Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penjaga Urat Nadi
Malam itu, Desa Sukamaju tidak benar-benar tidur. Suara gemericik air yang mengalir melalui pipa-pipa HDPE hitam di sepanjang pinggir jalan desa terdengar seperti detak jantung yang baru kembali berdenyut. Namun, di balik kegembiraan warga, Rian merasakan kegelapan yang lebih pekat sedang mengintai dari arah lereng utara.
Di dalam Kedai Harapan yang hanya diterangi lampu minyak—sengaja dipadamkan agar tidak menarik perhatian—Rian sedang membagikan sisa-sisa kopi pahit kepada Jon dan lima pemuda desa lainnya. Mereka semua memegang senter besar dan sebilah kayu panjang.
"Dengar, mereka nggak akan tinggal diam lihat kita punya air sendiri," bisik Rian, suaranya berat dan penuh penekanan. "Erlangga itu tipe orang yang kalau nggak bisa memiliki, dia bakal menghancurkan. Pipa kita adalah target utama mereka malam ini."
Gia keluar dari dapur dengan wajah cemas, membawa termos berisi air panas tambahan. "Rian, apa nggak sebaiknya kita lapor polisi saja? Kalau mereka benar-benar datang merusak, itu kan kriminal."
Rian menggeleng pelan, ia menyesap kopinya yang sudah dingin. "Polisi butuh bukti sesudah kejadian, Gia. Kalau pipanya sudah dipotong-potong di tengah hutan lindung yang gelap itu, butuh waktu berhari-hari buat benerinnya. Desa kita bakal kering lagi sebelum laporan itu diproses. Kita harus cegah mereka sebelum menyentuh pipanya."
Tepat tengah malam, badai kecil mulai turun. Rintik hujan yang rapat membantu menyamarkan suara langkah kaki. Rian membagi tim menjadi dua. Jon dan dua pemuda menjaga di titik masuk pipa ke desa, sementara Rian dan dua lainnya—termasuk Gia yang bersikeras ikut karena ia paling hafal jalur tikus di hutan itu—mendaki menuju Lembah Keramat.
Mereka bergerak dalam diam. Hanya suara napas yang memburu dan gesekan daun basah yang terdengar. Gia memegang lengan jaket Rian erat-erat. Medan menuju Mata Air Buta sangat licin, apalagi dalam kondisi hujan begini.
Tiba-tiba, Rian berhenti mendadak. Ia mematikan senternya dan memberi isyarat agar semua orang merunduk di balik rimbunnya pohon pakis raksasa.
"Dengar itu," bisik Rian.
Di kejauhan, di atas jalur pipa yang melintasi jurang kecil, terlihat tiga atau empat cahaya lampu senter yang bergerak cepat. Suara denting logam yang beradu dengan batu terdengar sayup-sayup. Itu adalah suara gergaji mesin portabel dan linggis.
"Brengsek, mereka benar-benar datang," desis Rian.
Para pelaku itu tampak mengenakan jas hujan hitam tertutup, bergerak dengan taktis. Mereka bukan warga biasa, melainkan orang-orang bayaran Erlangga yang sudah terbiasa melakukan kerja kotor. Salah satu dari mereka mulai mendekati sambungan pipa utama, mengangkat gergaji mesinnya tinggi-tinggi.
"SEKARANG!" teriak Rian.
Rian melemparkan sebuah petasan bola yang cukup besar ke arah mereka—bukan untuk melukai, tapi untuk memberikan efek kejut dan cahaya terang. DAR! DAR! DAR!
Suara ledakan itu menggema di tebing lembah, membuat para penyabotase tersentak kaget. Rian dan kedua pemuda desa langsung menghambur keluar dari persembunyian, meneriakkan yel-yel desa seolah-olah ada pasukan besar di belakang mereka.
"Siapa kalian?! Pergi dari sini!" teriak Jon yang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan, rupanya ia sudah mengantisipasi jalur pelarian mereka.
Perkelahian tak terelakkan di atas jalur setapak yang sempit dan licin. Rian, meski bahunya masih terasa senut-senut, menunjukkan kelasnya sebagai mantan atlet bela diri saat kuliah dulu. Ia berhasil menjatuhkan satu pria yang memegang linggis dengan satu tendangan menyapu yang presisi.
Gia tidak tinggal diam. Ia menggunakan botol berisi cairan cabai yang selalu ia bawa, menyemprotkannya tepat ke wajah salah satu pelaku yang mencoba menyerang Jon dari belakang.
"Aarggh! Mataku!" teriak pria itu sambil terjatuh ke semak-semak berduri.
Dalam kekacauan itu, salah satu dari penyabotase yang tampaknya adalah pemimpin mereka, mengeluarkan sebuah alat pemicu ledakan kecil. "Kalau kami nggak bisa punya airnya, nggak ada yang boleh punya!"
Ia mencoba melemparkan alat itu ke arah tangki penampungan sementara di mulut gua. Namun, sebelum alat itu terlepas dari tangannya, Rian melompat dengan nekat, menerjang pria itu hingga keduanya berguling di tanah berlumpur, hanya beberapa meter dari bibir jurang.
"Rian!" jerit Gia.
Rian bergulat dengan pria itu di atas lumpur yang licin. Pria itu jauh lebih besar, tapi Rian memiliki kemarahan yang memberinya tenaga tambahan. Ia berhasil merebut alat itu dan melemparkannya jauh ke dasar jurang sebelum meledak dengan dentuman yang menggetarkan tanah.
BOOM!
Kilatan api terlihat dari dasar jurang, menerangi wajah Rian yang penuh lumpur dan darah dari luka di pelipisnya. Pria berbaju hitam itu, melihat rencananya gagal total, segera memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk mundur. Mereka melarikan diri ke arah lereng utara, menghilang di balik kegelapan hutan pinus.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara napas terengah-engah dan hujan yang mulai mereda. Rian duduk di tanah, mencoba mengatur napasnya. Bahunya kembali berdarah, rembesan merah terlihat jelas di jaket flanelnya yang basah kuyup.
Gia segera menghampirinya, merobek bagian bawah bajunya sendiri untuk membalut luka Rian. "Kamu gila, Rian! Hampir saja kamu ikut jatuh ke jurang!"
Rian tersenyum lemah, menatap Gia dengan mata yang lelah namun penuh kemenangan. "Pipa kita aman, Neng. Airnya... airnya masih mengalir."
Jon dan para pemuda desa mendekat, mereka tampak emosional melihat perjuangan Rian. "Mas Rian, makasih. Kalau bukan karena Mas, besok pagi desa kita pasti geger karena air mati lagi."
"Bukan karena aku, Jon. Karena kita semua," sahut Rian. "Tapi kalian lihat tadi? Mereka bawa bahan peledak. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis. Mahendra dan Erlangga sudah benar-benar kehilangan akal sehat."
Keesokan paginya, warga desa menemukan beberapa barang bukti yang tertinggal di lokasi: sebuah topi dengan logo perusahaan Mahendra dan gergaji mesin yang terdaftar atas nama salah satu subkontraktor vila.
Rian dan Gia tidak membuang waktu. Dengan didampingi Pak Kades, mereka membawa bukti-bukti itu langsung ke Polres Kabupaten, kali ini dengan pengawalan dari puluhan warga desa yang berkonvoi menggunakan motor.
Erlangga yang sedang menikmati sarapan di berandanya terkejut saat melihat konvoi warga melintas di depan vilanya menuju arah kota. Ia lebih terkejut lagi saat dua jam kemudian, sebuah mobil patroli polisi datang ke lokasinya—bukan untuk melindunginya, melainkan untuk membawanya guna dimintai keterangan terkait upaya sabotase sumber daya air vital.
"Ini ada kesalahpahaman! Saya tidak tahu apa-apa soal itu!" teriak Erlangga saat digiring masuk ke mobil polisi.
Dari kejauhan, Rian yang berdiri di pinggir jalan bersama Gia, hanya melambaikan tangan dengan santai. Di tangan Rian, ada secangkir kopi panas dari kedai yang ia bawa menggunakan termos.
"Kopi hari ini rasanya lebih nikmat ya, Gia?" tanya Rian.
Gia menyandarkan kepalanya di bahu Rian. "Iya. Karena airnya hasil perjuangan semalam."
Namun, di balik jeruji besi di Jakarta, Tuan Mahendra Senior baru saja menerima kabar tentang kegagalan Erlangga. Ia meremas laporan itu hingga hancur.
"Kirim tim 'A'. Jangan sentuh airnya lagi. Hancurkan manusianya. Mulai dari wanita itu," perintah Mahendra dingin.
Gia dan Rian mungkin berhasil menjaga urat nadi desa, tapi kini, nyawa mereka sendiri yang menjadi target utama. Sang Naga Tua tidak lagi mengincar harta mereka, melainkan nyawa orang-orang yang paling dicintai oleh Rian.