam, menatap Arlo dengan tatapan menantang. "Kita semua sama-sama tidak tahu apa-apa di sini."
"Karena jika kita tetap di sini, kita akan mati tanpa tahu kenapa kita punya nama-nama ini!" balas Arlo tegas.
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Bukan gempa, tapi getaran ritmis. Dug... dug... dug... Seperti detak jantung raksasa. Pohon-pohon di sekeliling mereka yang tadinya diam, kini mulai menjatuhkan daun-daun hitamnya. Daun-daun itu jatuh dengan suara tancap yang tajam ke atas lumut.
"Lari!" teriak Naya saat melihat sehelai daun nyaris membelah bahunya.
Kekacauan pecah. Ketujuh remaja yang baru saja tahu nama mereka itu berlari berpencar menembus semak-semak berduri. Rayden berlari paling belakang, berteriak-teriak setiap kali kakinya tersangkut akar.
"Tolong! Sesuatu menarik kakiku!" teriak Rayden. Sebuah akar hitam melilit pergelangan kaki Rayden, menyeretnya mundur ke arah kegelapan pohon yang mulai 'bangun'.
Finn, yang berlari di dekatnya, sempat berhenti sejenak dan tertawa kaget. "Wah, sepertinya pohon itu suka padamu, Ray!" Namun, saat melihat wajah Rayden yang benar-benar ketakutan, Finn segera mendekat dan menendang akar itu sekuat tenaga. "Bangun, Lampu Taman! Jangan mati sekarang!"
Lira, yang berada beberapa meter di depan, berhenti secara mendadak. Ia merasakan ketakutan hebat yang memancar dari arah Rayden. Sifat sensitifnya membuat ia tidak bisa mengabaikan jeritan itu. Dengan geraman kesal, ia berbalik dan menarik tangan Rayden saat cowok itu berhasil lepas.
"Ikut aku, atau kutinggalkan kau jadi pupuk!" bentak Lira.
"Aku ikut! Aku ikut!" balas Rayden sambil memegangi tangan Lira seerat mungkin, membuat gadis itu harus menyeretnya berlari.
Mereka terus berlari hingga sampai di sebuah tebing rendah yang menghadap ke sebuah padang rumput berwarna perak. Di ujung padang itu, sebuah menara logam raksasa berdiri tegak, memancarkan cahaya merah yang berkedip secara teratur ke langit gelap.
Arlo berhenti di tepi tebing, napasnya memburu. Ia menatap menara itu. Tiba-tiba, kepalanya berdenyut hebat. Sebuah bayangan muncul. Tujuh orang di dalam tabung, suara mesin, dan seorang pria yang berkata, 'Kalian akan segera bangun.'
"Arlo? Kau kenapa?" tanya Selene yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dengan ketenangan yang menakutkan.
Arlo menatap Selene, lalu menatap gelangnya yang kini mulai bersinar merah samar, seirama dengan cahaya dari menara tersebut.
"Nama-nama ini..." bisik Arlo sambil menatap teman-temannya yang masih terengah-engah dan saling curiga. "Ini bukan sekadar nama. Ini adalah kode subjek. Kita tidak tersesat di hutan ini, Selene. Kita baru saja dikeluarkan dari 'pabrik' itu."
Rayden, Finn, Naya, Lira, dan Zephyr semua terdiam. Mereka menatap menara logam itu dengan perasaan campur aduk. Di bawah naungan pohon-pohon yang kembali "tertidur" di belakang mereka, ketujuh jiwa ini baru menyadari bahwa nama mereka adalah satu-satunya hal yang mereka miliki untuk melawan dunia yang ingin menghancurkan mereka.