Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Darah yang Bercahaya
Malam setelah Ujian Astra terasa berbeda.
Langit Astra City tidak lagi sekadar merah—ia berpendar samar, seperti menyimpan denyut yang selaras dengan sesuatu… atau seseorang.
Raka berdiri sendirian di kamar khusus yang disediakan Helios Guard. Dinding kaca memperlihatkan panorama kota dari ketinggian. Lampu-lampu jalan membentuk pola seperti gugusan bintang di bumi.
Ia membuka kancing bajunya perlahan.
Simbol di dadanya masih ada.
Lingkaran bercahaya biru dengan garis orbit yang berputar pelan, seolah hidup.
Raka menyentuhnya.
Hangat.
Berdenyut.
“Kenapa rasanya… seperti ini bagian dari diriku sejak lama?” gumamnya.
Tiba-tiba simbol itu menyala lebih terang.
Raka tersentak mundur.
Cahaya biru menyebar ke seluruh tubuhnya melalui pembuluh darah—jelas terlihat dari balik kulitnya seperti jaringan cahaya.
Ia terengah.
Napasnya memburu.
Suara bergema dalam kepalanya.
“Darah Astra telah bangkit.”
“Siapa kau?!” bentaknya pelan.
Tak ada jawaban. Hanya gema samar seperti bisikan dari ruang hampa.
Pintu kamarnya terbuka mendadak.
Kayla masuk dengan wajah cemas.
“Raka? Aku merasakan lonjakan energi dari lantai ini—”
Ia terdiam.
Melihat tubuh Raka bercahaya dari dalam.
“Ya Tuhan…”
Raka mencoba berdiri tegak. “Aku tidak sengaja—itu terjadi sendiri.”
Cahaya itu semakin terang.
Kayla melangkah mendekat, tangannya terulur tapi ragu menyentuh.
“Apakah sakit?”
Raka menggeleng pelan. “Tidak… justru terasa seperti… mengalir lebih lancar.”
Tiba-tiba dinding ruangan bergetar.
Alarm lembut berbunyi.
Suara Arsen terdengar dari interkom.
“Raka, tetap di tempatmu. Jangan panik. Kami memonitor peningkatan sinkronisasi.”
“Ini bukan peningkatan biasa!” seru teknisi di latar belakang. “Struktur selulernya berubah!”
Kayla menatap ke arah kamera di sudut ruangan. “Jangan cuma memonitor! Lakukan sesuatu!”
Raka menutup mata.
Ia tidak melawan energi itu.
Ia membiarkannya mengalir.
Cahaya biru yang tadinya liar kini mulai membentuk pola teratur di sepanjang tubuhnya—seperti jalur sirkuit bercahaya.
Tiba-tiba ia melihat kilasan.
Sebuah ruang putih.
Kosong.
Dan di tengahnya, sosok bercahaya biru berdiri membelakanginya.
“Siapa kau?” tanya Raka.
Sosok itu perlahan menoleh.
Wajahnya… mirip dirinya.
Namun matanya seperti galaksi yang berputar.
“Kau telah menerima Segel,” suara itu dalam dan tenang.
“Tapi Darah Astra baru saja benar-benar terbangun.”
“Apa maksudnya?”
“Segel adalah kunci. Darah adalah pintu.”
Raka menegang. “Pintu menuju apa?”
“Menuju asalmu.”
Tiba-tiba ruang putih itu retak.
Gambar berubah menjadi kilasan masa lalu—ledakan besar di langit, meteor biru jatuh, laboratorium rahasia, seorang pria dan wanita memegang bayi yang bercahaya samar.
Raka terdiam.
“Itu… orang tuaku?”
Sosok bercahaya tidak menjawab.
Ia hanya berkata pelan:
“Waktu hampir tiba.”
Semua pecah menjadi cahaya.
Raka tersentak membuka mata.
Ia kembali di kamarnya.
Cahaya biru perlahan meredup.
Namun kini berbeda.
Bukan lagi liar.
Bukan lagi tak stabil.
Kayla memegang bahunya. “Raka! Kau kembali?”
Raka menatap tangannya.
Urat-urat bercahaya itu menghilang, tapi ia masih bisa merasakan energinya—lebih kuat, lebih dalam.
“Kayla…” suaranya pelan tapi tegas,
“Darahku berubah.”
Di ruang kontrol, Arsen menatap grafik energi.
“Sesuatu terjadi di tingkat biologis,” katanya pelan.
“Ini bukan hanya kekuatan eksternal. Energi itu menyatu dengan sistem sarafnya.”
Adrian, yang berdiri bersandar di dinding, tersenyum tipis.
“Akhirnya fase itu datang juga.”
Arsen meliriknya tajam. “Kau sudah tahu?”
Adrian tidak langsung menjawab.
“Setiap pewaris sejati akan mengalami fase Kebangkitan Darah. Itu momen ketika Astra berhenti menjadi beban… dan menjadi bagian dari identitas.”
“Dan setelah itu?” tanya Arsen.
Adrian menatap layar yang menunjukkan Raka.
“Setelah itu, dia bukan lagi manusia biasa yang memegang kekuatan.”
“Lalu apa dia?”
Adrian tersenyum samar.
“Dia menjadi sesuatu yang baru.”
---
Beberapa menit kemudian, Arsen masuk ke kamar Raka.
“Kondisimu stabil,” katanya tanpa basa-basi.
Raka berdiri. “Apa yang kalian lihat?”
“Darahmu memancarkan energi Astra langsung. Tanpa perlu pemicu emosi atau ancaman.”
Kayla mengerutkan kening. “Itu buruk?”
Arsen terdiam sesaat.
“Itu berarti kau bisa mengakses kekuatanmu kapan saja.”
Raka tersenyum kecil. “Kedengarannya bagus.”
Arsen menatapnya tajam. “Atau sangat berbahaya.”
Tiba-tiba lampu kota di kejauhan berkedip serempak.
Semua orang menoleh ke arah jendela.
Langit memerah lebih terang dari biasanya.
Dan untuk beberapa detik…
Cahaya biru tipis menjalar di antara awan merah, seperti pembuluh darah raksasa di langit.
Kayla berbisik pelan, “Itu… merespons Raka.”
Adrian berjalan masuk dengan santai.
“Bukan,” katanya tenang.
“Langit tidak merespons Raka.”
Ia menatap simbol di dada Raka yang kini bersinar lembut.
“Langit mengenal darahnya.”
Sunyi menyelimuti ruangan.
Raka merasakan sesuatu dalam dirinya—bukan suara, bukan bisikan.
Tapi keyakinan.
Perubahan ini bukan kebetulan.
Bukan kecelakaan.
Ini bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Arsen akhirnya berkata pelan,
“Kita memasuki fase baru.”
Raka menatap langit yang perlahan kembali normal.
“Kalau begitu,” katanya dengan suara lebih dewasa dari sebelumnya,
“aku harus siap.”
Simbol di dadanya berdenyut sekali lagi.
Lebih terang.
Lebih hidup.
Darah Astra kini benar-benar bercahaya.