Yan Chen yang unik, memiliki roh Wajan dan di putuskan tunangan, tapi siapa yang menyangka ia bukan pemuda biasa.
dari wajah lucu dan sering bersikap bodoh, mencuri perhatian, memiliki rasa yang besar di dalamnya.
dengan itu, satu persatu perubahan mengejutkan semua orang dan pandangan tentangnya semakin baik dan lebih baik.
saya berharap bisa konsisten menulisnya.
selamat membaca, jangan lupa Like, komentar dan favoritnya, supaya penulis tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian
“Sayang sekali cinta yang besar yang tidak tersampaikan. Lu yan sayang, kau tidak cukup punya keberanian untuk menyatakannya.”
Lu Yan menunduk, berpikir kemudian menghela nafas. Ia tidak peduli dari mana Yan Chen mengetahuinya. “Meski begitu, kuharap guru menyadarinya. Aku merindukannya, ingin bersamanya, menjalankan hidup dalam suka maupun duka. Bagiku cinta adalah perasaannya paling suci yang pernah diberikan dunia ini untukku, memberiku semangat hidup dan menemukan kesukaan seumur hidupku.” Ia lalu menatap Yan Chen dan tertawa renyah seperti ingin mencairkan suasana. “Mungkin aku sangat berlebihan mengatakannya.”
Yan Chen merasa itu tidak berlebihan. Mengingat bagaimana Grand master Chen menyelamatkan hidup Lu Yan, menariknya dari kegelapan dan menemukan tujuan hidup, mengatakan perasaannya bukan berlebihan. Ia ingin mengatakan jika Grand master Chen tidak pernah peduli dengan perasaan seperti itu meskipun ia menyadarinya. Yan menahan untuk mengatakannya. Ia hanya tersenyum.
“Apa kau ingin makan sayangku?”
Lu Yan menatap pelampungnya. “Aku belum mendapatkan ikannya.”
“Tidak masalah.”
Yan Chen berdiri. Ia menyentuh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah pedang panjang. “Kau tahu, sayangku hanya orang-orang yang tidak maju menunggu umpannya di makan. Kamu seorang kultivator, kamu harus memahami ini.”
Yan Chen menatap pedang biasa di genggamannya kemudian mengayunkannya ke depan.
Gerakannya terlihat lembut dan tenang. Tiba-tiba saja suasananya hening.
Lu Yan memperhatikannya. Ia tidak buru-buru bertanya mengapa harus mendengarkannya. Lu Yan seorang nyonya guru, bagaimana pemuda seperti Yan Chen dapat mengajarinya sesuatu?
Tiba-tiba angin bertiup, sungai yang tenang terbelah menjadi dua. Air-airnya bergejolak dan menyembur ke pinggiran.
Beberapa ikan-ikan melompat ke daratan dan melompat-lompat.
Sorot mata Lu Yan tiba-tiba tajam. Ia terkejut. Jelas, ia tidak menyadari Yan Chen mengeluarkan energi Qi ketika melakukannya. Namun, bagaimana mungkin ayunan pedangnya mengeluarkan energi sebesar itu, dan mampu membelah sungai?
Tidak lama sungai kembali tenang dab berangsur-angsur normal.
Yan Chen menatap Lu Yan. “Kita bisa sarapan dengan beberapa ikan-ikan ini.”
*********
Tiga hari yang lalu seekor burung terbang melintasi cakrawala, melewati hutan, pegunungan dan hingga tiba di sebuah desa.
Ia melihat para penduduk yang lalu lalang dan mendarat di sebuah halaman luas.
Seorang wanita sudah menunggunya di sana, mengulurkan tangannya meraih surat yang ada di pergelangan kaki burung itu.
Membaca sebentar, ekspresinya semakin rumit dan di penuhi kebencian. Ia meremas surat itu. Kemudian Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya.
“T-Tidak mungkin, ini tidak mungkin?”
Terhuyung-huyung mundur, matanya bergetar karena ketidak percayaan.
“Bagaimana mungkin, San’er bisa di bunuh seperti itu? Siapa yang membunuhnya, aku tidak akan memaafkannya!!”
Wajahnya dipenuhi kekejaman dan dendam di dalam hatinya membara sepertinya kobaran api.
Ia jelas tahu siapa yang bertarung dengan anaknya, tapi yang lebih tepatnya siapa identitas orang yang melakukannya.
Setelah kejadian tiga hari yang lalu, ia menyadari pemuda yang bertarung dengan anaknya bukan pemuda sembarangan. Selain itu, ada beberapa harta pusaka untuk melindungi putranya. Jika harta-harta itu tidak mampu melindunginya, jadi berkemungkinan besar orang yang melawannya memiliki kemampuan yang hebat.
*******
Kediaman keluarga Qiao di desa tangga jatuh relatif tenang dan damai tapi pagi itu kehebohan langsung menyebar seperti darah yang di jatuhkan pada seutas kain putih.
Kematian salah satu putra keluarga menjadi perbincangan hangat sekaligus membawa kebencian pada setiap anggota keluarga.
Wu Zhan, ibu Qiao San, sekaligus salah satu selir Patriark mengantarkan kabar buruk ini kepadanya dan menuntut menghapus pembunuhnya dari muka bumi ini.
Di aula pagi itu menjadi tegang.
Anggota keluarga berkumpul, tidak percaya dan di penuhi kebencian.
“Qiao Feng, bagaimanapun caranya, kau harus membalaskan dendam putra kita. Aku tidak peduli entah siapa orang itu, dan bagaimana caranya membunuh, dia tetap harus di basmi. Putraku satu-satunya mati di tangannya. Kebencian ini tidak akan selesai jika salah satu pihak belum musnah.”
Mendengar kata-kata yang lontarkan Wu Zhan, semua orang tahu bagaimana kebencian, kemarahan dan rasa ingin membunuhnya. Para selir dan orang-orang memahami perasaannya.
Semua orang jelas ingin memusnahkan pembunuhnya, tapi orang yang melakukannya berada di sekte Daun jatuh, satu dari tujuh sekte besar, mereka jelas tidak berani bertindak gegabah mengenai hal ini.
Patriak merenung sebentar.
Melihatnya, Wu Zhang buru-buru mengeluarkan cermin dari pakaiannya. “Qiao Feng, inilah rupa dari pembunuhnya. Aku menginginkan kepalnya untuk di antara ke sini.”
Dari cermin terlihat pertarungan sebelumnya dan bagaimana Yan Chen dan Qiao San bertarung.
Anggota keluarga yang berkumpul menyaksikannya dengan serius.
Setelah menyaksikannya sebentar, semua orang tahu kemampuan pemuda itu tidak jauh hebatnya dari tuan muda mereka, tapi yang menjadi objek perhatian mereka, adalah wajan yang melesat dan digunakan untuk bertarung! Bagaimana wajan dapat di gunakan untuk bertarung? Apa itu roh senjatanya?
Semua orang berpikir sebentar kemudian di dalam pikirannya menyimpulkan sesuatu.
Patriak keluarga memandangnya kemudian berkata, “Karena dia benar-benar mencari masalah dengan keluarga Qiao, terlepas apa pun identitasnya, dia harus mati bagaimana pun caranya.”
Ketika Patriak berkata, ia terlihat tenang tapi sebenarnya ada kebencian yang ditahannya. Kebencian itu akan dapat diselesaikan setelah membawa kepala pemuda yang membunuh anaknya itu.
********
Ke-esokan harinya hujan rintik-rintik berjatuhan.
Di taman yang penuh dengan bunga-bunga Lotus, Patriak keluarga berjubah hitam diam menyaksikan gelombang-gelombang air di kolam.
Ia mendengar suara hujan yang berjatuhan pelan dan melihat sesekali ikan warna warni yang muncul dari permukaan kolam. Sedikit tersenyum.
Tiga orang berjubah hitam berdiri di belakangnya. Tubuhnya sepenuhnya diselimuti kain hitam, hanya menyisakan bagian bibirnya. Mereka dua orang laki-laki dan satu perempuan.
Patriak mengetuk-ngetuk pagar pembatas sembari menikmati pemandangan kolam. Ia terlihat tenang dan damai.
“Apa kalian mengerti?”
“Ya.” Semuanya serempak menjawab.
“Selirku menginginkan kepalanya.”
“Kami akan melakukannya.”
Embusan angin muncul dan tiga orang itu akhirnya menghilang.
Qiao Feng menghela nafas kemudian mengangkat wajahnya menatap langit-langit kelabu yang dipenuhi tetesan hujan.
********
Hari kedelapan, akhirnya ujian kembali dilakukan. Semua orang kembali semangat setelah penundaan beberapa hari. Mereka akhirnya dapat melihat pertarungan kembali. Hanya ada dua pertarungan yang belum selesai dan hari ini adalah hari di mana itu akan di selesaikan.
Empat murid yang berhasil akan bertarung untuk merebutkan lima posisi. Karena Zhao Huali belum sembuh, jadi hanya ada empat tempat yang akan muncul tahun ini.
Dua orang sudah diketahui dan sisanya sekarang akan muncul.
Empat murid yang akan bertarung memiliki wajah tegang, dan dengan waktu yang diulur, mereka dapat memanfaatkannya untuk berlatih atau mencari informasi sebanyak mungkin.
Namun, diantaranya tidak ada Lu Yan ataupun yan Chen.
Sementara di tempat lain, Guang Ling berdiri di antara pepohonan yang rindang. Tidak lama seekor burung terbang mendekatinya. Meraih kertas yang dibawanya, ia tersenyum kemudian diam-diam keluar.
Sementara Yan Chen dan Lu Yan berada di gubuknya.
Yan Chen sedang bermeditasi di dalam gubuknya, sementara Lu Yan melakukannya di sungai. Mereka berdua tampak sangat fokus dan tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya.
Tidak lama setelah matahari berada di atas, Yan Chen membuka matanya. Ia melambaikan tangannya dan seutas cahaya warna-warni melesat pergi, terbang dan entah pergi ke mana.
Ia menghela nafas berat.
“Ada seseorang yang datang.”