Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Bu Alana! Pak Pradipta! Ternyata Bapak sudah sampai?"
Suara lantang Pak Wayan yang memecah kesunyian tebing itu terasa seperti petir di siang bolong. Alana tersentak hebat, seolah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar. Dengan gerakan refleks yang hampir kasar, ia mendorong tubuh Pradipta dan menciptakan jarak beberapa meter.
Wajah Alana yang tadi sembab kini berubah merah padam karena malu. Ia menunduk dalam-dalam, berpura-pura merapikan kerah bajunya yang sebenarnya tidak berantakan, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih kencang daripada saat dipeluk tadi.
Pak Wayan muncul dari balik semak dengan wajah penuh peluh, memegang beberapa lembar cetak biru proyek. Langkahnya terhenti saat melihat posisi kedua orang di depannya yang tampak... aneh.
"Eh, saya... saya mengganggu ya?" tanya Pak Wayan dengan nada yang tiba-tiba ragu. Matanya beralih dari Alana yang membuang muka, ke arah Pradipta yang berdiri tegak dengan gurat kekecewaan yang sangat jelas di wajahnya karena momennya terganggu.
Pradipta berdehem, berusaha menguasai keadaan dengan wibawa kepemimpinannya. Ia melirik kemeja putihnya yang sedikit basah dan kusut di bagian dada—jejak air mata Alana—lalu menatap Pak Wayan dengan dingin.
"Tidak, Pak Wayan. Ada apa?" tanya Pradipta singkat, suaranya kembali ke nada bariton yang otoriter, khas seorang CEO.
"Itu, Pak... soal pondasi di sisi barat. Ada kendala teknis sedikit dan saya pikir Bu Alana masih di kantin, ternyata ada Pak Pradipta juga di sini," jawab Pak Wayan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa suasana di antara kedua atasannya itu sangat kaku dan berat. "Maaf, Pak, saya tidak tahu kalau Bapak sedang ada urusan... pribadi dengan Bu Alana."
Kata 'urusan pribadi' membuat Alana ingin rasanya menelan bumi saat itu juga. Ia segera menyela dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha mengembalikan citra profesionalnya.
"Tidak ada urusan pribadi, Pak Wayan. Pak Pradipta hanya sedang memberikan... instruksi khusus terkait koordinasi sistem keamanan," bohong Alana cepat, bahkan tanpa berani melirik ke arah Pradipta. "Mari, kita kembali ke kantor lapangan. Saya akan cek masalah pondasi itu sekarang juga."
Alana berjalan mendahului mereka dengan langkah cepat, hampir seperti berlari. Ia tidak sanggup lagi berada di sana, di bawah tatapan tajam Pradipta yang seolah ingin menahannya, dan di bawah tatapan bingung Pak Wayan yang mulai mencium aroma sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan kerja.
Pradipta hanya bisa berdiri diam, menatap punggung Alana yang menjauh. Ia menghela napas panjang sambil mengepalkan tangan di saku celananya.
"Instruksi khusus, ya?" gumam Pradipta pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.
"Ada apa, Pak?" tanya Pak Wayan polos.
"Bukan apa-apa, Pak Wayan," jawab Pradipta dingin sambil mulai melangkah mengikuti Alana. "Ayo. Jangan biarkan asisten manajer saya bekerja sendirian di bawah tekanan."
Alana melangkah lebar menuju area konstruksi sisi barat, mengabaikan kerikil yang masuk ke sepatunya. Ia perlu kesibukan. Ia perlu angka, beton, dan logika besi untuk mengusir rasa hangat yang masih tertinggal di bahunya akibat pelukan Pradipta tadi.
Sesampainya di lubang pondasi yang bermasalah, Alana segera berjongkok di tepian galian. Ia mengambil alih gulungan cetak biru dari asisten Pak Wayan dan mulai membandingkan koordinat di kertas dengan kondisi riil di lapangan.
"Ini masalah rembesan air, Pak Wayan," ujar Alana, suaranya kini terdengar tegas dan stabil, meskipun ujung jemarinya masih sedikit dingin. "Struktur tanah di sini lebih lunak dari dugaan awal. Kita tidak bisa memaksakan pengecoran sore ini. Kita harus menambah dewatering dan memperkuat sheet pile di sisi tebing."
Pak Wayan mengangguk-angguk kagum. "Ketelitian Bu Alana memang tidak ada duanya. Padahal tadi wajah Ibu pucat sekali."
Alana hanya tersenyum kaku, lalu kembali fokus pada kedalaman galian. Ia tidak sadar bahwa beberapa puluh meter di belakangnya, di atas gundukan material yang lebih tinggi, Pradipta sedang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
Pradipta sama sekali tidak melihat ke arah lubang pondasi. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Alana.
Dari kejauhan, pria itu melihat bagaimana Alana mengikat rambutnya yang berantakan menjadi sanggul asal-asalan, bagaimana wanita itu mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju, dan bagaimana ia kembali menjadi sosok "asisten manajer tangguh" yang tidak kenal lelah.
"Instruksi khusus," batin Pradipta mengulangi kebohongan Alana tadi. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. Ia tahu Alana sedang berusaha keras membangun kembali dinding pelindungnya. Ia tahu Alana sedang melarikan diri ke dalam tumpukan pekerjaan agar tidak perlu menghadapi perasaan yang baru saja tumpah di atas tebing.
"