"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Masakan Mami vs. Koki Bintang Lima
"Silakan dinikmati, Signore. Ini adalah Foie Gras dengan taburan Caviar Beluga kualitas terbaik yang diterbangkan langsung dari Laut Kaspia pagi ini."
Chef Luiga, pria Italia berbadan subur dengan kumis melintir, membuka tudung saji perak di meja makan dengan gerakan teatrikal. Asap tipis beraroma laut menguar ke udara. Di atas piring porselen mewah itu, terhidang sepotong hati angsa dan butiran hitam mengkilap yang harganya bisa buat beli motor matic.
Cayvion tersenyum puas. Dia melirik kedua anaknya, berharap melihat mata mereka berbinar kagum.
"Ayo dimakan," perintah Cayvion sambil membuka serbet makannya. "Papa sengaja sewa Chef Luiga supaya kalian belajar makan fine dining. Lidah pewaris Alger Corp harus terbiasa dengan rasa kemewahan."
Elio dan Elia menatap piring itu. Hening sejenak.
Lalu, Elia menutup hidungnya dengan dua tangan.
"HUEK! Amis!" jerit Elia tanpa sensor. "Baunya kayak pasar ikan yang becek! Elia nggak mau makan!"
"Ini bukan amis, Elia. Ini aroma laut," koreksi Cayvion sabar, memotong sedikit hati angsa itu. "Coba dulu. Ini enak. Lembut seperti mentega."
Elio menusuk butiran caviar hitam itu dengan garpu, lalu mendekatkannya ke mata. "Ini telur ikan mentah ya, Pa? Warnanya hitam kayak lumpur got. Papa mau ngeracunin kita?"
"Jaga mulutmu, Elio," tegur Cayvion, mulai tersinggung. "Satu sendok butiran hitam itu harganya lebih mahal dari mainan robotmu. Makan."
"Nggak mau," tolak Elio tegas, meletakkan garpunya dengan bunyi klang keras. "Rasanya pasti aneh. Teksturnya meletus-letus di mulut. Menjijikkan."
"HUWAAAA! MAU TELOR CEPLOK AJA!" Elia mulai tantrum, kakinya menendang-nendang kaki meja. "Mami! Mau masakan Mami! Nggak mau makan lumpur hitam!"
Wajah Cayvion memerah padam. Dia sudah bayar Chef Luiga puluhan juta untuk malam ini. Dia merasa dihina.
"Diam!" bentak Cayvion, membuat tangis Elia makin kencang. "Kalian ini dikasih makanan enak malah milih makanan kampung! Papa capek cari uang buat beli ini! Buka mulut kalian sekarang! Chef Luiga tersinggung kalau kalian tidak makan!"
Chef Luiga di sudut ruangan memang terlihat sedih, memilin kumisnya dengan wajah murung.
"Makan atau Papa potong uang jajan kalian sebulan!" ancam Cayvion, menyodorkan sendok berisi caviar ke mulut Elia yang tertutup rapat.
Sebuah tangan menahan lengan Cayvion.
"Cukup, Pak," suara Hara terdengar tenang tapi tegas. Dia berdiri dari kursinya, mengambil piring Elia dan Elio, lalu menumpuknya jadi satu.
"Hara, apa-apaan kamu? Mereka harus belajar menghargai makanan mahal!" protes Cayvion.
"Mereka anak kecil, Pak. Bukan kritikus makanan majalah Michelan," balas Hara sambil membawa piring-piring itu ke dapur kotor. "Bapak makan saja itu telur ikan mahal Bapak sama Chef Luiga. Biar saya yang urus perut anak-anak."
"Kamu mau masak apa? Bahan di kulkas habis!"
"Nasi goreng sosis. Sepuluh menit jadi," jawab Hara tanpa menoleh.
Cayvion mendengus kasar. "Nasi goreng? Makanan berminyak itu? Kau mau merusak gizi mereka?"
Hara tidak menjawab. Terdengar suara kompor dinyalakan. Ctek. Wusss. Lalu suara spatula beradu dengan wajan. Sreng... sreng... sreng...
Bau harum bawang putih yang ditumis dengan margarin dan kecap manis langsung menyebar, menembus sekat dapur, mengalahkan aroma amis mewah caviar di meja makan.
Elia langsung berhenti menangis. Hidungnya kembang kempis. "Wangi Mami..."
Sepuluh menit kemudian, Hara kembali dengan membawa satu piring besar nasi goreng cokelat mengkilap, lengkap dengan potongan sosis murah dan telur orak-arik. Asapnya mengebul hangat.
"Serbuuu!" teriak Elio.
Tanpa disuruh dua kali, si kembar langsung menyendok nasi goreng itu dengan lahap. Mulut mereka penuh, pipi menggembung lucu.
"Enak banget!" gumam Elia dengan butiran nasi nempel di pipi. "Manis, gurih! Nggak amis kayak punya Papa!"
"Juara," komentar Elio singkat sambil mengacungkan jempol, melupakan Foie Gras jutaan rupiah yang sekarang mendingin dan berlemak di piring Cayvion.
Cayvion menatap pemandangan itu dengan mulut terbuka. Dia melihat Chef Luiga yang kini sedang membereskan peralatannya dengan wajah kalah telak. Masakan autentiknya kalah oleh kecap manis sachet.
"Saya tidak mengerti," gumam Cayvion, menatap Hara yang sedang menuangkan air putih untuk anak-anak. "Kenapa? Lidah mereka rusak?"
Hara tersenyum tipis, duduk kembali di kursinya.
"Lidah anak-anak itu jujur, Pak. Paling jujur sedunia," kata Hara sambil menatap Cayvion. "Bagi mereka, enak itu nggak ada hubungannya sama harga. Enak itu rasa yang familiar. Rasa yang dimasak pakai hati, bukan pakai gengsi."
Hara menunjuk piring nasi goreng yang tinggal setengah.
"Bapak cobain deh. Jangan cuma lihat harganya."
"Aku? Makan nasi goreng berminyak itu? Tidak, terima kasih. Kolesterolku bi—"
"Ya sudah. Elio, Elia, habisin ya. Sayang kalau dibuang," potong Hara.
"Siap, Mi!"
Cayvion terdiam. Dia melihat anak-anaknya makan begitu lahap. Ada rasa penasaran yang menggelitik perutnya yang sebenarnya juga lapar karena tadi dia sibuk memaksa anak-anak makan dan belum sempat menyentuh makanannya sendiri.
"Sudah kenyang?" tanya Hara saat Elia bersendawa keras.
"Kenyang! Makasih Mami!"
Hara membereskan piring kotor. "Ayo sikat gigi, terus tidur. Besok sekolah."
Anak-anak berlari ke kamar mandi. Hara membawa tumpukan piring ke dapur untuk dicuci.
Meja makan kini sepi. Hanya ada Cayvion sendirian.
Matanya tertuju pada piring sajian nasi goreng di tengah meja. Masih ada sisa sedikit. Mungkin sekitar tiga sendok makan yang tidak terambil oleh Elio tadi.
Cayvion menengok kanan-kiri. Aman. Hara masih di dapur, suara air keran terdengar. Chef Luiga sudah pulang.
Pelan-pelan, tangan Cayvion terulur. Dia mengambil sendok bersih.
"Cuma mau memastikan rasanya seburuk apa," gumamnya pada diri sendiri sebagai pembelaan.
Dia menyendok nasi goreng dingin itu dan memasukkannya ke mulut.
Kunyah. Kunyah.
Mata Cayvion membelalak.
Rasa manis kecap berpadu dengan gurihnya bawang dan asinnya sosis murahan meledak di lidahnya.
Sederhana. Sangat sederhana. Tapi rasanya... homey. Rasanya seperti pelukan hangat. Jauh lebih memuaskan daripada telur ikan mentah yang asin itu.
Tanpa sadar, Cayvion menyendok lagi. Dan lagi. Sampai piring itu bersih tak bersisa.
"Lho? Kok piringnya bersih?"
Suara Hara membuat Cayvion tersedak. Dia buru-buru menelan suapan terakhir.
Hara berdiri di ambang pintu dapur sambil mengelap tangan basah ke apron. Dia menatap piring kosong di depan Cayvion, lalu menatap bibir suaminya yang berminyak.
"Bapak... makan sisa anak-anak?" tanya Hara dengan alis terangkat, senyum jahil mulai terbit di bibirnya.
Wajah Cayvion memerah padam, lebih merah dari saus tomat. Dia buru-buru meletakkan sendok, mengambil tisu dan mengelap mulutnya dengan gaya elegan yang dipaksakan.
"Aku... tadi mau membuangnya ke tempat sampah. Tapi karena aku anti food waste, jadi aku musnahkan ke perutku. Itu prinsip efisiensi," elak Cayvion gelagapan.
"Oh... efisiensi," Hara mengangguk-angguk, menahan tawa. "Gimana rasanya, Pak? Amis kayak lumpur?"
"Biasa saja. Terlalu banyak MSG," jawab Cayvion gengsi, berdiri dari kursi. "Tapi... lumayan. Kalau besok kamu mau masak itu lagi buat sarapan... aku tidak keberatan. Demi efisiensi bahan makanan, tentu saja."
Cayvion langsung melengos pergi ke ruang kerjanya sebelum mukanya makin merah.
Hara tertawa kecil melihat punggung tegap itu menjauh.
"Dasar gengsian. Bilang enak aja susah banget."
Di dalam ruang kerjanya, Cayvion bersandar di pintu yang tertutup. Dia menjilat sisa rasa manis di ujung bibirnya.
"Sial," gumamnya pelan. "Kenapa nasi goreng sisa rasanya lebih enak dari Steak Wagyu?"
Perutnya berbunyi minta tambah. Tapi harga dirinya sebagai CEO melarangnya untuk ke dapur dan minta dimasakkan lagi. Malam ini akan jadi malam yang panjang dengan perut keroncongan dan rasa penasaran.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri