Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kebangkitan Wanita Besi
Lorong-lorong fasilitas bawah tanah kini bergetar hebat setelah ledakan kecil di ruang penyimpanan data. Asap tipis mulai menyelimuti ruangan, sementara alarm darurat terus berbunyi, menggema di setiap sudut. Lampu merah berkedip-kedip, menambah ketegangan di dalam fasilitas itu.
Evelyn, Liam, dan Sophia berlari melewati jalur darurat yang ditunjukkan di peta digital Sophia. Napas mereka terengah-engah, tetapi tidak ada waktu untuk berhenti.
"Berapa jauh lagi ke pintu keluar?" tanya Liam, matanya waspada terhadap setiap persimpangan yang mereka lewati.
"Menurut peta, hanya 200 meter lagi," jawab Sophia, mengetik sesuatu di tabletnya. "Tapi ada masalah..."
"Apa?" Evelyn bertanya, tidak melambat sedikit pun.
"Sistem keamanan diaktifkan. Jika kita tidak menonaktifkannya, pintu keluar akan tetap terkunci."
Evelyn mengertakkan giginya. "Berapa lama kau butuh waktu untuk menonaktifkannya?"
"Sekitar lima menit, jika aku tidak diganggu," jawab Sophia sambil menunjuk sebuah ruangan kecil di sebelah kanan mereka. "Itu ruang kontrolnya!"
Mereka segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Layar-layar komputer memenuhi dinding, menampilkan peta fasilitas, rekaman kamera pengawas, serta beberapa kode sistem yang terus berjalan.
Sophia langsung duduk di kursi operator dan mulai mengetik dengan cepat. "Aku akan membuka akses pintu keluar, tapi kita harus bertahan di sini sebentar."
Liam mengangguk dan menarik senjatanya. "Kalau begitu, kita berjaga di pintu."
Evelyn berdiri di samping Liam, jantungnya masih berdegup kencang. Adrenalinnya belum turun sejak pertarungan terakhir, dan kini ia harus siap menghadapi ancaman lain.
Tak butuh waktu lama sebelum suara langkah kaki terdengar di lorong.
"Musuh mendekat," bisik Liam.
Evelyn menggenggam belati yang ia ambil dari salah satu penjaga yang ia tumbangkan sebelumnya. Ia mungkin tidak membawa senjata api, tetapi kecepatan dan kekuatannya lebih dari cukup untuk menghadapi mereka dalam pertempuran jarak dekat.
Tiga orang pasukan keamanan masuk ke dalam ruangan dengan senjata terangkat.
"Jangan bergerak!" salah satu dari mereka berteriak.
Tapi Evelyn dan Liam tidak tinggal diam.
Liam menembakkan peluru pertamanya, melumpuhkan salah satu penjaga. Evelyn melompat ke depan, menghindari tembakan dan langsung menebaskan belatinya ke tangan salah satu penjaga lainnya, membuatnya menjatuhkan senjatanya. Ia lalu memutar tubuhnya dan menghantam kepala pria itu dengan sikunya.
Orang terakhir mencoba melarikan diri, tetapi Liam lebih cepat. Ia menembak lututnya, membuatnya terjatuh dengan erangan kesakitan.
Evelyn menatap mereka yang kini tergeletak tak berdaya. Biasanya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisi mereka semua, tapi sesuatu dalam dirinya kini mulai berubah.
Ia tidak ingin menjadi mesin pembunuh yang mereka ciptakan.
Ia ingin memilih jalannya sendiri.
"Bagaimana, Sophia?" tanya Liam, masih berjaga di pintu.
"Hampir selesai... lagi satu menit!" jawab Sophia dengan suara tegang.
Tiba-tiba, suara lain terdengar di sistem interkom ruangan itu.
"Evelyn... kau sungguh mengecewakan."
Evelyn membeku. Ia mengenali suara itu.
Leonard.
Suaranya terdengar dari salah satu speaker di ruangan itu. Evelyn menatap ke arah layar yang kini menunjukkan wajah Leonard—pria yang bertanggung jawab atas proyek penciptaannya.
Ia tersenyum dingin. "Aku sudah memperingatkanmu, Evelyn. Kau diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar dari ini. Tapi lihatlah dirimu sekarang... melawan takdirmu sendiri. Itu sangat... manusiawi."
Evelyn mengepalkan tangannya. "Aku bukan ciptaanmu, Leonard. Aku bukan bonekamu!"
Leonard terkekeh. "Kau bisa menipu dirimu sendiri, tapi kau tidak bisa mengubah kebenaran. Bagaimanapun kau mencoba melawan, kode genetikmu akan selalu mengingatkanmu siapa dirimu sebenarnya."
Evelyn merasakan amarahnya membara, tapi ia tahu ini bukan saatnya untuk terpengaruh oleh provokasi Leonard.
"Lupakan dia," kata Liam dengan tegas. "Sophia, ayo cepat!"
"Sudah selesai!" Sophia berteriak. "Pintu keluar sekarang terbuka. Kita harus pergi sekarang!"
Tanpa membuang waktu, mereka berlari keluar dari ruangan dan menuju pintu keluar darurat yang kini telah terbuka.
Di balik pintu itu, sebuah tangga spiral membawa mereka ke permukaan. Langit malam menyambut mereka saat mereka akhirnya keluar dari fasilitas bawah tanah itu. Udara segar terasa begitu melegakan setelah berjam-jam berada di dalam tempat yang penuh bahaya.
Namun, sebelum mereka bisa merayakan kebebasan mereka, sebuah suara dentuman besar terdengar di belakang mereka.
Mereka berbalik dan melihat fasilitas bawah tanah itu meledak. Api membubung tinggi ke langit, dan suara ledakan bergema di seluruh area.
Sophia menatap dengan mata terbelalak. "Aku tidak melakukan itu."
Liam mengerutkan kening. "Kalau bukan kita, lalu siapa?"
Evelyn merasakan firasat buruk. Leonard bukan tipe orang yang akan membiarkan sesuatu lepas kendali begitu saja.
"Lari!" serunya tiba-tiba.
Tepat setelah ia berteriak, sebuah drone besar muncul dari balik asap ledakan, menargetkan mereka dengan laser merah menyala.
Mereka berlari ke hutan terdekat, mencoba mencari perlindungan dari drone yang mulai menembakkan pelurunya.
Evelyn merasa bahwa ini baru permulaan.
Leonard tidak akan menyerah begitu saja.
Dan sekarang, ia tahu bahwa untuk benar-benar bebas, ia harus menghancurkan orang yang telah menciptakannya.
Ia harus menghancurkan Leonard.
.
.
Evelyn berlari secepat mungkin di antara pepohonan hutan yang gelap. Nafasnya memburu, tapi langkahnya tetap stabil. Di belakangnya, suara dengungan drone semakin mendekat, diikuti tembakan yang berdesing di telinganya dan memecahkan batang pohon di dekatnya.
Liam berlari di sampingnya, wajahnya tegang. Sophia di belakang mereka, berusaha menjaga jarak tetapi tetap bergerak cepat.
“Drone ini tidak akan berhenti mengejar kita!” teriak Sophia, menggenggam tablet kecilnya. “Aku butuh waktu untuk meretas sistemnya!”
Evelyn tahu mereka tidak punya banyak waktu. Jika drone itu berhasil mengirimkan lokasi mereka kembali ke markas Leonard, maka ini akan menjadi akhir dari segalanya.
“Kita harus menyingkirkannya sekarang!” seru Liam, menarik pistolnya dan menembak ke arah drone.
Peluru-pelurunya menghantam cangkang logam drone, tetapi tidak cukup untuk merusaknya. Drone itu berputar cepat dan membalas tembakan dengan rentetan peluru mikro yang memaksa mereka berlindung di balik batu besar.
Evelyn mengertakkan giginya, memikirkan cara untuk menghentikan mesin pembunuh ini. Ia memindai sekitar, mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk melumpuhkan drone tersebut.
“Liam, kau masih membawa granat EMP?” tanyanya dengan cepat.
Liam merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah granat berwarna hitam. “Ini satu-satunya yang kita punya!”
“Bagus.” Evelyn meraih granat itu. “Aku akan memancing drone itu. Begitu aku memberimu tanda, lempar granat ini.”
Liam menatapnya, ragu sejenak. “Itu terlalu berisiko, Evelyn!”
Evelyn menatapnya tajam. “Percayalah padaku.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melompat keluar dari perlindungan mereka dan mulai berlari ke arah lain, sengaja menarik perhatian drone.
Drone itu langsung bereaksi, mengunci Evelyn sebagai target dan meluncur mengejarnya dengan kecepatan tinggi. Tembakan demi tembakan dilepaskan, mengoyak ranting-ranting pohon di sepanjang jalurnya.
Evelyn bergerak lincah, menghindari setiap serangan dengan ketepatan yang hampir mustahil bagi manusia biasa. Ia merasakan kelebihan genetisnya bekerja—refleks super cepat, kepekaan luar biasa, dan kekuatan fisik di luar batas manusia normal.
Saat drone mulai mendekat, Evelyn berhenti di sebuah area terbuka dan mengangkat tangannya, memberikan tanda kepada Liam.
“Sekarang!”
Liam melempar granat EMP dengan kekuatan penuh. Granat itu meluncur di udara dan meledak tepat di dekat drone, memancarkan gelombang elektromagnetik yang langsung mematikan sistem drone tersebut.
Mesin itu bergetar sebentar sebelum jatuh keras ke tanah dengan suara gemuruh.
Evelyn mendekati drone yang lumpuh, memeriksa sistemnya. Ia mengambil chip memori utama dari dalam mesin itu. Jika mereka bisa menganalisisnya, mereka mungkin dapat menemukan lebih banyak informasi tentang rencana Leonard.
Liam dan Sophia segera bergabung dengannya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Liam, napasnya masih berat.
Evelyn mengangguk, matanya memancarkan tekad yang membara. “Kita tidak bisa berhenti di sini. Kita harus tahu apa lagi yang disembunyikan Leonard.”
Sophia meraih chip memori dari tangan Evelyn dan mulai menghubungkannya ke tablet khususnya. “Berikan aku beberapa menit untuk memecahkan enkripsi ini.”
Mereka berlindung di bawah pepohonan lebat sementara Sophia bekerja. Evelyn menyandarkan punggungnya ke batang pohon, mencoba mengatur napas dan pikirannya yang bergejolak.
Liam duduk di sampingnya. “Apa yang ada di pikiranmu?”
Evelyn menatap jauh ke dalam hutan yang gelap. “Aku lelah terus-menerus berlari dari masa lalu. Leonard memegang kendali atas hidupku terlalu lama. Ini harus diakhiri.”
Liam mengangguk perlahan. “Kita akan menghentikannya. Bersama.”
Hening sejenak sebelum Sophia menghela napas lega. “Aku berhasil membuka sebagian data dari chip ini.”
Evelyn dan Liam langsung merapat ke arahnya. Di layar tablet, muncul peta fasilitas besar yang jauh lebih kompleks dibandingkan fasilitas yang mereka ledakkan tadi.
“Ini… markas utama mereka,” bisik Sophia. “Leonard mengontrol seluruh operasi dari tempat ini. Dan…” ia menelan ludah, “di sini juga tempat mereka menyimpan klon utama—versi penyempurnaan darimu.”
Evelyn mengepalkan tangannya. “Jadi di sanalah semua ini akan berakhir.”
Liam mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
Evelyn menatap mereka berdua dengan penuh keyakinan. “Kita akan menyerang markas utama Leonard. Kita hancurkan semua yang sudah dia bangun—dan pastikan dia tidak bisa lagi menciptakan makhluk seperti aku.”
Sophia tampak ragu. “Tapi Evelyn, tempat itu dilindungi dengan sistem keamanan tingkat militer. Kita bertiga saja tidak akan cukup.”
Evelyn tersenyum tipis. “Kita tidak akan melakukannya sendiri.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah tempat persembunyian aman di luar kota. Di sana, Evelyn menghubungi beberapa orang yang pernah ia bantu di masa lalu—mantan agen, tentara bayaran, dan orang-orang yang juga menjadi korban eksperimen Leonard.
Malam itu, mereka berkumpul dalam ruangan gelap yang hanya diterangi lampu meja kecil.
Evelyn berdiri di depan mereka, tatapannya tegas dan penuh tekad.
“Semua orang di ruangan ini punya alasan untuk membenci Leonard,” ia memulai. “Dia telah mengambil sesuatu dari kita semua—identitas, kebebasan, dan dalam beberapa kasus… kemanusiaan kita.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Tapi sekarang, kita punya kesempatan untuk mengakhirinya. Kita tahu di mana dia bersembunyi. Kita tahu apa yang dia lakukan. Dan kita tidak akan membiarkan dia menghancurkan kehidupan orang lain lagi.”
Suasana ruangan semakin tegang saat Evelyn melanjutkan, “Aku tidak memaksa siapa pun. Ini berbahaya, bahkan bisa jadi misi bunuh diri. Tapi aku berjanji—kita akan mengakhiri ini sekali untuk selamanya.”
Seorang pria bertubuh besar, mantan agen yang pernah diselamatkan Evelyn, mengangkat tangannya. “Aku ikut. Sudah waktunya seseorang menghentikan bajingan itu.”
Yang lain mulai mengangguk satu per satu, menandakan kesediaan mereka bergabung dalam misi ini.
Evelyn merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Untuk pertama kalinya, ia tidak berjuang sendirian.
Liam berdiri di sampingnya. “Kita mulai persiapan besok pagi.”
Evelyn mengangguk, lalu menatap peta di hadapannya.
Pertarungan terakhir melawan Leonard sudah di depan mata. Dan kali ini, ia tidak akan mundur.
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗