NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Umpan Darah di Lembah Kabut Beracun

​Papan pengumuman di Aula Misi dipenuhi ratusan plakat kayu yang bergelantungan. Sebagian besar menawarkan sepuluh hingga lima puluh poin kontribusi untuk tugas-tugas membosankan seperti menjaga kebun herbal atau memburu monster tingkat rendah. Li Jian mengabaikan semuanya. Matanya langsung tertuju pada deretan plakat berwarna merah darah di bagian paling atas.

​Tangannya terulur, mencabut sebuah plakat yang berdebu.

​[Misi Tingkat Bahaya Tinggi: Memburu Ular Sisik Besi di Lembah Kabut Beracun. Syarat: Membawa utuh Kantung Racun dan Inti Monster. Hadiah: 600 Poin Kontribusi.]

​Diaken penjaga menatap Li Jian seolah melihat orang gila yang mengantar nyawa. "Lembah Kabut Beracun adalah zona kematian, Saudara Junior. Monster itu setara dengan kultivator Kondensasi Qi Tingkat Enam puncak. Bahkan kelompok yang terdiri dari lima murid Tingkat Lima pun sering kali tidak kembali dari sana. Kau baru saja masuk Sekte Dalam, jangan gegabah."

​"Catat namaku," potong Li Jian dingin, melemparkan medali gioknya ke atas meja.

​Melihat kekerasan kepala pemuda itu, sang diaken hanya menghela napas, mencatat misi tersebut, dan mengembalikan medali Li Jian. "Semoga dewa melindungimu. Jangan lupa membeli pil penawar racun Miasma sebelum berangkat."

​Li Jian berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pil penawar racun? Dengan Seni Bintang Pemakan Langit, racun alam fana hanyalah energi kotor yang akan langsung membeku begitu menyentuh Dantian-nya.

​Satu jam kemudian, Li Jian telah meninggalkan batas pelindung formasi Puncak Awan Berkabut, melesat menembus hutan lebat menuju barat laut.

​"Tiga ekor anjing menyusulmu sejak kau keluar dari gerbang sekte," lapor Yueyin santai. "Dua di Tingkat Lima, dan satu di Tingkat Enam awal. Bocah bernama Zhao Tian itu rupanya tidak berani datang sendiri dan hanya mengirim pion-pionnya."

​"Jika dia datang sendiri, aku harus menggunakan seluruh esensi darahku untuk membunuhnya. Rencanaku menembus Tingkat Lima akan tertunda," batin Li Jian tenang. "Biarkan pion-pion ini menjadi pemanasan."

​Lembah Kabut Beracun menyambut Li Jian dengan hawa lembap yang menyesakkan dan kabut hijau pekat yang menutupi pandangan hingga jarak lima meter. Tumbuhan di sini berwarna ungu kehitaman, memancarkan bau busuk bangkai. Begitu Li Jian melangkah masuk, kabut beracun itu mencoba menyusup ke pori-porinya.

​Li Jian mengalirkan Qi peraknya. Seketika, kabut hijau dalam radius satu meter di sekelilingnya membeku menjadi serpihan es dan berjatuhan ke tanah. Ia memiliki lapisan pelindung absolut.

​Ia terus berjalan masuk hingga mencapai area berbatu yang diapit dua tebing curam. Tempat yang sempurna untuk sebuah penyergapan.

​Li Jian menghentikan langkahnya. Tangannya merogoh ke balik punggung, menggenggam gagang Gerhana yang masih terbalut kain hitam.

​"Kalian sudah menghirup racun miasma selama setengah jam demi mengikutiku. Jika tidak keluar sekarang, pil penawar kalian akan habis khasiatnya," suara Li Jian membelah kesunyian lembah yang mencekam.

​Terdengar suara tepuk tangan pelan dari balik kabut. Tiga sosok berjubah hitam melangkah keluar, mengepung Li Jian. Pemimpin mereka, seorang pria bermata sipit dengan bekas luka cakaran di pipinya, memutar sepasang belati melengkung di tangannya. Aura Tingkat Enam awal menguar darinya, menekan kabut di sekitarnya.

​"Tajam. Pantas saja Kakak Zhao Tian menyuruhku turun tangan langsung," kekeh pria bermata sipit itu, namanya Ma Chen. "Sayang sekali kau memilih tempat eksekusimu di lembah ini, Li Jian. Bahkan jika mayatmu membusuk di sini, sekte hanya akan mengira kau dimakan oleh Ular Sisik Besi."

​Dua pengikutnya, yang memancarkan aura Tingkat Lima, mencabut pedang panjang mereka dan bersiap menerjang.

​"Kau terlalu banyak bicara," desis Li Jian.

​Tanpa peringatan, Li Jian tidak menyerang Ma Chen, melainkan melesat ke arah salah satu pengikut di sebelah kirinya. Kecepatannya meledak, meninggalkan jejak es di tanah yang dipijaknya.

​Pengikut itu terkejut, buru-buru mengangkat pedangnya untuk menangkis. Namun, Li Jian mengayunkan Gerhana beserta kain hitam yang masih melilitnya.

​BLAAAR!

​Bentrokan antara pedang tajam dan pedang tumpul seberat batu itu berakhir dalam sekejap. Pedang sang pengikut hancur berkeping-keping. Gerhana terus melaju, menghantam rusuk pria itu dengan kekuatan setara ribuan kati.

​Tubuh pria itu terlipat dengan sudut yang tidak wajar, memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalam, lalu terpental menabrak tebing batu hingga tewas seketika. Hawa dingin dari pukulan itu langsung membekukan darahnya di dinding tebing.

​"Bunuh dia!!" raung Ma Chen, matanya merah karena marah dan terkejut.

​Pengikut kedua menebas dari belakang, mengincar leher Li Jian. Namun Li Jian bahkan tidak menoleh. Ia menunduk tajam, menghindari tebasan itu, lalu menendang tanah. Tubuhnya berputar ke belakang, dan Gerhana menghantam lutut sang pengikut.

​KRAK!

​"Aaaargh!" Pengikut kedua menjerit saat kedua kakinya hancur dan membeku dalam sedetik. Li Jian tidak memberinya belas kasihan. Satu putaran pedang tumpul ke arah kepala mengakhiri jeritan itu selamanya.

​Hanya dalam tiga tarikan napas, dua kultivator Tingkat Lima tewas seperti lalat.

​Kini tersisa Ma Chen. Wajah arogan pria bermata sipit itu telah memucat. Ia akhirnya menyadari bahwa monster yang sebenarnya di lembah ini bukanlah Ular Sisik Besi, melainkan pemuda berjubah putih di hadapannya.

​"Ilmu iblis apa yang kau gunakan..." suara Ma Chen bergetar. Ia menyatukan kedua belatinya, mengalirkan seluruh Qi Tingkat Enam-nya hingga belati itu memancarkan cahaya hijau beracun. "Tebasan Silang Bayangan Berbisa!"

​Dua bilah energi hijau raksasa melesat menyilang ke arah Li Jian, membelah tanah berbatu dan menyapu kabut di sekitarnya.

​Di dalam pikiran Li Jian, Yueyin mendengus remeh. "Energi yang tidak murni. Hancurkan."

​Li Jian menarik napas panjang. Ia merobek kain hitam yang menutupi Gerhana, memperlihatkan bilah besi legam yang haus darah. Qi Bintang Pemakan Langit meledak dari Dantian-nya, menyelimuti pedang raksasa itu dengan aura perak kebiruan yang sangat menyilaukan.

​Li Jian melompat menyongsong serangan silang itu dan mengayunkan Gerhana secara vertikal dari atas ke bawah.

​TRANGGG!

​Pedang tumpul yang sangat berat itu menghantam energi hijau beracun milik Ma Chen dan langsung membekukannya di udara. Energi yang membeku itu kemudian hancur menjadi debu es bernuansa hijau yang berguguran ke tanah.

​"Tidak mungkin!" pekik Ma Chen.

​Sebelum Ma Chen bisa melarikan diri, ujung tumpul Gerhana telah menghantam dadanya. Tidak ada luka sayat, hanya suara tulang dada yang remuk total. Ma Chen terlempar ke belakang, darah menyembur dari mulutnya dan langsung membeku di udara. Tubuhnya terkapar di tanah, napasnya putus-putus.

​Li Jian berjalan perlahan menghampiri Ma Chen yang sekarat. Ia menatap ke bawah dengan ekspresi kosong.

​"Tolong... ampuni..." rintih Ma Chen, darah terus menggelembung dari bibirnya.

​"Kau membawa dua temanmu untuk mati. Sayang jika kau tidak menemani mereka," bisik Li Jian, mengangkat Gerhana.

​Namun, sebelum Li Jian menyelesaikan ayunannya, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Bau amis yang ratusan kali lebih pekat dari miasma tiba-tiba menyapu area tersebut.

​Dari balik kabut tebal di ujung tebing, sebuah kepala segitiga seukuran kereta kuda muncul perlahan. Sisiknya berwarna hitam keperakan, bergesekan dengan batu tebing memicu percikan api. Sepasang mata kuning bergaris vertikal menatap lurus ke arah genangan darah Ma Chen dan kedua pengikutnya.

​Ular Sisik Besi. Bau darah pertarungan barusan telah menarik sang penguasa lembah keluar dari sarangnya.

​Li Jian menahan ayunan pedangnya. Ia melirik Ma Chen yang kini membelalak ngeri melihat monster raksasa di belakang Li Jian. Sebuah ide kejam namun efisien melintas di kepala Li Jian.

​"Sepertinya kau punya kegunaan lain," gumam Li Jian. Ia menendang tubuh Ma Chen yang masih hidup namun lumpuh itu tepat ke arah rahang sang monster raksasa.

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!