Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Api yang Padam di Tangan Sang Iblis
Napas Valerie yang teratur di atas dada bidang Jerome adalah satu-satunya hal yang membuat jiwa pria itu tetap berpijak di bumi. Mereka masih berada di dalam ruang kerja, tertidur di sofa besar dengan tubuh yang hanya tertutup jubah mandi sutra, sisa-sisa kegilaan semalam masih menyelimuti atmosfer ruangan. Galeri foto di dinding seolah menjadi saksi bisu bagaimana Jerome akhirnya berhasil memiliki pusat dunianya sepenuhnya.
Namun, kedamaian itu pecah seketika saat getaran halus terasa di pergelangan tangan Jerome. Jam tangan pintarnya berkedip merah—sensor laser di perimeter barat mansion telah terputus.
Jerome membuka mata seketika. Sisi predator dalam dirinya bangkit dengan insting yang tajam. Ia tidak merasakan ketakutan; yang ia rasakan hanyalah amarah murni yang mendidih. Siapa pun yang berani mengganggu tidur wanitanya, mereka baru saja mengetuk pintu neraka dengan tangan sendiri.
"Valerie... bangun," bisik Jerome rendah. Tangannya dengan sigap meraih pistol Glock-17 dari kompartemen rahasia di bawah laci meja kerjanya.
"Jerome? Ada apa?" Valerie mengerjap, matanya yang semula sayu berubah waspada saat melihat moncong senjata di tangan suaminya.
"Tetap di belakang meja ini. Jangan keluar sampai aku memanggilmu," perintah Jerome dengan suara sedingin es yang tidak menerima bantahan.
Tiba-tiba, sebuah aroma yang sangat mereka kenal menyeruak melalui ventilasi udara. Bau bensin yang menyengat. Tak lama kemudian, suara tawa melengking pecah dari balik pintu jati yang terkunci rapat.
"PAMAAAN! KELUARLAH! BIARKAN SEJARAH TERULANG KEMBALI!"
Itu suara Aiden. Bajingan itu benar-benar datang untuk menyerahkan nyawanya.
Jantung Valerie serasa merosot hingga ke perut. Bau bensin itu, suara tawa gila itu—semuanya memicu trauma dari kehidupan lalunya secara brutal. Ingatan tentang kulit yang melepuh dan api yang melahap paru-parunya kembali menyerang kesadaran Valerie, membuatnya gemetar hebat.
"Aiden..." bisik Valerie dengan bibir memucat.
BRAKK!
Aiden tidak mendobrak pintu jati itu, melainkan menyiramkan bensin melalui celah bawah dan menyulutnya. Api mulai menjilat daun pintu, menciptakan pemandangan mengerikan yang persis dengan mimpi buruk Valerie.
"Jerome! Dia ingin membakar kita hidup-hidup lagi!" teriak Valerie histeris.
Jerome justru berdiri tegak, ia tidak panik sedikit pun. Ia menoleh ke arah istrinya, matanya berkilat dengan kegelapan yang pekat. "Tidak kali ini, Val. Kehidupan ini adalah milikku. Takdir ini berada di bawah kendaliku."
Jerome menekan sebuah tombol di bawah mejanya. Seketika, sistem sprinkler khusus berbahan gas pemadam aktif, memadamkan api di pintu dalam sekejap tanpa merusak dokumen di ruangan itu. Jerome melangkah maju, membuka pintu yang menghitam itu dengan satu tendangan keras yang memekakkan telinga.
Di lorong yang remang, Aiden berdiri dengan jeriken bensin di tangan kiri dan korek api yang menyala di tangan kanan. Wajahnya hancur oleh dendam, matanya merah menunjukkan hilangnya kewarasan.
"Kau menghancurkan segalanya, Paman! Kau mengambil hartaku, namaku, dan sekarang kau meniduri wanitaku di depan foto-fotonya?!" Aiden berteriak, menunjuk ke dalam ruang kerja yang penuh foto. "Kau sakit, Jerome! Kau monster yang lebih menjijikkan dariku!"
Jerome melangkah keluar, tubuh besarnya menutupi pandangan Aiden agar keponakannya itu tidak bisa melihat sosok Valerie sedikit pun. Ia tidak akan membiarkan mata kotor Aiden menatap kulit istrinya yang hanya terbalut jubah tipis.
"Kau bicara soal sakit, Aiden?" Jerome terkekeh rendah, suara tawanya terdengar mengerikan di lorong yang sunyi. "Sakit adalah saat kau membiarkan wanita setulus Valerie mati demi wanita ular sepertimu. Sakit adalah saat kau berdiri di sini, berpikir kau punya kesempatan melawanku."
"AKU AKAN MEMBAKAR KALIAN BERDUA!" Aiden meraung sembari melemparkan korek api itu.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, Jerome melepaskan satu tembakan. DOR!
Peluru itu mengenai pergelangan tangan Aiden tepat sebelum korek tersebut menyentuh lantai. Aiden berteriak kesakitan, jeriken bensinnya terjatuh tumpah. Jerome tidak berhenti. Ia menerjang maju, menghantam wajah Aiden dengan gagang pistol hingga pria itu tersungkur di atas cairan bensin yang belum menyala.
Jerome menginjak dada Aiden dengan sepatu pantofelnya, menekannya dengan berat hingga Aiden terbatuk darah.
"Paman... tolong... aku keponakanmu..." rintih Aiden, nyalinya menciut seketika saat melihat lubang hitam moncong pistol Jerome berada tepat di depan matanya.
"Kau bukan keponakanku sejak kau menyentuhnya di kehidupan itu," desis Jerome.
Valerie keluar dari ruangan, berdiri di belakang Jerome sembari menarik jubah sutranya rapat-rapat. Ia menatap Aiden dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun sisa belas kasihan.
"Aiden," suara Valerie terdengar tenang namun mematikan. "Di kehidupan lalu, aku memohon padamu untuk tidak membakarku. Kau ingat apa yang kau katakan?"
Aiden gemetar hebat dalam posisinya yang terhimpit. "Val... apa maksudmu? Kehidupan apa?"
"Kau bilang, namaku akan terkubur bersama abunya," Valerie melangkah maju, berdiri di samping Jerome. "Sekarang lihat dirimu. Kau yang terkubur dalam kehinaanmu sendiri."
Raka dan tim keamanan baru saja tiba, mengepung lorong dengan senjata lengkap. Jerome melepaskan injakannya dari dada Aiden.
"Raka, bawa dia. Jangan biarkan dia mati dengan cepat," ucap Jerome tanpa emosi. "Serahkan dia pada polisi dengan bukti percobaan pembunuhan. Tapi sebelum itu... pastikan dia kehilangan fungsi tangannya agar dia tidak pernah bisa memegang korek api lagi seumur hidupnya."
"Baik, Tuan," Raka menyeret Aiden yang meronta-ronta dan menangis seperti pecundang.
Lorong kembali sunyi. Jerome berbalik menghadap Valerie. Ia bisa merasakan getaran ketakutan yang masih tersisa di nadi istrinya melalui ikatan batin mereka. Dadanya terasa sesak karena resonansi trauma Valerie. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat di tengah bau bensin yang menyengat.
"Sudah berakhir, Val. Api itu tidak akan pernah menyentuhmu lagi," bisik Jerome sembari menciumi rambut istrinya. "Aku sudah membunuh masa lalu itu untukmu."
Valerie menyandarkan kepalanya di dada Jerome yang bidang. "Jerome... kau benar-benar gila. Kau menembaknya tanpa berkedip."
Jerome mengangkat dagu Valerie, menatap matanya dengan obsesi yang kini terpampang nyata tanpa sisa. "Aku akan membakar seluruh dunia jika itu diperlukan untuk menjagamu tetap aman di pelukanku, Valerie. Kau adalah satu-satunya obsesiku yang layak diperjuangkan."
Malam itu, di antara bau bensin dan sisa asap, Jerome menyadari bahwa ia bukan hanya pelindung Valerie. Ia adalah takdir wanita itu yang baru. Dan siapa pun yang mencoba menulis ulang sejarah mereka, akan berakhir di bawah tanah sebelum sempat mengedipkan mata.
...****************...