NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membeli Masa Depan dengan Nyawa

Malam itu, rumah petak mereka terasa sepuluh kali lebih luas, namun seribu kali lebih dingin. Tidak ada lagi suara batuk kecil dari arah dapur, tidak ada lagi aroma minyak kayu putih yang biasanya menguar dari sarung Hilman. Yang ada hanyalah sunyi yang menusuk, ditemani oleh rintik hujan yang menghantam atap seng dengan irama yang menyayat hati.

Andini duduk bersimpuh di atas lantai semen yang lembap. Di hadapannya, tas plastik berisi buku tabungan satu miliar rupiah itu tergeletak diam. Angka-angka di dalamnya, yang dulu begitu ia puja dan ia impikan, kini tampak seperti noda darah yang menuntut pertanggungjawaban.

Syifa meringkuk di pangkuannya. Gadis kecil itu sudah lelah menangis hingga matanya bengkak dan suaranya habis. Ia tertidur dengan napas yang tersengal-sengal, jemari kecilnya masih menggenggam erat kerah baju Andini, seolah takut jika ia melepaskannya, ibunya pun akan ikut menghilang seperti ayahnya.

Andini mengusap lembut rambut Syifa. Di dalam keremangan cahaya lilin—karena sekring listrik yang rusak belum sempat diperbaiki—tatapan Andini jatuh pada sebuah stetoskop mainan plastik yang sudah patah di sudut ruangan. Benda itu adalah hadiah ulang tahun Syifa yang ke-lima. Hilman membelinya dari pasar malam, dan ia ingat betul betapa bangganya Hilman saat memberikan mainan murah itu.

Mimpi yang Dititipkan pada Langit-Langit

Andini memejamkan mata, dan seketika ingatan tentang Hilman membanjirinya. Ia teringat suatu malam, sekitar setahun yang lalu. Saat itu, mereka baru saja makan malam dengan menu yang sangat sederhana: sebungkus mi instan yang dibagi tiga.

Hilman duduk di lantai, bersandar pada tembok yang berjamur, sambil memperhatikan Syifa yang sedang asyik "memeriksa" jantung boneka beruangnya yang sudah bolong dengan stetoskop mainan itu.

"Dek," suara Hilman saat itu terdengar sangat tenang, meski wajahnya pucat karena baru pulang lembur dua belas jam. "Kamu lihat Syifa? Cara dia pegang mainan itu... dia cocok jadi dokter, ya?"

Andini, yang saat itu sedang kesal karena ingin membeli tas baru namun uangnya tidak ada, hanya menjawab dengan ketus. "Dokter? Jangan ngimpi, Mas. Sekolah dokter itu butuh ratusan juta. Kita? Buat bayar kontrakan aja musti nunggu ditagih Pak RT sampai tiga kali. Jangan kasih harapan palsu ke anak."

Hilman tidak marah. Ia justru tersenyum—senyum paling tulus yang pernah Andini lihat, namun kini menjadi senyum yang paling menyakitkan untuk diingat.

"Mas tahu, Dek. Mas ini cuma buruh pabrik yang ijazahnya aja entah ke mana. Tapi Mas punya mimpi. Mas mau Syifa punya tangan yang menyembuhkan. Mas mau dia pakai jas putih yang bersih. Mas mau dia dihormati orang, nggak dipandang sebelah mata cuma karena ayahnya bau oli. Kalau dia jadi dokter, dia bisa bantu orang miskin seperti kita tanpa harus minta bayaran. Mas bakal usahakan itu, Dek. Biar pun Mas harus tukar nyawa, Mas mau Syifa jadi dokter."

Kini, Andini meraung dalam diam. Air matanya jatuh mengenai pipi Syifa. "Kamu benar-benar menukar nyawamu, Mas..." bisiknya dengan suara tercekat. "Kamu benar-benar melakukannya."

Buku Tabungan Berlumuran Peluh

Andini meraih buku tabungan itu. Ia membukanya lagi, membaca baris demi baris transaksi yang tertera di sana. Sebagian besar adalah setoran tunai dengan jumlah yang tidak lazim untuk seorang buruh pabrik.

Ia teringat betapa sering ia menggeledah dompet Hilman dan hanya menemukan uang sepuluh ribu rupiah. Ia sering memaki Hilman, menyebutnya suami pelit yang menyembunyikan uang untuk kesenangan sendiri. Ia tidak pernah tahu bahwa uang-uang itu—uang makan siang Hilman yang tidak pernah dimakan, uang rokok yang tidak pernah dibeli, uang lembur yang diperas hingga subuh—semuanya mengalir ke buku tabungan ini.

"Mas... apa kamu bahagia di sana?" tanya Andini pada kegelapan. "Apa kamu tersenyum melihat uang ini sudah di tanganku? Tapi Mas... aku nggak bahagia. Uang ini rasanya panas. Uang ini rasanya seperti memegang jantungmu yang sudah berhenti berdetak."

Andini membayangkan Hilman berada di sampingnya sekarang. Ia membayangkan pria itu mengusap bahunya dan berkata, "Jangan nangis, Dek. Pakai uang itu buat Syifa. Beli buku-buku yang tebal buat dia belajar. Beli jas putih yang paling bagus buat dia."

Rasa bersalah itu kian mencekik. Andini teringat bagaimana ia sering membuang makanan buatan Hilman hanya karena ia ingin makan di restoran mewah bersama Reno. Ia teringat bagaimana ia menghina sepatu Hilman yang sudah bolong bawahnya, tanpa tahu bahwa Hilman sengaja tidak membeli sepatu baru agar uangnya bisa masuk ke asuransi "Dokter Syifa" ini.

"Aku janji, Mas," Andini bersumpah di depan lilin yang mulai meredup. "Aku nggak akan pakai uang ini buat satu pun keinginanku. Aku akan simpan setiap rupiahnya buat sekolah Syifa. Aku akan pastikan dia jadi dokter paling hebat, supaya dia bisa banggakan ayahnya yang luar biasa ini. Aku akan buat kamu bahagia di sana, Mas. Aku akan tebus semua jahatnya aku dulu..."

Kehangatan yang Menyakitkan

Tiba-tiba, Syifa menggeliat dalam tidurnya. Ia mengigau pelan, "Ayah... air hangatnya sudah siap?"

Andini tersentak. Pertanyaan itu seperti sembilu yang menyayat lukanya yang masih basah. Ia teringat ritual Hilman setiap sore: menyiapkan air hangat di ember plastik untuk Syifa dan Andini. Hilman akan merebus air di atas kompor minyak, uapnya memenuhi dapur yang sempit, lalu ia akan memanggil mereka dengan suara riang.

"Air hangat siap! Tuan putri Syifa silakan mandi!"

Sekarang, siapa yang akan menyiapkan air hangat itu? Andini berdiri dengan lutut gemetar. Ia berjalan menuju dapur yang gelap. Ia ingin mencoba melakukan apa yang dilakukan Hilman. Ia ingin menyiapkan air hangat untuk Syifa, berharap dengan begitu ia bisa merasakan kehadiran suaminya.

Andini menyalakan kompor. Suara desis gas dan nyala api biru itu mengingatkannya pada punggung Hilman yang selalu basah oleh keringat saat memasak. Ia berdiri di sana, menunggu air mendidih, sambil terus mendekap buku tabungan itu.

"Mas... aku sedang masak air hangat buat Syifa," ucap Andini lirih. "Ternyata susah ya, Mas. Uapnya bikin mata perih. Tapi kenapa dulu kamu selalu melakukannya sambil senyum?"

Ia menyadari, Hilman tidak pernah merasa berat karena ia melakukannya dengan cinta. Sementara dirinya, ia selalu menerima semua itu sebagai kewajiban yang harus dipenuhi Hilman. Ia telah menjadi ratu di atas penderitaan suaminya.

Ketukan yang Mengubah Segalanya

Air di dalam panci mulai mendidih, mengeluarkan uap yang memenuhi dapur.

Apa yang akan di lakukan Andini selanjutnya?

1
Rahmawati
hebat sekali Hilman merancang masa depan syifa
Tinta Emas: itulah kehebatan seorang Ayah untuk anaknya
total 1 replies
Rahmawati
duh, ada. misteri apa lagi nih
Tinta Emas: kayanya lebih seru nih
total 1 replies
Rahmawati
semangat belajarnya syifa agar ayahmu bangga di surga sana
Tinta Emas: semoga sukses syifa
total 1 replies
Rahmawati
kl inget ttg Hilman aku ikutan sedih😭
Rahmawati: aamiin
total 2 replies
Rahmawati
syifa bakal jd pewaris harta keluarga hilman
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
Rahmawati
kok jadi deg deg an ya, lanjutttt
Tinta Emas: waduh
total 1 replies
Rahmawati
bener dah yang dari Hilman utk sekolah syfa, kl utk makan kan Andini bisa kerja
Tinta Emas: kita lihat kedepan nya kak
total 1 replies
Amell Phone
cerita sangat bagus aku suka lebih semangat lagi dong authornya dlm menulis.masak iya setiap hari cuma muat 1bb itupun pendek pula.usahain dong minimal 3 bab/hari agar lebih seru
Tinta Emas: untuk bab ini satu bab ka, untuk judul yang lainnya saya usahakan, terima kasih ka
total 1 replies
falea sezi
sumpah istri durhaka
Tinta Emas: seperti nya demikian
total 1 replies
Rahmawati
ayo Andini berpikir, km harus bisa mengelola uang 1 milyar itu utk hidup dengan syifa
Tinta Emas: bisa gak ya dia?
total 1 replies
Rahmawati
ooo gitu toh awal mereka bertemu dan menikah.
Tinta Emas: sudah terjawab ka
total 1 replies
Rahmawati
selama suami masih bekerja demi keluarga maka hormatilah dia
Tinta Emas: harus itu ka
total 1 replies
Rahmawati
apa lagi yg di tinggalkanlah Hilman utk syifa
Tinta Emas: kayanya seru nih
total 1 replies
Rahmawati
bagus bgt ceritanya, bikin nyesek
Tinta Emas: santai ka
total 1 replies
Rahmawati
😭😭😭
Tinta Emas: walah...
total 1 replies
Rahmawati
kok ada istri kayak gitu, Hilman sabar bgt
Tinta Emas: mungkin ada
total 1 replies
Amell Phone
ceritanya bagus sangat menyentuh hati,jadi terbawa suasana.lanjut lagi dong semngat buat penulis biar sehari bisa nulis beberapa episode
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
Rahmawati
aduh bikin nyesek
Tinta Emas: Tahan Mbak
total 1 replies
SisAzalea
sepatutnya ini waktu tidur ,malah nangis2 aku
Tinta Emas: waduh ko gitu
total 1 replies
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Tinta Emas: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!