NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Duka Yang Menyisakan Tanya

Dengan napas tersenggal dan keringat dingin bercucuran, Lunaris langsung melompat dari tempat tidur saat mendengar ketukan keras di pintu depan rumahnya.

Jantungnya berpacu liar, memukul-mukul rongga dadanya seiring dengan gema suara ibunya dalam mimpi tadi yang masih terngiang jelas di telinga.

"Ibu tidak benar-benar pergi..."

Kalimat itu berulang seperti mantra yang rusak. Dengan langkah berat dan isi kepala yang penuh kekalutan, Lunaris berjalan menuju ruang depan. Di dalam hati, ia terus merapal doa, memohon pada Tuhan, pada semesta, atau siapa pun yang sudi mendengar doanya, agar mimpinya hanyalah bunga tidur belaka. Ia tidak cukup kuat. Ia belum siap menerima fakta buruk apa pun malam ini.

Tangan Lunaris bergetar hebat saat meraih gagang pintu besi yang terasa sedingin es.

Cklek.

Saat pintu sepenuhnya terbuka, angin malam menerobos masuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di hadapannya, dua orang pria berseragam polisi berdiri dengan wajah kaku dan tatapan yang sulit diartikan.

"Selamat malam. Apa benar ini kediaman Nyonya Nova Skyler?" Tanya salah satu polisi yang terlihat lebih tua.

Lunaris mengangguk kaku, suaranya tercekat di tenggorokan. "I-iya... saya anaknya."

Polisi itu menghela napas pelan, seolah sedang menyiapkan diri untuk menjatuhkan bom. "Kami dari kepolisian. Kami membawa kabar duka, Nona. Sekitar satu jam yang lalu, ditemukan sesosok jenazah wanita di tepi Sungai Khanzaz. Berdasarkan kartu identitas yang kami temukan di tas korban... identitasnya dikonfirmasi sebagai Nova Skyler, ibu Anda."

Dunia Lunaris berhenti berputar.

Suara angin, suara jangkrik, bahkan suara napasnya sendiri lenyap. Ia hanya berdiri mematung di ambang pintu, menatap polisi itu dengan mata kosong. Otaknya menolak memproses informasi barusan.

"Enggak," Bisik Lunaris pelan.

"Kami mengerti ini berat, tapi—"

"ENGGAK!" Sela Lunaris, suaranya naik satu oktaf. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, mundur selangkah. "Kalian pasti salah orang. Ibu saya masih bekerja dan belum. Ibu saya bekerja di rumah keluarga Luxe. Ibu saya mungkin sedang lembur malam ini. Ibu saya tidak mungkin ada di sungai... dia... dia akan pulang sebentar lagi."

"Nona, kami menemukan tas dan kartu identitasnya di lokasi," Polisi itu mencoba menjelaskan dengan nada simpatik namun tegas.

"ITU BOHONG!" Lunaris berteriak histeris, air mata mulai mendesak keluar meski ia berusaha menahannya. "Ibuku akan pulang sebentar lagi! Ibu saya tidak mungkin mati!"

Pertahanan Lunaris runtuh. Kakinya lemas seketika, membuatnya merosot jatuh ke lantai teras yang dingin.

Tangisannya pecah, raungan pilu yang menyayat hati memecah keheningan malam itu. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, seolah oksigen di sekitarnya telah dicuri paksa.

"Nona, kami membutuhkan Anda untuk ikut ke Rumah Sakit Pusat guna konfirmasi jenazah secara visual," Ujar polisi itu lagi, meski tampak ragu melihat kondisi Lunaris yang hancur.

Saat Lunaris berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, sorot lampu mobil yang menyilaukan tiba-tiba menyorot ke arah rumahnya. Sebuah mobil pickup tua berhenti mendadak di depan pagar dengan suara rem yang berdecit.

Pintu mobil terbuka kasar, dan keluarlah Nyonya Lyn. Wanita tua itu berlari tertatih-tatih, wajahnya pucat pasi. Ia mendengar kabar dari radio komunikasi warga tentang penemuan mayat di sungai dengan nama Nova, dan firasat buruk langsung membawanya kemari.

"Lunaris!"

Nyonya Lyn langsung menerobos masuk dan mendekap tubuh Lunaris yang gemetar di lantai. Pelukan itu hangat, berbau bunga dan tanah, aroma yang sejenak membuat Lunaris merasa aman. Namun, isak tangis Nyonya Lyn di bahunya menghancurkan harapan terakhir Lunaris. Jika Nyonya Lyn menangis, maka itu nyata.

"Nyo-nyonya Lyn...... I-ibu, ibu,"

"Kuatkan hatimu, Nak... Ya Tuhan, kuatkan hatimu," Bisik Nyonya Lyn sambil mengelus punggung Lunaris yang terguncang hebat.

Butuh beberapa menit agar Lunaris cukup tenang dan stabil. Pada akhirnya setelah mencoba menguatkan diri Lunaris pun berangkat ke rumah sakit tempat dimana jasad ibunya berada saat ini.

Bersama nyonya Lyn, perjalanan ke rumah sakit terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.

Lunaris duduk di kursi penumpang pickup Nyonya Lyn, membisu seribu bahasa, sementara mobil polisi mengawal mereka di depan.

Sesampainya di rumah sakit, bau antiseptik dan formalin langsung menyambut indra penciuman Lunaris, membuatnya mual. Mereka diarahkan menuju ruang forensik di lantai dasar. Di sana, suasana hening dan mencekam. Jenazah ibunya masih dalam proses pemeriksaan awal.

Lunaris duduk di bangku tunggu lorong rumah sakit yang dingin, tatapannya kosong menatap lantai marmer putih. Nyonya Lyn duduk di sampingnya, menggenggam erat tangan Lunaris yang sedingin es.

Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggema dari ujung lorong.

"Lunaris!"

Itu Aaron. Pemuda itu datang dengan napas memburu, rambutnya berantakan, dan kemejanya keluar dari celana—penampilan yang sangat tidak biasa bagi seorang Aaron Luxe.

Ia baru saja mendatangi rumah Lunaris sesaat setelah dia tidak sengaja ketika ibunya, nyonya Dimitri yang menerima telpon dari polisi mengenai kabar tentang ibunya Lunaris. Saat itu juga tanpa sempat mengganti pakaiannya Aaron langsung pergi ke rumah Lunaris bahkan mengabaikan teriakan ibunya yang melarang Aaron pergi, dan saat pemuda itu sampai di rumah Lunaris, ia mendapati rumah itu kosong.

Dengan rasa kalut Aaron menggedor dan memanggil nama Lunaris, tapi mau sekencang apapun Aaron mengetuk gadis itu sama sekali tidak menyaut.

Dalam kepala Aaron ada banyak rasa sesal, menyesal karena tidak mengantar Nova pulang, bahkan Aaron masih bertemu dengan wanita itu saat dia baru pulang mengantarkan seragam baru untuk anaknya, Lunaris.

Nova masih menyapanya dengan hangat saat bertemu di gerbang rumah Aaron. Masih tersenyum manis pada Aaron dan menanyakan bagaimana hari Aaron. Dan saat Aaron menawarkan diri untuk mengantar, wanita itu menolak dengan lembut.

Aaron masih mengingat betapa manis senyum orang yang pernah mengasuhnya sewaktu kecil itu. Dan seharusnya Aaron lebih memaksa Nova untuk diantar sehingga Aaron tidak perlu mendapat kabar duka setelahnya.

Lalu saat rasa putus asa mulai melanda, seorang tetangga Lunaris datang menghampiri Aaron. Tetangga Lunaris memberi tahu bahwa beberapa menit sebelumnya Lunaris pergi bersama nyonya Lyn menuju rumah sakit bersama polisi.

Maka tanpa ba-bi-bu, setelah mengucapkan terimakasih Aaron langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya dengan terburu-buru menuju rumah sakit yang dimaksud.

Aaron berhenti di depan Lunaris, lututnya lemas melihat keadaan gadis itu. Namun, lebih dari rasa khawatirnya pada Lunaris, ada duka yang mendalam di mata Aaron.

Bagi Aaron, bibi Nova bukan sekadar pelayan dan pengasuh, tapi juga keluarga.

Nova adalah wanita yang menyisihkan kue jahe untuknya saat ia kesepian di rumah besar itu. Aaron menyayangi Nova lebih dari ia menyayangi ibu kandungnya sendiri.

"Katakan itu tidak benar, nyonya Lyn..." suara Aaron bergetar, menatap Nyonya Lyn dengan tatapan memohon. "Bibi Nova... dia baik-baik saja kan?"

Nyonya Lyn hanya menggeleng lemah, air mata kembali menetes di pipi keriputnya. Aaron terduduk di kursi seberang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang menahan tangis. Dua anak manusia dari kasta yang berbeda itu kini disatukan oleh kehilangan yang sama.

Tak lama kemudian, pintu ruang otopsi terbuka. Seorang dokter forensik keluar bersama polisi yang tadi menjemput Lunaris.

"Keluarga korban?" tanya dokter itu.

Lunaris berdiri perlahan, dibantu oleh Nyonya Lyn. Aaron ikut berdiri di samping mereka, wajahnya tegang.

"Bagaimana... bagaimana ibu saya meninggal?" Tanya Lunaris lirih. "Apa ibu saya benar-benar karena perampokan?"

Polisi itu mengangguk kaku. "Dugaan awal demikian. Saat ditemukan oleh seorang pejalan kaki. Mereka mengira jika mereka melihat benda mencurigakan seukuran manusia di semak-semak tepi sungai. Saat didekati, ternyata itu jasad korban."

"Tapi ada hal lain yang perlu kami sampaikan," Potong dokter forensik itu, wajahnya tampak serius dan sedikit terganggu. Ia memandang Lunaris dan Aaron bergantian.

"Kondisi jenazah... Sedikit tidak wajar," lanjut dokter itu pelan. "Jika ini kasus perampokan saya tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik yang berarti seperti pukulan benda tumpul atau tusukan senjata tajam yang fatal. Namun, penyebab kematiannya adalah exsanguination total."

"Apa maksudnya?" Tanya Aaron tajam, alisnya bertaut.

"Kehabisan darah," Jelas dokter itu, suaranya merendah. "Jasad Nyonya Skyler ditemukan dalam kondisi sangat kering, pucat pasi. Hampir seluruh volume darah di tubuhnya hilang, seolah-olah... disedot keluar secara paksa. Kondisinya sama persis dengan jasad wanita yang ditemukan satu hari sebelumnya."

Hening.

Pernyataan itu menggantung di udara seperti kabut beracun. Lunaris merasa kakinya tidak lagi menijak lantai.

Disedot keluar? Sama seperti kasus sebelumnya?

Ini bukan perampokan. Ini bukan kecelakaan. Ada sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang jahat dan gelap yang telah merenggut ibunya. Bayangan ibunya yang hangat dalam mimpi tadi kini tergantikan oleh bayangan jasad kering yang terbuang di tepi sungai dingin.

"Apa maksud dokter... ibu saya sengaja dibunuh?" Dunia Lunaris tidak hanya hancur; ia runtuh, meledak menjadi puing-puing keputusasaan.

Pertanyaan Lunaris membelah keheningan koridor rumah sakit yang sunyi, suaranya tajam, menuntut jawaban di tengah keputusasaan yang mencekik. Namun, tak ada jawaban instan yang mampu melegakan hatinya.

Petugas polisi yang berdiri di samping dokter itu tampak gelisah. Ia berdehem pelan, membetulkan letak topi dinasnya, seolah mencoba mencari kata-kata yang paling halus untuk menutupi kebrutalan fakta yang ada. Namun, tatapan nanar Lunaris memaksanya untuk bicara.

"Kami belum bisa memastikan motifnya secara spesifik, Nona. Apakah ini murni pembunuhan berencana atau tindakan random," Jawab polisi itu dengan nada formal yang kaku, berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Lunaris.

"Tapi kami tidak bisa menutup mata terhadap fakta yang ada," lanjutnya, kali ini suaranya terdengar lebih berat. "Mengingat adanya kesamaan pola yang sangat identik dengan jasad yang ditemukan kemarin —kondisi fisik korban, metode penghilangan darah, dan lokasi pembuangan yang bahkan ada di tempat yang sama —kami memutuskan untuk menaikkan status kasus ini ke tahap penyidikan intensif."

Aaron yang berdiri di samping Lunaris mengepalkan tangannya erat-erat, rahangnya mengeras menahan amarah. Ia tahu arti dari 'penyidikan intensif' dalam bahasa kepolisian distrik ini: mereka baru akan bergerak serius ketika korbannya sudah lebih dari satu.

"Ini mungkin bukan sebuah kebetulan," Tambah polisi itu lagi, kali ini menatap Aaron dan Nyonya Lyn bergantian. "Dalam kurun waktu kurang dari dua hari, sudah ada dua korban dengan kondisi serupa. Ini mengindikasikan adanya pelaku yang sama."

Polisi itu menghela napas panjang, lalu mengucapkan kalimat terakhir yang membuat bulu kuduk semua orang di sana meremang. "Dan melihat rentang waktu kejadian yang sangat singkat ini... kami menduga pelaku penghabisan nyawa dua orang ini masih berkeliaran di dalam kota. Mungkin... sangat dekat dari sini."

Ucapan itu menghantam Lunaris lebih keras daripada pukulan fisik mana pun yang pernah ia terima dari Bracia.

Dunia di sekelilingnya terasa berputar miring. Suara-suara di sekitarnya perlahan meredup menjadi bising yang menyakitkan.

Jadi, ibunya bukan korban nasib sial. Ibunya diburu. Ibunya dibunuh oleh monster yang berjalan bebas di antara manusia, dan polisi di depannya ini tidak tahu siapa pelakunya.

Kaki Lunaris benar-benar kehilangan kekuatannya. Tubuhnya merosot, namun Nyonya Lyn dengan sigap menahannya sebelum ia menyentuh lantai dingin rumah sakit. Dalam dekapan wanita tua itu, Lunaris menatap kosong ke arah pintu ruang jenazah.

Harapan bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk telah musnah sepenuhnya, digantikan oleh lubang hitam menganga yang siap menelan kewarasannya.

Malam itu, Lunaris tidak hanya kehilangan seorang ibu. Ia kehilangan satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan bernapas di dunia yang kejam ini.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!