Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 SEPULUH TAHUN ANGIN BERHEMBUS
Waktu bagaikan air sungai yang terus mengalir, tak pernah berhenti, tak pernah menoleh ke belakang. Sepuluh tahun. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari yang telah berlalu sejak kepergian mereka dari Gunung Hutan Tersembunyi. Sepuluh tahun yang cukup untuk mengubah anak-anak menjadi dewasa, dan mengubah luka menjadi kekuatan yang membatu.
Di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi oleh awan putih yang lembut, angin berhembus dengan bebasnya. Di sana, berdiri dua sosok yang kini telah berubah total.
Fengyin.
Nama itu kini tidak lagi hanya milik seorang anak laki-laki yang pendiam. Pria itu kini memiliki tinggi yang menjulang, postur tubuh yang tegap dan proporsional, hasil dari latihan tanpa henti dan perjalanan yang mengelilingi seluruh penjuru daratan Huanjiang. Wajahnya yang dulu masih bulat kini telah menajam, menampilkan garis rahang yang tegas dan dagu yang kokoh. Namun yang paling berubah adalah matanya. Mata yang dulu menyimpan ketakutan dan dendam, kini telah berubah menjadi lautan yang tenang namun dalam, menyimpan rahasia langit dan bumi di dalam bola matanya yang berwarna abu-abu pekat.
Dia berdiri membiarkan angin menerpa wajahnya. Jubahnya yang berwarna biru tua berkibar kencang, namun tubuhnya sendiri tak bergeming sedikitpun. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang yang sarungnya terbuat dari kayu hitam yang dipoles hingga mengkilap, tanpa hiasan apapun—sederhana, namun memancarkan aura yang mematikan seolah-olah ada badai yang terkurung di dalamnya.
"Sepuluh tahun..." suara Fengyin terdengar pelan, namun terbawa oleh angin hingga sampai ke telinga orang di sebelahnya. "Rasanya baru kemarin kita berlari keluar dari gerbang Cānglóng Pài."
Di sebelahnya, berdiri seorang wanita yang cantik jelita. Lin Yuelan.
Wanita itu tidak lagi gadis kecil desa yang pemalu. Kecantikannya kini memancarkan aura keanggunan dan kekuatan. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi dengan pita biru, membiarkan beberapa helai menari ditiup angin. Matanya yang jernih seperti danau pegunungan menatap ke kejauhan, penuh dengan kedewasaan dan ketenangan yang luar biasa. Di tangannya, dia memutar-mutar sebuah kipas lipat yang terbuat dari bahan yang tidak diketahui, setiap gerakannya mengalir begitu halus, seperti air yang tak pernah menabrak penghalang.
"Waktu berjalan cepat saat kita terus bergerak, Fengyin," jawab Yuelan, suaranya lembut namun memiliki ketegasan tersendiri. "Kita sudah melintasi gurun pasir di selatan, menyeberangi lautan es di utara, dan mendaki puncak tertinggi di timur. Seluruh Huanjiang... rasanya sudah kita pijak."
Fengyin mengangguk perlahan. Benar apa yang dikatakan Yuelan. Sepuluh tahun ini bukanlah waktu yang disia-siakan. Mereka tidak hanya lari dan bersembunyi. Mereka mencari. Mereka belajar.
Dari guru di Selatan, dia mempelajari bagaimana menjadi lentur seperti air. Dari pertapa di Barat, dia memahami kekuatan diam seperti tanah. Dari ahli di Timur, dia merasakan panasnya api yang membakar segalanya. Dan dari dirinya sendiri... dia terus menggali lebih dalam tentang kekuatan Jingjie Universal, tentang elemen Bayangan dan Angin yang menjadi inti keberadaannya.
Dia kini bisa menggabungkan elemen-elemen itu dengan sangat indah dan mematikan. Teknik Yǐngfēng Quán yang dulu hanya berupa pukulan kasar, kini telah berevolusi menjadi seni bela diri yang halus namun mematikan. Dia bisa bergerak lebih cepat dari suara, bisa menyatu dengan kegelapan, dan bisa membelah angin menjadi senjata tajam.
Namun... ada satu hal yang masih mengganjal.
"Aku masih belum bisa menyatukan semuanya sekaligus," gumam Fengyin, menatap telapak tangannya sendiri. Di sana, sekilas terlihat kilatan energi hitam dan putih yang berputar pelan. "Aku bisa menggunakan Angin dan Air bersamamu. Aku bisa menggunakan Bayangan dan Api saat dibutuhkan. Tapi saat aku mencoba memanggil semua elemen itu bersamaan... tubuhku terasa seperti akan meledak."
Yuelan mendekat, lalu menepuk bahu sahabatnya itu pelan. Sentuhan itu hangat, menenangkan gejolak energi di dalam diri Fengyin seketika.
"Itu karena hatimu masih mencari keseimbangan, Yin," kata Yuelan bijak. "Master Wei pernah bilang, Jingjie Universal adalah kekuatan yang mencakup segalanya. Tidak bisa dipaksakan. Nanti... saat waktunya tiba, saat kau memiliki alasan yang cukup kuat untuk melindungi segalanya... kau akan bisa melakukannya."
Fengyin menoleh, menatap wajah Yuelan. Sepuluh tahun, dan wanita ini tidak pernah sekalipun meninggalkannya. Dia adalah teman, dia adalah saudara, dia adalah satu-satunya hal yang membuat Fengyin tetap menjadi manusia dan bukan menjadi mesin pembunuh yang dingin.
"Terima kasih, Lan," kata Fengyin tulus. "Tanpamu, mungkin aku sudah hilang arah entah di mana."
Yuelan tersenyum, senyum yang secerah matahari pagi. "Kita berjanji kan? Air dan Angin. Selalu bersama."
Di sebuah gua tersembunyi di balik air terjun, tempat mereka singgah sementara, suasana terasa lebih hening dari biasanya.
Di sana, ada sosok tua yang duduk bersila. Seorang guru yang telah mereka temui di perjalanan tiga tahun lalu, seorang ahli yang menyembunyikan diri karena menolak tunduk pada Dinasti Wuji Chao. Tubuhnya kini tampak begitu rapuh, seperti kertas kering yang siap hancur ditiup angin.
"Guru..." Fengyin berjongkok di hadapan lelaki tua itu, wajahnya penuh hormat dan kekhawatiran.
Lelaki tua itu membuka matanya perlahan. Tatapannya masih tajam, meski tubuhnya sudah lemah.
"Kalian sudah siap..." suara lelaki itu parau, hampir tak terdengar. "Aku bisa merasakannya. Energi di dalam tubuh kalian... sudah cukup untuk mengguncang gunung dan membelah lautan."
"Kami masih butuh bimbinganmu, Guru," kata Yuelan dengan mata berkaca-kaca. "Jangan tinggalkan kami."
Lelaki tua itu tertawa kecil, tawa yang lemah. "Siapa yang bisa menahan kematian, anakku? Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir. Aku sudah cukup bahagia bisa melihat tunas-tunas harapan ini tumbuh sebesar ini sebelum aku pergi."
Dia menatap Fengyin dengan pandangan yang dalam.
"Fengyin... dengar baik-baik. Sepuluh tahun kau berlatih. Kau sudah mengumpulkan kekuatan. Kau bahkan sudah menemukan tiga orang lain yang memiliki bakat istimewa, benarkan?"
Fengyin mengangguk. "Ya, Guru. Satu menguasai elemen Cahaya yang bisa menyembuhkan dan menyilaukan, dua lainnya memiliki kemampuan khusus yang bisa mendeteksi dan mendukung. Mereka sekarang sedang mengumpulkan kekuatan di tempat aman."
"Bagus..." lelaki itu menghela napas panjang. "Maka tugasmu selanjutnya sudah jelas. Kekaisaran Xuancheng semakin hari semakin ganas. Mereka tidak hanya mencari kekuasaan... mereka mencari keabadian. Dengan cara yang najis."
Wajah lelaki tua itu berubah menjadi serius.
"Aku mendengar bisikan dari angin... Kaisar Di Xuancheng telah menemukan cara untuk menyerap energi dari orang lain. Dia menjadi semakin kuat, sementara dunia menjadi semakin sakit. Xie Wuyou... tangan kanannya itu, kini bahkan bisa menguasai tiga elemen sekaligus berkat kekuatan yang diberikan Kaisar."
Fengyin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa benci itu masih ada, tapi kini tidak lagi membutakan akal sehatnya. Itu adalah bahan bakar, bukan racun.
"Mereka akan kalah, Guru," kata Fengyin tegas. "Aku akan pastikan itu."
"Aku tahu kau akan melakukannya..." lelaki tua itu tersenyum damai. "Tapi ingat... kekuatan terbesarmu bukan terletak pada seberapa keras kau memukul. Tapi pada seberapa banyak hal yang kau bisa lindungi. Itulah arti sebenarnya dari Tiānzé Zhě."
Suara lelaki itu semakin melemah. Cahaya di matanya perlahan memudar.
"Sekarang... pergilah. Pulanglah ke tempat asalmu. Lingkaran harus disempurnakan. Apa yang dimulai dari utara... harus berakhir di utara juga."
"Guru?!"
"Jaga satu sama lain..."
Itu adalah kata-kata terakhirnya. Tubuh lelaki tua itu menjadi lemas, dan napasnya pun berhenti. Wajahnya terlihat begitu tenang, seolah dia hanya tertidur panjang.
Tangis haru dan kehormatan memenuhi gua itu. Fengyin dan Yuelan memandikan dan menguburkan jenazah guru mereka dengan upacara sederhana namun penuh penghormatan di bawah air terjun yang terus mengalir, sebagai simbol bahwa kehidupan terus berjalan meski ada yang pergi.
Hari berganti minggu, dan mereka pun siap melanjutkan perjalanan. Namun arah tujuan mereka kini berbeda. Bukan ke tempat baru untuk belajar, tapi kembali ke tempat di mana segalanya bermula.
"Kita kembali ke Utara, Lan," kata Fengyin saat mereka berada di persimpangan jalan. "Ke arah di mana Kampung Daun Bayangan berada."
Yuelan mengangguk, meski ada rasa cemas yang menyelinap di dadanya. "Ayo. Kita lihat apa yang sudah mereka lakukan pada rumah kita."
Perjalanan pulang terasa berbeda. Udara di wilayah utara terasa lebih kering, lebih panas, dan menyengat. Ada bau aneh yang terbawa angin. Bau gosong. Bau tanah yang mati.
Saat mereka akhirnya sampai di bukit yang menghadap ke lembah di mana desa mereka dulu berdiri...
Fengyin dan Yuelan terpaku. Dunia seakan berhenti berputar.
Di sana... tidak ada apa-apa.
Bukan desa yang ramai. Bukan pondok-pondok kayu. Tidak ada asap dapur. Tidak ada suara anak bermain.
Yang terhampar di depan mata mereka hanyalah hamparan puing-puing hitam yang mengerikan. Pondasi rumah yang hancur, tiang-tiang kayu yang tinggal arang, dan dinding-dinding yang runtuh. Seluruh desa... telah dibakar hingga rata dengan tanah.
Dan yang lebih mengerikan, di pintu masuk yang dulu selalu ramah, kini berdiri patung batu besar dengan lambang Naga Hitam yang menyala merah. Di sana berpatroli para prajurit dengan baju besi yang mengkilap, berjalan mondar-mandir dengan angkuhnya.
Yinye Cun... Kampung Daun Bayangan.
Tempat di mana Fengyin dibesarkan setelah reinkarnasi. Tempat di mana dia pertama kali bertemu Yuelan. Tempat yang seharusnya menjadi rumah...
Sekarang telah berubah menjadi markas militer yang dingin dan mematikan.
"Tidak mungkin..." Yuelan menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Suaranya bergetar hebat. "Mereka... mereka benar-benar menghancurkannya. Bahkan fondasinya pun tidak disisakan..."
Fengyin berdiri kaku di sana. Tubuhnya gemetar bukan karena kedinginan, tapi karena amarah yang begitu besar hingga rasanya ingin meledak. Matanya memerah, pandangannya kabur oleh air mata yang tak mau jatuh.
Dia bisa melihat bekas-bekas perapian di mana dulu warga berkumpul. Dia bisa melihat bekas pohon besar di mana dia dan Yuelan sering duduk. Semuanya... hancur.
"Mereka membunuh mereka..." bisik Fengyin, suaranya serak dan dalam, seperti gemuruh dari dasar bumi. "Mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk menunjukkan kekuatan. Hanya karena takut padaku."
Angin di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi ganas. Daun-daun kering berputar kencang. Suhu udara yang tadi panas, tiba-tiba menjadi sedingin es.
"Fengyin..." Yuelan memegang tangan temannya, merasakan energi yang meledak-ledak dari tubuh Fengyin. "Tenang... tenanglah, Fengyin. Kalau kau meledak sekarang, kita tidak bisa membalas dendam."
Fengyin menarik napas panjang, sangat panjang. Dia mencoba menenangkan dirinya, mencoba menelan rasa sakit yang seolah merobek dadanya. Perlahan tapi pasti, badai energi di sekitarnya mereda.
Namun tatapan matanya... berubah total. Tidak ada lagi kelembutan. Yang tersisa hanya es dan baja.
"Kau benar, Lan," kata Fengyin pelan, setiap katanya terasa berat seperti batu. "Mereka mengambil rumah kita. Mereka mengambil kehidupan orang-orang yang kita sayangi. Dan sekarang..."
Dia menatap jauh ke arah utara, ke arah di mana Ibu Kota Wujicheng berdiri megah dan penuh dosa.
"...Mereka harus membayarnya dengan nyawa mereka sendiri."
Dia menoleh ke Yuelan, matanya menyala dengan tekad yang membara.
"Permainan anak-anak sudah selesai. Mulai detik ini... kita tidak lagi lari. Kita tidak lagi bersembunyi."
"Kita akan mengambil kembali apa yang menjadi milik kita."
Sepuluh tahun perjalanan telah mengasah mereka menjadi pedang yang tajam. Dan kini, pedang itu akhirnya siap untuk dihunuskan.
Arc terakhir telah dimulai. Dan badai yang akan datang... akan mengguncang seluruh dunia.
[ Bersambung... ]