Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Saat Kai hendak berbalik untuk pulang, tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam tubuhnya.
DUUM!
Tubuhnya terpental puluhan meter, menghancurkan beberapa pohon di lintasannya sebelum akhirnya menghantam dinding tebing. Batu retak dan berlubang cukup dalam akibat benturan itu.
“UUUGHH—”
Kai memuntahkan darah, napasnya berat.
“Monster? Monster apa itu…? Aku bahkan sampai merinding…”
Beberapa puluh meter di depannya kini berdiri sosok berzirah penuh, aura merah menyelimuti tubuhnya. Di tangannya tergenggam pedang besar yang memancarkan tekanan mengerikan.
“Cih…”
Kai menarik salah satu pedangnya dan berjalan mendekat.
Sosok itu kembali menerjang dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan pedang tepat ke arah kepala Kai.
Refleks, Kai menunduk dan membalas dengan tebasan ke perut lawannya—namun bilah pedangnya sama sekali tidak menembus zirah itu.
“Bajingan… keras sekali.”
“Bahkan tebasanku tidak mempan.”
Sosok itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya ke bawah.
DRRRR!
Tanah hancur dan terbelah. Kai melompat menjauh tepat waktu. Dari kepulan debu di depannya, cahaya merah tiba-tiba menyala—dan pedang itu melesat lurus seperti proyektil.
Mata Kai membesar. Ia menjatuhkan setengah tubuhnya ke belakang secara refleks, nyaris saja bilah itu menyentuh wajahnya.
“Apa-apaan kekuatan ini… daya hancurnya jelas di atasku. Kecepatannya juga…”
Sosok berzirah itu berdiri kembali, menatap lurus ke arah Kai tanpa suara.
“Zirahnya menangkis pedangku… berarti pertahanannya jauh lebih tinggi.”
“Apakah ada caraku mengalahkannya?”
Kai terdiam sepersekian detik, lalu memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
“Aku tidak tahu bisa menang tanpa pedang atau tidak… tapi…”
Tatapannya berubah tajam. Aura di sekitarnya ikut berubah.
“Kalau tebasan tidak mempan… berarti aku harus menghancurkannya dari dalam.”
Kini Kai bersiap menghadapi monster itu tanpa senjata, bersiap mencoba serangan fisik dan sihir jarak dekat.
Monster itu melihat Kai menyarungkan katananya, lalu melakukan hal yang sama.
Ia membuang pedang besarnya, melepaskan cakram kecil dari tasnya, juga pisau pendek di belakang pinggangnya. Kini mereka berdua berdiri saling berhadapan, sama-sama tanpa senjata.
Kai menggertakkan giginya.
“Apa dia seorang kesatria…? Atau kau sengaja mempermainkan ku?”
Belum sempat mendapat jawaban, sosok itu sudah melesat dan muncul tepat di depan Kai dengan kepalan tangan terangkat.
DUUM!
Pukulan itu mendarat telak. Mata Kai membesar saat tubuhnya kembali terpental dan menghantam dinding tebing. Batu retak keras.
Saat tubuhnya masih tertanam di dinding, sosok itu muncul lagi dan menghantamkan tinju kedua. Kali ini Kai menahannya dengan menyilangkan kedua tangan membentuk huruf X.
Namun kekuatannya luar biasa—tubuh Kai tetap terdorong, menembus dinding tebal itu hingga membentuk semacam terowongan sebelum akhirnya terpental ke sisi lain.
Kai berlutut dengan satu kaki, napasnya berat.
“Aku menahan serangan itu… tapi rasanya seperti kehilangan nyawa.”
“Kalau aku tidak melapisi tubuh ini dengan sihir… maka…”
Dari debu tebal, bayangan sosok itu tampak berdiri tegap, menatap tanpa emosi.
“Aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup kalau terus menerima serangan langsung. Bahkan tanpa pedangnya pun dia tetap sangat kuat.”
Kai mencoba melepaskan penutup matanya, tetapi tak bisa.
“Dasar dewa itu…apa yang dia pikirkan”
Ia memaksa pikirannya bekerja cepat.
“Bagaimana caranya memberinya perlawanan yang berarti?”
Kai berdiri lagi, tubuhnya gemetar namun matanya tajam.
“Kalau kalah dalam kekuatan… aku masih punya kecepatan.”
Ia ber teleportasi ke depan sosok itu dan menghantam perutnya. Namun tinjunya ditahan dengan mudah. Serangan balasan datang secepat kilat.
Mata Kai membesar. Mereka saling bertukar pukulan begitu cepat hingga tampak seperti puluhan tangan bergerak sekaligus.
Akhirnya satu tinju keras menghantam kepala Kai, membuat tubuhnya melayang.
Sosok itu menangkap salah satu kaki Kai.
DURRR!
Tubuh Kai dibanting ke tanah. Tanah di sekitarnya hancur oleh tekanan benturan itu. Darah mengalir dari mulut dan kepalanya.
“Haaaa aaaaah…”
Sosok itu mengambil kembali pedangnya dan berjalan perlahan mendekat. Pedang diangkat tinggi, siap menebas kepala Kai.
SHPPP!
Pedang itu ditahan dengan tangan kosong.
Dengan sisa tenaga, Kai meraih salah satu pedangnya.
“Aku… belum… kalah!”
Ia berteriak dan menusukkan pedang itu ke mata sosok tersebut. Lalu ia memeluk tubuh lawannya dan mendorongnya ke belakang hingga menghantam dinding tebing.
DUARR!
Kai mencabut pedangnya dan, dengan seluruh sisa kekuatannya, pedang itu ia tancapkan ke leher sosok itu.
“Terlalu dangkal… sedikit lagi…”
Matanya membesar.
“Aaaaaaaaaaaaa!”
Teriakannya menggema di seluruh hutan. Akhirnya sosok itu terduduk, lalu tak bergerak lagi.
Kai terengah-engah, menatapnya.
“Apakah… aku menang?”
Ia jatuh terduduk, benar-benar kelelahan.
“Hampir saja… kemampuan, teknik, keterampilan, pengalaman… aku kalah dalam semuanya.”
“Hanya keberuntungan yang membuatku menang. Kalau aku salah sedikit saja… aku pasti mati.”
“Dengan kekuatan seperti itu, dia bisa menghancurkan satu negara.”
“Lalu kenapa dia menyerang ku?”
Kai memegang penutup matanya.
“Dan sialan mata ini… bukankah dewa itu bilang jangan membukanya kecuali darurat? Barusan saja aku hampir mati.”
Saat ia bangkit perlahan, tubuh sosok itu masih ada di tempatnya—tidak menghilang seperti monster lain.
Senjata-senjatanya juga masih tergeletak. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Kai: benda bercahaya dari balik jubahnya.
Kai menghampiri dan mengambil benda itu.
“Item? Apa kegunaannya?”
Ia menatapnya serius sejenak.
“Aku simpan saja.”
Pandangan Kai kembali ke tubuh tak bernyawa itu.
“Sekarang apa yang harus kulakukan dengan tubuh ini? Kalau kutinggalkan… ini akan jadi berita lagi.”
Tak ingin ambil pusing, dan tubuhnya juga masih dipenuhi rasa sakit, Kai memasukkan tubuh itu ke dalam item box miliknya.
Saat Kai hendak berjalan pulang, sebuah pusaran tiba-tiba muncul di depannya.
“Pusaran? Ada apa lagi ini…”
Dari dalamnya keluar banyak sosok berzirah. Kali ini aura mereka tidak sekuat yang sebelumnya, tetapi jumlahnya jauh lebih banyak.
Kai menatap mereka dengan napas masih berat.
“Aku masih bisa melawan monster-monster ini… meskipun dengan kondisiku sekarang.”
Ia segera meminum potion buatannya. Cairan itu mengalir hangat di tenggorokan, memulihkan sebagian tenaganya.
“Kalau mereka selevel dengan yang tadi… aku pasti mati.”
Sosok-sosok itu langsung berlari menyerbu. Kai mengeluarkan kedua katananya.
“Sekarang… mari kita lanjutkan pestanya.”
Ia melesat maju. Tebasannya tak berhenti, bilah pedangnya memotong celah di antara zirah. Satu demi satu tumbang. Kali ini tubuh mereka langsung menghilang, meninggalkan batu kristal.
“Aku akan menghabisi semuanya selagi bisa!”
Semangatnya bangkit. Ia terus bergerak, menebas tanpa henti. Namun kelelahan yang belum pulih sepenuhnya mulai terasa. Sebuah pukulan keras menghantam punggungnya.
Ia terpental cukup jauh...
“GAAH!”
“Jumlahnya terlalu banyak… aku jadi tidak fokus!”
Energi sihir pada pedangnya mulai melemah.
“Sial… aku meremehkan ini.”
“Aku sudah memakai terlalu banyak energi sihir. Kalau begini terus, aku tak bisa lagi melapisi pedangku lagi.”
Seketika fokusnya buyar. Dari samping, sebuah palu besar menghantam tubuhnya.
DUUM!
Kai terlempar dan terguling di tanah. Sosok-sosok yang tersisa berjalan mendekat, langkah mereka berat dan serempak.
“Eeeee… eeeehhh…”
Kai memaksa dirinya berdiri. Aura di sekeliling tubuhnya terasa berubah.
Ia mengepalkan tangannya.
“Aku tidak bisa berakhir di sini.”
Dengan sisa tenaga dan tekad yang memuncak, Kai kembali berlari. Kedua pedangnya berayun cepat.
SHING! TANNG! SLASH! TING!
Suara tebasan, benturan, dan gesekan zirah bersahutan. Percikan api dan kilatan baja memenuhi hutan, sementara Kai terus maju—menolak untuk tumbang.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin