NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Akun Anonim

Udara sore itu terasa cukup dingin, sesuai dengan prediksi cuaca yang mengatakan kemungkinan akan turunnya hujan lebat. Melihat langit yang menjadi semakin kelabu membuat rasa cemas dalam hati Naya semakin menggulung.

Gadis itu masih berdiri di halaman Puskes karena perawatan yang ia dapatkan memang baru selesai. Saat itu Naya tengah menunggu ojek yang dipesannya datang sambil terus berharap hujan tidak keburu turun.

Sudah menjadi kebiasaan Naya untuk terus mengecek ponsel memastikan kedatangan pengemudi yang menjemputnya. Namun, saat itu Naya dibuat heran dengan sebuah pesan yang masuk ke akun sosial media miliknya.

Kedua mata Naya membulat. “Hm? Siapa ini?” Naya menatap layar ponselnya.

‘1111worst ingin mengirimi anda pesan’

Tapi tepat sebelum Naya akan membuka pesan itu, ojek yang dipesannya keburu datang sehingga Naya urung membuka pesan itu.

Sekarang, Naya sudah berdiri tegak tepat di depan pintu kosnya yang masih terkunci. Saat itu fokus Naya benar-benar terpecah. Tangan kanannya terulur mencari keberadaan lubang kunci sementara tangan kirinya menenteng ponsel.

Naya terus menatap layar ponselnya sebab ia sangat penasaran dengan pesan masuk yang tadi sempat mencuri perhatiannya.

Dalam situasi itu, segala hal baru yang sebelumnya terasa biasa saja kini berubah menjadi aneh dan mencurigakan. Mungkin ini terjadi karena Naya terlalu banyak menonton serial thriller, pikirnya.

Meski begitu, hati kecil Naya berharap bahwa dugaannya salah. Ia berharap bahwa akun anonim itu hanya akun iseng yang tidak berbahaya.

Sayangnya, harapannya itu seketika sirna ketika Naya membaca isi pesan itu.

@ 1111worst || Hello. Istirahatlah yang cukup, Naya. Temanmu aman, aku merawatnya dengan sangat baik di sini.

Pesan itu memang sangat singkat namun berhasil menghadirkan gemuruh besar dalam diri Naya.

Kedua mata Naya melotot membaca pesan singkat itu. Ia tak mengatakan apapun karena rasa terkejutnya membuat lidahnya kelu.

Jemarinya lalu bergerak mengetuk info profil akun itu. Dilihatnya akun itu memiliki nol postingan, nol pengikut, dan akun yang diikutinya juga nol. Tidak ada foto profil yang dipasang. Hanya terdapat bio yang bagi Naya juga terasa sedikit tidak biasa.

‘PATAH TULANG DIBALAS PATAH TULANG, MATA DIBALAS MATA, GIGI DIBALAS GIGI’

“Merinding banget...” Naya menggelengkan kepalanya cepat. Seketika itu juga sosok Astrid yang hingga saat itu belum diketahui kabarnya muncul dalam pikiran Naya. “Astrid kamu di mana...? Semoga kamu gak kenapa-kenapa...”

Untuk sesaat perasaan Naya diliputi rasa was-was yang membuat dadanya sesak. Tapi untungnya akal sehatnya segera kembali mengambil alih. Sesuai dengan komitmennya sejak awal, Naya berpikir untuk segera memberi tahu temuannya pada Addam dan Mahesa, sekecil apapun itu.

Tak butuh waktu lama, Naya melangkahkan kakinya ke depan pintu kontrakan Addam yang saat itu kebetulan sedikit terbuka. Artinya Addam ada di dalam sana.

“Misi! Kak Addam...!” Naya memanggil Addam tanpa ragu.

Lalu tanpa diduga, pintu itu langsung terbuka karena ditarik oleh Addam yang rupanya tengah duduk tepat di tepi ambang pintu.

“Sini, Nay,” Addam mempersilakan Naya memasuki tempat tinggalnya. “Kebetulan banget kamu dateng ke sini.”

Naya bisa melihat Addam tengah menggenggam sebuah dokumen dan terlihat juga dokumen lain yang tergeletak dilantai.

“Itu apa, Kak?” tanya Naya dengan rasa ragu yang bercampur dengan rasa penasaran.

“Tadi siang si Mahesa ke sini. Dia bilang ini file barang bukti tentang ‘Kasus Gaun Putih’. Kata dia filenya dititip dulu di sini biar gampang kita pelajarin,” jelas Addam sambil sesekali menatap Naya dan file itu bergantian.

Naya mengangguk sambil berusaha keras memahami ucapan Addam. Sejujurnya ia tak pernah berpikir bahwa Mahesa itu akan memberi mereka berkas seperti itu.

“Oh iya. Ada perlu apa, Nay?” tatapan Addam kini terpusat pada netra Naya.

“Ini, Kak…” Naya menggantung kalimatnya sambil menyusun kalimat yang akan diucapkannya, “aku gak tahu ini bakal ngebantu atau enggak, ada kaitannya atau enggak… Tapi barusan aku dapat pesan masuk dari akun anonim ini…”

Naya segera menunjukkan layar ponselnya pada Addam. Dalam hati Naya, ia berharap bahwa Addam akan menenangkannya dan mengatakan untuk tidak perlu khawatir tentang pesan singkat yang mencurigakan itu.

Tapi jawaban yang diberikan Addam sungguh diluar dugaan Naya.

“Akun ini?!” kedua mata Addam membulat. “Nay! Akun ini juga pernah kirim pesan aneh ke aku!”

“S-serius Kak?!” Naya tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Mulutnya yang menganga itu spontan ia tutup dengan tangannya.

“Iya, Nay! Kamu lihat,” kini gantian Addam yang menunjukkan layar ponselnya pada Naya.

Setelah Naya membaca pesan yang diterima Addam lewat sosial medianya, ia merasa bahwa pesan-pesan yang Addam terima jauh lebih mengerikan.

Kedua orang itu kini sama-sama dibuat terkejut dengan apa yang tengah menjadi pembahasan mereka. Fakta bahwa Addam dan Naya mendapat pesan dari akun yang sama ini lantas mendatangkan perasaan dilema bagi mereka. Ada kemungkinan dengan munculnya akun anonim itu akan memberi petunjuk baru bagi pencarian mereka, tapi kemungkinan lain tentang bahaya lain yang mengancam Astrid terasa semakin jelas.

“Nay. Kamu mending kasih tahu Mahesa dulu. Sekecil apapun itu, kita semua harus saling tahu, saling berbagi berita,” Addam menatap Naya lekat-lekat.

“Iya, Kak.”

Menuruti ucapan Addam, Naya segera melakukan apa yang dikatakan padanya. Pesan aneh dari akun misterius itu diteruskannya pada Mahesa.

“Udah, Kak,” ucap Naya berusaha memasang tampang tenang.

Addam tampak hanya mengangguk. Pria itu kini kembali meraih dokumen kasus yang berada di lantai.

“Tapi, Nay. Mahesa bilang mereka ini meninggal karena overdosis,” Addam menjajarkan foto korban dari kedua dokumen itu.

Kening Naya mengernyit. “Overdosis?”

Meski enggan, Naya kembali melihat tiap lembar dari kedua dokumen di hadapannya. Tatapannya beralih dari dokumen kasus pertama ke kasus kedua lalu kembali lagi ke kasus pertama.

“Kak Addam, sorry. Boleh aku lihat lagi DM dari akun itu?” tanya Naya tanpa ragu.

“Hm? Nih,” Addam menyerahkan ponselnya tanpa banyak pertanyaan.

Kali ini Naya menatap ponsel Addam dan dokumen kasus kedua bergantian, berulang kali.

“Kenapa, Nay?” Addam menyadari perubahan raut wajah Naya.

“Kak,” Naya mendekatkan ponsel Addam dengan gambar korban kedua, “mereka beda orang gak, sih?”

“Maksud kamu?” Addam keheranan.

“Yang masuk ke DM Kak Addam rambutnya pendek, tapi korban kedua ini rambutnya panjang… Kalau misal mereka masih orang yang sama, gimana caranya dari rambutnya pendek sebahu bisa langsung panjang sepunggung dalam waktu beberapa hari aja? Dia gak pakai rambut sambung juga...” jelas Naya setengah yakin.

“Masa, sih? Mana sini aku lihat…” Addam menatap dokumen dan ponsel seperti yang Naya lakukan. Kedua matanya melebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Iya, kan?” Naya mencoba meyakinkan Addam dan meyakinkan dirinya sendiri.

“Iya bener, Nay. Dan kalau mereka ini dua orang yang berbeda, artinya ada satu korban lagi yang belum kita tahu…”

Addam dan Naya saling berbalas tatapan. Mereka seperti bertelepati. Atmosfer di tempat mereka berbincang mendadak terasa aneh, dingin dan dipenuhi pertanyaan yang menunggu dijawab.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!