Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Hal-Hal yang Dicoba Setelah Terlambat
Raka Mahardika memulai pagi dengan keputusan yang terdengar masuk akal, setidaknya menurut versinya sendiri.
Dia berdiri di depan cermin, mengikat jam tangan, menatap pantulan wajahnya yang terlihat lebih kurus dari biasanya.
"Mulai dari tanggung jawab." Gumamnya. Kalimat itu seperti mantra. Dia mengulanginya sambil mengambil tas.
Hari ini, dia akan menemui dosen pembina. Tanpa defensif. Tanpa pembelaan setengah matang. Dia ingin terlihat dewasa. Atau setidaknya... ingin dianggap begitu.
"Silakan duduk." Kata dosen pembina sambil melipat tangan di atas meja.
Raka duduk. Tegak. Terlalu tegak.
"Saya datang bukan untuk membela diri." Kata Raka cepat. "Saya ingin memperbaiki."
Dosen itu mengangguk pelan. "Perbaikan yang bagaimana?"
Raka menarik napas. "Saya tahu saya gagal bersikap. Saya terlalu lama diam. Dan itu merugikan banyak pihak."
"Termasuk Nadira."
Nama itu disebut dengan nada netral, tapi efeknya tetap terasa.
"Iya, Pak." Jawab Raka. "Terutama dia."
"Dan Aluna?"
Raka terdiam sesaat. Lalu berkata jujur, "Dia bertanggung jawab atas tindakannya. Tapi saya juga gagal menghentikannya."
Dosen itu menatapnya lama. Tidak menghakimi. Tapi juga tidak memberi jalan keluar.
"Raka." Katanya akhirnya, "bertanggung jawab bukan berarti menunggu sampai semuanya hancur baru angkat tangan."
Raka mengangguk. "Saya tahu."
"Kamu boleh mencoba bangkit." Lanjut sang dosen. "Tapi jangan berharap kepercayaan kembali hanya karena kamu terlihat menyesal."
Raka tersenyum kaku. "Saya tidak berharap cepat."
Keluar dari ruangan itu, Raka merasa sedikit lebih ringan. Tapi juga sadar... jalan di depannya tidak akan lurus.
Aluna, di sisi lain kampus, sedang berada di titik yang berbeda. Dia duduk di bangku taman belakang fakultas, memegang ponsel dengan layar terbuka. Akun media sosial Nadira.
Foto terbaru Nadira di ruang diskusi, tersenyum kecil, ditemani beberapa orang baru.
Tidak ada Raka. Tidak ada masa lalu. Aluna meremas ponselnya.
"Dia bahagia." Gumamnya. "Setelah semuanya."
Perasaan itu bukan cemburu biasa. Lebih mirip kehilangan kendali atas cerita.
Dia membuka chat dengan satu nama lama, anggota BEM fakultas lain, seseorang yang dulu pernah iri pada Nadira.
[Masih inget Nadira Savitri?]
Pesan terkirim.
Balasan datang cepat.
[Yang dulu di BEM? Kenapa?]
Aluna tersenyum tipis.
[Aku cuma mikir... Dia terlalu mudah melupakan orang yang pernah di dekatnya.]
Dia menutup ponsel. Ini bukan serangan frontal. Bukan kesalahan bodoh seperti sebelumnya. Ini... bisikan.
Sore itu, Nadira duduk di ruang diskusi kecil bersama Dr. Arvin. Mereka tidak sedang membahas penelitian. Lebih ke santai.
"Kamu kelihatan capek." Kata Arvin sambil menyerahkan kopi.
"Sedikit." Jawab Nadira jujur. "Tapi capek yang sehat."
Arvin tersenyum. "Itu jenis capek terbaik."
Mereka duduk berhadapan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
"Pak Arvin." Kata Nadira tiba-tiba. "Boleh tanya sesuatu yang agak pribadi?"
Arvin mengangguk. "Selama kamu nyaman."
"Bapak pernah menyesal bertahan di satu tempat terlalu lama?" Pertanyaan itu tidak diarahkan. Tapi maknanya jelas.
Arvin berpikir sejenak. "Pernah. Dan penyesalan itu datang bukan karena tempatnya salah... tapi karena saya seharusnya saya bisa pergi lebih cepat."
Nadira menatap cangkirnya. "Saya takut terlambat."
"Kamu tidak terlihat seperti orang yang terlambat." Jawab Arvin lembut. "Kamu terlihat seperti orang yang baru berani jalan."
Tidak ada ketegangan romantis yang meledak. Hanya pengakuan yang saling menghormati. Dan itu membuat Nadira nyaman.
Raka mencoba cara lain. Dia menghubungi teman-teman lama. Minta bertemu. Minta didengar. Beberapa menolak. Beberapa datang dengan jarak.
"Kamu berubah." Kata salah satu dari mereka di warung kopi.
"Aku lagi belajar." Jawab Raka.
"Belajar apa?"
"Ngaku salah tanpa nyari pembenaran."
Temannya tertawa pendek. "Berat, ya?"
Raka mengangguk. "Lebih berat daripada kelihatannya."
Tapi di balik usaha itu, ada satu dorongan yang belum padam.
Nadira.
Dia tidak menghubungi. Tapi dia memantau. Dan itu... mulai jadi kesalahan.
Aluna tidak menunggu terlalu lama. Dia menyebarkan cerita setengah matang. Bukan fitnah terang-terangan, tapi cukup untuk membuat orang bertanya.
"Katanya Nadira dekat sama dosen?"
"Program riset itu nggak semua orang bisa masuk, lho."
Bisikan itu menyebar pelan. Tidak viral. Tapi merayap. Dan kali ini, Nadira merasakannya. Dia mendengar dua mahasiswa berbisik saat dia lewat. Dia melihat tatapan yang terlalu lama. Nadira berhenti di lorong. Menarik napas. Bukan panik. Lebih ke... lelah.
Salsa menghubunginya malam itu. "Kamu denger kabar aneh nggak?" Tanya Salsa.
Nadira terdiam sejenak. "Dengar."
"Kamu mau klarifikasi?"
Nadira menggeleng. "Tidak."
"Kok?"
"Karena ini bukan ruang yang sama seperti dulu." Jawab Nadira tenang. "Dan aku nggak mau lagi hidupku dikendalikan oleh rumor."
Dr. Arvin mendengar bisikan itu keesokan harinya. Dia memanggil Nadira, bukan dengan nada marah, melainkan khawatir.
"Ada hal yang perlu kita luruskan." Katanya.
Nadira mengangguk. "Saya tahu."
"Kamu ingin saya jelaskan secara resmi?"
Nadira berpikir... lama. "Tidak sekarang." Katanya akhirnya. "Saya ingin lihat sejauh mana orang mau percaya gosip."
Arvin menghela napas kecil. "Kamu berani."
"Atau lelah." Nadira tersenyum tipis.
Arvin menatapnya lama. Ada sesuatu di sana... bukan hasrat, bukan kasihan. Respek.
Raka mengetahui rumor itu dari orang lain. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak diam. Dia menghubungi orang yang menyebarkan bisikan itu.
"Dari mana kamu dapat cerita itu?" Tanyanya tajam.
"Ya... dari sekitaran Aluna."
Nama itu membuat dada Raka panas. Dia mendatangi Aluna malam itu.
"Berhenti." Katanya tanpa basa-basi.
Aluna tertawa kecil. "Berhenti apa?"
"Main kotor."
"Aku cuma ngobrol." Balas Aluna. "Sama seperti dulu."
"Dulu aku diem." Kata Raka. "Sekarang nggak."
Aluna menatapnya tajam. "Kamu belain dia?"
"Aku belain yang benar."
Kalimat itu seperti tamparan.
Aluna berdiri. "Kamu berubah."
Raka mengangguk. "Iya. Dan kamu tidak suka itu."
Di kamar kosnya malam itu, Nadira duduk di lantai, membaca ulang catatan hariannya. Tidak ada Raka. Tidak ada Aluna. Hanya pertanyaan tentang masa depan.
Dia menerima pesan dari Dr. Arvin.
[Kalau kamu butuh bicara tentang apa pun, saya ada.]
Nadira menatap layar lama.
Dia membalas.
[Terima kasih. Itu berarti.]
Tidak ada janji temu. Tidak ada harapan lebih. Dan justru di sanalah letak ketenangannya.
Raka berdiri di balkon lagi malam itu. Dia sudah mencoba bangkit dengan cara yang lebih benar. Tapi ia sadar beberapa langkahnya masih didorong rasa bersalah, bukan kesadaran. Dan itu berbahaya...
Di tempat lain, Aluna duduk sendirian, menyusun rencana baru lebih nekat, lebih sunyi.
Dan Nadira... sedang berjalan ke hidup yang tidak lagi meminta izin pada siapa pun.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠