NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal / Kutukan / Romansa pedesaan
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 : Kurus kering

"Inur, kamu ndak apa-apa nduk?” bu Warti memperhatikan gesture gelisah si bungsu.

Ainur mengangkat wajah, memaksakan sebuah senyum kaku. “Aku baik-baik saja, bu. Sedikit terkejut akan kabar bahagia yang datangnya bersamaan.”

Seakan mengerti kesedihan hati sang istri. Daryo merangkul bahu yang tulangnya terasa menusuk telapak tangan.

“Jangan berkecil hati, Inur. Nanti ada masanya kamu juga hamil sungguhan,” hibur Kamila.

‘Sungguhan? Kenapa kata-kata itu terdengar seperti sindiran?’ Inur mengangguk, mengucapkan terima kasih sekaligus selamat kepada ketiga wanita yang tengah mengandung.

“Ndak perlu sedih, dek. Mbak saja menunggu hampir empat tahun baru diberi keturunan,” Dayanti membesarkan hati adiknya. Dia bersuamikan seorang dosen yang mengajar di universitas kota kabupaten. Pada akhir pekan baru pulang ke desa Tugu Ireng.

“Nggeh, mbak.”

Citra juga memberikan kata-kata penyemangat. Raut wajah bersimpati. “Mungkin kehamilanmu sedikit lebih lama, agar bisa belajar dari anak-anak kami, keponakanmu. Bagaimana caranya nanti mengasuh bayi. Sehingga sewaktu memiliki sendiri terasa lebih mudah merawatnya.”

“Ainur, kamu mau ikut kami ke kota ndak? Mbak mu ingin mengabarkan langsung ke suaminya. Sekalian periksa kandungan di rumah sakit besar?” bu Warti menyela.

“Kalau masih merasa ndak enak badan, tinggal dirumah saja, nggak apa-apa,” tandas bu Mamik.

“Mas temani ya?”

Ainur menatap suaminya, ada keinginan kuat pada manik hitam itu.

“Ndak usah, mas. Kamu pergi saja, ini momen bahagia yang wajib disambut suka cita. Biar aku dirumah, kan ada para pelayan,” tolaknya halus.

“Beneran ndak apa-apa? Mas lebih suka bepergian bareng kamu. Takutnya nanti kepikiran keadaan Inur,” ucapnya dengan mimik wajah serba salah, berat meninggalkan sang istri sendirian.

Ainur menepuk lembut paha berbalut celana bahan. “Aku baik-baik saja, cuma sedikit tidak enak badan efek datang bulan. Sungguh.”

Semua merasa lega setelah diyakinkan. Bertepatan dengan itu sarapan pagi yang sudah terlambat jamnya mulai dihidangkan.

Tidak ada yang bersuara ketika makan, mereka mengunyah pelan.

Perasaan Ainur belum juga membaik, sehingga apa yang dia makan terasa hambar malah tidak sadar sudah menghabiskan seperempat nasi tiwul ditaburi parutan kelapa.

Aryo menuangkan teh hangat ke dalam gelas, lalu memberikan ke Ainur.

Saat sesi sarapan telah usai dan semua orang kenyang. Mereka bersiap-siap pergi ke kabupaten menggunakan mobil pribadi lengkap dengan sopir.

***

Ainur masih berdiri diteras, menatap hampa badan belakang mobil yang keluar dari halaman rumah mertuanya.

Pikiran kosong tiba-tiba tercetus sebuah ide. Ini adalah kesempatan langka, jarang sekali dia tinggal seorang diri dirumah. Pasti selalu ada salah satu penghuni pemilik rumah seolah menemani, tapi kini Ainur berpikir bahwa tengah diawasi, dipantau gerak-geriknya.

“Mba Neng!”

Yang dipanggil menaruh lagi piring mau diangkutnya, ia berjalan mendekati nyonya muda.

"Aku kepengen makan kue putu bambu, tolong belikan di tempat biasane,” titahnya menekankan kalau keinginannya adalah sesuatu mendesak.

Mba Neng mengangguk. Dia yang akan pergi ke pasar dekat kantor kecamatan. Satu-satunya pasar tradisional, pusat perbelanjaan di kecamatan Tugu Ireng.

Ainur masuk ke dalam rumah, hendak menjalankan satu misi. Memuaskan rasa penasaran akan tempat yang sudah dua kali singgah di alam mimpi.

Ketika masuk kedalam kamar. Tergesa-gesa dirinya membuka kait kebaya, menurunkan kain jarik, hingga tersisa dalaman kemben, serta androk celana.

Didepan cermin meja rias, Ainur menatap miris tubuhnya sendiri – tulang selangka menonjol, ada cekungan yang bisa untuk menampung air, bahkan terlihat tulang rusuk. Bagian ujung pundak seperti kerangka dibalut kulit tanpa daging.

“Sekurus ini aku?” gumamnya menyedihkan. Ia meraba bagian dada hampir rata, cuma ada segumpal daging tipis terdapat pucuk kecil. Lalu tatapannya turun ke bawah. Pahanya hanya sebesar betis wanita dewasa, dan betisnya tidak lebih besar dari kaki anak-anak.

Bukan cuma pikiran yang terkuras, badan pun habis digerogoti oleh penyakit yang dia sendiri tidak tahu jelasnya apa. Hanya saja, seiring berjalannya waktu – setiap harinya, tubuhnya menyusut kekurangan berat badan.

Ainur mengenyahkan perasaan sedih, dia mendekati lemari, mencari celana legging, kaos lengan panjang kebesaran.

Celana ketat itu dilapisi oleh sehelai jarik yang dibuat seperti rok, untuk atasan dibiarkan saja. Para pelayan sudah biasa melihatnya berpakaian seperti itu.

Kala mendengar suara Kuda meringkik, sang kusir berteriak lantang – Ainur keluar dari dalam kamar, mengendap-endap pergi ke bagian dapur yang terpisah dari bangunan utama.

Sebuah parang lengkap dengan sarungnya diikatkan pada pinggang, lalu ditutup kain jarik tadi. Kemudian dia keluar dari sana, tetap berekspresi biasa saja saat berpapasan dengan salah satu pelayan wanita.

“Mbak, aku mau istirahat. Tolong jangan berisik banget nggeh saat beraktivitas,” pintanya penuh dusta.

“Baik nyonya.” Wanita pertengahan dua puluhan itu mengangguk sopan, lalu masuk ke dalam dapur.

Di hunian ini, kedudukan Ainur sama seperti Citranti dan bu Mamik. Dia dihormati. Diperlakukan baik, terhindar dari mulut tukang gosip.

Tidak ada yang berani menegur apalagi melarang Ainur. Dia bangun tidur sesuka hati, mau apa tinggal perintah. Sangat dimanja oleh suami dan keluarga mertuanya. Terbebas dari pekerjaan ibu rumah tangga, lebih banyak mendekam di dalam kamar selagi suaminya pergi bekerja.

Terlebih, para pelayan dilarang keras bergosip, menampilkan raut tidak ramah, mencampuri urusan majikan mereka. Cuma mba Neng yang diperkenankan melayani langsung, dan dia juga dipercaya mengelola keuangan dapur, berbelanja setiap hari ke pasar.

Ainur memperhatikan sekitar, saat di rasa aman. Dia berlari kencang tanpa mengenakan alas kaki. Membuka pintu besi pagar tembok yang langsung bertemu hutan pohon kayu putih.

Wanita itu memasuki lebih dalam lagi wilayah hutan masih kepunyaannya keluarga Tukiran.

Bisa dibilang Ainur tidak tahu jalan, mengandalkan insting mengikuti kata hati sama seperti sewaktu seseorang menyuruhnya menggunakan naluri keibuan.

Entah berapa lama, yang jelas napasnya telah berbunyi kencang. Ainur berhenti sebentar, mengambil botol air dari bambu yang diikatkan pada bagian pinggang dekat golok. Membuka tutupnya lalu menenggak banyak-banyak.

“Hutan pinus,” katanya pelan. Itulah patokannya setelah sebelumnya memperhatikan tanaman di pinggir tebing.

Dia kembali berlari lebih lambat. Tidak peduli pada rasa mengganjal pada area kewanitaan yang sedikit perih serta perut nyeri. Tekadnya lebih kuat daripada rasa sakit itu sendiri.

Hsstt ….

Ainur mendesis, telapak kakinya menginjak ranting lumayan tajam.

“Itu pohon pinus ‘kan?” Ainur berjalan cepat, tidak sanggup lagi berlari. Persendiannya lemas, dan terasa sakit.

Kini sosok kurus itu telah sampai di perbatasan pohon tahunan dengan hutan belantara terlihat semak, mencekam dan sunyi.

“Jangan takut, kalau kamu tidak nekat, mau sampai kapan menanggung rasa penasaran. Ayo Inur!” gumamnya menyemangati diri sendiri.

Parang ditarik dari sarungnya, tangkai digenggam erat. Ini pertama kalinya seorang Ainur memasuki hutan belantara, pergi jauh dari lingkungan rumah yang nyaman memanjakan dirinya.

Langkah kaki Ainur menimbulkan suara kala menginjak dedaunan kering, matanya melirik ke kanan dan kiri, dia aslinya takut semisal bertemu hewan buas atau orang jahat.

Ainur menyusuri hutan yang ditumbuhi pohon menjulang, dan semak belukar lebih tinggi dari badannya.

“Dimana jendela, dan lorong itu …?”

.

.

Bersambung.

...----------------...

Sebelum ceritanya berkembang, serta rahasia mulai terungkap. Aku ingin memberitahukan sekaligus mengingatkan!

Sama seperti kisah horor sebelumnya – disini, aku nggak ada memasukan unsur agama ya, Kak.

Bukan kenapa-kenapa, cuma takut salah dan jatuhnya malah fitnah atau sesuatu kurang menyenangkan. Membuat salah paham, serta dirasa menjatuhkan sebuah kepercayaan suci.

Jadi, aku milih alur netral. Aku harap dapat diterima, dimaklumi.

Terima kasih banyak Kakak ku 🫂🥰

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
Bu Mamik, kau bilang dungu? Dungu juga akibat ulahmu, tunggu saja kala si dungu ini menemukan serpihan otak waras nya, pembalasan terencana akan segera menghampiri dan mengoyak semua milikmu.
menghanguskan mu si paling pintar.
SENJA
enak banget ngatain dungu 😶
SENJA
ini peliharaannya bayi atau balita doang ini si dukun 😶
SENJA
susah juga balas dendam sama orang sakit jiwa pada 😶😶😶
Monica Lora
lama lama kelihatan lebih sakti mb neneng dr pd ki ageng 🤭🤭🤭
SENJA
mba neng ilmunya tinggi juga 😳
Y.S Meliana
si dungu yg skrg sdh tak dungu lg 😒😏
Ayudya
lanjut kak
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ainur kamu jng lemah kamu hrs kuat dan hrs lbh sadis dr mereka ingat anak"mu tlh dijadikan monster oleh mereka 😱💪💪
Kaka Shanum
dungu?...kemarin mungkin iya tapi sekarang ainur jauh lebih cerdas daripada kamu bu mamiek..
FLA
ayo Inur, kali ini kau gak boleh lemah harus lebih kejam lagi dari perbuatan mereka
Ayudya
ainur kamu.u jangan sampai ketahuan ma Ki Ageng
mmh nengmuti
aki bacanya sambil tahan napas ngeriiii😱😱
Aprisya
awassss hati2 nur
Muah Gg padi
aduuh ainuuuur gmn?jgn smp ketahuan
Reni
duh Gusti OPO maneh Iki , inur metu kah
Ineke Susanti
Selalu bagus kak..
FiaNasa
kasihan anak² Ainur ini jadi alat Ki ageng
☠ SULLY
lantas hubungan yg bagaimana
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
☠ SULLY
duhh ngiluuu nyaaa . ..
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!