Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tamparan di Meja Perundingan
Pagi itu, ruko Pak Baskoro terasa lebih dingin dari biasanya. Hana duduk di kursi kayu jati di ruang rapat utama, sebuah ruangan sempit dengan meja panjang yang dipenuhi tumpukan berkas. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang kerahnya tajam, rambutnya diikat rapi ke belakang tanpa sehelai pun yang berantakan. Di hadapannya, Pak Baskoro duduk dengan wajah gelap, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang menakutkan.
Suara langkah sepatu pantofel yang angkuh terdengar di tangga besi. Pintu terbuka, dan muncullah dua orang pria. Yang pertama adalah Pak Gunawan, pemilik CV. Maju Jaya, pria tambun dengan cincin batu akik besar di jarinya. Dan di belakangnya, Aris melangkah masuk dengan senyum meremehkan yang masih terpatri di wajahnya.
Aris mengenakan kemeja batik terbaiknya—batik yang dulu disetrika Hana dengan penuh ketelitian hingga tak ada satu pun lipatan yang salah. Begitu matanya menangkap sosok Hana yang duduk di samping Pak Baskoro, senyumnya sedikit goyah, namun ia segera menutupinya dengan tawa kecil yang menghina.
"Wah, Pak Baskoro, rupanya Anda benar-benar mempekerjakan istri saya yang melarikan diri ini?" Aris menarik kursi dan duduk dengan santai, seolah ia adalah tamu kehormatan. "Hana, Hana... kamu benar-benar keterlaluan. Keluar dari rumah cuma untuk jadi staf administrasi di ruko begini? Kalau butuh uang, ya bilang, jangan bikin malu saya dengan bekerja di tempat kumuh."
Pak Baskoro tidak bereaksi. Ia hanya melirik Hana, memberikan kode bahwa panggung ini adalah miliknya.
Hana tidak membalas sindiran Aris. Ia tidak marah, tidak juga gemetar. Ia justru membuka sebuah map biru di depannya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang menyajikan hidangan di meja makan—namun kali ini, hidangan itu beracun bagi mereka.
"Pak Gunawan," Hana memulai, suaranya jernih dan berwibawa, jauh dari kesan wanita penurut yang dikenal Aris. "Dan Mas Aris. Kita di sini bukan untuk membahas urusan rumah tangga yang sudah hancur. Kita di sini untuk membahas selisih dana sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah dari akun CV. Maju Jaya selama dua tahun terakhir."
Wajah Pak Gunawan langsung memucat. Ia melirik Aris dengan panik. Sementara Aris, ia tertawa terbahak-bahak.
"Dua ratus lima puluh juta? Kamu mengigau, Han? Kamu itu cuma lulusan lama yang otaknya sudah tumpul karena kebanyakan mengulek sambal di dapur. Jangan sok tahu soal audit bisnis!" bentak Aris.
Hana menggeser selembar kertas hasil cetakan bank. "Ini adalah catatan transfer dari CV. Maju Jaya ke sebuah rekening pihak ketiga atas nama 'Suryadi'. Dan ini," Hana mengeluarkan lembar kedua, "adalah bukti bahwa kartu ATM atas nama Suryadi tersebut sering digunakan untuk menarik uang di ATM dekat kantor Mas Aris, dan di beberapa toko keramik mewah bulan lalu."
Hana menatap Aris tepat di matanya. "Tiga puluh juta untuk bonus performa yang kamu pamerkan ke Ibu? Itu bukan bonus, Mas. Itu adalah uang suap dari Pak Gunawan agar Pak Baskoro terus memesan material di tempatnya dengan harga yang sudah digelembungkan."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Pak Gunawan mulai mengeluarkan keringat dingin, ia sibuk menyeka lehernya dengan sapu tangan.
"Baskoro... ini... ini pasti salah paham," gagap Pak Gunawan. "Aris yang bilang kalau ini aman! Dia yang mengatur semuanya dengan staf lamamu!"
"Diam kau, Gunawan!" teriak Aris. Ia berdiri dan menggebrak meja, wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Hana! Beraninya kamu mencampuri urusanku! Kamu tahu apa akibatnya kalau aku kehilangan pekerjaan? Kamu mau Gilang tidak makan?!"
"Gilang sudah makan dengan tenang sejak aku pergi dari rumahmu, Aris," jawab Hana tanpa nada tinggi. "Justru karena aku memikirkan masa depan Gilang, aku tidak ingin ayahnya memberinya makan dari uang hasil rampokan. Pak Baskoro sudah memiliki semua bukti digitalnya. Rekening Suryadi itu ternyata adalah asisten rumah tangga di rumah Pak Gunawan yang identitasnya dipinjam, bukan?"
Pak Baskoro akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan penuh ancaman. "Aris, saya sudah mengenal kamu sejak kamu masih merangkak di dunia kontraktor. Saya tidak menyangka kamu setega ini memeras saya. Dan Gunawan, kontrak kita putus hari ini juga. Saya tunggu pengembalian uang saya utuh, atau kalian berdua saya seret ke Polda sore ini."
Aris lemas. Ia terduduk kembali di kursinya. Dunia yang ia bangun dengan kebohongan tiba-tiba runtuh di depan matanya sendiri, dan pelakunya adalah wanita yang selalu ia anggap remeh.
"Hana... tolong," bisik Aris, suaranya kini penuh permohonan. "Jangan begini. Kalau aku masuk penjara, Ibu bisa mati kena serangan jantung. Kamu tahu sendiri kondisi Ibu."
"Ibu sakit karena keserakahannya sendiri, Mas. Dan kamu sakit karena kesombonganmu," sahut Hana. Ia menutup map birunya. "Pak Baskoro adalah orang yang baik. Beliau memberikan kalian waktu tiga hari untuk mengembalikan uang itu. Jika tidak, surat laporan polisi sudah saya siapkan di laci ini."
Satu jam kemudian, Aris mengejar Hana sampai ke parkiran ruko yang panas. Ia menarik lengan Hana dengan kasar.
"Puas kamu sekarang, Han?! Puas melihat aku hancur?!" teriak Aris.
Hana melepaskan tangan Aris dengan sentakan kuat. "Aku tidak pernah berniat menghancurkanmu, Aris. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri saat kamu memilih untuk berbohong soal bonusmu sementara anakmu sendiri menunggak uang sekolah. Kamu menghancurkan dirimu saat kamu lebih mementingkan keramik Italia daripada martabat istrimu."
"Aku akan kembalikan uang itu! Tapi tolong, jangan beritahu kantorku! Kalau kantorku tahu, aku dipecat!"
"Itu urusanmu, bukan urusanku lagi," Hana masuk ke dalam angkutan umum yang baru saja berhenti. Ia tidak menoleh lagi saat Aris berteriak-teriak memanggil namanya di tengah jalan.
Di rumah, Ibu Salma sedang menunggu dengan bangga. Ia sudah membayangkan akan pamer pada tetangga tentang betapa hebatnya Aris dalam pertemuan bisnis hari ini. Namun, saat Aris pulang dengan wajah kuyu dan langkah gontai, firasatnya mulai buruk.
"Aris? Bagaimana? Pak Gunawan kasih proyek baru lagi?" tanya Ibu Salma antusias.
Aris tidak menjawab. Ia langsung menuju dapur, mencari air minum, namun ia tersandung ember cucian yang belum dibuang airnya oleh Maya.
"Sialan!" kutuk Aris.
"Mas! Jangan marah-marah! Tadi ada orang dari toko keramik datang, mereka bilang cicilan bulan kedua belum dibayar! Mana uangnya?" Maya muncul dari kamar dengan wajah menuntut.
Aris menatap adik dan ibunya dengan tatapan kosong. "Uangnya tidak ada. Semuanya harus dikembalikan ke Pak Baskoro. Kita terancam dilaporkan ke polisi."
"Apa?!" Ibu Salma berteriak, tangannya memegang dada. "Polisi? Apa maksudmu, Nak? Kamu kan anak berbakti, kamu kan jujur!"
"Jujur apa, Bu?! Uang keramik itu uang hasil selisih nota! Dan Hana tahu semuanya! Hana yang membongkarnya di depan Pak Baskoro!"
Mendengar nama Hana, Ibu Salma mendadak sesak napas. "Wanita itu... wanita pembawa sial itu... dia benar-benar mau membunuhku!"
Ibu Salma pingsan di atas kursi goyangnya. Rumah yang baru saja dihiasi keramik mewah itu mendadak penuh dengan kepanikan. Maya berteriak-teriak memanggil tetangga, sementara Aris hanya terduduk di lantai, menatap keramik mengkilap di bawah kakinya yang kini terasa sangat dingin, sedingin masa depannya.
Hana duduk di kontrakannya, menyalakan lampu kecil untuk Gilang belajar. Ia menerima pesan dari Pak Baskoro.
“Kerja bagus, Hana. Bonus pertamamu sudah saya transfer. Besok kita mulai audit untuk vendor yang lain.”
Hana melihat saldo di ponselnya. Angka itu jauh lebih kecil dari tiga puluh juta milik Aris, tapi angka itu bersih. Angka itu adalah hasil otaknya, bukan hasil tipu musyanya.
Ia mencium puncak kepala Gilang. "Besok kita beli sepatu baru ya, Nak."
Hana tahu, ini baru permulaan. Aris dan ibunya belum benar-benar kalah. Mereka akan melakukan segala cara untuk menariknya kembali ke dalam "lumpur" keluarga mereka. Namun Hana sudah siap. Kali ini, ia tidak akan menggunakan air mata, melainkan angka-angka yang mematikan.