Nasya Andira, sejak kecelakaan yang membuat kedua orang tua nya meninggal. Nasya terpaksa harus hidup seorang diri, beruntung ia bertemu dengan Olin. Wanita paruh baya yang begitu baik hati dan memberikannya pekerjaan.
Berawal menjadi seorang pelayan di sebuah warung makan mie milik Olin. Nasya memilih untuk pergi ke Jakarta mengadu nasib agar bisa berkuliah dengan bekerja di rumah menantu Olin untuk menjaga kedua cucunya.
Adnan Bimantara, seorang laki laki dewasa. Berstatus dia dengan dua anak. Menerima Nasya bekerja dengan nya karena sudah lelah mengurus kedua anaknya yang begitu nakal dan sering membuat ulah. Adnan berharap bahwa setelah mempekerjakan Nasya, maka pekerjaan nya mengurus kedua anaknya akan berkurang. Namun, nyatanya kini malah dirinya merasa memiliki tiga orang anak.
Bagaimana kisah Nasya menghadapi dua tuyul yang selalu membuat ulah untuk para pekerja nya. Berhasilkah Nasya membuat dua anak itu takluk padanya? Atau malah sang duda yang akan takluk padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan bersama
...~Happy Reading~...
“Oke, kalian berdua mau sarapan apa?” tanya Nasya ketika sudah mengajak kedua anak asuh nya ke meja makan.
“Ryan mau nasi goreng!” jawab Ryan dengan mata berbinar nya setiap kali Nasya menghidangkan nasi goreng buatan nya. Sejak pertama kali Ryan mencoba nasi goreng buatan Nasya ketika di kampung Olin, Ryan begitu kecanduan. Hanya saja, Nasya tidak bisa membuatkan nya setiap hari.
Nasya selalu mengubah ubah menu sarapan dan makanan anak- anak agar tidak cepat bosan. Maka dari itu, setiap kali Nasya memasak nasi goreng, Ryan pasti akan selalu meminta nambah, bahkan juga meminta untuk di jadikan bekal ke sekolah.
“Ryana juga mau itu aja,” saut Ryana yang masih terlihat sangat mengantuk, bahkan anak itu kini merebahkan kepala nya di meja makan dengan mata sedikit terpejam.
“Ryana, ini itu meja makan, untuk makan bukan buat tidur!” seru Ryan begitu kesal, terlebih ketika melihat adik kembar nya itu menguap tepat di depan nya, karena Ryan dan Ryana duduk bersebalahan.
“Ryan berisik,” ketus Ryana lalu kembali memejamkan mata nya.
“Sudah sudah, gapapa. Ini buat Ryan, dan ini untuk Ryana. Habiskan, agar tidak telat berangkat ke sekolah nya,” ujar Nasya seraya memberikan dua piring untuk kedua anak asuh nya.
“Suapin,” rengek Ryana langsung memutas kepala nya hingga kini menghadap ke arah Nasya.
“Ryana, jangan manja! Kasihan kak Nasya juga mau kuliah!” seru Ryan semakin bertambah kesal.
“Ryan kenapa berisik banget sih! Ryana kan masih ngantuk!” balas Ryana tak kalah seru.
“Kamu itu jangan terlalu manja!”
“Ryana gak manja! Cuman males dan masih ngantuk!” kata Ryana meralat tuduhan saudara kembar nya.
“Itu sama saja!” jawab Ryan ketus.
“Allahuakbar, astagfirullah aladzim, sudah cukup!” kata Nasya dengan tegas melerai keduannya.
Nasya pun berinisiatif untuk memindahkan piring Ryana dan membawa nya ke kursi yang agak jauh dari Ryan agar tidak bertengkar kembali. Kini, tempat duduk Ryana berada di sisi kanan Adnan, sementara Nasya berada di sebelah Ryana.
“Ryan, habiskan ya. Kak Nasya sudah siapkan yang untuk bekal kamu,” ujar Nasya setelah mendudukkan diri nya di kursi.
“Makasih kak Nasya,” kata Ryan tersenyum manis menatap Nasya, lalu ia segera melahap kembali makanan nya.
Sementara itu, Nasya dengan telaten menyuapkan makanan untu Ryana yang ternyata kembali memejamkan mata, namun mulut nya juga tidak bisa berhenti mengunyah. Nasya menyuapi Ryana dengan sesekali ia menyuap ke mulut nya sendiri. Bahkan ia tidak perduli dengan tatapan Adnan yang sejak tadi melihat interaksi Nasya dengan kedua anak nya.
Bahkan, piring Adnan hingga kini masih kosong. Sejak tadi ia hanya terdiam dan mengamati bagaimana Nasya menangani kedua anak nya. Dan ternytaa Nasya berhasil, meredamkan ledakan demi ledakan akibat pertengkaran Ryan dan Ryana.
“Bapak gak makan?” tanya Nasya dnegna mulut yang masih terisi makanan dan ia baru sadar bahwa sejak tadi Adnan belum makan.
“Makanlah,” ujar Adnan dengan wajah datar nya.
“Maaf ya Pak, saya lapar. Dan tidak memperhatikan bapak apakah sudah makan atau belum,” gumam Nasya tidak enak, karena posisi nya yang hanya sebagai pembantu malah asik makan sementara bos nya belum makan dan malah memperhatikan nya.
Adnan hanya menganggukkan kepala nya tanpa membuka mulut. Ia pun kembali menatap dua anak nya yang masih makan, terlebih Ryan yang makan dengan begitu lahap sehingga membuatnya penasaran, seenak apa masakan Nasya sampai bisa membuat kedua anak nya makan sebanyak itu, pikir Adnan.
Padahal, Ryan dan Ryana sangat jarang sekali sarapan dengan nasi. Biasanya, mereka akan sarapan dengna sup atau roti atau mungkin sereal. Dan sejak kedatanagn Nasya, hampir setiap hari mereka sarapan dengan nasi.
“Siapkan bekal juga untuk ku. Aku tidak selera sarapan!” ujar Adnan tiba- tiba dan ia langsung bangkit dari kursi nya dan memutuskan untuk pergi ke ruang kerja nya sebentar.
Uhuukkk hukk hukk
Nasya yang masih memakan sarapan nya, seketika langsung tersedak ketika mendengar bahwa bos nya ingin di buatkan bekal juga. Tentu saja itu hal yang aneh, bos nya sudah tua mengapa harus membawa bekal juga seperti Ryan dan Ryana, batin Nasya yang amish merasa bingung.
cerita tidak ber-liku2....