NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 9 - SEGEL KEDUA

Kematian datang dengan dingin yang menusuk tulang.

Ash merasakan racun itu merayap melalui pembuluh darahnya, membekukan setiap senti dari dalam. Suara detak jantungnya melemah, jadi gema yang jauh. Penglihatan mengabur menjadi terowongan gelap dengan ujung putih.

Ini akhirnya, pikir bagian dirinya yang masih manusia. Mati di gua gelap, di tusuk orang yang bahkan tidak ia kenal.

Tapi di kedalaman jiwanya, sesuatu yang lain bergerak.

Sebuah keberadaan yang tertidur jauh di bawah kesadaran, terkurung oleh lapisan-lapisan segel, mulai bangun. Bukan terbangun dengan tenang, tapi terpicu oleh ancaman kepunahan terhadap wadahnya.

"TIDAK."

Suara itu bukan suara. Itu adalah getaran yang mengoyak realitas di sekitarnya. Dua Rust Eater yang mendekat untuk melahap bangkai Ash tiba-tiba membeku, insting primitif mereka berteriak bahaya.

"BELUM."

Segel kedua, yang sudah retak oleh emosi di hutan dan di caravan, akhirnya pecah. Tidak seperti pertama kali yang hanya retak. Kali ini, ia hancur berantakan seperti kaca yang dihantam palu.

Di dalam tubuh Ash, racun ungu yang mematikan itu bertemu dengan sesuatu yang lebih tua daripada konsep racun itu sendiri. Sel-sel yang sekarat disentuh oleh esensi dari Sang Pertama. Racun itu tidak dinetralisir. Ia dihapus. Dihilangkan dari eksistensi seperti tulisan di pasir yang dilalap ombak.

Warna ungu di pembuluh darahnya memudar, digantikan oleh cahaya keemasan samar yang mengalir di bawah kulitnya, seperti sungai lava di malam hari. Luka tusukan di punggungnya menutup tanpa bekas. Kulitnya yang pucat kembali berwarna, lalu menjadi sedikit terlalu sempurna, seperti porselin hidup.

Ash, atau apa yang dulunya Ash, membuka mata.

Tapi cahaya di matanya bukan lagi cahaya bingung seorang pemuda dari Bumi. Cahaya itu adalah emas padat, dingin, dan tanpa kedalaman. Seperti mata reptil yang menatap mangsa.

Dia duduk. Gerakannya halus, terlalu halus untuk manusia. Tidak ada erangan sakit, tidak ada goyahan. Dia hanya... bangkit.

Dua Rust Eater yang tersisa mendesis, roda gigi di mulut mereka berputar cepat. Mereka merasakan perubahan ini. Mangsanya tiba-tiba berbau seperti pemangsa. Monster yang lebih tinggi. Tapi insting territorial mereka mengalahkan rasa takut.

Dengan teriakan logam, mereka menerjang bersama-sama.

Yang pertama menggigit kaki kiri Ash. Gigi-gigi logamnya mencengkeram, berusaha meremukkan tulang.

Ash menoleh ke bawah, melihat monster itu menggantung di kakinya. Ekspresi di wajahnya bukan kesakitan. Bukan ketakutan. Itu adalah... rasa penasaran yang mengerikan. Seperti anak yang melihat serangga menarik.

Senyum tipis merekah di sudut bibirnya.

Dengan tangan kanannya, dia meraih kepala Rust Eater itu. Cakar monster yang lain mencakar lengannya, meninggalkan goresan dalam yang langsung menutup dalam sekejap. Ash tidak peduli.

Jarinya, yang tadi masih manusia, mencengkeram cangkang karat monster itu. Lalu, dengan tenaga yang tidak mungkin dimiliki manusia seusianya, dia menarik.

CRUNCH. RRIIIP!

Kepala Rust Eater itu terlepas dari tubuhnya dengan suara logam patah dan daging karat yang terkoyak. Cairan hitam kental muncrat, membasahi wajah Ash. Tubuh monster itu kejang-kejang sebelum runtuh tak bergerak.

Ash memegang kepala yang masih berkedut itu, menatap mata merahnya yang padam. Senyumnya melebar, menunjukkan gigi-gigi yang tampak sangat putih dalam cahaya redup gua.

"Rapuh," suara itu keluar dari mulutnya. Tapi nadanya datar. Kosong. Bukan nada Ash yang cerewet dan penuh lelucon.

Rust Eater terakhir, yang sekarang diselimuti ketakutan murni, mundur. Kakinya yang logam gemetar. Tapi Ash sudah bergerak.

Dia tidak berlari. Dia berpindah. Satu langkah, dan dia sudah di depan monster itu. Tangannya yang bebas mencengkeram salah satu kaki logamnya.

SNAP!

Kaki itu patah seperti ranting kering.

SNAP! SNAP! SNAP!

Kaki-kaki lainnya menyusul, satu per satu, dengan suara yang membuat gua bergema.

Monster itu roboh, menjerit dengan suara logam yang melengking, memohon belas kasihan pada makhluk yang tidak mengerti konsep belas kasihan.

Ash membalikkan tubuhnya, lalu dengan kedua tangan, merobek tubuh karat itu menjadi dua dari tengah. Bagian dalamnya bukan organ, tapi mekanisme logam berkarat dan cairan hitam yang mengalir seperti oli.

Kegelapan gua disinari oleh cahaya emas samar yang memancar dari kulit Ash. Darah monster dan darahnya sendiri dari luka yang sudah sembuh membuatnya berlumuran cairan hitam dan merah. Dia berdiri di tengah-tengah kehancuran, senyum tak wajar masih terpampang di wajahnya, napasnya bahkan tidak terengah.

"ASH!"

Teriakan itu memecah kesunyian seperti petir. Razen dan Eveline berdiri di mulut ruangan, wajah mereka membeku dalam horor.

Pemandangan di depan mereka bukan pertempuran. Itu adalah pembantaian. Dan Ash berdiri di tengahnya, dengan ekspresi yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Eveline melangkah maju, instingnya berteriak ada yang salah tapi hatinya ingin mendekat. "Ash! Kau baik-baik saja?"

"JANGAN!" Razen menangkap lengan Eveline dengan cengkeraman besi, menariknya mundur. Matanya, yang biasa keras dan sinis, kini penuh kewaspadaan murni. "Lihat matanya."

Eveline melihat. Cahaya emas. Kosong. Tanpa jiwa. Itu bukan mata Ash.

"Tapi dia—"

"Itu bukan dia. Bukan lagi." Razen menarik pedangnya perlahan, suaranya rendah dan tegang. "Kekuatannya... keluar. Dan membawa sesuatu yang lain."

Ash menoleh ke arah mereka dengan gerakan yang terlalu mekanis. Kepala Rust Eater yang hancur masih tergenggam longgar di tangannya. Dia menjatuhkannya. Denting logam bergema.

"Razen," ucap Ash. Suaranya masih suaranya, tapi iramanya aneh. Seperti seseorang yang sedang mencoba berbicara dengan bahasa yang baru dipelajari. "Eveline. Kalian datang."

"Ash, lawan dia!" teriak Eveline, suaranya pecah. "Lawan apapun yang mengendalikanmu!"

Ash memiringkan kepalanya. Gerakan itu tidak manusiawi, terlalu tajam, terlalu cepat. "Mengendalikan? Tidak. Aku... lebih sadar sekarang. Selama ini aku tidur. Berjalan dalam kabut." Dia mengangkat tangannya, memandangi darah di sana dengan minat yang mengganggu. "Sekarang aku bangun."

"Kau bukan Ash," geram Razen, posisinya siap bertarung meski tubuhnya berkata lari. "Keluarlah dari tubuhnya."

"Lucu." Ash tertawa pendek, tapi tidak ada sukacita di dalamnya. Hanya kehampaan. "Kau berpikir kami terpisah. Kami adalah Ash. Ash adalah kami. Hanya saja... bagian yang lebih kecil sekarang terdorong ke belakang. Bagian yang lebih besar mengambil alih. Sementara."

Eveline menggigit bibirnya sampai berdarah. Di tangannya, belati sudah terhunus, gemetar. "Kembalikan dia."

"Tidak bisa. Dan tidak perlu." Cahaya di mata Ash berkedip, seperti bintang yang sekarat. "Dia lemah. Dia hampir membiarkan kita mati. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama."

Razen tahu dialog tidak akan ada gunanya. Dia melirik ke Eveline, memberi isyarat kecil. Siapkan serangan. Eveline mengangguk hampir tak terlihat, tubuhnya bergetar tapi siap.

"Kalau begitu," ucap Razen, suaranya menggelegar penuh otoritas kesatria yang terlatih, "kami akan paksa kau kembalikan dia!"

Dia melesat dengan kecepatan yang mengesankan untuk seseorang dengan armor seberat itu. Pedang besar di tangannya menyala merah, api kecil mulai menari di sepanjang mata pedang. Kontrak spirit apinya diaktifkan.

Serangan itu cepat dan brutal, ditujukan untuk melumpuhkan bukan membunuh. Pedang api menyambar ke arah bahu Ash, berniat memotong otot dan membuat lengannya lumpuh.

Ash tidak menghindar.

SHING!

Pedang itu mengenai bahu, memotong kulit, daging, menyentuh tulang. Bau daging terbakar memenuhi udara. Tapi Ash bahkan tidak goyah. Bahkan tidak meringis. Dia menatap luka di bahunya dengan ekspresi yang hampir seperti... kekecewaan?

"Kontrak spirit level Common. Api dari Embertail. Lemah," ucapnya dengan nada yang membuat darah Razen membeku. "Tapi lumayan untuk serangga fana."

Razen matanya membelalak. Bagaimana dia tahu nama spirit-nya?

Sebelum dia bisa menarik pedangnya, tangan Ash bergerak. Cepat seperti ular menyambar. Jari-jarinya mencengkeram mata pedang yang membara, mengabaikan api yang membakar kulitnya.

SSSZZZT!

Suara daging terbakar. Bau menyengat. Tapi Ash tidak melepaskan. Dia menarik dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

Razen, terkejut oleh tarikan brutal itu, terhuyung maju. Keseimbangannya hilang.

Dan Ash memukul.

Pukulan itu sederhana. Tinju lurus ke dada. Tidak ada teknik rumit. Hanya kekuatan murni yang mengerikan.

THUD!

Razen terlempar ke belakang seperti boneka kain. Tubuhnya menghantam dinding gua dengan bunyi yang membuat Eveline menjerit. Armor pelatnya penyok dalam, bentuknya berubah mengikuti kontur tubuh yang terbentur. Dia terbatuk, darah segar mengotori janggutnya, matanya berkaca-kaca.

"RAZEN!" teriak Eveline.

Dia menyerang dari samping dengan kecepatan yang biasa membuat musuhnya terkejut. Belati-belatinya berkelebat seperti taring ular, menargetkan titik vital non-mematikan: tendon achilles, sendi lutut, pergelangan tangan. Dia masih berharap bisa melumpuhkan tanpa membunuh. Masih berharap Ash di dalam sana bisa diselamatkan.

Ash berpaling padanya. Gerakannya begitu cepat sehingga Eveline hanya melihat bayangan kabur. Tangannya menepis serangan belati pertama dengan mudah, lalu mencengkeram pergelangan tangan Eveline dengan cengkeraman yang seperti besi panas.

"Kau cepat," bisik Ash, wajahnya sangat dekat dengan wajah Eveline. Napasnya tidak hangat seperti napas manusia normal. Dingin. Seperti angin dari kuburan kuno. "Tapi kau menahan diri. Mengapa? Karena kau peduli pada wadah ini?"

"Karena dia Ash!" jerit Eveline, air mata mulai mengalir di pipinya meski wajahnya tetap berusaha terlihat kuat. "Karena dia temanku! Karena dia satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia!"

"Ash adalah aku," ucapnya dengan nada yang hampir lembut, hampir menyesal, tapi tetap kosong. "Dan aku menghargai itu. Tapi sekarang bukan waktunya untuk lemah lembut."

Dia melemparkan Eveline dengan mudah, seperti melempar boneka. Tubuhnya melayang dan menghantam Razen yang baru saja berusaha berdiri. Mereka berdua jatuh berantakan, napas terengah, tubuh terluka.

Ash memandangi mereka dari kejauhan, lalu mulai berjalan mendekat dengan langkah santai yang mengerikan. Cahaya emas di sekelilingnya kini lebih terang, membentuk aura samar yang membuat debu-debu di lantai bergetar dan batu-batu kecil mulai melayang.

"Kalian tidak bisa menang," ucap Ash dengan nada seperti guru yang menjelaskan fakta sederhana pada murid yang bodoh. "Kalian melawan sesuatu yang jauh lebih tua daripada peradaban kalian. Lebih tua daripada bangsa pertama. Lebih tua daripada konsep 'tua' itu sendiri."

Razen berdiri dengan susah payah, menahan sakit di dadanya yang terasa seperti tulang rusuk patah semua. Spirit apinya berbisik di pikirannya dengan suara panik. *Master, itu... itu bukan manusia. ITU BUKAN MAHLUK YANG BISA KITA LAWAN. LARI. LARI SEKARANG.*

"Tidak bisa," geram Razen sambil menguatkan genggamannya pada pedang meski tangannya gemetar hebat. "Kami tidak akan meninggalkannya."

"Kesetiaan yang bodoh," Ash mengangkat tangannya. Energi emas mulai berkumpul di telapaknya, berputar seperti bola kecil matahari yang semakin besar. Panasnya bisa dirasakan bahkan dari jarak beberapa meter. "Aku akan mengakhiri penderitaan kalian. Anggap ini sebagai belas kasihan."

Eveline melihat ke Razen dengan putus asa. Mereka kalah. Mereka tidak bisa melukainya cukup untuk menghentikannya. Setiap luka sembuh dalam sekejap. Dan Ash, atau apapun itu sekarang, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.

Bola energi itu siap dilepaskan. Cahayanya semakin terang, membuat mata mereka perih.

Lalu, sebuah suara yang merdu seperti lonceng kristal bergema di dalam gua. Suara yang membawa kekuatan yang berbeda. Bukan kekuatan kasar seperti api atau pedang. Tapi kekuatan yang menyentuh langsung ke jiwa.

"Tidur."

Itu satu kata saja. Tapi penuh dengan kekuatan sihir tingkat tinggi yang ditenun dengan keahlian puluhan tahun latihan.

Ash tiba-tiba berhenti. Bola energi di tangannya bergetar, tidak stabil, lalu pecah berkeping-keping menjadi cahaya yang memudar. Matanya yang emas berkedip, berjuang melawan sesuatu yang menyerang kesadarannya langsung.

"Ilusi...?" gumamnya dengan suara yang mulai kehilangan kekuatannya.

"Tidur," suara itu bergema lagi, lebih dalam, lebih memaksa, lebih tidak bisa ditolak.

Ash menggeleng, mencoba melawan dengan kekuatan yang dia miliki. Tapi kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya, yang tadi penuh dengan kekuatan tak terbatas, tiba-tiba terasa seperti dibebani gunung.

"Tidak... belum... tugas... belum selesai..."

Dia terjatuh ke satu lutut dengan bunyi gedebuk. Lalu yang satunya. Cahaya emas di matanya meredup perlahan, berjuang melawan sesuatu yang menembus langsung ke inti kesadarannya.

Seorang wanita melangkah masuk ke dalam ruangan dari kegelapan terowongan. Dia tinggi, anggun, dengan rambut ungu panjang yang seolah memancarkan cahaya sendiri meski dalam kegelapan. Dia mengenakan jubah perang yang sederhana namun elegan, berwarna ungu tua dengan bordiran perak. Di tangannya ada tongkat halus dari kayu putih yang ujungnya berkilau dengan cahaya bulan.

Wajahnya cantik dengan cara yang membuat orang ingin berlutut, tapi juga penuh dengan kesedihan mendalam dan kewibawaan yang membuat ruangan terasa lebih kecil. Matanya berwarna ungu gelap, seperti langit malam sebelum badai.

Razen, melihat wanita itu, langsung berusaha berlutut meski tubuhnya menjerit protes. Napasnya tersendat, tidak hanya karena luka tapi karena rasa hormat dan takut yang bercampur jadi satu.

"Yang Mulia Ratu Violet," bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar, lalu dengan usaha besar dia menundukkan kepala dalam.

Eveline, masih bingung dan terluka, hanya menatap. Dia tidak paham mengapa Razen, seorang mantan kesatria elit, bersikap seperti budak di depan tuannya.

Violet tidak melihat mereka. Matanya yang berwarna ungu tua tertuju pada Ash yang sedang berjuang melawan sihirnya dengan kekuatan yang mengejutkan bahkan untuk ukuran Violet sendiri.

"Diamlah, anak pertama. Kembalilah ke tidurmu," ucapnya dengan suara yang hampir seperti nyanyian pengantar tidur ibu pada anaknya. Tapi di balik kelembutan itu ada kekuatan besi yang tidak bisa dibantah.

Ash mengangkat wajahnya dengan susah payah. Untuk sejenak, cahaya emas di matanya memudar hampir sepenuhnya, dan Eveline melihat kilasan mata coklat Ash yang biasa. Penuh ketakutan, kebingungan, dan... penyesalan?

"Tolong..." itu suara Ash. Suara aslinya. Lemah, terputus-putus, penuh keputusasaan. "Tolong... aku..."

Lalu cahaya emas menyala lagi dengan kekuatan terakhir, dan ekspresi kosong kembali mengambil alih.

Tapi keragu-raguan itu cukup. Sihir Violet, sebuah ilusi kompleks tingkat master yang langsung menyerang pusat kesadaran, mencengkeram lebih kuat. Seperti tangan lembut tapi tidak bisa ditolak yang memaksa mata untuk tertutup.

Ash terjatuh ke depan, wajah membentur lantai gua dengan bunyi yang membuat Eveline meringis. Tidak bergerak lagi. Cahaya emas di sekelilingnya padam seperti lilin yang ditiup. Hanya tubuh berlumuran darah yang terbaring di lantai gua dingin.

Keheningan.

Violet menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah, bahunya turun sedikit. Lalu dia menoleh ke Razen yang masih berlutut dengan susah payah.

"Bangkitlah, kesatria yang telah jatuh," ucapnya dengan suara yang lebih lembut. "Kau tidak perlu berlutut di hadapanku. Tidak lagi."

Razen bangkit dengan susah payah, masih terhuyung. Darah masih menetes dari sudut bibirnya. "Yang Mulia... apa yang... mengapa Baginda ada di sini?"

"Aku dipanggil," jawab Violet singkat sambil berjalan menuju Ash yang tidak sadarkan diri. Dia berlutut di samping tubuh itu, menyentuh dahinya dengan lembut. "Dan kau adalah assassin Nightshade yang dibuang."

Eveline tersentak mendengar namanya disebut. "Baginda... mengenalku?"

"Aku mengenal keluargamu. Dan aku tahu kenapa kau dibuang." Violet tidak mengalihkan pandangan dari Ash. "Karena kau memilih untuk tetap menjadi manusia ketika semua orang menginginkanmu menjadi pisau."

Eveline tidak tahu harus berkata apa. Ini terlalu banyak. Terlalu cepat. Ratu dari Lunaria, salah satu dari The Five, orang terkuat di benua ini, ada di sini. Demi Ash.

Sebelum ada yang bisa bertanya lebih lanjut, sebuah suara nyanyian yang sudah tidak asing lagi terdengar dari kegelapan terowongan yang berlawanan.

"Wah, Violet~ Kerja bagus. Tepat waktu seperti biasa~"

Morgana melangkah keluar dari bayangan seolah-olah dia selalu ada di sana sejak awal, hanya menunggu momen yang tepat untuk muncul. Senyum lebar dan tidak wajar itu masih terpasang sempurna di wajahnya. Matanya yang kuning cerah berkilau dengan kegembiraan aneh.

Razen dan Eveline langsung dalam posisi siaga maksimal meski tubuh mereka hampir roboh. Tapi Violet hanya menghela napas dengan nada frustrasi yang dalam.

"Morgana," sapa Violet, nadanya dingin seperti es. Dia berdiri dan berbalik menghadap wanita misterius itu. "Kau menyuruhku—seorang Ratu—untuk meninggalkan kerajaanku dan datang ke lubang kotor ini, hanya untuk menidurkan seorang anak?"

"Dia bukan 'hanya seorang anak' dan kau tahu itu~," balas Morgana sambil berjalan santai memutari tubuh Ash yang tidak sadarkan diri, mengamatinya seperti kurator museum melihat artifak berharga. "Dia adalah kunci. Kunci untuk banyak hal. Dan dia hampir meledak lebih awal dari waktunya. Kau mencegah bencana, Violet~ Kau harus bangga~"

"Kau bisa melakukannya sendiri! Kekuatanmu jauh melebihiku!" protes Violet, tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.

Morgana berhenti berjalan. Dia menatap Violet dengan mata yang tiba-tiba kehilangan semua keceriaan, berubah menjadi dingin dan sangat, sangat tua. Senyumnya tetap ada, tapi sekarang terasa seperti senyum predator yang melihat mangsa mencoba kabur.

"Kau memang ratu, Violet. Pemimpin Lunaria. Penyihir terkuat di generasimu. Salah satu The Five yang diagungkan. Tapi jangan lupa~" Suaranya tiba-tiba kehilangan semua nada bernyanyi, menjadi datar dan lebih berbahaya daripada pedang yang diayunkan ke leher. "Di hadapan Nivraeth, kalian semua—ratu, raja, pahlawan, dewa palsu—tetaplah serangga kecil yang bisa Nivraeth hancurkan dengan jentikan jari. Nivraeth menyuruhmu karena Nivraeth bisa. Dan kau datang karena kau tahu konsekuensinya jika tidak~"

Tegangan di udara begitu pekat sampai Razen merasa sulit bernapas. Dia menyaksikan dua entitas dengan kekuatan yang bahkan tidak bisa dia bayangkan saling berhadapan, dan satu kata yang salah bisa membuat mereka semua lenyap dari eksistensi.

Violet mengepalkan tangannya lebih kuat. Tongkatnya bergetar halus, cahaya bulan di ujungnya berkedip tidak stabil. Tapi akhirnya, dengan usaha besar, dia memalingkan wajah dan mengambil napas dalam.

"Aku sudah melakukan bagianku," ucapnya dengan suara yang berusaha tenang. "Sekarang apa?"

Morgana kembali tersenyum ceria seolah pertukaran menegangkan tadi tak pernah terjadi. "Kita bawa bocah ini ke tempat aman~ Dan kalian berdua~" dia menunjuk Razen dan Eveline dengan jari yang terlalu panjang, "ikut. Kalian sudah terlibat terlalu dalam untuk mundur sekarang~"

"Tempat aman di mana?" tanya Eveline, suaranya berani meski tubuhnya gemetar hebat.

"Tempat di mana dia bisa belajar mengendalikan apa yang ada dalam dirinya. Tempat di mana kita bisa... mengamati perkembangannya~" Morgana menunduk, menyentuh dahi Ash dengan satu jari. "Dua segel sudah terbuka. Delapan masih tersisa. Dia tidak bisa kembali menjadi 'hanya Ash' lagi. Dunia sudah mulai memperhatikannya. Dan yang mencari vessel Uroboros... akan segera datang~"

Dia berdiri dan melihat ke arah kegelapan terowongan tempat pembunuh berjubah hitam menghilang.

"Pembunuh tadi hanya yang pertama. Akan ada lebih banyak lagi~"

Violet mengangkat tongkatnya dan mengucapkan mantra dalam bahasa kuno. Cahaya ungu lembut menyelubungi tubuh Ash, mengangkatnya perlahan dari lantai. Luka-luka di tubuhnya mulai menutup, tidak secepat regenerasi tadi tapi lebih stabil.

"Kita pergi sekarang," perintah Violet. "Razen, Eveline, kalian bisa berjalan?"

"Aku bisa," jawab Razen sambil berusaha berdiri tegak meski wajahnya meringis kesakitan.

"Aku juga," kata Eveline, meski kakinya gemetar.

Mereka keluar dari tambang dalam formasi aneh. Violet di depan dengan Ash yang melayang di sampingnya dalam selubung cahaya ungu. Razen dan Eveline di belakang, saling menopang. Dan Morgana... entah di mana. Dia menghilang begitu saja, tapi kehadiran-nya masih terasa di udara.

Saat keluar dari mulut tambang, cahaya matahari menyilaukan mata mereka. Tapi pemandangan yang menyambut membuat mereka terkejut.

Ada sebuah kereta yang sangat mewah menunggu. Ditarik oleh empat kuda putih yang bulunya berkilau seperti salju bercahaya. Keretanya sendiri terbuat dari kayu dengan ukiran rumit dan jendela kaca berwarna.

"Naik," perintah Violet sambil membuka pintu kereta dengan sihir. Ash yang masih tidak sadar dimasukkan terlebih dahulu, berbaring di bangku yang dilapisi beludru lembut.

Razen dan Eveline naik dengan susah payah. Begitu mereka duduk, tubuh mereka langsung ambruk karena kelelahan dan luka.

Violet naik terakhir. Begitu dia duduk, kereta mulai bergerak sendiri tanpa kusir.

"Ke mana kita pergi?" tanya Eveline dengan suara lemah.

"Lunaria," jawab Violet sambil menatap keluar jendela. "Ke ibu kota sihir. Di sana Ash bisa belajar dengan aman. Dan di sana aku bisa mencari tahu lebih banyak tentang apa yang ada dalam dirinya."

"Apa yang... apa yang tadi itu?" tanya Razen. "Aku pernah melawan banyak musuh. Monster, demon, bahkan pernah sparring dengan anggota LightOrder terkuat. Tapi itu... itu bukan sesuatu yang pernah kurasakan."

"Itu adalah sebagian kecil dari kekuatan Uroboros," jawab Violet. "Mahluk pertama yang diciptakan. Yang dikhianati dan disegel dalam Perang Kosmik. Ash adalah vessel-nya. Atau mungkin lebih tepat, reinkarnasi-nya."

"Uroboros..." Razen menelan ludah. "Itu... legenda kan? Dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil?"

"Sebagian besar sejarah adalah kebohongan yang ditulis pemenang," Violet menatapnya. "Uroboros bukan monster seperti yang diceritakan. Dia adalah korban. Tapi itu cerita untuk lain waktu. Sekarang, kalian berdua istirahat. Perjalanan ke Lunaria masih panjang."

Eveline menatap Ash yang terbaring tidak sadarkan diri. Wajahnya yang biasanya ceria dengan senyum bodoh sekarang terlihat damai. Terlalu damai. Seperti mayat.

"Dia akan baik-baik saja?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Violet diam sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak tahu. Dua segel sudah terbuka. Jika segel berikutnya terbuka terlalu cepat... dia mungkin akan hilang sepenuhnya. Menjadi Uroboros seutuhnya dan Ash akan lenyap."

"Tidak," Eveline menggeleng keras. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Dia... dia satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia. Aku tidak akan kehilangan dia."

Violet menatap Eveline dengan tatapan yang lebih lembut. "Maka belajarlah. Menjadi lebih kuat. Karena pertempuran yang sesungguhnya belum dimulai. Dan kau akan membutuhkan semua kekuatan untuk menjaga Ash tetap menjadi Ash."

Kereta melaju menembus hutan dengan kecepatan yang tidak wajar. Pohon-pohon berlalu seperti bayangan. Dan di dalam, tiga orang yang terluka duduk diam, masing-masing dengan pikiran mereka sendiri.

Razen memikirkan tentang takdirnya yang membawanya dari kesatria suci menjadi pelindung vessel dewa kuno.

Eveline memikirkan tentang bagaimana dia akan melindungi orang yang telah melindungi hatinya.

Dan Violet memikirkan tentang rahasia yang dia sembunyikan. Rahasia tentang Codex. Tentang kebenaran. Dan tentang apa yang akan terjadi jika dunia mengetahui bahwa Uroboros telah bangkit.

Di dalam mimpinya yang gelap, Ash berkelana melalui ingatan yang bukan miliknya. Dia melihat penciptaan. Melihat pengkhianatan. Melihat perang yang menghancurkan realitas.

Dan dia mendengar suara yang lembut, penuh kesedihan.

"Maafkan aku, anak pertamaku. Tidurlah lebih lama. Waktunya belum tiba."

Suara Sang Pencipta. Suara yang telah lama hilang dari dunia ini.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!