NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyeberangan Dunia Lain / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22. Tiga hari Penderitaan

“Buat bahumu lebih terbuka. Dagu lebih tinggi. Tangan jangan menggantung seperti orang tak bernyawa—letakkan di samping dengan sikap percaya diri.”

Arthur menyesuaikan satu per satu koreksi itu. Ia mulai merasa seperti boneka pajangan yang sedang diatur posisinya.

“Sekarang berjalan. Dari sini ke dinding sana. Lalu kembali.”

Arthur melangkah maju. Sepuluh langkah lurus, lalu berbalik.

“Berhenti.”

Ia langsung membeku.

Valerine mendekat dengan ekspresi tidak puas, seperti seseorang yang baru saja menyaksikan bencana kecil.

“Apa itu tadi?”

“…Berjalan?”

“Itu bukan berjalan. Itu menyeret kaki. Kakimu hampir tidak terangkat dari lantai. Langkahmu pendek dan ragu. Kau terlihat seperti pria tua dengan cedera pinggul.”

Arthur mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Aku sudah mencoba—”

“Mencoba tidak cukup,” potong Valerine dingin. “Kau adalah Archduke. The Crimson Aegis. Orang yang pernah membunuh Dewa Iblis seorang diri. Saat kau berjalan, orang harus merasakan kekuatanmu. Mereka harus tahu—tanpa kau berkata apa pun—bahwa kau bisa menghancurkan mereka hanya dengan satu tatapan.”

Ia berdiri tepat di depan Arthur, menatap lurus ke dalam matanya.

“Sekarang kau punya akses ke mana-ku. Gunakan. Alirkan ke otot-ototmu. Stabilkan tubuhmu. Dan berjalanlah seolah dunia ini memang milikmu.”

Arthur menarik napas dalam.

Ia memusatkan perhatian pada koneksi di antara mereka—seperti benang tak terlihat yang terikat di inti mananya. Ia menarik sedikit aliran itu.

Mana biru mengalir lebih deras, menyatu dengan apinya. Otot-ototnya terasa lebih solid. Keseimbangannya stabil. Posturnya tidak lagi dipaksakan—melainkan ditopang dari dalam.

Ia melangkah lagi.

Langkahnya kini lebih panjang. Tumit menyentuh lantai dengan mantap sebelum ujung kaki mengikuti. Punggungnya tegak, bahu terbuka.

“Lebih baik,” komentar Valerine. “Tapi masih terlalu kaku. Kau berjalan seperti boneka yang digerakkan benang. Rileks sedikit—namun tetap pertahankan postur tubuhmu.”

Arthur mengembuskan napas pelan.

Ia membiarkan bahunya turun sepersekian inci—bukan karena melemah, melainkan mengendur secara terkontrol. Dagu tetap terangkat, tetapi tidak berlebihan. Tatapannya lurus ke depan.

Ia berjalan kembali.

Langkahnya kini tidak hanya stabil—tetapi memiliki ritme. Tidak cepat. Tidak lambat. Setiap pijakan seolah menyatakan keberadaannya tanpa perlu suara keras.

Valerine mengamatinya dalam diam beberapa detik.

“Ya,” katanya akhirnya. “Itu mulai mendekati.”

Arthur berhenti di hadapannya.

“Jangan hanya mengandalkan mana-ku,” lanjutnya. “Mana hanya alat. Sikapmu yang menentukan apakah orang lain tunduk… atau meremehkanmu.”

Arthur menatapnya balik.

Tubuhnya kini stabil. Napasnya teratur. Inti mananya berdetak selaras dengan aliran biru yang mengalir tenang.

“Angkat dagumu lebih tinggi.”

Arthur menyesuaikan.

“Bahumu jangan tegang.”

Ia mengendurkan ototnya.

“Langkahmu harus lebih natural.”

Ia memperbaiki ritme.

“Punggungmu bungkuk lagi!”

Arthur tersentak dan refleks meluruskan tubuhnya.

Valerine berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya tak berkedip, mengamati setiap gerakan seperti elang yang mengawasi mangsanya.

“Lagi,” perintahnya. “Dari awal. Dan kali ini jangan membuatku mengulang.”

Arthur berbalik, berjalan ke ujung ruangan, lalu kembali.

“Salah. Langkahmu terlalu cepat.”

Ia memperlambat.

“Sekarang terlalu lambat. Kau bukan sedang memimpin prosesi pemakaman.”

Ia menyesuaikan kecepatan.

“Tangan kirimu berayun terlalu banyak.”

Ia memperbaiki.

“Sekarang terlalu kaku.”

Menyesuaikan lagi.

Hal itu berlangsung selama dua jam.

Dua jam berjalan bolak-balik di ruangan yang sama, sementara Valerine mengoreksi setiap detail kecil—cara ia menapak, sudut bahu, posisi kepala, bahkan ritme napasnya.

“Jangan bernapas lewat mulut. Itu terlihat terdesak. Tarik napas lewat hidung.”

“Saat berhenti, jangan langsung diam. Ada jeda kecil untuk menyesuaikan postur—mungkin perbedaannya sangat kecil, tapi itu yang membedakan rakyat biasa dan bangsawan.”

Arthur merasa seperti menjalani kamp pelatihan militer yang dipimpin instruktur perfeksionis.

Dan yang paling menyebalkan?

Valerine jelas menikmati ini.

Di balik wajah dingin dan sikap tegasnya, Arthur bisa melihatnya—di sudut matanya itu, ada lengkungan tipis tanda adanya kepuasan.

Bisa dibilang sekarang Valerine sedang menyiksanya.

Dan Valerine benar benar terlihat sangat menikmatinya.

Setelah koreksi kesekian kalinya tentang posisi bahu, Arthur akhirnya berhenti. Ia menatap Valerine dengan mata menyipit.

“Kau yakin ini benar-benar pelatihan?” tanyanya penuh curiga. “Kenapa aku merasa kau justru bersenang-senang melihatku menderita?”

Valerine membalas tatapannya dengan ekspresi polos yang terlalu dibuat-buat untuk bisa dipercaya.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud,” katanya datar. “Aku hanya memastikan kau tidak mempermalukan dirimu—dan aku—di depan seluruh tamu kekaisaran nanti.”

“Uh-huh.”

“Ini murni profesional.”

“Tentu saja.”

“Aku tidak mendapatkan kepuasan apa pun dari melihatmu kesulitan.”

Namun ketika ia mengatakan itu, sudut bibirnya terangkat sedikit..

Arthur menatapnya lama.

Lalu ia tertawa—tawa yang tulus yang dipenuhi ironi.

“Kau sedang membalas dendam untuk tiga tahun itu, bukan?”

Valerine tidak langsung menjawab. Ia hanya membalas tatapan itu dengan wajah sepenuhnya datar.

“Itu tuduhan yang mengarah pada fitnah,” katanya tenang.

Jawaban itu justru menjadi konfirmasi paling jelas.

Senyum Arthur makin melebar.

“Baiklah,” ujarnya, meluruskan postur tubuhnya. “Lanjutkan, Duchess-ku yang kejam. Siksa aku sebanyak yang kau mau. Aku memang pantas mendapatkannya.”

Mata Valerine sedikit melebar—terkejut oleh pengakuan itu.

Namun hanya sesaat.

Ia segera menata kembali ekspresinya, kembali dingin dan tegas.

“Bagus jika kau menyadarinya,” ucapnya kering. “Sekarang, lima puluh putaran mengelilingi ruangan. Pertahankan postur sempurna. Jika punggungmu bungkuk sekali saja, kita mulai dari awal.”

“Lima puluh?!”

“Kau ingin kujadikan seratus?”

“…Tidak, Ma’am.”

“Bagus. Mulai.”

Arthur mulai berlari.

Valerine tetap berdiri di tengah ruangan, tangan terlipat, matanya mengikuti setiap gerakan Arthur.

“Punggung!”

“Bahu!”

“Langkahmu terlalu berat—kau bukan gajah!”

“Napasmu tidak terkontrol—aku bisa mendengarmu terengah dari sini!”

Di dalam kepalanya, Arthur bergumam kesal.

Wanita ini benar-benar kejam.

Namun anehnya… Arthur sama sekali tidak merasa marah. Karena dia tau di balik ketegasan dan kritik tanpa henti dari Valerine,

Arthur bisa merasakan sesuatu yang lain, Kepedulian.

Setiap koreksi—sekecil apa pun—ditujukan agar Arthur terlihat sempurna di hadapan Imperial Court.

Setiap kritik adalah upaya memastikan ia tidak melakukan satu kesalahan pun yang bisa dimanfaatkan musuh.

Valerine bukan menyiksanya demi hiburan semata.

Ia sedang mempersiapkannya untuk perang.

Caranya memang brutal. Tanpa ampun. Tidak peduli Arthur kelelahan.

Namun itu karena ia memahami taruhannya.

Jika Arthur tampak lemah, mereka berdua akan jatuh.

Dan karena itu, ia tidak akan menoleransi apa pun yang kurang dari kesempurnaan.

Memasuki putaran kedua puluh lima, kaki Arthur mulai gemetar. Napasnya tersengal. Pandangannya sedikit kabur.

“Jangan berhenti!” suara Valerine menggema tajam. “Gunakan mana. Salurkan lebih banyak. Kau terhubung denganku sekarang—gunakan itu untuk menstabilkan tubuhmu!”

Arthur memaksa diri untuk fokus pada koneksi tak kasatmata di antara mereka.

Ia menarik lebih banyak mana kali ini.

Lonjakan energi mengalir deras melalui tubuhnya, menyuntikkan kekuatan baru ke otot-otot yang hampir menyerah. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih kokoh.

Ia terus berlari.

Putaran tiga puluh.

Empat puluh.

Lima puluh.

Saat akhirnya berhenti, Arthur membungkuk, tangan bertumpu di lutut, terengah-engah mencari udara. Namun punggungnya tetap tegak—tidak lagi bungkuk seperti sebelumnya.

Valerine berjalan mendekat. Ekspresinya sulit dibaca.

“Bagus,” katanya pelan. “Kau mulai belajar menggunakan mana dengan lebih efisien. Itu akan penting untuk pertarungan nanti.”

Ia mengulurkan tangan, menawarkan bantuan untuk membantunya berdiri sepenuhnya tegak.

Arthur menatap tangan itu sesaat, lalu meraihnya.

Genggaman Valerine kuat dan stabil ketika ia menariknya hingga berdiri lurus kembali.

Mereka berdiri saling berhadapan, tangan masih saling menggenggam.

Napas Arthur perlahan kembali teratur.

“Kita lanjut dengan sword stance,” kata Valerine tegas. “Kau harus bisa memegang pedang tanpa gemetar, mengayun dengan kekuatan penuh meski tubuhmu lemah, dan membuatnya terlihat tanpa usaha.”

Arthur mengerang pelan. “Berapa lama lagi kita latihan hari ini?”

Valerine melirik jam matahari di dinding. “Masih ada tujuh jam sebelum makan malam.”

“Tujuh jam?!”

“Kau punya masalah dengan itu?”

Arthur menatap mata perak yang sama sekali tak memberi ruang tawar-menawar. Ia menghela napas panjang.

“Tidak, Ma’am.”

“Bagus.”

Valerine menoleh ke arah pintu. “Sebastian, ambilkan pedang Archduke.”

Arthur langsung melotot. Ia belum sempat mencegah ketika Sebastian menjawab dari luar, “Baik, Yang Mulia,” lalu bergegas pergi.

Valerine kembali menatap Arthur. “Kenapa kau melotot seperti itu?”

Arthur mendekat, menurunkan suara. “Valerine… itu bukan ide bagus. Kau tahu seberapa berat pedangku.”

Ia menunjuk deretan senjata latihan di dinding. “Kita pakai yang itu saja bagaimana?”

Valerine mengerutkan kening tipis. “Kalau begitu, mungkin kau juga harus memakai zirah perangmu.”

Arthur langsung menggeleng cepat. “Baiklah, baiklah… pakai pedangku saja.”

Arthur yakin zirah perangnya 'Arthur lama' pasti beratnya jauh lebih tidak masuk akal.

Tak lama kemudian Sebastian kembali dan menyerahkan pedang itu pada Valerine. Tanpa ragu, ia melemparkannya ke arah Arthur.

Arthur refleks menangkapnya dengan cukup stabil—berkat dorongan mana. Tanpa itu, ia mungkin sudah terjungkal.

“Stance dasar,” perintah Valerine, mengambil posisi dengan pedang kayunya. “Lebarkan kakimu selebar bahu. Lutut sedikit menekuk. Pedang di depan—tidak, lebih tinggi—ya, seperti itu.”

Latihan pun berlanjut.

Jam demi jam berlalu.

Setiap gerakan dikoreksi.

Jika ada kesalahan sekecil apapun akan ditegur. Arthur benar benar di kritik habis habisan oleh istrinya.

“Terlalu lambat!”

“Ayunanmu tidak punya tenaga—kau sedang memotong roti atau bertarung?!”

“Gerak kakimu berantakan—kau bisa tersandung pedangmu sendiri!”

“Lagi!”

Rasa hormat Arthur pada Valerine tumbuh setiap jamnya.

Ia bukan sekadar penyihir kuat.

Ia seorang pejuang dengan disiplin baja—dan ia menuntut standar yang sama darinya.

Ketika matahari mulai tenggelam, Arthur akhirnya diizinkan berhenti.

Ia terjatuh ke lantai, seluruh tubuhnya memprotes dalam rasa nyeri meski ada dorongan mana yang menopangnya.

Valerine duduk dengan postur sempurna di bangku terdekat, minum air dengan gerakan elegan, seolah dia tidak baru saja menyiksa suaminya selama lebih dari 7 jam.

“Besok,” katanya tanpa menoleh pada Arthur yang tergeletak seperti korban perang, “kita lanjut dengan latihan daya tahan. Kau harus mampu bertarung setidaknya satu jam tanpa tumbang.”

“…Bunuh aku sekarang saja,” erang Arthur ke arah lantai.

“Jangan dramatis. Kau bisa hari ini, begitu pula besok.”

“Aku tidak yakin tentang itu.”

Valerine akhirnya meliriknya. Ekspresinya sedikit melunak.

“Kau melakukannya dengan baik hari ini, sungguh,” ucapnya pelan. “Lebih baik dari yang kuperkirakan.”

Arthur mengangkat kepala dengan susah payah, menatapnya kaget.

Itu… pujian?

“Jangan biarkan itu membuatmu besar kepala,” tambahnya cepat, kembali pada nada tegasnya. “Kau masih jauh dari siap. Tapi… ada perkembangan.”

Ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Setelah istirahat sebentar segera mandi, makan, lalu lanjut istirahat. Besok kita mulai pukul lima pagi.”

“Lima pagi?!”

“Kau ingin kuganti jadi jam empat?”

“…Lima pagi sudah sempurna.”

Sudut bibir Valerine hampir terangkat.

Kemudian ia melepaskan ikatan sementara di antara mereka dan keluar, meninggalkan Arthur sendirian di ruang latihan.

Arthur tetap terbaring, menatap langit-langit tinggi. Seluruh tubuhnya nyeri. Lelahnya terasa sampai ke tulang.

Namun di dadanya ada sesuatu yang hangat.

Dia tau bahwa balik ketegasan, kritik tanpa ampun, dan kesan menikmati penderitaannya—Valerine itu peduli.

Ia tak akan mendorongnya sejauh ini jika tidak ingin ia berhasil.

Senyum kecil muncul di wajah Arthur.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lagi. Valerine kembali untuk mengambil buku yang tadi ia tinggalkan.

“Valerine,” panggil Arthur.

“Hm?” sahutnya tanpa menoleh.

“Tolong bantu aku berdiri.”

Valerine memutar mata. “Apa susahnya bangun sendiri…”

Namun ia tetap menghampiri dan membantu Arthur berdiri. Begitu sudah tegak, Arthur tiba-tiba memeluknya erat.

Valerine terkejut. “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!”

Ia mendorong dada Arthur, tetapi terkejut mendapati tubuhnya tak bergeser sedikit pun.

“Antar aku ke kamarku…” gumamnya lemah. “Kasihanilah suamimu ini. Aku benar-benar kehabisan tenaga.”

Valerine mendelik kesal lalu mencubit pinggangnya. Arthur meringis.

“Akan lebih baik jika kau menggunakan sisa tenagamu untuk berjalan sendiri daripada memelukku seperti ini.”

Meski begitu, ia tidak benar-benar melepaskannya.

Dengan desahan tipis penuh kejengkelan—Valerine membantu Arthur berjalan keluar dari ruang latihan menuju kamarnya.

...***...

1
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Satu banget nih Thor?/Grievance/
blueberry
semangat thor up nya
Fel N: makasih kak 🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Suka banget sama ceritanya, semangat!!/Smile/
Fel N: makasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Lanjut Kak Othor~!💪💪
Fel N: siap🥰🥰🥰☺️
total 1 replies
Jack Strom
Mantap... 😁
anak panda
🔥🔥🔥
Jack Strom
Keren... 😁
anak panda
gasss up 2-3 bab🔥🔥🔥
🤭🤭
Fel N: Semoga bisa yah kak🥰
total 1 replies
anak panda
lanjutt
Jack Strom
Wow... Keren... 😁😁😛😛😛
Jack Strom
Bikin Penasaran... 😁😛😛😛
Fel N: makacih 🥰
total 1 replies
Jack Strom
Mantap!!! 😁😛😛😛
Jack Strom
Eh... Tubuh Arturian itu biologis apa cyborg kah... 🤔🤔🤔...😛😛😛😛
Fel N: biologis kak😭. Nanti bakal ada penjelasan tentang world building nya. jadi bersabarlah kak Jack .🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!