NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Jenuh Eleanor

Tiga tahun berlalu, dan hubungan yang awalnya penuh gairah di SMA kini mulai dihantam realita jarak jauh. Sean berada di Amsterdam, menempuh studi bisnisnya dengan ambisi yang tetap tinggi, sementara Eleanor berada di Amerika mendalami dunia seni dan literatur.

Samudra Atlantik yang memisahkan mereka ternyata menjadi celah bagi sifat posesif Sean yang belum sepenuhnya sembuh.

Malam-malam Eleanor kini bukan lagi diisi dengan istirahat yang tenang, melainkan dengan getaran ponsel yang seolah tak ada habisnya.

Sean, dengan perbedaan waktu yang signifikan, sering kali lupa bahwa saat dia sedang memulai hari di Amsterdam, Eleanor baru saja ingin memejamkan mata setelah seharian di perpustakaan.

[02.00 AM - WhatsApp dari Sean]

"El, kenapa belum balas?"

"Kamu lagi sama siapa? Tadi di postingan teman kamu, ada cowok yang duduk di sebelah kamu."

"Baru 10 menit aku chat, kamu ke mana? Jangan bilang sengaja abaikan aku."

Eleanor terbangun dengan mata pedih, menatap layar ponsel yang menyilaukan. Ia mengetik dengan jemari lemas.

"Sean, aku baru tidur. Aku capek banget, seharian ada ujian. Cowok itu cuma teman sekelompok, jangan mulai lagi."

[02.15 AM - Sean]

"Capek atau sengaja? Dulu pas di NYIS kamu selalu ada waktu buat aku. Sekarang, balas chat 1 menit aja susah? Kamu berubah, Eleanor. Atau jangan-jangan lingkungan kampus di Amerika bikin kamu ngerasa bebas?"

Tuduhan-tuduhan Sean mulai tak masuk akal. Baginya, keterlambatan balasan chat Eleanor adalah indikasi bahwa gadis itu sedang bersenang-senang dengan pria lain.

Rasa tidak aman (insecurity) Sean muncul kembali, ia takut pria-pria di Amerika melihat apa yang ia lihat, betapa cantiknya Eleanor, betapa pas-nya Eleanor dalam pelukan.

Suatu malam, Eleanor yang benar-benar kelelahan setelah mengerjakan proyek hingga larut malam, langsung jatuh tertidur tanpa sempat memberi kabar "selamat malam" pada Sean.

Pagi harinya, ia menemukan 50 panggilan tak terjawab dan rentetan pesan suara yang penuh emosi.

"Eleanor, aku nungguin kamu sampai pagi di sini! Kamu tahu aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kabar dari kamu! Apa sesusah itu buat kasih tahu kalau kamu mau tidur? Kamu sengaja bikin aku gila ya?!"

Eleanor duduk di tepi ranjangnya, menatap apartemennya yang sepi. Air mata perlahan jatuh. Ia mencintai Sean, sangat mencintainya.

Tapi hubungan ini mulai terasa seperti penjara digital. Sean yang dulu ia kenal sebagai pria yang berani melindunginya, kini justru menjadi orang yang paling sering membuatnya menangis.

"Sean, aku sibuk kuliah, aku bukan lagi anak SMA yang bisa pegang HP tiap detik," gumam Eleanor lirih sambil menghapus pesan-pesan kasar dari Sean.

Ia merasa tertekan. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena rasa cemas. Apalagi tuduhan Sean kali ini? Siapa lagi cowok yang akan dia cemburui?

Eleanor mulai merasa bahwa cinta Sean yang terlalu besar justru mencekiknya. Sementara Sean, di Amsterdam, justru merasa Eleanor sengaja menjauh karena sudah tidak menginginkannya lagi.

Sifat temperamennya kembali menguasai logika, dan ia mulai merencanakan sesuatu yang nekat karena tidak tahan dengan pengabaian Eleanor selama berbulan-bulan ini.

Di apartemen mewahnya di Amsterdam yang menghadap ke kanal, Sean duduk di kursi kerja dengan botol wiski yang masih tertutup di sampingnya. Ia baru saja selesai melempar ponselnya ke sofa setelah lagi-lagi panggilannya tidak diangkat oleh Eleanor.

Frustrasi dan merasa diabaikan, ia akhirnya menekan nomor ibunya. Hanya Claire yang bisa ia ajak bicara saat logikanya sudah tertutup oleh emosi.

"Mom, dia berubah," ucap Sean tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya terdengar pecah, antara marah dan sedih.

"Siapa? Eleanor?" suara Claire terdengar tenang dari seberang samudra.

"Apa lagi kali ini, Sean? Kamu bertengkar dengannya di jam dua pagi waktu Amerika?"

"Dia nggak pernah punya waktu lagi buat aku, Mom! Balas chat saja butuh waktu berjam-jam. Kadang dia hilang seharian dan alasannya cuma ketiduran karena capek kuliah. Apa masuk akal?" Sean mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya.

"Aku curiga, Mom. Amerika itu bebas. Cowok-cowok di sana... mereka nggak tahu kalau Eleanor itu punya aku. Dan Eleanor sendiri kayak sengaja kasih celah dengan nggak kasih kabar ke aku."

Claire menghela napas panjang. Sebagai wanita yang cerdas, ia bisa mencium bau toxic dari nada bicara putranya sendiri.

"Sean Manuel," panggil Claire dengan nada memperingatkan. "Kamu sadar tidak kalau kamu sedang mengulang kesalahan yang sama seperti tiga tahun lalu? Kamu sedang menghancurkan hubunganmu sendiri dengan kecurigaan sampahmu itu."

"Tapi Mom—"

"Dengar dulu!" potong Claire tegas. "Eleanor sedang berjuang membangun masa depannya di universitas terbaik. Dia bukan lagi gadis SMA yang hidupnya cuma berputar di sekitar kamu. Dia capek, Sean. Perbedaan waktu kalian itu menyiksa. Alih-alih jadi tempat dia beristirahat, kamu malah jadi beban tambahan yang nuntut dia balas chat cepat-cepat."

"Kalau kamu terus menuduh dia yang tidak-tidak, jangan kaget kalau suatu hari nanti dia benar-benar hilang karena dia merasa lebih tenang tanpa gangguan ponsel dari kamu," lanjut Claire. "Kamu bilang dia berubah? Mungkin dia tidak berubah, Sean. Mungkin dia cuma lelah menghadapi pria yang nggak pernah belajar buat percaya pada pasangannya."

Sean terdiam. Ia bersandar di jendela kaca yang dingin, menatap rintik hujan Amsterdam.

"Tapi aku takut kehilangan dia, Mom," bisik Sean lirih. "Aku takut ada orang lain yang bikin dia lebih nyaman daripada aku yang jauh di sini."

"Kalau kamu takut kehilangan dia, terbanglah ke sana. Peluk dia, bukan maki-maki dia lewat chat," jawab Claire sebelum menutup telepon.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍😍

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!