Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Apartemen penthouse milik Zion di kawasan elite Gold Coast kini tidak lagi memancarkan aura dingin yang kaku. Jika dahulu ruang luas ini hanya menjadi saksi bisu bagi deretan botol minuman keras dan furnitur minimalis yang suram, kini atmosfernya telah bermetamorfosis. Aroma bawang putih yang ditumis gurih dan wangi manis kue yang baru matang dari oven sering kali menyapa siapa pun yang melintasi ambang pintunya.
Pukul dua siang, pintu utama terbuka dengan suara sensor yang halus dan ritmis. Zion melangkah masuk; setelan jas mahalnya masih melekat, meski kancing teratas kemejanya sudah terbuka santai. Tangannya menggenggam erat jemari Logan yang masih mengenakan seragam sekolah internasionalnya dengan rapi.
"Kami pulang, sayang!" seru Zion, suaranya baritonnya menggema hangat di seluruh penjuru ruangan yang kini terasa lebih hidup.
Semenjak ikrar suci sebulan yang lalu, Zion bertransformasi menjadi pria yang sangat domestik. Ia tak segan meninggalkan rapat krusial di Lopez Group hanya demi ritual makan siang bersama di rumah. Baginya, pemandangan Cassie dan Logan yang menunggunya di meja makan jauh lebih memuaskan daripada memenangkan kesepakatan bernilai jutaan dolar.
Cassie muncul dari arah dapur modern yang serba putih bersih. Ia mengenakan apron di atas gaun kerjanya yang elegan. Meskipun telah menyandang status sebagai Nyonya Lopez, Cassie tetaplah sang arsitek ambisius yang brilian. Kariernya justru kian melejit karena Zion memfasilitasi studio pribadinya sendiri, memberinya kemewahan untuk merancang mahakarya tanpa harus terbelenggu jam kantor yang kaku.
"Mommy! Aku mendapat nilai sempurna di tes robotika tadi!" Logan berlari kecil dan memeluk pinggang ibunya dengan bangga.
"Anak pintar," Cassie mengecup lembut dahi Logan, lalu beralih menatap Zion yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu melingkarkan tangan di pinggang Cassie dengan begitu posesif, seolah takut dunianya akan menghilang jika ia melepaskannya barang sekejap.
"Kau memasak apa hari ini? Baunya bahkan tercium sampai ke lobi bawah," goda Zion sembari mendaratkan ciuman di ceruk tengkuk Cassie, sengaja mengabaikan protes kecil istrinya yang tengah sibuk dengan pisau dapur.
"Pasta aglio olio dan steak. Dan berhentilah menggangguku, Zion. Logan, bantu Mommy mencuci sayuran di sana," perintah Cassie dengan nada tegas yang menyimpan senyum.
Maka dimulailah ritual siang itu. Zion, sang CEO yang biasanya memerintah ribuan nyawa, kini dengan patuh menggulung lengan kemejanya hingga ke siku dan mulai memotong tomat. Logan berdiri di atas kursi kecil agar tingginya mencapai meja bar, bertugas memetik daun basil dengan ketelitian seorang profesional.
"Zion, potongannya terlalu besar! Kau ingin kita tersedak?" tegur Cassie sembari mengaduk pasta di atas kompor.
"Aku memotongnya dengan limpahan cinta, Cass. Tomat-tomat ini harus terlihat maskulin," bela Zion sembari terkekeh pelan. Ia kemudian mendekati Cassie, mencuri satu potongan daging yang baru saja diangkat dari panggangan.
"Zion! Itu untuk sajian makan siang!"
"Aku hanya sedang melakukan kontrol kualitas, Sayang. Hmm... sempurna. Sama persis seperti koki yang meraciknya," Zion mengerling nakal ke arah mata Cassie yang indah.
Logan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah jenaka ayahnya. "Dad, Mommy benar. Kau lebih baik fokus pada bumbu daripada terus merayu. Perutku sudah sangat lapar."
Tawa renyah pecah di dapur itu. Sambil memasak, mereka bertukar cerita tentang banyak hal. Logan bercerita tentang teman sekolahnya yang ingin mencoba mobil balap ayahnya, sementara Cassie membagikan antusiasmenya mengenai desain museum baru yang baru saja disetujui pemerintah kota. Zion mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian, sesekali menyisipkan masukan bisnis yang tajam dan cerdas.
Meskipun Cassie sangat sibuk dengan proyek-proyek raksasanya, ia tidak pernah merasa terbebani sedikit pun. Zion selalu memastikan bahwa pekerjaan Cassie adalah hobi yang dibayar mahal, bukan beban yang menguras energi. Jika Cassie harus lembur, Zion akan setia mendatangi studionya dengan kopi dan camilan, menunggunya dengan sabar di sofa hingga seluruh garis rancangannya selesai.
Setelah semua hidangan tersaji, mereka duduk mengelilingi meja makan yang menghadap langsung ke panorama biru Danau Michigan. Sinar matahari siang menembus jendela kaca raksasa, menciptakan pendar cahaya yang hangat dan menenangkan.
"Jadi, Nyonya Lopez," Zion memulai pembicaraan sembari menikmati pastanya. "Kudengar kau akan meninjau lokasi proyek di California minggu depan? Berapa lama kau akan di sana?"
"Hanya tiga hari, Zion. Kenapa? Kau sudah mulai merasa cemas?" tanya Cassie dengan nada angkuh yang manis, ciri khas yang selalu membuat Zion gemas.
"Tentu saja. Tiga malam tanpamu itu setara dengan tiga malam tanpa 'angin kencang' yang menghangatkan, Cass. Aku bisa mati kedinginan di ranjang besar itu," bisik Zion pelan, cukup untuk tidak terdengar oleh Logan, namun cukup kuat untuk membuat pipi Cassie bersemu merah jambu.
"Kau benar-benar tidak bisa bersikap serius, ya?" desis Cassie, meski di bawah meja, kakinya saling bersentuhan mesra dengan kaki Zion.
Logan mendongak dari piringnya dengan mata berbinar. "Apa aku akan ikut Mommy ke California? Di sana ada museum sains yang luar biasa hebat, Dad."
Zion menatap Logan, lalu beralih ke Cassie dengan pandangan protektif. "Ide bagus. Kita berangkat bertiga. Aku akan menyiapkan jet pribadi agar kita bisa pulang-pergi dengan efisien. Aku tidak akan membiarkan Mommy-mu sendirian di sana, Logan. Banyak arsitek muda di luar sana yang mungkin mencoba menggoda 'Gadis Es' kesayangan kita ini."
"Posesif sekali," gumam Cassie, namun hatinya justru membuncah karena merasa sangat dicintai.
Semenjak kehadiran Zion secara utuh dalam hidupnya, Cassie merasa eksistensinya jauh lebih seimbang. Ia tetap bisa menjadi wanita karier yang tangguh, namun kini ia memiliki "rumah" sejati untuk pulang—seorang suami yang mungkin terkadang terlalu bersemangat namun sangat memujanya, dan seorang putra yang tumbuh dalam kasih sayang yang paripurna.
Zion memperhatikan Cassie yang tengah tertawa mendengar lelucon Logan. Dalam benaknya, ia bersumpah tidak akan pernah menukar momen ini dengan apa pun di dunia. Kesuksesan bisnis, koleksi mobil balap, atau kekuasaan mutlak tidak ada artinya dibandingkan dengan kehangatan di meja makan ini.
Setelah jamuan selesai, Logan berlari ke kamarnya untuk bermain gim, sementara Zion membantu Cassie merapikan sisa meja dapur. Saat Cassie berdiri di depan wastafel, Zion merapat dan memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Terima kasih, Cass. Untuk segalanya. Untuk Logan, dan untuk keberanianmu kembali padaku," bisik Zion dengan nada yang sangat dalam dan tulus.
Cassie mengeringkan tangannya lalu berbalik dalam dekapan kokoh Zion. Ia menatap mata suaminya yang kini memancarkan binar kehidupan, bukan lagi kehampaan. "Jangan merusak suasana manis ini dengan menjadi terlalu emosional, Zion. Aku masih punya rapat penting jam tiga sore nanti."
Zion tersenyum lebar, menampakkan pesona yang tak luntur. "Satu ciuman sebelum rapat, Nyonya Lopez? Sebagai asupan energi?"
Cassie tidak membantah. Ia menarik kerah kemeja Zion dan membalas ciumannya dengan penuh kasih. Sebuah ciuman yang menandakan bahwa meskipun sepuluh tahun telah terbuang dalam luka, masa depan yang mereka rajut sekarang akan jauh lebih indah, kokoh, dan abadi.
Di apartemen penthouse itu, di tengah hiruk pikuk metropolis Chicago, keluarga Lopez telah menemukan surga kecil mereka sendiri. Surga yang tidak lagi dibangun di atas taruhan yang kotor, melainkan di atas bumbu-bumbu kasih sayang, tawa seorang anak, dan cinta yang takkan pernah padam lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.