NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Menonaktifkan Notifikasi: Perjuangan Menu

Bab 23: Menonaktifkan Notifikasi: Perjuangan Menu

Angka digital di sudut layar kini menunjukkan 23:50:45.

Aku telah membuang waktu yang sangat berharga untuk bertarung dengan stiker Paman Harris, video call massal, hingga spekulasi tak berujung mengenai story Instagram Lala. Secara analitis, efisiensi komunikasiku malam ini berada di titik nadir. Jika aku tidak segera melakukan isolasi digital, aku akan berakhir sebagai penonton pasif dari kehancuran rencanaku sendiri.

Aku harus mengambil keputusan radikal. Sebuah tindakan yang dalam terminologi teknologi disebut sebagai system lockdown. Aku akan menyalakan mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb).

Secara mikroskopis, aku mulai membedah navigasi antarmuka ponselku. Jari telunjuk kiriku bergeser ke arah paling atas layar, melewati barisan piksel yang memudar di sela-sela notifikasi yang masih menggantung. Untuk mengakses Control Center, aku harus melakukan sapuan (swipe) dari sudut kanan atas ke bawah.

Kedengarannya sederhana, namun di tengah kerumunan yang saling sikut dan jempol yang lembap oleh kecemasan, gerakan sepanjang dua sentimeter ini terasa seperti mendaki tebing vertikal.

Sret.

Sapuan pertamaku gagal. Sensor kapasitif ponselku justru menangkap gerakan itu sebagai perintah untuk menggulir chat WhatsApp ke atas.

Layar bergerak liar, memperlihatkan obrolan lama kami tentang tugas kuliah bulan lalu.

"Tidak, bukan ini," desisku.

Aku mencoba menstabilkan pergelangan tanganku. Secara fisiologis, otot flexor carpi radialis-ku mengalami kontraksi isometrik yang berlebihan. Aku mencoba sekali lagi. Kali ini, aku menekan sedikit lebih dalam pada tepian bingkai kaca, memastikan sensor mendeteksi niatku untuk menurunkan tirai menu.

Zlap.

Akhirnya, tirai Control Center turun. Sebuah panel semitransparan menutupi pandanganku terhadap chat Lala. Di sana, berjejer ikon-ikon bulat yang melambangkan kendali atasku terhadap dunia luar: WiFi, Bluetooth, Data Seluler, dan... target utamaku: Ikon Bulan Sabit.

Aku menatap ikon itu secara mikroskopis. Ikon kecil berwarna putih pucat yang menjanjikan keheningan absolut. Di balik ikon itu, algoritma ponsel akan menyaring semua interupsi, membungkam Tante Lastri, dan mengandangkan notifikasi Instagram Lala (Bab 21) ke dalam folder gelap yang tak terlihat.

Namun, ada sebuah ketakutan logis yang muncul:

Risiko Freeze.

Ponselku saat ini sedang mengalami tekanan termal (Bab 35). Membuka Control Center di atas aplikasi yang sedang aktif (WhatsApp) sambil memproses data latar belakang dari grup keluarga yang meledak-ledak adalah beban komputasi yang berat. Aku melihat ikon bulan sabit itu sedikit bergetar—atau mungkin itu hanya mataku yang sudah terlalu lelah menatap pendaran LED. Jika aku menekan ikon ini dan sistem operasinya mengalami crash, ponselku akan mati total (hang). Dan dalam dunia digital, ponsel yang hang adalah kematian takdir.

Aku ragu selama 1,2 detik.

"Arka? Kamu kok bengong?" Lala menyenggol lenganku lagi.

Senggolan itu memberikan dorongan kinetik yang tak terduga. Jariku yang tadinya mengambang ragu di atas layar, kini mendarat tepat di pusat ikon bulan sabit tersebut.

Tap.

Secara visual, warna putih pada bulan sabit itu berubah menjadi ungu cerah. Sebuah status muncul secara singkat di bagian atas: Jangan Ganggu: Aktif.

Seketika, bilah notifikasi di atasku menjadi bersih.

Bayangan story Lala yang menghantuiku (Bab 22) lenyap. Barisan pesan Tante Lastri yang menghakimiku (Bab 19) seolah ditarik paksa ke dalam lubang hitam. Dunia digitalku tiba-tiba menjadi sunyi. Hanya ada aku, panel menu yang masih terbuka, dan keheningan yang mahal harganya.

Namun, perjuangan belum usai. Aku harus mengembalikan tirai menu ini ke atas. Aku harus kembali ke medan tempur WhatsApp yang sesungguhnya.

Aku melakukan sapuan ke atas dengan gerakan yang lebih percaya diri. Tirai menu terangkat, mengungkap kembali kolom input chat Lala yang masih berisi huruf 'L' tunggal.

Sekarang, lingkunganku terasa berbeda. Secara psikologis, mengaktifkan mode Do Not Disturb memberikan semacam perisai mental. Aku merasa seperti telah mengunci pintu kamar di tengah pesta yang bising. Namun, keheningan ini bersifat semu. Aku tahu, di balik layar ini, ratusan pesan masih mencoba mendobrak masuk, namun mereka ditahan oleh barisan kode biner yang kini menjadi sekutuku.

Aku kembali memposisikan jempolku di atas papan ketik virtual. Aku melihat huruf 'A'.

Analisis rigor-ku (2026-02-16) memberikan catatan: Keheningan ini tidak akan bertahan lama jika aku tidak segera bertindak. Menit 23:51 sudah mengintip dari balik detik berikutnya.

Aku menatap huruf 'A'. Ukurannya hanya sekitar 5x5 milimeter di layar ponsel. Di bawah cahaya kembang api yang kini berwarna biru safir di langit Jakarta, huruf itu tampak seperti kunci menuju babak baru hidupku.

"Oke, Arka. Sekarang," bisikku pada diri sendiri.

Aku menurunkan jempolku. Aku bisa merasakan tekstur kaca yang halus, hambatan udara yang minim, dan kepastian yang mulai tumbuh di ujung sarafku. Aku tidak akan membiarkan menu, notifikasi, atau keluarga menghentikan karakter kedua ini.

Klik.

Huruf 'A' muncul di samping 'L'.

"LA"

Dua huruf pertama dari nama wanita yang berdiri di sampingku kini resmi menjadi draf. Secara statistik, progresku meningkat 100% dibandingkan sepuluh menit yang lalu. Namun, saat kepuasan kecil itu muncul, aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan.

Hening yang kuciptakan dengan mode bulan sabit tadi justru melahirkan jenis distraksi baru: Suara pikiranku sendiri. Tanpa kebisingan notifikasi, aku kini dipaksa mendengar detak jantungku yang bergema di gendang telinga, dan sebuah fenomena yang disebut FOMO mulai merayap naik (Bab 24).

Aku baru saja mematikan dunia, tapi apakah aku siap menghadapi kesunyian ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!