Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - YANG BERJALAN DI MALAM HARI
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu gudang. Lily tidak bergerak dari kursinya. Kepalanya menghitung... terlalu hati-hati untuk tamu biasa, terlalu lambat untuk orang yang punya tujuan jelas. Seseorang yang sedang mencari tapi tidak mau ketahuan sedang mencari.
Di dalam cermin, gambar Dimas sudah menghilang. Permukaannya kembali bening dan diam, seperti tidak pernah menampilkan apa-apa.
Cahaya di ruang itu meredup sendiri.
Pelan, teratur ... seperti ada yang mengatur dari dalam dinding. Sampai hanya tersisa kegelapan yang hampir total, tapi tidak penuh. Cukup gelap untuk membuat ruangan ini tidak kelihatan dari luar kalau pintu tiba-tiba terbuka, tapi cukup terang untuk Lily masih bisa melihat gagang pintu kecil di depannya.
Lily berdiri. Melangkah ke pintu kecil itu dan menutupnya dari dalam... bukan mengunci, karena tidak ada kuncinya, tapi menaruh punggungnya di permukaan kayu itu.
Menunggu.
Pintu gudang di luar bergerak. Bukan dibuka penuh... hanya sedikit dibuka, celah yang cukup untuk kepala masuk dan melihat ke dalam.
Lily menahan napas.
Senter menyala. Cahayanya menyapu lantai gudang, kardus-kardus, sudut kiri, sudut kanan.
Tidak sampai ke sudut tempat Lily berdiri karena tumpukan kardus yang sebagian masih menghalangi.
Hening empat detik.
Lalu celah pintu itu menutup kembali. Langkah kaki terdengar menjauh, lebih cepat dari waktu datangnya, seperti orang yang sudah dapat jawaban yang dicari dan tidak perlu berlama-lama.
Lily tidak bergerak sampai langkah itu benar-benar tidak terdengar lagi.
Dia keluar dari gudang sepuluh menit kemudian, cukup lama untuk memastikan tidak ada yang menunggu di luar.
Halaman belakang kosong. Langit malam tidak ada bulannya, mendung tipis dari kemarin masih belum pergi. Lily berdiri di depan gudang dan menatap ke jendela-jendela rumah yang gelap satu per satu.
Satu jendela di lantai dua, kamar Nindi lampunya baru saja mati.
Lily tidak punya bukti. Tapi intuisi yang semalam mulai terasa lebih tajam itu berkata cukup keras, bahwa Nindi yang tadi di luar.
Pertanyaannya bukan siapa. Pertanyaannya adalah apa yang Nindi cari dan apakah dia menemukan sesuatu yang perlu Lily khawatirkan.
Lily masuk ke rumah lewat pintu belakang, mengunci dari dalam, dan naik ke kamarnya dengan langkah yang tidak menimbulkan suara.
Paginya Lily bangun lebih awal dari biasanya.
Jam lima kurang, ketika bahkan Bibi Rah belum ada di dapur, Lily sudah duduk di meja dapur dengan ponsel di tangan dan amplop dari Hendra di depannya. Dia baca ulang surat dari Pak Syarif itu, kali ini lebih lambat, lebih teliti, mencatat hal-hal yang sebelumnya lewat begitu saja.
Ada beberapa poin yang menarik perhatiannya.
Pertama, surat itu dibuat empat belas tahun lalu tepat tahun Mama meninggal. Artinya Pak Syarif sudah menyiapkan ini sejak lama, sejak Mama masih tahu apa yang akan terjadi.
Kedua, di bagian bawah surat ada referensi ke dokumen lain ... disebut sebagai Lampiran B yang tidak ada di dalam amplop. Entah sengaja tidak dimasukkan, atau Hendra menyimpannya terpisah.
Ketiga, ada satu kalimat di paragraf terakhir yang Lily baca tiga kali sebelum benar-benar menangkap maksudnya:
Hak atas aset yang tercantum akan gugur secara otomatis apabila pemegang hak tidak mengajukan klaim sebelum usia dua puluh lima tahun.
Lily meletakkan surat itu di meja.
Usianya sekarang dua puluh dua. Artinya dia punya tiga tahun. Tapi tiga tahun yang terasa tiba-tiba pendek sekarang dia tahu hitungannya.
Dia mengetik pesan ke Hendra. [Lampiran B ada di mana?]
Balasan datang lebih cepat dari yang Lily kira untuk jam segini, sepertinya Hendra juga tidak banyak tidur. [Di tangan Pak Syarif. Aku sengaja tidak bawa semuanya sekaligus. Kalau kamu mau, kita bisa atur ketemu beliau minggu ini.]
Lalu pesan kedua. [Ada yang terjadi semalam? Aku dapat perasaan tidak enak.]
Lily menatap pesan itu.
[Ada yang ngintip ke gudang. Belum konfirmasi siapa.]
Tiga titik muncul... Hendra mengetik. Lama. [Hati-hati. Kalau mereka tahu kamu tahu sesuatu, situasinya bisa berubah cepat. Jangan bergerak terlalu kelihatan dulu.]
Lily menyimpan ponsel dan mulai menyiapkan sarapan.
Nindi turun jam setengah tujuh, lebih pagi dari biasanya. Dia duduk di meja makan sebelum yang lain turun, memesan telur mata sapi ke Lily dengan nada yang terlalu normal, terlalu biasa, seperti seseorang yang sedang berlatih terlihat santai.
Lily menggoreng telurnya tanpa komentar.
Waktu meletakkan piring di depan Nindi, Lily melirik sekilas... mata Nindi ada lingkaran tipis di bawahnya. Kurang tidur. Atau habis mikir keras sampai larut.
"Kamu tidur terlambat?" tanya Lily. Ringan, tanpa nada apa-apa.
Nindi mengangkat mata. "Nggak juga. Kenapa?"
"Kelihatan capek."
"Hamil memang capek." Nindi menunduk ke piringnya. "Kamu nggak tahu."
Lily tidak menjawab itu. Dia kembali ke dapur.
Tapi di balik punggungnya yang membelakangi meja makan, bibirnya membentuk satu kata yang tidak keluar sebagai suara.
Ketahuan.
Siang itu Lily punya satu jam waktu kosong, hal langka yang terjadi karena Tante Sari pergi ke salon dan Nindi tidur siang, sementara ayahnya ada rapat di luar sampai sore.
Lily menggunakan waktunya dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya di rumah ini, dia masuk ke ruang kerja ayahnya.
Bukan nekat. Dia sudah kalkulasi ... Bibi Rah sedang di bagian depan rumah, tidak ada kamera di lorong belakang yang menuju ruang kerja karena ayahnya pernah bilang kamera itu mengganggu privasinya.
Lily masuk dengan cepat dan menutup pintu di belakangnya.
Ruang kerja ayahnya tidak besar. Meja besar di tengah, lemari arsip di satu sisi, rak buku yang lebih banyak berisi piala dan foto daripada buku di sisi lain. Lily tidak menyentuh apa-apa dulu. Dia hanya berdiri dan memindai ruangan dengan mata.
Apa yang dia cari?
Sesuatu yang berhubungan dengan nama Mama. Dengan tanah atau rekening yang disebut Pak Syarif. Dengan Tante Sari dan amplop cokelat yang ditunjukkan cermin tiga malam lalu.
Lemari arsip terkunci. Tentu saja.
Meja punya tiga laci, dua tidak terkunci berisi hal-hal biasa, tagihan, kartu nama, pulpen yang setengahnya sudah mati. Laci tengah terkunci.
Lily berdiri di depan meja itu, berpikir.
Lalu matanya jatuh ke foto yang berdiri di pojok meja. Foto keluarga yang diambil mungkin dua atau tiga tahun setelah Tante Sari resmi jadi bagian rumah ini. Ayahnya, Tante Sari, dan Nindi tersenyum semua.
Lily tidak ada di foto itu.
Dia tidak terkejut. Hanya mencatat.
Di belakang foto itu, terlihat karena bingkainya sedikit miring, ada selembar kertas kecil yang menempel di dinding. Bukan ditempel dengan rapi, lebih seperti catatan cepat yang ditempelkan sementara dan terlupa.
Lily mengambil foto itu, melirik ke belakangnya.
Bukan catatan.
Nomor telepon. Enam belas digit. Dengan satu huruf di depannya: S.
S untuk Syarif?
Atau S untuk Sari?
Lily memotret kertas itu dengan ponselnya, mengembalikan foto ke posisi semula, dan keluar dari ruang kerja dalam waktu yang tidak sampai lima menit sejak masuk.
Di lorong, dia berpapasan dengan Bibi Rah yang datang dari arah depan dengan kemoceng di tangan.
Dua detik mata mereka bertemu.
Bibi Rah tidak bertanya apa-apa.
Tapi untuk pertama kali sejak Lily mengenalnya, perempuan tua itu melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya ... dia mengangguk, kecil dan cepat, seperti isyarat.
Seperti seseorang yang sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk berpihak.
Lily melanjutkan langkahnya ke dapur dengan detak jantung yang lebih keras dari yang ingin dia akui.
Di kantong celemeknya ada nomor enam belas digit yang mungkin tidak berarti apa-apa.
Atau mungkin berarti segalanya.