Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 resep terakhir kecap air mata dan nasi goreng penyatuan
Malam di Kota Naga Emas terasa lebih panjang dari biasanya. Angin tidak berhembus, dan bintang-bintang seolah bersembunyi di balik selimut awan hitam yang menggantung rendah di atas Istana Kekaisaran. Besok adalah hari penghakiman. Besok, Han Shuo tidak hanya akan melawan Kekaisaran, tapi juga hantu masa lalunya.
Di sebuah rumah aman milik jaringan bawah tanah Mei Lin—sebuah bangunan tua bekas pabrik tahu di pinggiran Distrik Akar—suasana terasa berat. Lampu minyak berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang ke dinding yang retak.
Han Shuo duduk di meja kayu kasar, matanya terpaku pada gulungan cetak biru yang dicuri Xiao Hua dari menara arsip istana.
"Ini gila," gumam Mei Lin, jari-jarinya yang ramping menelusuri diagram rumit pada kertas itu. "Peramal Agung tidak main-main. Dia menggunakan Teknik Nekromansi Porselen."
Bagian 1: Anatomi Boneka Jiwa
Xiao Hua, yang sedang mengunyah apel hijau sambil berjongkok di atas lemari, melompat turun. "Mereka menyebutnya 'Wadah Koki Abadi'. Struktur luarnya terbuat dari Porselen Roh Seribu Tahun yang kebal terhadap api dan es biasa. Tapi yang mengerikan adalah intinya."
Xiao Hua menunjuk ke bagian dada pada gambar cetak biru itu. Di sana, terdapat bola kristal kecil yang dikelilingi oleh paku-paku energi.
"Itu Penjara Jiwa," jelas Xiao Hua, suaranya kehilangan nada ceria biasanya. "Jiwa ayahmu, Han Feng, dikurung di sana. Paku-paku itu terhubung langsung ke saraf rasa sakitnya. Setiap kali dia memasak, dia merasakan sakit. Setiap kali dia berhenti memasak, dia merasakan sakit yang lebih parah. Rasa sakit itu... adalah bahan bakar untuk Niat Masak-nya yang gila."
Ying mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bajingan itu... mereka menyiksa orang mati?"
Han Shuo tidak berkata apa-apa. Wajahnya tenang, tapi aura di sekitarnya bergolak seperti minyak mendidih. Lantai kayu di bawah kakinya mulai menghitam karena panas yang tak terkendali.
"Jika aku menghancurkan boneka itu..." suara Han Shuo serak.
"Kau akan menghancurkan jiwa ayahmu," potong Mei Lin tajam. "Jika wadahnya pecah paksa, jiwanya akan terpencar menjadi Qi Murni dan hilang selamanya. Dia tidak akan bisa bereinkarnasi."
Hening.
"Jadi, apa pilihannya?" tanya Ying putus asa. "Kita tidak bisa melawan, tapi kita juga tidak bisa menang?"
Han Shuo menutup matanya. Ia menarik napas dalam, memadamkan api amarahnya. Sebagai koki, ia tahu bahwa memasak dengan amarah hanya akan menghasilkan hidangan yang pahit.
"Ada satu cara," kata Han Shuo, membuka matanya yang kini bersinar keemasan. "Aku tidak akan menghancurkan wadahnya dari luar. Aku akan membuatnya membuka dirinya sendiri dari dalam."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan Rasa Kepulangan," jawab Han Shuo. "Aku harus memasak sesuatu yang begitu familiar bagi jiwa ayahku, sesuatu yang bisa memicu memori bawah sadarnya yang paling dalam, sehingga jiwanya akan menolak perintah sistem boneka itu dan keluar dengan sukarela."
"Tapi kau butuh pemicu yang kuat," kata Mei Lin skeptis. "Sesuatu yang memiliki resonansi emosional setingkat Dewa."
Han Shuo berdiri. "Aku tahu di mana mencarinya. Ibu pernah memberitahuku tentang 'Harta Karun Keluarga Han' yang dia kubur di Ibukota dua puluh tahun lalu, sebelum mereka melarikan diri ke desa."
Bagian 2: Ziarah ke Reruntuhan Willow
Han Shuo menyelinap keluar, meninggalkan teman-temannya yang sedang mempersiapkan peralatan tempur. Ia bergerak cepat melintasi atap-atap rumah menuju Distrik Lama, area yang kini ditinggalkan dan dipenuhi ilalang.
Ia berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang sudah lapuk. Papan nama di atasnya sudah hampir hilang tulisannya, tapi masih terbaca samar: "Kediaman Han".
Ini adalah rumah masa kecilnya yang tidak pernah ia ingat.
Han Shuo masuk ke halaman yang penuh dengan tanaman liar. Di tengah halaman, berdiri sebuah pohon Willow tua yang sudah mati, batangnya terbelah disambar petir.
"Di bawah akar pohon yang menangis..." bisik Han Shuo, mengulang kata-kata dalam surat ibunya.
Ia berlutut dan mulai menggali tanah keras itu dengan tangan kosong. Ia tidak menggunakan Qi, ia ingin merasakan tanah leluhurnya. Setelah menggali sedalam satu meter, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.
Sebuah guci keramik tanah liat yang disegel dengan lilin merah.
Han Shuo mengangkat guci itu dengan hati-hati seolah sedang memegang bayi. Ia membersihkan tanah yang menempel. Segelnya masih utuh.
Ia membuka segel itu.
POP.
Aroma yang keluar bukanlah aroma emas atau permata. Itu adalah aroma Kecap Asin Fermentasi.
Tapi ini bukan kecap biasa. Ini adalah kecap yang dibuat ibunya pada tahun Han Shuo lahir. Ibunya telah menyegel Niat Kasih Sayang-nya ke dalam setiap tetes kedelai hitam tersebut, membiarkannya berfermentasi selama dua puluh tahun di dalam tanah yang menyerap Qi Bumi Ibukota.
Han Shuo mencicipi setetes di ujung jarinya.
Rasanya meledak di lidahnya. Asin, gurih, sedikit manis, dan... penuh kerinduan. Tiba-tiba, bayangan masa lalu membanjiri pikirannya. Ia melihat ibunya yang tersenyum sambil mengaduk gentong besar, ia melihat ayahnya yang mencicipi dan tertawa, ia melihat dirinya yang masih bayi tertidur di gendongan.
"Ini dia," air mata menetes dari mata Han Shuo, jatuh ke dalam guci. "Bumbu kelima yang hilang. Waktu."
Sistem di kepalanya berdenting lembut.
[Item Legendaris Ditemukan: 'Kecap Air Mata Bunda' (Grade: Divine)]
[Efek: Memulihkan ingatan yang hilang dan memurnikan jiwa yang terkorupsi.]
"Tunggu aku, Ayah. Aku akan membawamu pulang."
Bagian 3: Perjamuan Malam Terakhir
Han Shuo kembali ke pabrik tahu saat fajar belum menyingsing. Ying, Mei Lin, dan Xiao Hua masih terjaga, wajah mereka tegang.
"Bos! Kau darimana saja?!" seru Ying.
"Menyiapkan amunisi," Han Shuo meletakkan guci tua itu di meja. Lalu ia mengeluarkan Kuali Naga Merah. "Tapi sebelum itu... kita harus makan."
"Makan? Di saat seperti ini?" Xiao Hua bingung.
"Justru di saat seperti ini," Han Shuo mulai memotong-motong bahan sisa yang ada di dapur persembunyian mereka: nasi sisa kemarin, dua butir telur, sedikit daun bawang, dan potongan daging asap kering.
"Perang membutuhkan perut yang kenyang dan hati yang hangat. Duduklah."
Han Shuo mulai memasak. Kali ini, tidak ada api yang meledak-ledak. Tidak ada teknik akrobatik yang mempesona. Ia memasak dengan tenang, gerakannya mengalir seperti air sungai.
Ia memanaskan minyak, memasukkan telur kocok, lalu nasi. Bunyi sreng-sreng dari spatula beradu dengan kuali terdengar seperti musik yang menenangkan di tengah ketegangan malam.
Terakhir, ia menuangkan satu sendok makan Kecap Air Mata Bunda.
Uap nasi goreng itu naik, memenuhi ruangan pabrik tua yang dingin dengan aroma rumah. Aroma yang membuat bahu yang tegang menjadi rileks, membuat napas yang tertahan menjadi lega.
"Makanlah," Han Shuo menyajikan tiga piring penuh untuk teman-temannya.
Ying menyuap satu sendok. Matanya melebar, lalu berkaca-kaca.
"Ini... rasanya seperti masakan nenekku sebelum dia meninggal."
Xiao Hua, yang hidup sebagai yatim piatu di jalanan, menangis sesenggukan sambil terus makan dengan lahap. "Rasanya hangat... seperti dipeluk."
Mei Lin, yang lidahnya biasanya mati rasa karena racun, merasakan ledakan rasa manis dan gurih yang menyebar ke seluruh meridiannya. "Rasa pahit di lidahku... benar-benar hilang."
Han Shuo tidak makan. Ia hanya melihat mereka dengan senyum tipis.
[Sistem Notifikasi: Anda telah menyajikan 'Nasi Goreng Penyatuan Jiwa'.]
[Efek Buff Permanen untuk Party:]
* Ikatan Takdir: Jika salah satu anggota terluka fatal, rasa sakit akan dibagi rata ke semua anggota.
* Ketenangan Absolut: Kebal terhadap serangan mental dan ilusi tingkat tinggi selama 24 jam.
* Regenerasi Qi: Pemulihan energi meningkat 300%.
"Dengarkan aku," kata Han Shuo setelah mereka selesai makan. "Besok, aku akan masuk ke Aula Takhta sendirian. Kalian bertiga punya tugas lain."
"Apa? Tidak! Kami ikut!" protes Ying.
"Tidak," Han Shuo menggeleng tegas. "Peramal Agung pasti sudah menyiapkan perangkap untuk menyandera kalian agar aku menyerah. Tugas kalian adalah pergi ke Menara Lonceng di sisi barat istana."
Han Shuo menyerahkan sebuah kantong kecil berisi bubuk kristal.
"Saat aku memberikan sinyal—saat asap dari kualiku berwarna ungu—Xiao Hua, kau harus meledakkan lonceng raksasa itu. Mei Lin, sebarkan bubuk ini ke angin. Itu adalah Ragi Kebangkitan. Saat tercampur dengan suara lonceng, itu akan menciptakan resonansi yang akan membangunkan seluruh penduduk kota dari pengaruh hipnotis Peramal Agung."
"Kau ingin membuat kerusuhan?" tanya Mei Lin, matanya berbinar mengerti.
"Aku ingin membuat penonton," koreksi Han Shuo. "Peramal Agung ingin menyembunyikan kejahatannya di balik dinding istana. Aku akan membuka atapnya dan membiarkan seluruh dunia melihat."
Ying menatap Han Shuo lekat-lekat. Ia tahu ia tidak bisa membantah.
"Berjanjilah kau tidak akan mati, Bos. Siapa yang akan menggajiku kalau kau mati?"
Han Shuo menepuk kepala Ying. "Aku berjanji. Masih banyak resep yang belum kita coba."
Bagian 4: Meditasi Koki dan Bumbu Raja
Satu jam sebelum matahari terbit, Han Shuo duduk bersila di atap pabrik. Di pangkuannya terdapat Kotak Bumbu Raja.
Ia belum berani membukanya sepenuhnya sejak insiden di hutan. Kotak itu bergetar, seolah tahu bahwa pertempuran besar akan segera terjadi.
"Kau lapar, bukan?" bisik Han Shuo pada kotak itu.
Kotak itu berdengung rendah sebagai jawaban.
"Bagus. Karena hari ini, kita akan memakan Dewa."
Han Shuo mengambil setetes Kecap Air Mata Bunda dan mengoleskannya pada segel kotak tersebut.
Crrrt.
Asap putih keluar. Kotak itu berhenti bergetar dan menjadi tenang. Hubungan spiritual terbentuk antara Han Shuo dan entitas di dalam kotak tersebut. Kali ini, bukan hubungan tuan dan parasit, tapi hubungan Partner.
[Sistem: Sinkronisasi dengan Kotak Bumbu Raja mencapai 50%.]
[Fitur Terbuka: 'Penyimpanan Bahan Dimensi'. Anda dapat menarik bahan langsung dari 'Ruang Hampa' di dalam kotak.]
[Peringatan: Penggunaan berlebih akan mengonsumsi umur pengguna.]
"Umur?" Han Shuo terkekeh. "Jika aku tidak menang hari ini, umurku berakhir siang nanti. Ambil apa yang kau butuhkan."
Han Shuo berdiri. Di timur, matahari mulai terbit. Sinarnya berwarna merah darah, memantul pada genteng emas Istana Kekaisaran.
Di kejauhan, suara terompet tanduk naga terdengar.
TEEEET! TEEEET!
Gerbang utama istana terbuka. Ribuan Pengawal Porselen berbaris rapi, menciptakan koridor menuju Aula Takhta. Mereka tidak menyerang. Mereka menunggu.
Undangan resmi untuk kematian.
Han Shuo melompat turun dari atap. Jubah kokinya berkibar tertiup angin pagi. Ia mengenakan ikat kepala putih—simbol duka sekaligus tekad. Di punggungnya, Kuali Naga Merah berdentang pelan, seolah menyanyikan lagu perang.
"Waktunya sarapan," gumam Han Shuo.
Bagian 5: Menuju Mulut Naga
Han Shuo berjalan sendirian melewati jalan utama Ibukota yang sunyi. Penduduk kota mengintip dari balik jendela-jendela yang tertutup rapat. Mereka merasakan tekanan udara yang luar biasa.
Ia sampai di depan tangga marmer putih yang menuju Aula Takhta. Ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga.
Di puncak tangga, berdiri Peramal Agung. Ia tidak lagi memakai topeng. Wajahnya adalah wajah seorang pria tua yang sempurna, terlalu sempurna hingga terlihat palsu. Kulitnya licin seperti keramik.
"Selamat datang, Han Shuo," suara Peramal Agung menggema tanpa dia membuka mulut. "Ayahmu sudah menunggu di dapur. Dia sangat... kelaparan."
Han Shuo mulai menaiki tangga. Setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi meningkat sepuluh kali lipat. Ini adalah Haki atau Tekanan Spiritual dari Peramal Agung.
Tapi Han Shuo tidak berhenti.
Langkah 100... Keringat mulai menetes.
Langkah 500... Tulang-tulangnya berderit.
Langkah 800... Darah keluar dari hidungnya.
"Kau pikir tekanan ini bisa menghentikanku?" Han Shuo menyeringai, giginya merah oleh darah. "Aku pernah membawa kuali besi mendaki Gunung Berapi Barat demi mencari Jamur Api. Ini... hanyalah jalan-jalan pagi."
Ia mengaktifkan Reverse Taste Domain. Ia mengubah persepsi rasa sakit di tubuhnya menjadi rasa "Pedas yang Menyegarkan".
Energi meledak dari tubuh Han Shuo. Aura emas membubung tinggi, membentuk siluet naga yang sedang melahap matahari.
Ia melompati seratus anak tangga terakhir dan mendarat dengan dentuman keras di lantai porselen Aula Takhta.
DUM!
Lantai retak di bawah kakinya.
Di tengah aula yang megah itu, berdiri sebuah sosok yang membuat napas Han Shuo tercekat.
Seorang pria paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal dari lukisan ibunya. Pria itu mengenakan seragam koki kekaisaran kuno yang compang-camping. Kulitnya pucat seperti porselen, matanya kosong dan bersinar biru neon.
Di dadanya, kristal jiwa berdenyut dengan irama yang menyakitkan.
Itu adalah Han Feng.
"Ayah..." suara Han Shuo bergetar.
Boneka Han Feng mengangkat kepalanya. Gerakannya kaku, seperti wayang yang talinya ditarik kasar. Ia membuka mulutnya, dan suara mekanis yang dingin keluar:
"Target Terdeteksi: Bahan Masakan Busuk. Perintah: Eliminasi dan Masak."
Boneka itu mengangkat pisau dapur raksasa yang terbuat dari tulang naga.
Peramal Agung tertawa dari singgasananya. "Mari kita mulai Hidangan Terakhir. Tema hari ini adalah: Pengorbanan Darah."
Han Shuo menarik Pisau Bulan Sabit-nya. Ia menatap mata kosong ayahnya.
"Maaf, Ayah. Masakan kali ini akan sedikit... kasar."
* Persiapan Selesai:
* Senjata Rahasia: Kecap Air Mata Bunda (Item Kunci untuk menyelamatkan jiwa).
* Buff Tim: Nasi Goreng Penyatuan Jiwa (Perlindungan dan Regenerasi).
* Rencana Cadangan: Mei Lin dan Xiao Hua di Menara Lonceng untuk membangunkan warga.
* Upgrade: Sinkronisasi Kotak Bumbu Raja 50%.
* Kondisi Han Shuo: Siap tempur, motivasi maksimal, kondisi fisik 100% (berkat buff).
* Musuh: Boneka Han Feng (Level: Koki Dewa/Immortal Chef), Peramal Agung (Level: Unknown/Endgame Boss).