Naila, gadis malang yang baru berusia 16 tahun, harus mengalami nasib buruk. Ketika Naila masih terpuruk setelah kematian Ibunya, ia bekerja di kediaman seorang Pengusaha sukses (Keanu Armani Putra). Bukannya mendapatkan ketenangan, Naila malah semakin terpuruk karena nasibnya menjadi lebih tragis dari sebelumnya.
Dimana ia diperkosa dan menjadi istri siri yang tidak pernah dianggap oleh sang suami. Belum lagi keputusan Keanu yang akan menikahi Kekasihnya, Melisa.
Kehadiran Melisa didalam rumah tangganya, membuat kehidupan Naila semakin berat. Belum lagi ia harus mengetahui bahwa dirinya tengah hamil di usianya yang masih sangat muda.
Bagaimana perjuangan Naila melewati masa sulitnya? Penasaran??? Yukk, ikuti cerita mereka 😘😘😘
Bukan ranah Bocil ya, jadi yang masih bocil, jangan di intipin ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Keluarga
"Tante kenapa?" tanya Adnan seraya merengkuh pundak Tante Mira.
Tante Mira segera berbalik dan memeluk Adnan. "Tiba-tiba saja Tante teringat akan adik Tante," sahut Tante Mira sambil menitikkan airmata di pelukkan Adnan.
Adnan mencoba menenangkan Tante Mira sambil menepuk punggung wanita itu dengan lembut. "Ya sudah, Tente. Lagipula adiknya Tente kan sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya." ucap Adnan.
Tante Mira masih menangis di pelukan Adnan untuk beberapa saat sebelum ia melerai pelukan mereka. Kemudian Tante Mira menatap Adnan dengan tatapan sendu sambil menyeka air matanya.
"Kamu benar, Adnan. Ia sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya. Bahkan ia tega melupakan kami sebagai keluarganya," sahut Tante Mira.
Tante Mira kembali menghampiri Naila kemudian menyentuh pipi kanan gadis itu sambil tersenyum hangat. "Selamat datang, Naila. Semoga kamu betah tinggal bersama kami." ucap Tante Mira.
"Terimakasih, Nyonya." sahut Naila seraya membalas senyuman Tante Mira.
Setelah itu, Tante Mira pamit dan kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan diri. Begitupula Naila, ia pun pamit kepada Adnan yang masih setia berdiri diruangan itu bersamanya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Menjelang sore,
Diruang utama, Tente Mira dan Adnan tengah sibuk disana dengan beberapa orang pelayan laki-laki. Wanita itu meminta mereka untuk membantunya memajang sebuah foto keluarga yang berukuran sangat besar. Ketika Tante Mira tengah sibuk mengatur posisi yang tepat untuk foto tersebut, tanpa disengaja Naila melewati tempat itu.
"Nah, sudah! Ya, seperti itu! Aku suka!" seru Tante Mira sambil tersenyum puas ketika foto tersebut terpasang dengan posisi sesuai dengan keinginannya.
Setelah selesai membantu Tante Mira, para Pelayan itupun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Tante Mira dan Adnan masih berdiri diruangan itu sambil memandangi foto tersebut.
"Bagaimana, Adnan? Cantik bukan?" tanya Tante Mira kepada Adnan.
"Tentu saja, Tante. Pilihan Tante memang selalu keren!" sahut Adnan sambil menggoda Tantenya itu.
"Ih, kamu!" seru Tante Mira seraya mencubit lengan Adnan.
Merekapun tertawa bersama disana. Tanpa mereka sadari, Naila juga berada diruangan itu. Mata Naila tertuju pada foto keluarga Tante Mira yang baru saja terpajang disana. Terlihat gurat kesedihan sekaligus rasa heran di wajahnya. Bahkan kedua bola matanya nampak berkaca-kaca sambil memandangi foto tersebut.
"Ya, Tuhan ... siapa wanita cantik itu? Mengapa wajahnya begitu mirip dengan almarhumah Ibu?" Tapi walaupun wajah mereka terlihat sangat mirip, mustahil wanita itu adalah orang yang sama. Secara, Ibu hanyalah wanita kampung dan kamipun hanya dari keluarga miskin." batin Naila
"Eh, Naila! Sedang apa kamu disana? Kemarilah," ucap Tante Mira ketika ia menyadari bahwa gadis polos itu ternyata tengah berdiri, jauh dibelakang mereka sambil memperhatikan foto keluarganya.
Naila menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia berjalan menghampiri Tante Mira dan Adnan yang masih berdiri diruangan itu.
"Coba lihat, Naila! Ini adalah foto keluarga ku." sambung Tante Mira sambil merengkuh pundak Naila yang menghampirinya.
Naila tersenyum mendengar ucapan Tante Mira kemudian kembali memperhatikan foto tersebut.
"Lihat! Yang berdiri dengan tubuh tegap serta yang paling tampan diantara kami, dia adalah Ayahku. Sedangkan wanita cantik yang berdiri disamping pria tampan itu adalah Ibuku. Dan ..." ucapan Tante Mira sempat terjeda, "Gadis cantik yang berdiri disamping Ibuku adalah adikku ..."
Tante Mira terdiam sejenak sambil menatap sedih kepada gadis cantik di foto tersebut.
"Aku sangat merindukannya." Tiba-tiba saja airmata Tante Mira kembali menetes. Namun, dengan cepat ia menyekanya. Ia tidak ingin kembali bersedih hanya karena rasa rindunya yang amat sangat kepada adiknya tersebut.
Adnan segera menghampiri Tantenya kemudian menepuk pundak wanita itu dengan lembut. Ia tahu Tante Mira kembali bersedih karena teringat akan Adiknya.
Sedangkan Naila begitu penasaran kemana perginya Adik dari majikannya tersebut. Namun, ia tidak berani mempertanyakan masalah pribadi keluarga mereka.
Tante Mira menarik napas dalam kemudian mengembuskan nya. "Entah mengapa, disaat aku melihat mata indah mu, aku teringat akan sosok Adikku. Matanya juga berwarna coklat terang, sama seperti milik mu." ucap Tante Mira sambil menatap Naila yang berdiri disampingnya.
"Dan aku rasa kamu pun memiliki kemiripan lainnya dengan dia. Sebab itulah aku langsung menyukai mu, Naila." sambung Tante Mira.
"Sebenarnya, kalau saya boleh tau, kemana perginya Adik anda, Nyonya?" tanya Naila dengan ragu-ragu.
"Dia pergi meninggalkan kami untuk seorang laki-laki dan memilih menikah dengannya. Sedangkan Ayahku sudah terlanjur membenci laki-laki itu hingga memutuskan untuk tidak mencari tahu kemana Adik serta laki-laki itu berada." sahut Tante Mira dengan wajah sedih karena teringat lagi cerita masa lalu yang terjadi pada keluarganya.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk mengungkit kembali masa lalu anda." ucap Naila dengan penuh penyesalan karena sudah berani mempertanyakan hal yang tidak seharusnya ia tanyakan kepada majikannya tersebut.
Tante Mira kembali tersenyum kepada Naila. "Tidak apa-apa, Naila." sahut Tante Mira seraya memeluk tubuh Naila yang sudah mulai gemetar karena ketakutan.
Setelah melerai pelukannya kepada Naila, Naila pun segera pamit kepada majikannya tersebut untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir selesai.
Sepeninggal Naila, Tante Mira menghampiri Adnan kemudian mengajak keponakannya tersebut untuk duduk bersamanya diruangan itu.
"Adnan, apa kamu menyukai gadis itu?" tanya Tante Mira sambil tersenyum kepada Adnan.
Pipi Adnan seketika merona karena menahan malu disaat Tantenya mempertanyakan hal itu kepadanya. "Tante apaan sih?"
"Heh, dari ekspresi wajah mu saja, Tante sudah tahu bahwa kamu jatuh cinta sama Naila!" goda Tante Mira.
Adnan semakin malu mendengarnya, "Astaga, Tante! Tante bicara apasih?" ucap Adnan mencoba mengelak.
Tante Mira terkekeh ketika melihat ekspresi salah tingkah Adnan. "Sudahlah, akui saja! Tidak apa-apa kok, Adnan. Jika kamu memang benar-benar menyukainya, Tante mendukung mu. Karena Tante rasa Naila gadis yang baik, lagipula bukankah kamu bilang dia hanya sebatang kara? Jadi tidak salahnya kita raih dia untuk dijadikan bagian dari kita." sahut Tante Mira sambil menepuk pundak Adnan.
Adnan menundukkan kepalanya. "Tapi Adnan tidak yakin dia juga menyukai Adnan, Tante." sahut Adnan seraya menghembuskan napas beratnya.
"Ish! Jadi laki-laki kok cemen begitu! Yakin donk, bahwa kamu bisa menaklukkan hatinya Naila. Kamu itu tampan, mapan, keren, dan tidak ada lagi alasan yang bisa membuat Naila menolak mu, Adnan," seru Tante Mira,
Adnan tersenyum kecut setelah mendengar penuturan Tante Mira. "Ya ampun, Tante. Aku dikatakan cemen," ucap Adnan seraya menepuk dahinya pelan.
"Lha, emang! Kalau bukan cemen, terus apa namanya? Menyerah sebelum berjuang!" sahut Tante Mira sambil terkekeh.
"Iya, iya, aku cemen!" sahut Adnan.
...***...