Pernikahan bahagia yang diimpikan Anna berubah menjadi tragedi, kala seorang pria merenggut kesuciannya di malam pertama pernikahannya.
Anna yang terpuruk akibat kejadian itu pun mencoba bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.
Namun, takdir berkata lain, ia harus kembali mengingat peristiwa kelam malam itu saat dirinya dinyatakan hamil.
Akankah pria itu bertanggung jawab padanya?
Atau ada malaikat lain yang akan datang menolongnya?
Dan bagaimana dengan suami dan pernikahannya?
Ikuti kisah Anna selengkapnya dalam menjalani kehidupannya dalam Tiga Pria, Ayah Anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Jangan Pergi
"Anna, aku tahu kau masih mencintaiku. Begitupun denganku, aku juga sangat mencintaimu. Hidupku sangat berat tanpamu," ungkap Andrew seraya menggenggam erat tangan Anna.
"Cinta?" Anna tersenyum sinis. "Kau mencintaiku? Yang benar saja. Bukankah kau sangat membenciku?"
"Maafkan aku, Anna. Aku sangat emosi saat itu hingga aku berbuat kasar padamu." Andrew memohon dan meminta agar Anna bersedia kembali padanya.
Anna yang sedang kesal pun menarik tangannya dari genggaman Andrew.
"Maaf?! Apa kau memaafkanku waktu itu? Atau sekedar memberi sedikit waktumu untuk mendengarkan penjelasanku? Tidak, 'kan? Kalian memilih pergi. Kalian semua pergi dan membiarkanku menanggung semuanya sendiri," ungkap Anna penuh emosi.
"Anna. Sayang, kumohon maafkan aku. Aku benar-benar menyesal karena tak bisa melindungimu. Aku dibutakan oleh rasa cemburuku dan malah menyakitimu."
Andrew sangat menyesal karena tak berada di sisi Anna malam itu. Andai saja dia tak pergi bersama dengan Wilona dan tetap bersama Anna, maka semua ini tak mungkin terjadi. Dan rasa cemburunya yang berlebihan pada pria yang bersama istrinya saat itu, malah membuat semua masalah menjadi besar. Ia bahkan tak berniat untuk mencari tahu siapa pria itu sebenarnya.
"Maafkan aku, Anna. Aku sungguh minta maaf padamu."
Andrew menatap Anna dengan penuh harapan dan rasa bersalah. Ia sungguh menyesal dan ingin memulai semuanya kembali dari awal. Anna pun mengembuskan napasnya. Bagaimana pun juga semua sudah terjadi dan waktu tak mungkin dapat terulang lagi.
"Untuk apa kau meminta maaf padaku? Penyesalanmu tidak ada gunanya bagiku. Ayahku telah tiada dan kau tak mungkin menghidupkannya kembali."
Anna menatap Michael, putra kecilnya yang terlahir dari tragedi hidupnya. Satu-satunya berkah di atas semua kepahitan hidupnya. Ia pun kembali menghela napasnya.
"Sudahlah. Semua sudah berlalu. Lagipula kita telah bercerai, jadi--"
"Tidak!" tukas Andrew cepat. "Kita tidak bercerai. Kita belum bercerai. Kau masih istriku, Anna."
"Apa?"
Ucapan Andrew membuat Anna terbeliak. Begitu terkejutnya Anna hingga hampir saja ia terjatuh. Beruntung, Andrew meraih tangannya dan membawanya mendekat ke tubuhnya.
"Anna, aku tak pernah menceraikanmu. Aku sangat mencintaimu. Kehilanganmu beberapa tahun ini sangat menyiksaku. Dan aku tak akan melepaskanmu lagi kali ini. Kita akan mulai kembali kehidupan pernikahan kita dari awal. Dan Mickey--" Andrew menjeda ucapannya. Ada rasa sakit di sana, saat ia menatap wajah yang sangat mirip dengan kakaknya itu, "--aku tidak peduli siapa ayahnya. Karena aku akan menganggap dan menyayanginya seperti putraku sendiri, Anna."
Anna kehilangan kata-kata. Tak percaya dengan berita yang baru saja di dengarnya. Jadi selama ini dia belum bercerai dengan Andrew. Mereka masih berstatus suami istri hingga saat ini. Namun, yang membuat Anna ragu adalah penerimaan Andrew atas Michael. Benarkah Andrew mau menerimanya? Menerima anak dari istri dan kakaknya ini?
Andrew tahu Anna masih ragu padanya, tetapi dia juga tak mau kehilangan Anna lagi. Ia tak akan memberikan Anna pada Alex lagi.
"Anna, aku tak akan menceraikanmu. Selamanya tidak akan pernah. Maka, kau juga tak akan bisa menikah dengan pria lain termasuk Nathan atau kakakku. Kau tak mungkin bersama Nathan karena aku atau Alex pasti akan menyingkirkan dia dengan mudah. Namun, jika kau memilih Alex, sementara kita belum bercerai, maka kau hanya akan menjadi wanita simpanannya saja. Suatu saat Alex harus menikah dan memiliki keluarganya sendiri, karena itu memang kewajibannya sebagai pewaris keluarga Williams.
Lalu, apa kau akan tetap terus bersama dengan Alex saat itu? Mungkin dia mencintaimu dan kau mendapat kasih sayangnya, tetapi bagaimana dengan status anak kalian yang akan semakin tumbuh besar nanti? Dia memang berdarah Williams, tetapi keberadaannya tidak akan pernah diakui. Kau mau seperti itu, Anna? Menjadi selingkuhan Alex seumur hidupmu dan membiarkan anakmu tanpa status yang jelas seumur hidupnya?"
Andrew berbicara panjang lebar membuat Anna tergugu. Ia pun menangkup wajah Anna agar wanita itu melihat ketulusan di matanya.
"Pilihanmu hanya aku, Anna. Aku adalah satu-satunya pria yang tepat untukmu. Kita adalah suami istri. Sudah seharusnya kita bersama, 'kan?"
Anna masih tak dapat berkata-kata. Sementara, Michael yang sejak tadi hanya terdiam dalam pelukan Anna pun, kini tersenyum riang saat ia melihat seorang pria yang datang dan berjalan menghampiri mereka.
"Ayah. Kau sudah pulang?"
Andrew menoleh, dia melihat Alex yang datang bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Membuatnya sangat kesal, apalagi saat mendengar panggilan Michael kepada Alex.
'Ayah? Anak ini bahkan sudah memanggilnya Ayah?'
Langkah kaki Alex terhenti, ketika melihat Andrew yang sedang memegang wajah Anna. Dalam pandangan Alex, mereka tampak mesra dan tengah saling menatap penuh cinta. Anna bahkan tidak menoleh ke arah Alex sama sekali, saat Michael memanggilnya tadi. Alex pun mengepalkan tangannya menahan amarah dan cemburunya, tetapi ia tak kuasa mengalihkan pandangannya dari sana. Ia terus menatap Anna dengan lekat.
'Ada apa denganku? Mengapa aku sangat cemburu melihat mereka? Anna adalah istrinya. Sangat wajar jika Andrew berbuat seperti itu. Tetapi, ada apa dengan hatiku? Mengapa rasanya sangat menyakitkan?'
Andrew tahu Alex sedang cemburu. Hal itu terlihat dari sorot matanya sangat mengerikan. Mungkin saja, jika pria yang saat ini sedang bersama dengan Anna bukanlah adik kandungnya, maka Alex pasti sudah menghabisinya sejak tadi. Ya, Alex memang seposesif itu. Namun, Andrew senang melihat Alex yang tak berdaya seperti ini. Ia pun tersenyum melihat reaksi Alex, dan melanjutkan kembali kata-katanya pada Anna.
"Anna seperti yang kukatakan padamu tadi, pilihanmu hanya aku. Tetapi, jika kau melarikan diri lagi, maka lihatlah apa yang akan aku lakukan pada tunanganmu itu," bisik Andrew dengan seringai di wajahnya. "Beristirahatlah. Besok aku akan menjemputmu."
Setelah mengatakannya, Andrew pun melangkah pergi dari rumah Alex, bahkan tanpa menyapa kakaknya itu sama sekali. Hanya sebuah senyuman penuh kemenangan saja yang mengulas di bibir Andrew, saat mereka berpapasan.
"Ayah."
Michael memanggil ayahnya lagi. Alex pun berjalan mendekati mereka. Ia meraih Michael dalam pelukan Anna dan menggendongnya. Begitu Alex mendekat, Anna seperti tersadar kembali setelah tadi terpaku dengan kata-kata Andrew. Ia begitu terkejut saat mendapati wajah Alex yang penuh luka dan berdarah.
"Ya, Tuhan!" pekik Anna seraya menangkup wajah pria itu. "Kak Alex, ada apa dengan wajahmu?"
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Luka-luka kecil ini tak akan membunuhku, justru aku lebih khawatir jika luka ini akan berbekas nanti dan membuat ketampananku menjadi berkurang."
Alex tersenyum narsis seraya menunjuk beberapa luka yang terdapat di sekitar mata, hidung dan pipinya, membuat Anna kesal dan langsung memukul lengan Alex.
"Dasar bodoh! Siapa yang bilang kau tampan? Sudah seperti ini, masih saja bisa bercanda. Duduklah, aku akan mengobati lukamu."
"Ibumu galak sekali." Alex berpura-pura memasang wajah sedih dan mengadu pada putranya.
"Ibu, jangan marahi ayahku."
"Ayahmu bodoh! Aku mungkin bisa mengobati lukanya, tetapi tidak ada obat untuk narsisnya."
"Ayahku tidak bodoh dan dia memang tampan. Bukankah Ibu juga selalu memujiku tampan? Itu karena aku mirip dengan Ayah. Lihatlah ketampanan kami, Bu."
Tawa Alex pecah menggema di seluruh ruang tamu, saat ia melihat putranya yang sama narsis dengannya itu, sedang berpose dengan ibu jari dan jari telunjuknya di dagu. Refleks, Alex pun langsung mengikuti gerakan lucu Michael. Semetara, Anna hanya dapat menggeleng pelan dan semakin kesal karena melihat tingkah ayah dan anak itu yang menyebalkan.
Tak dapat dipungkiri, Michael memang semakin hari semakin mirip dengan Alex, baik dalam hal penampilan maupun sifatnya. Sepertinya Alex benar-benar mewariskan semua gen-nya kepada bocah kecil itu. Seolah menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah putraku.
Andrew yang memang sejak tadi masih bersembunyi di balik pilar pun, diam-diam melihat adegan itu. Ia mengencangkan rahangnya menahan marah. Kebersamaan mereka bertiga sangat menyakitkan baginya. Jarang sekali Andrew melihat Alex dapat tertawa lepas seperti itu. Namun, hari ini pria itu malah tertawa begitu bahagia hanya karena celotehan Michael, meskipun ia baru saja menghajarnya habis-habisan tadi.
'Alex, aku tidak percaya kalau kejadian malam itu hanya kebetulan saja karena kau mabuk. Kau jelas-jelas sangat mencintai Anna.'
Dengan geram, Andrew kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dengan membawa gejolak amarah di dadanya. Ia pun semakin bertekad akan merebut Anna dari Alex.
"Lisa, tolong bawa Mickey ke kamarnya." Anna memanggil seorang pelayan untuk menjaga Michael karena ia harus mengobati luka Alex.
"Baik, Nona Muda," ujar pelayan tersebut seraya menggandeng jemari mungil Michael menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Michael melambaikan tangannya dan Alex pun tersenyum membalasnya.
"Bagaimana kau bisa terluka?" tanya Anna yang membuat Alex mengalihkan perhatiannya kepada wanita itu. "Apa kau ini anak kecil yang masih saja suka berkelahi?"
"Apa kau mengkhawatirkanku, Anna? Apa kau mulai jatuh cinta padaku?" Alex sangat senang melihat Anna yang mengkhawatirkannya, meskipun Anna selalu menyangkalnya, tetapi perhatian Anna saat ini pun menjawab semuanya.
"Berhentilah bercanda! Lukamu cukup parah, aku akan panggil dokter."
Melihat Anna yang hendak pergi darinya, Alex pun segera menarik tangan wanita itu untuk menghentikan langkahnya.
"Tidak, aku tidak mau! Aku mau kau yang merawatku," ucap Alex manja.
"Tetapi, lukamu cukup parah, Kak, dan aku tidak memiliki pengetahuan medis untuk mengobatinya. Apa selain di wajahmu, kau juga memiliki luka lain di tubuhmu?"
"Ada. Di sini. Oh, di sini juga. Lalu di sini." Alex menunjuk ke lengan, dada juga perutnya.
"Cih! Jika semua tubuhmu terluka, akan kubalut kau seperti mumi."
"Jika itu bisa membuatmu senang, aku rela kau melakukan apa pun pada tubuhku," ujar Alex seraya membuka jasnya.
"Ish! Hentikan! Itu terdengar sangat menjijikkan." Anna memasang wajah mualnya dan menghentikan gerakan Alex yang tengah membuka beberapa kancing kemejanya. Alex pun tertawa melihat Anna yang kembali merapikan bajunya.
"Pakai bajumu dengan benar," titah Anna, kesal.
"Anna, kau sangat menggemaskan." Alex tersenyum menatap Anna yang kini sedang mengobati lukanya. Merasakan setiap sentuhan hangat tangan Anna pada wajahnya juga perhatiannya, membuat Alex bahagia seketika. 'Aku tidak tahan ingin menciummu.'
"Anna."
"Ehm ...."
"Bolehkah aku menciummu?" Anna menatap Alex kesal dan segera menekan luka di dahinya. "Argh! Sakit, Anna!"
"Berhentilah berbicara jika tidak aku akan benar-benar membuatmu menjadi mumi!"
Anna membalut luka pada dahi Alex dan mengoleskan obat di wajahnya yang lebam, setelah beberapa saat, akhirnya ia pun selesai.
"Nah, selesai," ujar Anna seraya membereskan kembali peralatan yang digunakannya tadi ke kotak obat.
"Belum selesai, Anna. Lalu, bagaimana dengan luka lain di tubuhku? Kau juga harus mengobatinya."
"Tidak mau! Minta pada Paman Charlie sana untuk membantumu mengoleskan obatnya. Untuk sementara waktu, jangan biarkan lukamu terkena air, terutama luka di dahimu."
"Lalu, bagaimana caranya aku mandi tanpa mengenai lukanya? Aku tak dapat melihat di mana saja letak luka itu," ujar Alex seraya tersenyum jahil saat suatu ide melintas di benaknya. "Ehm, Anna, kurasa kau harus membantuku membasuh tubuhku malam ini."
"Dasar tidak tahu malu! Ya, sudah. Kau tidak usah mandi saja."
"Tetapi, ada banyak noda darah di tubuhku. Hari ini juga panas sekali, jadi aku banyak mengeluarkan keringat, Kau mau, 'kan, membantuku," rengek Alex manja yang terus menggoda Anna. Wajah wanita itu pun merona saat Alex memintanya untuk membantunya membersihkan diri.
"Dasar menyebalkan!"
Anna hendak berdiri dan pergi dari sana karena Alex terus saja menggodanya, tetapi dengan cepat Alex pun menarik tangan Anna dan membuatnya duduk dalam pangkuan pria itu. Alex memeluk Anna dari belakang dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Anna.
"Kak Alex, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Anna mencoba melepaskan tangan Alex yang melingkar di perutnya, tetapi pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada Anna.
"Sebentar saja, Anna. Kumohon sebentar saja." Alex memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh wanita itu. Ia sungguh tak kuasa melihat Anna yang akan pergi lagi darinya.
'Anna, andai saja aku dapat menghentikan waktu, aku ingin terus memilikimu dan memelukmu seperti ini. Aku sungguh tak ingin kehilangan kalian. Kumohon jangan pergi, Anna. Izinkan aku untuk memilikimu sebentar lagi.'
Anna merasakan tubuh Alex yang sedikit gemetar saat memeluknya. Entah apa yang telah dialami pria itu hari ini, hingga membuatnya terlihat rapuh. Jika pelukan ini dapat sedikit mengobati kegundahan hatinya, maka Anna pun membiarkan Alex untuk memeluknya. Ia mulai menyandarkan punggung kecilnya pada dada bidang Alex dan merasakan dekapannya yang hangat.
.
.
.
Dini Hari, Kamar Anna
Malam semakin larut, tetapi Anna masih tetap terjaga. Berkali-kali ia mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi tetap saja tak dapat terlelap. Ia terlalu terhanyut dan larut dalam pikirannya yang berkecamuk. Ini adalah malam terakhir Anna berada di rumah Alex. Besok, Andrew akan membawa wanita itu pergi dari sini.
'Anna, pilihanmu hanya aku. Aku tahu mengapa kau ikut Alex pulang ke kota ini, karena dia mengancammu dengan menghancurkan keluarga Collins, 'kan? Sama seperti Alex, aku pun bisa melakukannya. Jika kau besok tidak ikut denganku dan tetap memilih salah satu dari mereka, maka percayalah aku akan benar-benar melakukannya.'
Anna menghela napasnya panjang. Ucapan Andrew masih terus terngiang di pikirannya. Ia sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Anna sungguh tak ingin berada dalam situasi pelik seperti ini. Situasi yang mengharuskannya memilih salah satu di antara mereka. Karena siapa pun pilihannya, pasti akan ada yang terluka.
Anna juga pernah berpikir untuk pergi bersama dengan Michael dan ibunya, tetapi bagaimana dengan Nathan dan Nenek Margareth? Mereka pasti yang akan jadi sasaran kemarahan Alex atau Andrew.
'Mengapa semua jadi seperti ini? Aku hanya ingin memiliki sebuah kehidupan pernikahan yang bahagia. Bersama keluarga kecilku menikmati waktu bersama, dan bukannya malah terlibat dengan para Tuan Muda kaya ini.'
.
.
.
jadi ikutan nangis deh
Andrew bukan cinta sama anna tapi terobsesi aja nikmati tubuhnya 😣
andrew kelihatan egois cuma butuh anna sebagai istri bukan ibu dari seorang anak yg dlm kenyataan sama keponakan aja andrew jahat gimana sama anak orang lain dan anaknya nanti