Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MALAM DI MANA SEMUA MATA MENGARAH PADAKU
Mansion Moretti sore itu berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Penata rias, perancang busana, dan asisten pribadi hilir mudik di kamar luas Elara. Julian telah memutuskan: malam ini adalah debut resmi Elara sebagai "Nyonya Moretti" di pesta tahunan The Obsidian Circle—sebuah perkumpulan eksklusif yang berisi orang-orang paling berkuasa di Eropa.
Elara berdiri di depan cermin besar, menatap sosok asing yang terpantul di sana. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah wine yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Potongannya elegan namun tegas, menunjukkan otoritas yang dipaksakan oleh nama suaminya. Di lehernya melingkar kalung berlian yang beratnya terasa seperti beban moral.
Namun, fokus Elara bukan pada gaunnya.
Matanya terus melirik ponselnya yang tersembunyi di dalam tas kecil. Pesan misterius semalam masih menghantui pikirannya: "Cincin itu adalah cara mereka melacak mangsa."
Pintu kamar terbuka. Julian masuk, sudah mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat seperti penguasa kegelapan yang sesungguhnya. Ia berhenti tepat di belakang Elara, menatap pantulan istrinya melalui cermin.
"Kau terlihat sempurna," ucap Julian rendah. Tangannya bergerak menyentuh bahu Elara yang terbuka, jemarinya yang hangat kontras dengan kulit Elara yang dingin karena gugup.
"Kenapa harus malam ini, Julian?" tanya Elara, suaranya sedikit bergetar. "Aku belum siap menghadapi orang-orangmu."
"Dunia harus tahu siapa yang memilikimu, Elara. Itu adalah cara terbaik untuk memastikan tidak ada lagi 'Leo-Leo' lain yang berani mendekat," jawab Julian dingin. Ia lalu meraih tangan kanan Elara dan memastikan cincin perak itu berkilau di bawah lampu.
"Tetaplah di sampingku. Jangan lepaskan genggamanku, apa pun yang terjadi."
Hotel Savoy London tampak seperti benteng cahaya di tengah kegelapan malam. Saat mobil Bentley milik Julian berhenti di depan lobi, puluhan kamera paparazzi langsung menyala. Julian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya dengan posesif kepada Elara.
Begitu mereka memasuki aula utama yang megah, keheningan singkat terjadi. Semua mata—dari pengusaha minyak hingga politisi kelas atas—tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas tumpahan bensin.
"Itukah gadis yang dinikahinya secara rahasia?.
"Siapa dia? Dia terlihat terlalu polos untuk keluarga Moretti."
Elara meremas tangan Julian. Pria itu merespons dengan mempererat genggamannya, seolah memberi kekuatan yang tidak ia minta. Mereka berjalan melewati kerumunan, berhenti sejenak untuk menyapa beberapa kolega bisnis Julian yang memiliki tatapan mata setajam silet.
"Julian, aku butuh udara segar. Sebentar saja," bisik Elara saat ia merasa kepalanya mulai pening karena aroma parfum mahal dan basa-basi yang palsu.
Julian menatapnya ragu sejenak, lalu melirik Marcus yang berdiri tak jauh dari sana. "Lima menit. Marcus akan menunggumu di dekat pintu balkon."
\*\*\*
Elara segera melangkah menuju balkon besar yang menghadap Sungai Thames. Angin malam yang dingin menyapu wajahnya, memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Ia mengeluarkan ponselnya secara sembunyi-sembunyi, berniat membalas pesan misterius semalam.
Namun, sebelum ia sempat mengetik, sebuah suara berat terdengar dari kegelapan sudut balkon.
"Cahaya merah pada cincin itu... artinya dia sedang mendengarkanmu sekarang."
Elara tersentak dan hampir menjatuhkan ponselnya. Seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu perak keluar dari bayang-bayang. Wajahnya tampan, namun ada bekas luka tipis di alisnya yang memberinya kesan berbahaya.
"Siapa kau?" tanya Elara waspada, langkahnya mundur hingga menabrak pagar balkon.
"Namaku tidak penting. Tapi aku adalah alasan kenapa kau masih hidup sampai detik ini," ucap pria itu. Ia menunjuk ke arah cincin di jari Elara. "Tekan ukiran di sisi kiri, dan frekuensi pelacaknya akan mati selama enam puluh detik. Gunakan waktu itu jika kau ingin bicara tanpa dia tahu."
Pria itu mendekat, matanya menatap tajam ke arah pintu di mana Julian mungkin muncul kapan saja. "Julian bukan melindungimu dari musuhnya, Elara. Dia menjadikanmu umpan untuk memancing keluar orang yang memegang kunci brankas ayahmu. Kau adalah 'Silk' (sutra) yang digunakan untuk membungkus 'Steel' (baja) miliknya."
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka. Julian berdiri di sana, auranya seketika berubah menjadi sangat gelap saat melihat pria lain di dekat Elara.
"Elara, masuk," perintah Julian, suaranya mengandung ancaman yang tidak bisa dibantah.
Pria asing itu hanya tersenyum tipis, membungkuk sopan ke arah Elara seolah tidak takut sama sekali pada kemarahan Julian. "Selamat malam, Nyonya Moretti. Sampai jumpa di dansa berikutnya."
Saat pria itu pergi melewati Julian, kedua pria itu saling bertukar tatapan yang seolah bisa meledakkan gedung tersebut. Julian segera menghampiri Elara, mencengkeram lengannya—kali ini lebih kuat dari biasanya.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Julian, matanya berkilat penuh amarah dan kecurigaan.
Elara menatap Julian, lalu menatap cincin di jarinya. Untuk pertama kalinya, rasa aman yang ia rasakan pada Julian retak sepenuhnya.
"Dia hanya bilang... gaunku sangat indah," bohong Elara, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Julian menatap Elara lama, mencari kebohongan di matanya. "Jangan pernah bicara dengan pria itu lagi. Dia adalah orang terakhir yang ingin kau temui di dunia ini."
Saat Julian menariknya kembali ke dalam pesta, Elara diam-diam menekan ukiran di sisi kiri cincinnya. Ia merasakan getaran kecil yang hampir tak terasa. Enam puluh detik. Ia hanya punya waktu satu menit untuk memutuskan: tetap menjadi mangsa yang dilindungi, atau mulai mencari tahu kebenaran di balik pernikahan berdarah ini.
Dan di tengah alunan musik waltz yang mewah, Elara menyadari bahwa musuh yang sebenarnya mungkin bukan orang-orang yang menatapnya dengan benci, melainkan pria yang memegang tangannya dengan begitu erat.