Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sarapan pagi itu terasa berbeda. Meja makan yang biasanya hanya ditempati satu orang, kini diisi oleh dua orang. Suasananya lebih hidup, namun juga terasa canggung.
Lucio duduk tepat di depan Naya dengan wajah tenang. Ia menyantap sarapannya dengan gerakan rapi dan elegan, mencerminkan kebiasaan seorang pria dari keluarga terpandang.
Berbanding terbalik dengan Naya.
Gadis itu hanya mengaduk-aduk sarapannya, setengah menunduk, tanpa benar-benar berniat memakannya. Pikirannya melayang jauh, kembali pada percakapan mereka semalam, percakapan yang membuatnya sulit memejamkan mata hingga larut.
“Sarapannya nggak enak?” tanya Lucio, keningnya berkerut tipis. Nada suaranya terdengar tidak senang melihat Naya yang hanya bermain dengan makanannya.
“Enak,” jawab Naya singkat. Ia akhirnya menyuapkan satu sendok kuah sup ke mulutnya, meskipun rasanya hampir tidak ia sadari.
Ia menghela nafas pelan, lalu menghembuskannya perlahan. Sekali. Dua kali. Seolah mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Namun kegelisahan itu tidak juga hilang.
Hingga suara dering ponsel memecah keheningan di antara mereka.
Naya meraih ponselnya. Begitu melihat nama 'Papa' terpampang di layar, jemarinya langsung terhenti.
Tatapannya membeku.
Seketika, semua pembicaraan semalam kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya.
Sementara itu, Lucio yang sudah selesai sarapan menyandarkan tubuhnya dan memperhatikan Naya dalam diam. Tatapan tajamnya seolah mencoba membaca apa yang sedang terjadi di dalam pikiran wanita itu.
“Siapa? Kenapa nggak diangkat?” tanya Lucio, menatap Naya dengan kening sedikit berkerut.
“Bukan siapa-siapa,” Naya menggeleng cepat. Ia menekan tombol off, lalu meletakkan kembali ponselnya di meja. Tangannya segera meraih sendok, berpura-pura kembali fokus pada sarapannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun kegelisahan itu masih terlihat jelas dari caranya menggenggam sendok sedikit lebih erat dari biasanya.
Baru saja ia hendak menyuap lagi, ponselnya kembali berdering.
Suara itu terdengar lebih nyaring di tengah keheningan yang canggung.
“Sepertinya penting,” dengus Lucio pelan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jasnya yang agak berantakan. “Take your time. Aku ke kantor dulu.”
Setelah mengatakan itu, Lucio melangkah pergi, melewati Naya tanpa menoleh sedikit pun. Bersikap tidak peduli.
Naya hanya diam, menatap punggung Lucio yang semakin menjauh.
Dan di tangannya, ponsel itu masih terus berdering.
“Halo, Papa…” Naya akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Ia berusaha terdengar tenang, meskipun suaranya tetap sedikit bergetar.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” Suara ayahnya terdengar penuh kekhawatiran. “Papa dengar sesuatu terjadi padamu di rumah nenek. Kenapa kamu tidak menelepon Papa? Dan sekarang kamu ada di mana?”
Rentetan pertanyaan itu datang tanpa jeda, sarat kecemasan. Namun entah kenapa, alih-alih menenangkan, hal itu justru membuat kegelisahan Naya semakin bertambah.
Ia menggenggam ponselnya lebih erat. “Aku baik-baik saja, Pa. Sekarang aku lagi di rumah…”
“Rumah mana?” potong ayahnya cepat.
“Rumah Lucio.”
Sejenak, suasana di seberang telepon menjadi hening. Tidak ada suara, tidak ada tanggapan.
“Baiklah, sayang, papa senang mendengarnya,” akhirnya ayahnya kembali bersuara, meskipun nadanya terdengar sedikit berubah. “Oh iya, nanti malam ulang tahun Rima. Kamu datang, kan?”
Naya terdiam sesaat.
Rima ulang tahun?
Ia hampir melupakan hal itu. Sejak pengkhianatan yang terjadi, Naya berusaha menghapus segala hal tentang adik tirinya itu dari ingatannya. Ardan memilih Rima… tapi kemarin, pria itu justru hampir melecehkannya.
Perasaan campur aduk kembali memenuhi dada Naya.
“Kalau Lucio mengizinkan, aku datang, Pa,” jawabnya pelan.
“Izin Lucio?”
Tiba-tiba terdengar suara lain menyela, suara Irania, ibu tirinya.
“Kamu pergi ke rumah orang tuamu sendiri. Itu tidak perlu izin dari siapa pun.” Suaranya terdengar tajam, seperti biasa.
Naya terdiam. Ia bisa membayangkan situasi di sana, ayahnya dan Irania berada di tempat yang sama, mungkin sedang saling bertukar pandang dengan makna yang sulit ia pahami.
Dan lagi-lagi perasaan aneh itu muncul. Ah, sial, sepertinya ini efek perkataan Lucio semalam sehingga Naya pun mulai mencurigai ayahnya.
“Ya, pa, aku datang.”
Naya akhirnya mengiyakan. Tidak ada salahnya datang, lagi pula, ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ardan setelah dibawa oleh anak buah Lucio.
“Papa jemput?” tanya ayahnya.
“Nggak usah, Pa. Aku diantar sopir saja,” jawab Naya pelan.
“Baiklah, hati-hati di jalan,” ujar ayahnya sebelum akhirnya menutup telepon.
Panggilan pun berakhir.
Naya menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghela nafas panjang. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mengganjal. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, membiarkan pikirannya mengembara.
*
Sementara itu, jauh dari rumah megah tersebut, Lucio melangkah mantap memasuki sebuah gedung kosong yang sudah lama terbengkalai. Suasana di dalamnya dingin dan lembab, hanya diterangi cahaya redup dari beberapa lampu darurat.
Beberapa anak buahnya yang berjaga langsung menundukkan kepala saat ia lewat, tidak ada satupun yang berani menatap terlalu lama.
Di tengah ruangan itu, Ardan sudah terikat kuat pada sebuah kursi. Tangannya diikat ke belakang oleh Mario, sementara wajahnya dipenuhi amarah dan kebencian saat menatap Lucio yang mendekat tanpa tergesa.
“Lepaskan aku, Lucio!!!” teriak Ardan, berontak keras mencoba melepaskan diri dari ikatannya.
Lucio hanya menyunggingkan senyum sinis. Ia berdiri tepat di depan Ardan, lalu dengan sengaja menekan punggung kaki Ardan menggunakan sepatunya, memberi tekanan tanpa ampun.
“Mario, berikan pisau padaku.”
Lucio mengulurkan tangannya. Tanpa ragu, Mario menyerahkan sebuah pisau ke telapak tangan tuannya.
Dengan gerakan santai Lucio menggoreskan pisau itu ke lengan Ardan. Dari dekat nadi, perlahan hingga ke pangkal lengan.
Darah segar langsung mengucur deras.
“ARGHHHHH!!”
Teriakan Ardan menggema memenuhi gedung kosong itu, bercampur dengan suara nafasnya yang mulai kacau.
Lucio tidak berhenti. Ia menekan pisau itu sedikit lebih dalam, hingga hampir menyentuh tulang.
“Saya bisa membunuhmu sekarang,” ucapnya dingin, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.
Ardan menggeleng panik, nafasnya tersengal. “Jangan… jangan bunuh aku! Aku tahu banyak hal tentang mereka!”
Tatapan Lucio berubah sedikit, meskipun tetap dingin.
Ia melemparkan pisau itu kembali ke arah Mario, lalu memberi isyarat singkat pada anak buahnya.
“Bawa dia.”
Beberapa pria langsung maju, menyeret Ardan yang sudah mulai melemah.
Lucio menatapnya sejenak sebelum berbalik.
“Ceritakan semuanya,” katanya tanpa menoleh. “Saya cukup ahli mendeteksi kebohongan. Jadi kalau sampai kamu berbohong…” Ia berhenti sejenak, suaranya merendah namun jauh lebih mengancam. “…bukan hanya nyawamu yang hilang. Keluargamu juga.”
Setelah itu, Lucio mengambil sapu tangan, mengelap darah yang menempel di tangannya dengan tenang, seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Tanpa menunggu lebih lama, ia berjalan keluar gedung.
Mobilnya sudah menunggu di depan.
Lucio masuk dengan santai, lalu memerintahkan sopir untuk melaju.
Tujuannya jelas, kantor.
Kekacauan barusan hanyalah jeda singkat, sebelum ia kembali menjalani hari seperti biasa.
...***...