Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuburan palsu
Ketegangan memuncak saat dua pria yang mencintai wanita yang sama akhirnya bertemu. Kehadiran Yoga di Yogyakarta seperti badai yang siap menghancurkan dinding rahasia yang dibangun Bastian.
Yoga turun dari mobilnya dengan langkah lebar, wajahnya dingin dan penuh intimidasi saat menatap gerbang kediaman Purnomo. Tanpa menunggu diizinkan, ia melangkah masuk ke halaman luas rumah kolonial itu. Di kejauhan, di balik rimbunnya pohon kamboja, ia melihat seorang wanita dari belakang sedang mengejar seorang anak kecil yang tertawa riang.
Jantung Yoga berdegup kencang. Postur itu, cara wanita itu bergerak... sangat mirip dengan Anindya. "Anin?" bisiknya pelan, suaranya bergetar antara harapan dan kegilaan.
Namun, sebelum Yoga bisa melangkah lebih dekat atau memanggil namanya, Bastian muncul dari pintu samping dan langsung menghalangi pandangan Yoga. Bastian menyambutnya dengan senyum tenang yang terlatih.
"Dokter Yoga Aditama? Suatu kehormatan bagi saya dikunjungi oleh dokter bedah saraf terbaik di negeri ini," ucap Bastian sambil mengulurkan tangan.
Yoga menatap tangan itu dengan dingin tanpa menyambutnya. "Saya ke sini bukan untuk basa-basi. Mobil Anda ada di lokasi kebakaran istri saya."
Bastian tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Mari bicara di dalam kantor saya, Dokter. Di sini tidak nyaman karena anak saya sedang bermain."
Di dalam kantornya yang beraroma kayu jati, Bastian menuangkan minuman, mencoba mengulur waktu agar Anindya dibawa masuk ke dalam rumah oleh pelayan melalui pintu belakang.
"Benar, saya di sana," Bastian memulai narasinya dengan wajah yang dibuat penuh simpati. "Saya melihat gudang itu terbakar dan saya berhasil mengeluarkan istri Anda.
Saya membawanya ke rumah sakit terdekat di Surabaya, Dokter. Tapi... asapnya terlalu pekat. Anindya menghembuskan napas terakhirnya di tangan saya sebelum sempat mendapatkan bantuan medis lebih lanjut."
Yoga mematung. Napasnya tercekat. "Lalu... di mana jasadnya?"
"Saya panik saat itu, Dokter. Saya takut disalahkan atas kejadian itu. Saya menguburkannya secara layak di sebuah pemakaman terpencil di pinggiran Surabaya, tanpa nama, untuk menghindari masalah hukum. Saya baru saja ingin mencari cara untuk memberitahu Anda ketika Anda datang hari ini."
Bastian memberikan secarik kertas berisi alamat pemakaman. Kebohongan itu begitu rapi dan meyakinkan hingga Yoga, yang sedang dalam kondisi emosional yang rapuh, percaya sepenuhnya.
Tanpa membuang waktu, Yoga langsung terbang kembali ke Surabaya. Dipandu oleh alamat dari Bastian, ia sampai di sebuah sudut pemakaman yang sepi dan ditumbuhi rumput liar. Di sana, terdapat sebuah gundukan tanah baru dengan nisan kayu tanpa nama, kuburan palsu yang baru saja disiapkan anak buah Bastian beberapa jam yang lalu.
Brukk!
Yoga jatuh berlutut. Ia memeluk nisan kayu itu seolah-olah sedang memeluk tubuh Anindya. Isak tangis yang selama ini ia tahan kini meledak hebat di tengah kesunyian makam.
"Maafkan aku, Anin... maafkan aku..." Yoga meraung, air matanya membasahi tanah kering di bawahnya. Hatinya benar-benar hancur menjadi kepingan tak berbentuk. Ia merasa dunianya telah berakhir di bawah nisan tanpa nama itu.
Di Yogyakarta, Bastian berdiri di balkon kamarnya, memperhatikan Anindya yang sedang tertawa bersama Raka di ruang tengah melalui celah pintu. Matanya berkilat penuh obsesi. Ia telah berhasil mengubur harapan Yoga dan memastikan Anindya tetap berada di bawah kendalinya.
“Maafkan aku, Dokter Yoga. Kau punya banyak hal dalam hidupmu, karier, kekayaan, dan nama besar. Tapi untuk wanita ini... dia adalah milikku sekarang. Aku akan melakukan apa pun untuk memilikinya, meski harus menjadi iblis sekalipun,” batin Bastian.
Cintanya yang semula tulus kini telah bermutasi menjadi obsesi yang gila. Ia siap mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan Anindya di sisinya, tanpa peduli bahwa ia baru saja menghancurkan jiwa pria lain.
Sore itu, Anindya berniat mengantarkan camilan untuk Raka ke ruang kerja Bastian. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar suara Bastian yang tertawa rendah, namun terdengar sangat mengerikan.
"Dokter Yoga sudah benar-benar percaya istrinya mati. Kuburan palsu itu sangat meyakinkan," ucap Bastian pada asistennya.
"Untung saja dia tidak bertemu Anindya saat ke sini tadi. Sekarang, jalan untuk memilikinya sudah bersih. Biarkan dia menganggap istrinya jadi tanah, sementara Anindya akan selamanya di sini bersamaku."
Anindya menutup mulutnya agar jeritannya tidak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat. Tega sekali kamu, Bastian... batinnya hancur. Orang yang ia anggap dewa penolong ternyata adalah iblis yang sengaja memenjarakannya dalam kebohongan.
Tanpa membawa banyak barang, Anindya memanfaatkan kelengahan penjaga saat jam makan malam. Ia berlari sekuat tenaga menuju terminal bus Yogyakarta. Dengan hati yang berdebar dan air mata yang terus mengalir, ia berhasil naik bus menuju Surabaya.
Namun, di Yogyakarta, Bastian mengamuk saat tahu Anindya menghilang. "Cari dia! Dia pasti ke Surabaya! Tapi jika dia ingin kembali pada Yoga, aku akan pastikan dia melihat sesuatu yang membuatnya ingin mati saja!" geram Bastian. Ia segera menghubungi seorang perawat di rumah sakit Yoga yang bisa disuap.
Anindya tiba di Surabaya dengan kondisi lelah dan berantakan. Ia langsung menuju rumah sakit, tempat Yoga bekerja. Ia ingin memeluk suaminya dan mengatakan semuanya. Namun, saat ia sampai di depan pintu ruang kerja Yoga, pemandangan di depannya menghancurkan hatinya.
Bastian telah mengatur segalanya. Seorang perawat cantik sengaja berpura-pura terpeleset tepat di depan Yoga. Sebagai refleks seorang dokter, Yoga menangkap pinggang perawat itu agar tidak jatuh ke lantai yang keras. Dalam posisi yang terlihat sangat intim dari kejauhan, seolah mereka sedang berpelukan erat, Anindya berdiri mematung.
Dada Anindya terasa sesak, napasnya seolah berhenti. Baru satu bulan, Mas... apa kamu sudah melupakanku dan mencari pengganti? pikirnya pahit. Tanpa menunggu penjelasan, Anindya berbalik dan lari meninggalkan gedung rumah sakit dengan tangis yang pecah.
Anindya duduk bersimpuh di pinggir jalanan Surabaya yang ramai, menutupi wajahnya dengan tangan sambil terisak hebat. Ia merasa tidak punya tempat pulang lagi.
Di saat yang sama, Cakra yang baru saja memarkir mobil untuk menghadap Yoga, melihat sosok wanita yang sangat familiar dari kejauhan. Postur tubuh itu, rambut itu... Cakra mengerutkan dahi. "Tidak mungkin... Nyonya sudah meninggal," gumamnya.
Namun rasa penasaran mengalahkannya. Cakra mengikuti wanita itu secara diam-diam. Saat wanita itu terduduk dan menangis di pinggir jalan, Cakra memberanikan diri mendekat.
"Nyonya? Nyonya Anindya?" suara Cakra bergetar.
Anindya mendongak dengan mata sembap. Cakra hampir jatuh terduduk melihat wajah itu. "Cakra..." bisik Anindya lirih.
Cakra langsung berlutut di depannya, matanya berkaca-kaca antara takut dan bahagia. "Nyonya hidup? Ini benar Anda? Ya Tuhan, Bos Yoga hampir gila karena mengira Anda sudah mati! Kenapa Nyonya di sini? Kenapa menangis?"
Anindya menggeleng lemah. "Mas Yoga sudah punya yang lain, Cakra... dia sudah bahagia dengan perawat itu."
Penjelasan Cakra dan Harapan yang Semu
Cakra berlutut di depan Anindya, memegang bahu sang nyonya dengan sungguh-sungguh.
"Nyonya, saya mohon dengarkan saya. Bos Yoga satu bulan ini bagaikan mayat hidup. Dia tidak pernah tersenyum, bahkan jarang makan. Kejadian di dalam tadi saya yakin seratus persen hanya refleks seorang dokter menolong orang jatuh. Hati Bos Yoga hanya milik Anda, Nyonya!"
Mendengar itu, pertahanan Anindya runtuh. Harapan kembali membuncah di hatinya. Namun, karena masih merasa canggung dan sedikit ragu untuk langsung muncul di rumah sakit, Anindya mengambil keputusan.
"Cakra, tolong sampaikan pada Mas Yoga. Aku menunggunya di kafe tempat dia pertama kali melamarku. Aku akan menunggunya di sana," ucap Anindya lirih.
Cakra ingin mengantar, namun Anindya bersikeras ingin memberikan kejutan dan menenangkan diri sejenak di taksi. Ia pun menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat.
Anindya duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela dengan perasaan berdebar. Namun, setelah beberapa menit, ia menyadari jalan yang dilewati bukan menuju pusat kota, melainkan arah keluar Surabaya menuju jalan tol.
"Pak, ini salah jalan. Kafe itu ke arah sana," ujar Anindya cemas.
Sopir taksi itu tidak menjawab, ia justru menaikkan kecepatan. Anindya melihat ke arah spion tengah dan jantungnya serasa berhenti. Mata yang menatapnya dari spion itu adalah mata Bastian.
"Kita kembali ke rumah kita di Yogyakarta, Anin. Kamu tidak seharusnya pergi dariku," suara Bastian terdengar dingin dan terobsesi.
"Bastian! Berhenti! Kamu gila!" teriak Anindya. Dengan nekat, Anindya merangsek ke depan dan mencekik leher Bastian dari belakang kursi kemudi. Mobil oleng ke kanan dan ke kiri, hampir menabrak pembatas jalan tol.
Suara decitan ban memekakkan telinga saat Bastian menginjak rem secara mendadak.
Bastian berbalik dengan wajah merah padam karena amarah. "Kau hampir membunuh kita berdua, Anindya!" Tanpa belas kasihan, Bastian membekap mulut Anindya dengan sapu tangan yang sudah dibasahi obat bius dosis tinggi. Anindya sempat berontak, namun kesadarannya perlahan hilang dalam dekapan pria yang terobsesi padanya itu.
Di Surabaya, Yoga tiba di kafe dengan napas memburu dan senyum yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya. Ia membawa buket bunga lili putih kesukaan Anindya. Ia duduk di meja pojok, tempat bersejarah mereka, dengan mata yang terus menatap pintu masuk.
Satu jam berlalu... dua jam... hingga pelayan kafe mulai merapikan kursi karena waktu operasional telah habis. Anindya tidak kunjung datang.
"Maaf, Pak, kami sudah mau tutup," ucap pelayan itu sopan.
Wajah Yoga yang semula penuh harapan perlahan berubah menjadi gelap dan penuh kemarahan. Ia keluar dari kafe dan menemukan Cakra yang sedang sibuk menelepon di dekat mobil.
"Mana dia, Cakra?! Mana istriku?!" bentak Yoga sambil mencengkeram kerah baju Cakra.
"Bos... saya... saya sedang melacaknya. Perusahaan taksi bilang armada dengan nomor lambung itu tidak terdaftar. Itu taksi bodong, Bos!" suara Cakra bergetar hebat karena ketakutan.
"BRENGSEK!" Yoga memukul kap mobilnya hingga penyok. "Kenapa kau biarkan dia pergi sendirian dengan taksi?! Jika terjadi sesuatu lagi padanya, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Cakra! Cari dia! Cari ke seluruh pelosok Surabaya!"
Cakra dengan gemetar membuka tabletnya, melacak koordinat terakhir ponsel yang dipinjamkan pada Anindya sebelumnya (atau pelacakan plat nomor lewat CCTV kota).
"Bos... plat nomor palsu itu terdeteksi masuk ke gerbang tol arah Yogyakarta. Dan dari tangkapan kamera CCTV gerbang tol... pengemudinya terlihat seperti Bastian Purnomo."
Mendengar nama itu, Yoga terdiam sesaat. Matanya berkilat dengan kemarahan yang bisa membakar siapapun. "Purnomo lagi... Jadi dia belum puas membohongiku dengan kuburan palsu itu?"
Yoga masuk ke kursi kemudi, merebut kunci dari tangan Cakra. "Naik. Kita ke Yogyakarta sekarang. Kali ini, aku tidak akan bicara. Aku akan menghancurkan siapa pun yang menyentuh istriku."