"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: DINDING KACA ANTARA DUA KELUARGA
BAB 14: DINDING KACA ANTARA DUA KELUARGA
Pagi itu, langit Jakarta tampak bersih setelah badai semalam, seolah-olah alam baru saja melakukan pembersihan besar-besaran. Namun, bagi Alana, udara di dalam mobil Bentley milik Kenzo terasa sangat tipis. Mereka sedang menuju kediaman utama Keluarga Dirgantara, sebuah istana bergaya kolonial yang terletak di kawasan elit Menteng. Tempat di mana hukum "darah dibayar darah" masih dipegang teguh oleh sang kepala keluarga.
Alana menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna abu-abu mutiara yang sangat anggun namun tertutup, menunjukkan kesederhanaan sekaligus keteguhan. Di sampingnya, Kenzo tetap memegang kendali kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap punggung tangan Alana untuk memberikan kekuatan.
"Kau tidak perlu melakukan ini jika belum siap, Alana," ucap Kenzo dengan suara bariton yang lembut. "Ayahku... dia adalah orang yang keras kepala. Sepuluh tahun kehilangan Ibu telah mengubahnya menjadi pria yang hanya bisa melihat dunia lewat kacamata dendam."
Alana menoleh, menatap garis rahang Kenzo yang tegas. "Aku harus melakukannya, Kenzo. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi alasan kau harus memusuhi ayahmu sendiri. Aku juga ingin dia tahu, bahwa aku bukan hanya 'putri dari pembunuh', tapi aku adalah korban yang sama hancurnya dengan dia."
Mobil berhenti di depan tangga marmer putih yang megah. Kenzo turun dan membukakan pintu untuk Alana. Mereka masuk ke dalam rumah yang terasa dingin seperti museum. Di dinding-dindingnya tergantung lukisan-lukisan mahal, namun suasananya terasa mati.
Di ruang tamu utama, Tuan Besar Dirgantara sudah menunggu. Pria tua itu duduk di kursi rodanya yang berbahan kulit premium, menghadap ke arah jendela besar. Rambutnya putih perak, dan meskipun tubuhnya tampak lemah, auranya masih sanggup membuat siapapun menahan napas.
"Jadi, kau benar-benar membawanya ke sini, Kenzo?" suara parau sang Ayah memecah keheningan tanpa ia perlu membalikkan kursi rodanya.
Kenzo menuntun Alana untuk berdiri tepat di tengah ruangan. "Ayah, Alana datang untuk bicara. Dia baru saja mengungkap pengkhianat di keluarganya sendiri. Dia membawa bukti bahwa Bastian Adiwangsa-lah yang bertanggung jawab, bukan orang tuanya secara langsung."
Tuan Besar Dirgantara memutar kursi rodanya secara perlahan. Matanya yang tajam dan sedikit cekung menatap Alana dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Bastian, Elvan, atau siapapun... namanya tetap Adiwangsa. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah yang sama dengan orang yang memicu kematian istriku. Apa kau pikir selembar kertas pengakuan bisa menghapus sepuluh tahun kesepianku, hah?!"
Alana melangkah maju satu langkah, mengabaikan tarikan kecil di lengannya dari Kenzo yang mencoba melindunginya. Ia membungkuk hormat, sangat dalam, lalu kembali berdiri dengan punggung yang tegak.
"Tuan Besar," suara Alana terdengar tenang, meskipun jantungnya berdegup seperti genderang perang. "Saya tidak datang ke sini untuk meminta maaf atas sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya juga tidak datang untuk meminta belas kasihan."
Alis Tuan Dirgantara bertaut. "Lalu untuk apa kau datang?"
"Saya datang untuk mengembalikan ini," Alana mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya dan meletakkannya di meja rendah di depan pria tua itu. "Ini adalah bros berlian berbentuk merak milik Nyonya Dirgantara. Ayah Raka mencurinya dari lokasi kecelakaan sepuluh tahun lalu sebagai 'piala'. Saya menemukannya di dalam brankas rahasia Bastian semalam."
Tangan Tuan Dirgantara gemetar saat melihat bros itu. Itu adalah perhiasan favorit istrinya. Ia meraba permukaan berlian itu dengan jemarinya yang keriput, dan untuk sesaat, dinding kebencian di matanya tampak retak oleh duka.
"Anda kehilangan seorang istri, Tuan Besar. Dan saya kehilangan masa kecil, ingatan, dan kasih sayang orang tua dalam kecelakaan yang sama," lanjut Alana, suaranya kini sedikit bergetar namun tetap kuat. "Selama sepuluh tahun, saya hidup sebagai orang asing, lalu disiksa selama tiga tahun oleh pria yang ternyata adalah anak dari pembunuh orang tua kita. Jika ada orang yang paling berhak marah di ruangan ini, itu adalah kita berdua. Tapi marah tidak akan membawa mereka kembali."
"Cukup!" bentak Tuan Dirgantara, ia memalingkan wajahnya. "Kau pikir kau bisa menceramahiku?!"
"Saya tidak menceramahi Anda. Saya hanya ingin bilang bahwa saya mencintai Kenzo," ucap Alana lugas. "Dan Kenzo mencintai Anda. Jangan biarkan dendam pada orang yang sudah mati menghancurkan satu-satunya orang hidup yang paling mencintai Anda. Saya akan pergi sekarang. Saya tidak butuh harta Dirgantara, saya hanya butuh Kenzo. Jika Anda ingin membuangnya karena mencintai saya, maka silakan. Tapi Anda akan kehilangan segalanya untuk kedua kalinya."
Alana berbalik, berjalan keluar ruangan dengan langkah yang mantap. Kenzo terpaku sejenak, menatap ayahnya yang kini tertunduk sambil menggenggam erat bros merak itu.
"Ayah," bisik Kenzo. "Dia adalah alasan aku tetap hidup selama sepuluh tahun ini. Tolong, jangan buat aku memilih."
Kenzo tidak menunggu jawaban ayahnya. Ia berlari mengejar Alana yang sudah sampai di teras rumah.
Sore harinya, saat mereka sedang duduk di sebuah taman tersembunyi di pinggiran kota untuk menenangkan diri, ponsel Alana berdering. Itu dari Elvan.
"Alana, kau di mana? Polisi baru saja menggeledah apartemen persembunyian Siska. Mereka menemukan sesuatu yang akan membuatmu terkejut."
Alana dan Kenzo segera menuju kantor kepolisian. Di sana, Elvan menunjukkan sebuah rekaman video dari ponsel Siska yang berhasil diretas. Di dalam video itu, Siska tampak sedang berbicara dengan seseorang di balik jeruji besi penjara—itu adalah Raka.
Namun, bukan itu yang mengejutkan. Yang mengejutkan adalah apa yang mereka bicarakan.
"Siska, kau harus pergi ke rumah tua di Bogor. Di bawah gudang bawah tanah, ada dokumen asli tentang anak itu. Alana bukan anak kandung Adiwangsa yang hilang. Dia adalah anak dari..." suara Raka di video itu terputus karena gangguan sinyal.
Alana merasakan kepalanya pening. "Lagi? Setelah semua ini, ada rahasia lagi soal identitas keduaku?"
Elvan memegang tangan Alana. "Kita akan ke Bogor malam ini juga, Al. Apapun yang terjadi, kau tetap adik kami."
Namun, Kenzo menahan langkah mereka. "Tunggu. Lihat tanggal video ini. Ini dibuat dua jam yang lalu. Bagaimana Raka bisa bicara dengan Siska lewat ponsel di dalam penjara? Ini jebakan."
Tepat saat Kenzo bicara, lampu di kantor polisi tersebut tiba-tiba padam. Suasana menjadi gelap gulita. Dalam kegelapan itu, suara ledakan terdengar dari area parkir.
BOOM!
"Alana!" teriak Kenzo. Ia segera menarik Alana ke dalam pelukannya dan menjatuhkan diri ke lantai tepat saat sebutir peluru memecahkan kaca jendela di atas kepala mereka.
Seorang penembak jitu (sniper) sedang mengincar mereka dari gedung seberang.
"Bastian!" desis Bastian yang ada di dalam sel pengamanan sementara di gedung itu, berteriak kegirangan. "Kalian pikir aku berjuang sendirian?! Aku punya sekutu yang tidak pernah kalian bayangkan!"
Ternyata, pengkhianatan Bastian memiliki cabang yang lebih luas. Ia bekerja sama dengan rival bisnis Keluarga Dirgantara dan Adiwangsa yang ingin melenyapkan kedua ahli waris sekaligus.
Kenzo mengeluarkan pistol dari balik jasnya—senjata yang selalu ia bawa sejak ia mencurigai adanya pengkhianatan di keluarganya sendiri. "Rio! Bawa Alana lewat pintu belakang! Elvan, bantu aku menahan mereka di sini!"
"Tidak! Aku tidak mau pergi tanpa kalian!" seru Alana.
"Dengarkan aku, Alana!" Kenzo memegang wajah Alana di tengah kegelapan, matanya berkilat penuh tekad. "Kau adalah kunci dari segalanya. Dokumen di Bogor itu... itu adalah nyawamu. Pergilah sekarang! Aku berjanji akan menyusulmu."
Alana terpaksa mengikuti Rio keluar melalui lorong gelap di belakang kantor polisi. Di belakangnya, suara baku tembak mulai terdengar. Ia berlari dengan air mata mengalir, namun kakinya tidak berhenti.
"Bertahanlah, Kenzo," bisiknya. "Karena jika kau mati, aku akan membakar seluruh kota ini bersamamu."