Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Buka woy!!” serunya lagi, semakin brutal.
Gedoran demi gedoran membuat tubuhku bergetar. Kaca mobil bergetar hebat, seolah tinggal menunggu waktu untuk benar-benar pecah.
Di depan sana, Monika berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Bibirnya tersenyum sinis, puas melihatku ketakutan.
“Pecahin aja kacanya!” teriaknya lantang.
Seketika darahku terasa membeku.
Jadi benar… ini semua memang ulahnya.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Perutku yang mulai membesar refleks kupegang erat. Jangan sampai terjadi apa-apa pada bayiku. Jangan…
Para preman itu semakin beringas. Salah satu dari mereka mengambil batu besar dari pinggir jalan.
Brak!
Batu itu menghantam kaca depan mobilku. Retakan langsung menjalar seperti jaring laba-laba.
“Buka pintunya atau kami yang buka paksa!” ancam mereka.
Tanganku gemetar hebat. Aku meraih ponsel dengan susah payah. Nama pertama yang terlintas di pikiranku adalah Mas Bram.
Tidak aktif.
Air mataku makin deras. Dalam kepanikan, aku menekan nama lain.
Leon.
Nada sambung terdengar begitu lama, sementara di luar suara benturan semakin keras.
Brak!
Kali ini kaca samping mulai retak.
“Ayo jawab… jawab…” gumamku putus asa.
“Rania?” suara berat itu akhirnya terdengar di seberang sana.
“Leon… tolong aku… Monika…” suaraku terputus karena tangis.
“Ada apa? Kamu di mana?”
Belum sempat aku menjawab, suara kaca pecah terdengar nyaring.
Prang!
Salah satu preman berhasil memecahkan sebagian kaca dan mencoba memasukkan tangannya untuk membuka kunci pintu.
Aku menjerit.
Namun tiba-tiba—
Suara klakson panjang terdengar dari belakang, disusul deru mesin mobil yang berhenti mendadak.
“Berhenti!” teriak seseorang dengan suara tegas dan penuh wibawa.
Aku menoleh dengan napas tersengal.
Leon turun dari mobilnya, wajahnya gelap dipenuhi amarah.
Para preman itu saling berpandangan. Monika yang tadi begitu percaya diri, kini terlihat terkejut.
“Berani sekali kalian menyentuhnya,” ucap Leon dingin, tatapannya tajam seperti pisau.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi satu hal yang pasti…
Hari ini, topeng Monika benar-benar terlepas.
Monika bertepuk tangan pelan, tatapannya penuh ejekan.
“Wah wah… ada pahlawan kesiangan,” sindirnya tajam ke arah Leon.
“Perempuan jahat!” seruku dengan suara bergetar, antara marah dan takut.
“Kau lebih jahat!” balas Monika lantang. Matanya memerah. “Ini belum seberapa, Ran! Dibanding sakit yang aku rasakan!”
Dadaku terasa sesak. Semua emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
“Kau pikir aku juga gak sakit, hah?!” teriakku. “Mas Bram gak pernah bilang dia sudah menikah! Aku tahu semuanya justru waktu kita bertemu di rumah sakit! Aku syok, Monika! Syok!”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Dan kau tahu?!” lanjutku dengan suara pecah, “Aku minta cerai sama dia! Aku mau pergi! Tapi… aku hamil!”
Suasana mendadak hening.
Para preman itu saling pandang. Bahkan Leon terdiam, menatapku dengan sorot yang sulit kuartikan.
Monika membeku. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah—antara tak percaya dan… terluka.
“Hamil?” suaranya melemah, tapi hanya sesaat.
Lalu ia tertawa pendek, getir.
“Jadi itu senjatamu sekarang?” sindirnya. “Anak?”
“Ini bukan senjata!” balasku. “Ini anak yang tidak pernah kuminta hadir di tengah kebohongan!”
Monika mendekat beberapa langkah. “Kau sudah mengambil suamiku.”
“Aku tidak pernah tahu dia suamimu!” seruku putus asa. “Kalau dari awal aku tahu, aku tidak akan menikah dengannya!”
Leon akhirnya angkat suara.
“Cukup.” Suaranya berat dan tegas. “Masalah kalian bukan diselesaikan dengan cara kotor seperti ini.”
Monika menoleh tajam. “Ini bukan urusanmu,!”
“Sekarang jadi urusanku,” balas Leon dingin. “Karena kamu hampir mencelakai perempuan hamil.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Monika menatapku lama. Ada kebencian di sana, tapi juga luka yang belum sembuh.
“Rasa sakitku lebih dulu ada, Ran,” ucapnya pelan namun tajam. “Kau datang dan menghancurkan segalanya.”
“Aku juga hancur…” bisikku lirih. “
“Bawa perempuan jalang itu!!” perintah Mona dengan wajah dipenuhi amarah.
Dua preman langsung bergerak mendekat ke arah mobilku.
Leon refleks berdiri di depanku, tubuhnya menjadi tameng.
“Jangan kalian sakiti Rania!” serunya tajam, rahangnya mengeras.
“Banyak ngomong!” bentak salah satu preman sambil melayangkan pukulan.
Bug!
Tinju itu nyaris mengenai Leon, tapi dengan sigap ia menepis dan membalas. Dalam hitungan detik, baku hantam tak bisa terhindarkan lagi.
Aku menjerit ketika salah satu dari mereka mencoba menerobos ke arahku.
Leon bertarung habis-habisan. Pukulannya keras, matanya menyala penuh emosi. Namun jumlah mereka lebih banyak.
“Leon, hati-hati!” teriakku panik.
Salah satu preman berhasil memukul pundaknya dari belakang. Leon tersentak, tapi ia tetap berdiri.
Aku menjerit sekuat tenaga.
“Tolong! Tolooong!!”
“Diam kau!” bentak salah satu preman sambil mencoba menarik pintu mobil yang sudah rusak.
Aku tidak peduli. Suaraku semakin keras, bahkan serak.
“Tolong! Ada yang mau mencelakai saya!”
Salah satu dari mereka berusaha membuka pintu paksa, tapi sebelum berhasil—
“Woi! Ada apa itu?!” teriak seorang bapak dari arah warung pinggir jalan.
Benar saja. Beberapa warga mulai mendekat. Dua orang pria membawa kayu, yang lain merekam dengan ponsel.
Preman-preman itu langsung gelisah.
“Sudah, cabut aja!” bisik salah satu dari mereka.
Namun keadaan sudah terlanjur ramai.
Leon yang tadi masih baku hantam memanfaatkan situasi. Ia mendorong salah satu preman hingga terjatuh tepat di depan warga.
“Kurang ajar kalian! Berani-beraninya ganggu perempuan!” hardik seorang warga.
Mona mundur satu langkah. Wajahnya tak lagi setegar tadi.
“Ini salah paham!” serunya mencoba membela diri.
“Lho, tadi saya dengar sendiri kamu yang suruh pecahin kaca!” timpal seorang ibu yang ternyata menyaksikan sejak awal.
Aku membuka pintu mobil perlahan dengan tubuh gemetar. Kaca yang retak berjatuhan kecil di jok.
Leon langsung menghampiriku. “Rania, kamu gak apa-apa?”
Aku mengangguk pelan, meski air mata terus mengalir.
Tanpa sadar aku langsung memeluk Leon.
Entahlah… aku sangat takut.
Tubuhku gemetar hebat. Tanganku mencengkeram kemejanya erat-erat seolah kalau kulepas semuanya akan runtuh lagi.
Leon sedikit terkejut, tapi detik berikutnya ia membalas pelukanku dengan hati-hati. Satu tangannya melindungi kepalaku, satunya lagi menjaga jarak agar tidak menekan perutku.
“Sudah… sudah aman, Rania,” bisiknya pelan di atas kepalaku.
Aku menggeleng. Air mataku makin deras.
“Aku takut… aku takut terjadi apa-apa sama bayiku…” suaraku nyaris tak terdengar.
Leon menegang mendengar itu. “Tidak akan. Aku di sini.”
Di seberang sana, Mona menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan—marah, cemburu, atau mungkin merasa kalah.
“Lepaskan dia, Ran. Kamu cepat sekali cari pelindung baru,” sindirnya tajam.
Aku perlahan melepaskan pelukan, tapi tetap berdiri di dekat Leon.
“Kali ini aku tidak mencari siapa-siapa,” ucapku dengan napas masih tersengal. “Aku cuma ingin selamat.”
Leon menatap Mona dingin. “Kalau terjadi sesuatu pada Rania atau anaknya, kamu yang pertama aku pastikan bertanggung jawab.”
****