NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diantara hasrat dan harga diri

Malam yang dijanjikan akhirnya datang.

Wulan berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Gaun hitam sederhana membalut tubuhnya, jatuh pas mengikuti lekuk yang selama ini tak pernah ia sadari begitu berarti. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tapi juga tak ingin tampak rapuh. Untuk pertama kalinya, ia berdandan bukan hanya untuk terlihat cantik melainkan untuk merasa kuat.

Melda mengamatinya dari ambang pintu.

“Kak… apa pun yang dia bilang nanti, kamu tetap Wulan yang aku banggakan. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Wulan tersenyum tipis. “Aku cuma ingin kejelasan.”

Tempat biasa itu adalah restoran kecil di sudut kota. Tidak semewah dunia Agung, tapi hangat. Penuh kenangan tawa mereka, sentuhan tangan yang tak sengaja, dan tatapan yang selalu terlalu lama untuk disebut biasa.

Agung sudah menunggu. Kemeja putihnya sedikit kusut, wajahnya terlihat lebih lelah dari terakhir kali mereka bertemu. Namun saat matanya menemukan Wulan, sorot itu masih sama dan intens, dalam, seolah hanya ada satu perempuan di dunia ini.

“Kamu cantik sekali,” ucapnya pelan.

Kalimat sederhana itu membuat napas Wulan tercekat. Ada sesuatu dalam nada suaranya jujur, tapi juga berat.

Mereka duduk berhadapan. Beberapa detik pertama hanya diisi diam yang sarat makna.

“Ayah ingin aku bertunangan tahun ini,” Agung akhirnya berkata.

Jantung Wulan seperti terhenti sesaat. “Dengan pilihan mereka?”

Agung mengangguk. Rahangnya mengeras. “Tapi aku menolak.”

Hening kembali menggantung. Namun kali ini, bukan hening kosong melainkan penuh getaran.

“Aku menolak karena aku mencintaimu,” lanjutnya, suaranya lebih rendah. “Bukan sekadar sayang. Aku nggak bisa membayangkan bangun pagi tanpa kamu di hidupku.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti rayuan. Ia terdengar seperti pengakuan yang lahir dari tekanan panjang.

Wulan menatapnya lama. “Tapi kamu masih di dunia itu,

Agung. Dan dunia itu tidak pernah benar-benar menginginkanku.”

Agung bangkit dari kursinya dan berpindah duduk di samping Wulan. Tangannya perlahan menggenggam jemari Wulan di atas meja. Hangat. Tegas. Bergetar tipis.

“Aku nggak peduli,” bisiknya.

Jarak di antara mereka menghilang. Wulan bisa merasakan napas Agung menyentuh kulitnya. Detak jantungnya sendiri terdengar terlalu keras di telinganya.

“Kalau aku harus memilih,” lanjut Agung, tangannya kini naik menyentuh pipi Wulan dengan lembut, “aku pilih kamu.”

Sentuhan itu sederhana, tapi listriknya menjalar sampai ke tulang belakang. Untuk pertama kalinya sejak semua tekanan ini muncul, Wulan merasa diinginkan bukan sebagai simbol, bukan sebagai ancaman reputasi melainkan sebagai perempuan.

“Aku takut,” Wulan berbisik.

Agung mendekat. Dahi mereka hampir bersentuhan. “Aku juga.”

Kejujuran itu membuat jarak terakhir runtuh.

Bibir mereka bertemu pelan, ragu di awal, seolah memberi kesempatan untuk mundur. Namun saat Wulan tak bergerak menjauh, ciuman itu berubah lebih dalam lebih lapar, lebih jujur. Tangan Agung melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat. Wulan meremas kerah kemeja Agung, seakan takut kehilangan momen itu.

Dunia luar seperti lenyap.

Tak ada keluarga.

Tak ada penilaian.

Tak ada tatapan merendahkan.

Yang ada hanya dua orang yang saling menginginkan.

Ketika mereka akhirnya berpisah untuk mengambil napas, dahi mereka masih saling menempel.

“Kalau suatu hari nanti semuanya jadi lebih sulit…” suara Wulan gemetar.

“Aku tetap di sini,” potong Agung. “Bukan karena kewajiban. Karena aku mau.”

Malam itu tidak memberi jawaban atas semua masalah. Dunia Agung masih keras. Tekanan itu masih nyata. Namun untuk pertama kalinya, Wulan tidak merasa sendirian menghadapi semuanya.

Saat Agung mengantarnya pulang, mobil berhenti lebih lama di depan rumah. Hujan tipis turun, membingkai keheningan mereka.

“Aku nggak ingin kamu pulang,” gumam Agung, jujur tanpa topeng.

Wulan tersenyum samar. “Kalau aku tetap di sini, kamu mungkin nggak akan sanggup menahan diri.”

Tatapan Agung berubah menjadi lebih gelap, lebih dalam. Ada hasrat yang tidak lagi disembunyikan, tapi juga tidak dipaksakan. Ia menyentuh rambut Wulan yang sedikit basah oleh hujan, lalu mencium keningnya lama.

“Aku bisa menunggu,” katanya pelan. “Selama yang aku tunggu adalah kamu.”

Wulan turun dari mobil dengan kaki sedikit lemas, bukan karena takut melainkan karena perasaan yang terlalu penuh.

Dari balik jendela, Melda melihat kakaknya masuk dengan pipi merona dan mata yang berbeda. Bukan mata perempuan yang kalah. Tapi mata perempuan yang sedang jatuh cinta dengan segala risikonya.

Malam itu, Wulan berbaring di tempat tidur dengan satu kesadaran baru.

Cinta mereka bukan lagi sekadar tentang bertahan dari tekanan.

Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam,lebih berbahaya karena kini bukan hanya hati yang terlibat, tetapi juga tubuh dan harga diri.

Dan ketika cinta menyentuh keduanya, tak ada jalan untuk kembali menjadi biasa.Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai. Wulan terbangun lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya masih mengingat hangat pelukan semalam, tapi pikirannya jauh lebih sibuk daripada detak jantungnya waktu itu.

Ia memandangi langit-langit kamar, mencoba menata ulang keberaniannya.

Semalam terasa seperti titik balik. Namun titik balik bukan berarti garis akhir. Justru setelah pengakuan itu, segalanya terasa lebih nyata lebih menuntut.

Ponselnya bergetar.

Agung: Aku nggak menyesal.

Wulan menatap layar cukup lama sebelum membalas.

Wulan: Aku juga nggak.

Jawaban sederhana. Tapi di baliknya ada ribuan kemungkinan yang belum mereka ucapkan.

Siang itu, Wulan duduk di kafe kecil dekat kampus tempat ia dulu sering menghabiskan waktu sendiri. Ia membutuhkan ruang untuk berpikir tanpa tatapan intens Agung yang selalu membuatnya goyah.

Ia mengakui satu hal pada dirinya sendiri: ia menginginkan Agung.

Bukan hanya sebagai teman berbagi cerita. Bukan hanya sebagai sosok yang membelanya dari tekanan dunia luar. Ada bagian dalam dirinya yang bereaksi pada sentuhan, pada kedekatan, pada tatapan yang terlalu lama.

Namun di saat yang sama, ia takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Cinta bisa menguatkan. Tapi cinta juga bisa membuat seseorang rela melampaui batas yang dulu dijaga rapat.

Wulan tidak ingin hubungan mereka berubah menjadi pembuktian. Ia tidak ingin merasa harus memberi lebih hanya karena Agung sudah mempertaruhkan banyak hal.

Ia ingin dipilih tanpa syarat.

Malamnya, mereka kembali bertemu. Bukan untuk berciuman. Bukan untuk mengulang momen yang membuat dunia lenyap. Tapi untuk berbicara.

“Kamu kelihatan banyak pikiran,” kata Agung pelan.

“Aku memang banyak pikiran,” jawab Wulan jujur.

Ia menatap Agung lurus-lurus. “Kalau kamu benar-benar memilih aku, kita harus sepakat tentang satu hal.”

Agung mengangguk, serius.

“Aku nggak mau hubungan ini jadi pelarian dari tekanan keluargamu. Dan aku nggak mau kamu merasa berhak atas tubuhku hanya karena kamu melawannya demi aku.”

Kalimat itu meluncur lebih tegas dari yang ia duga.

Agung terdiam beberapa detik. Bukan tersinggung. Tapi mencerna.

“Aku nggak pernah merasa berhak,” katanya akhirnya. “Kalau aku menyentuh kamu, itu karena kamu mengizinkan. Kalau suatu hari kamu bilang berhenti, aku berhenti.”

Keheningan jatuh tapi bukan keheningan yang rapuh.

Wulan merasa napasnya lebih ringan.

Agung menggenggam tangannya, kali ini tanpa menariknya lebih dekat. “Aku mau kamu, Wulan. Tapi aku lebih mau kamu merasa aman bersamaku.”

Dan untuk pertama kalinya, Wulan menyadari sesuatu yang lebih kuat daripada hasrat yaitu kenyamanan

Bukan sekadar dicintai.

Bukan sekadar diinginkan.

Tapi dihormati.

Ia tersenyum kecil. “Kalau begitu… kita jalan pelan-pelan.”

Agung membalas senyumnya. “Pelan nggak apa-apa. Selama arahnya sama.”

Di antara gemuruh dunia yang belum tentu menerima mereka, dua hati itu memilih satu hal yang jarang dipilih orang jatuh cinta yaitu

"Kesabaran".

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!