NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penuh Bayangan

Rasa sakit dan kelelahan akhirnya menaklukkan ketakutan. Tio tertidur, meskipun tidurnya bukanlah tidur yang nyenyak. Ia terombang-ambing antara sadar dan tidak, antara mimpi dan realitas. Tubuhnya menggigil kedinginan meski sudah terbungkus sleeping bag basah. Rasa sakit di kaki kanannya berdenyut ritmis, seperti pukulan palu kecil dari dalam.

Di ambang sadarnya, ia merasakan sesuatu. Sensasi merinding yang menjalar dari tengkuk ke seluruh punggung, seperti ada yang mengusap kulitnya dengan bulu-bulu halus. Ia ingin membuka mata, ingin melihat apa yang menyebabkan sensasi itu, tapi kelopak matanya terasa berat. Seperti ada yang menekannya, menyuruhnya tetap terpejam.

Angin malam bertiup, masuk ke dalam ceruk batu. Tapi ini bukan angin biasa. Suaranya seperti desauan panjang. fiuuuuu... fiuuuuuu... Berulang, ritmis, seperti seseorang yang sedang menghela napas pasrah di sampingnya.

Bulu kuduk Tio berdiri. Ia masih tidak membuka mata.

Desauan itu semakin jelas. Bukan satu sumber, tapi banyak. Seperti puluhan orang duduk di sekelilingnya, bersama-sama menghela napas panjang. fiuuuuuh... huuuuuh... Bersamaan, serempak, menciptakan paduan suara yang mencekam.

Tio ingin berteriak, ingin membuka mata, tapi tubuhnya tidak mau menurut. Ia seperti lumpuh, sadar tapi tak bisa bergerak. Dalam dunia spiritual Jawa, ini yang disebut tindihan—ditindih oleh makhluk halus. Tapi Tio tidak percaya hal-hal seperti itu. Atau setidaknya, dulu ia tidak percaya.

Sekarang, ia tidak tahu harus percaya apa.

---

Desauan itu berhenti. Berganti dengan keheningan yang lebih mencekam. Tio masih tidak berani membuka mata, tapi indranya yang lain bekerja lebih tajam. Ia merasakan kehadiran. Banyak kehadiran. Di luar ceruk, di sekelilingnya, di mana-mana.

Mereka datang.

Tio tidak tahu bagaimana ia tahu, tapi ia tahu. Ada banyak sesuatu di luar sana, dan mereka sedang memperhatikannya. Tatapan-tatapan tak kasat mata menusuk dari kegelapan, menjelajahi setiap inci tubuhnya, menilai, mengamati.

Ia merasakan mereka bergerak. Mendekat. Perlahan, satu per satu, langkah-langkah tak bersuara merayap mendekati mulut ceruk. Tio membayangkan mereka—bayangan-bayangan hitam dengan berbagai bentuk, merangkak di bebatuan, mengelilingi tempat persembunyiannya yang rapuh.

Jarak mereka semakin dekat. Kini mereka sudah berada di mulut ceruk. Tio bisa merasakan dingin yang berbeda—bukan dingin angin malam, tapi dingin yang berasal dari kehadiran mereka. Dingin yang menusuk ke tulang.

Salah satu dari mereka masuk ke dalam ceruk.

Tio merasakannya. Ia merasakan kehadiran itu di dalam ruang yang sama, hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya. Napasnya—jika mereka bernapas—terasa seperti embusan udara dingin di wajahnya.

Lalu, sleeping bag-nya terasa tertimpa sesuatu. Beban. Tekanan dari luar, seperti ada yang duduk di atasnya. Tio ingin menjerit, ingin melompat, tapi tubuhnya masih beku. Ia hanya bisa terdiam, merasakan beban itu semakin nyata.

Satu. Dua. Tiga. Berapa banyak yang duduk di atasnya? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan, sleeping bag-nya seperti dipenuhi beban dari berbagai sisi. Tubuhnya terhimpit, sulit bernapas.

Dan mereka hanya duduk di sana. Diam. Memperhatikan. Menanti.

Tio tidak tahu berapa lama ia bertahan dalam keadaan itu. Mungkin menit, mungkin jam. Waktu terasa berhenti. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah berdoa—sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan—memohon agar malam ini segera berakhir, agar pagi segera tiba, agar makhluk-makhluk ini pergi.

Entah doanya didengar atau mereka bosan menunggu, perlahan beban itu mulai berkurang. Satu per satu, mereka pergi. Tio merasakan kepergian mereka, seperti sensasi ruang yang tiba-tiba lapang. Yang terakhir pergi adalah yang duduk tepat di dadanya. Sebelum pergi, Tio merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Lembut. Seperti belaian.

Lalu semua kembali sunyi.

---

Pagi tiba. Tio terbangun dengan napas memburu. Tubuhnya basah—bukan karena air, tapi karena keringat dingin yang membasahi seluruh badan. Ia duduk setengah, memandangi sekeliling ceruk dengan mata liar.

Kosong. Tidak ada siapa pun. Hanya batu, pasir, dan sleeping bag basahnya yang kusut.

Mimpi. Itu hanya mimpi.

Tapi sleeping bag-nya... ia merasakannya. Ada lipatan-lipatan aneh, seperti bekas tertekan benda berat. Dan pasir di lantai ceruk, ada bekas jejak? Tidak, tidak mungkin. Jejak apa pun yang tertinggal, ia sendiri yang membuatnya saat masuk.

Tio menggeleng, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruk itu. Yang penting sekarang ia masih hidup. Masih bisa bangun. Masih bisa melanjutkan perjuangan.

---

Rasa lapar menyambarnya begitu ia sadar sepenuhnya. Lapar yang luar biasa, yang membuat perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Sudah hampir 24 jam sejak terakhir ia makan—roti lapis di puncak Slamet, sebelum hujan turun dan semuanya kacau.

Tio meraih ranselnya, mengeluarkan dua batang energi bar yang tersisa. Ia memandangi bungkusan itu lama, menghitung-hitung. Dua batang, total mungkin 500 kalori. Dengan kondisi tubuhnya yang cedera dan terus bergerak, ia butuh setidaknya 2.000 kalori per hari. Artinya, persediaan ini hanya cukup untuk beberapa jam, bukan hari.

Tapi ia harus makan. Tubuhnya butuh energi.

Ia membuka satu batang energi bar. Aroma cokelat dan kacang langsung tercium, membuat air liurnya mengalir deras. Tio menggigit kecil, sangat kecil. Ia mengunyah perlahan, memutar-mutar makanan di mulutnya, merasakan setiap butir, setiap serat, sebelum akhirnya menelan.

Rasa manis dan gurih itu terasa seperti surga. Tapi ia tidak boleh serakah. Satu batang energi bar ini harus bisa memberinya energi untuk setengah hari ke depan.

Setelah lima gigitan kecil, batang pertama habis. Tio menyesal—ia ingin lebih, ingin melahap yang kedua juga. Tapi ia menahan diri. Yang kedua disimpan untuk nanti. Mungkin sore, atau besok pagi.

---

Sekarang, masalah air. Botolnya sudah hampir kosong. Mungkin tersisa 200 mililiter—cukup untuk beberapa teguk saja. Ia harus segera menemukan sumber air, atau ia akan dehidrasi dalam waktu satu atau dua hari.

Tio minum seteguk. Hanya seteguk. Lalu menutup rapat botolnya dan menyimpannya kembali.

Waktunya bergerak.

---

Dengan tongkat bambu dan tekad yang mulai goyah, Tio melanjutkan perjalanan turun. Metodenya masih sama: duduk, meluncur, merangkak, sesekali melompat dengan satu kaki. Lambat, menyakitkan, tapi setidaknya ia bergerak.

Sekitar satu jam perjalanan, ia memasuki area yang lebih rimbun. Pepohonan mulai muncul lebih banyak, semak-semak lebih rapat. Ini pertanda baik—semakin ke bawah, semakin banyak vegetasi, semakin besar kemungkinan menemukan air.

Di sela-sela perjalanan, mata Tio terus mengamati. Ia mencari apa saja yang bisa dimakan. Buah-buahan liar, umbi-umbian, dedaunan yang aman dikonsumsi. Pengetahuannya tentang tanaman hutan terbatas—ia pernah membaca beberapa buku survival, tapi itu berbeda dengan praktik langsung di lapangan.

Ia melihat semak dengan buah kecil berwarna merah. Mirip dengan buah arbei liar. Tio berhenti, memetik satu, mengamatinya. Apakah ini aman? Ia tidak tahu. Aturan dasar survival: jika tidak yakin, jangan dimakan. Tapi perutnya yang lapar berteriak sebaliknya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba. Satu buah, gigit kecil, lalu dikunyah. Rasanya asam, sedikit manis. Ia menelan, lalu menunggu. Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada reaksi aneh. Mungkin aman.

Tio memetik beberapa buah lagi, memakannya perlahan. Tidak banyak—hanya segenggam. Cukup untuk sedikit meredakan rasa lapar, setidaknya untuk sementara.

---

Perjalanan dilanjutkan. Semakin lama, medan semakin bervariasi. Kadang ia melewati padang ilalang, kadang masuk ke hutan kecil yang rimbun. Di satu titik, ia harus menyeberangi sungai kecil—berita baik, karena air. Tio berhenti lama di sana. Ia minum sampai puas—untuk pertama kalinya dalam dua hari ia bisa minum tanpa harus menghemat. Ia juga mengisi ulang botolnya, memastikan persediaan air aman untuk beberapa hari ke depan.

Sungai ini juga memberi harapan. Air mengalir ke bawah. Jika ia mengikuti aliran sungai, pasti akan sampai ke lembah. Dan di lembah, mungkin ada desa.

Tio memutuskan untuk mengikuti sungai. Ini strategi yang masuk akal.

---

Siang semakin terik. Matahari muncul cukup terang, menerobos celah-celah dedaunan. Tio terus bergerak, meski semakin lambat. Rasa sakit di kakinya tidak berkurang—bahkan mungkin bertambah karena terus bergerak. Tapi ia tidak punya pilihan.

Di sela-sela perjalanan, ia kembali merasakan sensasi itu. Diawasi.

Tio menoleh ke kiri, ke kanan, ke belakang. Tidak ada siapa pun. Hanya pepohonan, semak, dan suara burung. Tapi perasaan itu tidak pernah hilang. Ia seperti selalu merasa ada mata yang mengikutinya dari balik dedaunan.

Kadang, dari sudut mata, ia melihat bayangan bergerak cepat—menghilang sebelum sempat ia fokuskan pandangan. Kadang, ia mendengar suara ranting patah di kejauhan, tapi ketika ia menoleh, tidak ada apa-apa.

Mereka masih di sini, pikirnya. Mereka masih mengawasi.

Tio tidak tahu siapa "mereka". Makhluk malam tadi? Penunggu gunung? Atau hanya imajinasinya yang mulai terganggu karena stres dan kelaparan? Yang pasti, perasaan itu nyata. Dan semakin hari, semakin intens.

---

Menjelang sore, Tio tiba di area yang cukup terbuka—padang ilalang luas di tepi hutan. Dari sini, ia bisa melihat lebih jauh ke bawah. Lembah masih jauh, tapi tidak seperti kemarin. Mungkin besok atau lusa ia akan sampai.

Ia duduk di atas batu besar, beristirahat. Kakinya terasa panas, bengkaknya mungkin bertambah karena aktivitas hari ini. Tio membuka balutan kain bekas kaosnya, memeriksa kondisi pergelangan kaki.

Bengkaknya masih sama—parah. Warna kemerahan kebiruan masih dominan. Tapi tidak ada tanda-tanda infeksi, setidaknya belum. Ia membalutnya kembali dengan kain yang sama, mengencangkan sedikit.

Saat ia duduk di sana, memandangi lembah di bawah, dari sudut mata kirinya ia melihat sesuatu. Di pinggir hutan, sekitar 100 meter dari posisinya, ada sesosok bayangan berdiri. Hitam. Diam. Menghadap ke arahnya.

Tio menoleh cepat. Bayangan itu masih ada. Ia mengerjap, berharap itu hanya ilusi. Tapi bayangan itu tidak pergi.

Sosok itu... seperti manusia. Tapi tidak bergerak sama sekali. Seperti patung. Atau seperti... penjaga.

Perlahan, Tio berdiri—melupakan sejenak rasa sakit di kakinya. Ia menatap bayangan itu, dan bayangan itu seolah menatap balik. Jantungnya berdebar kencang.

"Hei!" teriaknya. "Siapa lo?"

Tak ada jawaban. Bayangan itu tetap diam.

Tio mengambil tongkatnya, mulai berjalan mendekat—satu langkah, dua langkah. Begitu ia bergerak, bayangan itu bergerak juga. Mundur. Menjaga jarak.

Tio berhenti. Bayangan itu berhenti. Tio maju lagi. Bayangan itu mundur lagi. Seperti cermin, tapi terbalik.

Dan kemudian, dengan cepat, bayangan itu lenyap. Menghilang ke dalam hutan, ditelan pepohonan.

Tio berdiri terpaku. Napasnya memburu. Untuk beberapa saat ia tidak bisa bergerak, hanya memandangi tempat di mana bayangan itu berdiri.

Apa itu tadi? Apa itu nyata?

Ia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia yakini sekarang: di gunung ini, ia tidak sendirian.

Dan entah itu teman atau ancaman, ia tidak tahu.

---

Malam ketiga Tio menemukan tempat berteduh di bawah pohon besar dekat sungai. Tidak ideal, tapi cukup. Ia duduk bersandar di batang pohon, memandangi gelapnya hutan yang mulai turun.

Di kejauhan, suara gamelan malam kembali terdengar. Samar, tapi jelas. Dan dari balik pepohonan, Tio tahu, bayangan-bayangan itu kembali berkumpul.

Menunggu.

Menanti.

Mengawasi.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!