Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT BELAS: KACA YANG RETAK
Suara jeritan Cika yang melengking tinggi seolah membelah kebisingan pelataran kampus pagi itu. Suara itu begitu nyaring hingga mampu menghentikan langkah beberapa mahasiswa yang sedang terburu-buru menuju ruang kelas. Ciko, yang biasanya paling cepat menanggapi situasi, kali ini hanya bisa berdiri mematung. Matanya yang bulat hampir saja keluar dari kelopaknya saat ia menatap sosok yang baru saja turun dari mobil Mercedes-Benz S-Class hitam yang mengkilap itu.
Seraphina berdiri di sana, merasa seolah-olah seluruh pasang mata di kampus itu sedang menelanjanginya. Blus sutra krem yang ia kenakan berkilau lembut di bawah sinar matahari pagi, sementara rok pensil selutut yang ia pakai memberikan kesan elegan yang sangat asing bagi seorang gadis panti asuhan. Rambutnya yang biasanya hanya diikat ala kadarnya, kini jatuh tergerai dengan tekstur selembut sutra, hasil perawatan salon pribadi Giselle semalam.
"Sera! Ya ampun! Ini benar-benar kamu?!" Cika akhirnya berhasil menemukan kakinya dan berlari mendekati Seraphina. Ia memutar-mutar tubuh sahabatnya itu dengan kasar, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan hologram. "Kamu... kamu kenapa bisa secantik ini? Ini bukan kamu yang aku kenal! Kamu habis operasi plastik di Korea ya semalam?!"
Seraphina hanya bisa terkikik pelan, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa malu yang membakar pipinya. "Apaan sih, Cika! Jangan berlebihan. Ini aku kok, Seraphina yang sama. Nggak ada operasi plastik atau keajaiban apa pun."
"Tapi... tapi lihat ini! Gaun sutra ini! Sepatu ini! Aku tahu merk ini, Sera! Ini harganya bisa buat bayar uang kuliahku setahun!" Cika mengelus kain blus Seraphina dengan tangan gemetar, matanya dipenuhi rasa takjub yang hampir menyerupai pemujaan. "Dan mobil itu... Mercedes-Benz S-Class! Siapa yang mengantarmu? Tunggu... itu... apakah itu Tuan Orion Valentinus di kursi penumpang?!"
Mendengar nama itu disebut, Ciko akhirnya sadar dari lamunannya. Ia melangkah maju dengan wajah yang jauh lebih serius, matanya menatap tajam ke arah mobil hitam yang kaca jendela belakangnya hanya terbuka sedikit, namun cukup untuk memperlihatkan bayangan pria yang sangat berwibawa di dalamnya. "Sera, kamu kenapa bisa sama dia? Kamu nggak diapa-apain kan? Jawab jujur, Sera! Pria itu terkenal bahaya di seluruh kota ini!"
Seraphina menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa tenggorokannya mendadak tersumbat. Bagaimana mungkin ia menjelaskan pada sahabat-sahabatnya bahwa pria di dalam mobil itu baru saja merenggut paksa harta paling berharganya? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ia kini adalah "properti" dari keluarga yang sangat mereka takuti?
"Nggak, kok. Kalian jangan berpikiran macam-macam," Seraphina mencoba berbohong, suaranya terdengar sedikit parau. Ia mencoba menyunggingkan senyum paling normal yang ia miliki, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat kotor. "Aku... aku sekarang tinggal bersama keluarga temanku. Kebetulan sekali Orion... maksudku Tuan Orion... sedang lewat searah ke kantornya, jadi dia sekalian mengantar."
"Keluarga teman?!" Cika memekik, suaranya kembali meninggi satu oktaf. "Sejak kapan kamu punya teman sekaya itu, Sera? Sampai punya armada mobil mewah begini? Kamu nggak pernah cerita!"
"Dan sejak kapan kamu begitu akrab dengan Tuan Orion?" Ciko menyipitkan mata, tatapannya dipenuhi kecurigaan yang tajam. Ia adalah tipe pria yang sangat protektif pada Seraphina, dan melihat pria sekelas Orion Valentinus berada di dekat sahabatnya membuat insting waspadanya berteriak. "Dia itu serigala berbulu domba, Sera! Jangan mau ditipu oleh kemewahan ini! Lihat tuh, dia bahkan masih mengawasimu dari dalam mobil seolah kau adalah miliknya!"
Seraphina terpaksa melirik ke belakang, ke arah mobil yang masih terparkir statis itu. Benar saja, melalui celah kaca jendela yang gelap, ia bisa merasakan tatapan mata Orion yang tajam. Meskipun terhalang kaca, intensitas tatapan itu seolah mampu menembus kulitnya, memberinya peringatan tak kasat mata bahwa meskipun ia berada di kampus, ia tidak pernah benar-benar lepas dari jangkauan pria itu. Jantungnya berdebar tidak nyaman, rasa takut kembali merambat di tulang belakangnya.
Di dalam mobil, Orion menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang empuk. Ia mengamati setiap reaksi Seraphina dan teman-temannya melalui kamera kecil yang terpasang secara rahasia di kerah baju Seraphina—sebuah detail yang bahkan tidak disadari oleh gadis itu.
Narasi internal Orion mencatat setiap perubahan ekspresi wajah Seraphina dengan kepuasan yang dingin. "Lihatlah dirimu, kelinci kecilku. Bagaimana teman-temanmu terkejut melihat transformasi ini. Mereka tidak tahu betapa berartinya perubahan ini bagi keberadaanku. Kau kini menonjol, kau kini berkilau, dan semua orang akan bertanya-tanya siapa yang memilikimu. Kecantikan barumu ini hanyalah pengikat yang lebih kuat agar kau tidak bisa lagi bersembunyi di balik kesederhanaan. Semakin banyak mata yang mengagumimu, semakin besar kepuasan yang akan aku rasakan saat aku menghancurkanmu di kamar pribadiku nanti malam. Aku akan memastikan seluruh dunia tahu bahwa kau adalah barang berharga milik Orion Maximus Valentinus."
"Sudah! Ayo masuk! Nanti kita telat masuk kelas kuliah seni rupa!" Seraphina mencoba mengalihkan pembicaraan, ia menarik tangan Cika dan Ciko dengan sedikit terburu-buru, mencoba melarikan diri dari tatapan Orion yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Di sepanjang koridor menuju ruang kelas, bisikan-bisikan mulai terdengar seolah-olah ada angin puyuh gosip yang mengikuti langkah kaki Seraphina. Mahasiswa lain yang biasanya mengabaikan kehadirannya, kini menatapnya dengan berbagai macam ekspresi: ada yang penasaran, ada yang kagum, namun tak sedikit yang menatapnya dengan rasa iri yang kental. Perubahan dari seorang gadis panti asuhan yang biasanya memakai kaos lusuh dan jeans belel menjadi sosok sosialita muda adalah sebuah skandal yang terlalu lezat untuk dilewatkan.
"Eh, lihat itu si Seraphina, kan? Kok bisa ya dia pakai barang-barang bermerk sekarang?" "Tadi aku lihat dia turun dari Mercedes-Benz! Gila, siapa yang mengantar?" "Wah, jangan-jangan dia benar-benar sudah dapat sugar daddy kaya raya untuk membiayai gaya hidupnya!"
Seraphina mencoba menutup telinganya rapat-rapat, namun bisikan-bisikan itu seolah memiliki kaki dan masuk ke dalam pikirannya. Pipinya terus memerah menahan malu. Ia merasa seperti ikan yang dipamerkan di dalam akuarium kaca yang sangat mahal; semua mata tertuju padanya, menilai, menghakimi, dan menginginkan. Ia sangat merindukan kehidupannya yang dulu, yang meskipun kekurangan secara materi, namun ia memiliki kebebasan dan privasi yang tidak terusik oleh siapapun.
Di dalam kelas, Seraphina mencoba memfokuskan pikirannya pada kanvas dan cat air di depannya. Materi kuliah tentang teori warna yang biasanya ia sukai, kini terasa hambar. Tangannya bergetar saat memegang kuas, setiap goresan warna yang ia buat seolah-olah merefleksikan kekacauan batinnya. Bayangan Giselle yang eksentrik, kemewahan kamar di mansion, dan tentu saja... bayangan Orion yang mengerikan terus menghantui setiap tarikan napasnya.
Saat jam istirahat tiba, Cika dan Ciko kembali menyerbunya di kantin, tidak memberi Seraphina kesempatan untuk bernapas sejenak saja.
"Sera, jujur deh sama kita! Kamu nggak bisa bohong terus!" Cika berbisik dengan nada mendesak, matanya menatap Seraphina dengan pandangan memohon sekaligus ingin tahu. "Ada apa sebenarnya antara kamu dan Tuan Orion? Apa jangan-jangan kalian diam-diam pacaran?"
Seraphina menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat hingga beberapa helai rambutnya berantakan. "Nggak! Sama sekali nggak pacaran! Aku berani sumpah! Aku cuma... aku cuma sedang menginap di rumah keluarganya karena suatu keadaan. Ibunya itu orang yang sangat baik, Cika. Benar-benar baik. Beliau yang memaksaku memakai baju-baju ini."
"Menginap? Berarti kamu tinggal di mansion Valentinus sekarang?!" Ciko bertanya dengan nada suara yang meninggi karena terkejut. "Sera, itu tempat yang berbahaya! Kamu tahu kan rumor tentang keluarga mereka?"
Seraphina mengangguk pelan dengan raut wajah yang tampak layu. "Iya, aku tinggal di sana sekarang. Ibunya Orion... Nyonya Giselle... beliau bilang ingin mengadopsiku secara resmi."
"MENGADOPSI?!" jeritan Cika dan Ciko kali ini benar-benar membuat seisi kantin menoleh ke arah mereka. Seraphina ingin sekali menghilang dari bumi saat itu juga.
"Sstt! Jangan berisik, kumohon!" Seraphina berbisik panik, tangannya memberikan isyarat agar mereka diam. "Iya, Nyonya Giselle itu merasa sangat kesepian karena dia tidak punya anak perempuan. Dia memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri. Dia janji akan memberikan perlindungan dan masa depan yang baik untukku."
"Tapi... tapi bagaimana dengan Tuan Orion?" Ciko menggantung kalimatnya, ia tahu reputasi Orion sebagai pria dingin yang tidak segan-segan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya. "Dia nggak melakukan sesuatu yang aneh padamu, kan?"
"Dia... dia baik kok. Cuma sering diam saja dan bicara kalau perlu," Seraphina mencoba meyakinkan, meskipun suaranya sendiri terdengar hampa dan ragu-ragu di telinganya sendiri.
Sementara itu, Orion yang masih berada di dalam mobilnya sambil memantau layar ponselnya, tersenyum miring. Ia melihat betapa kerasnya Seraphina berusaha membangun tembok kebohongan demi kebohongannya sendiri. Ia melihat bagaimana bibir tipis gadis itu bergerak meyakinkan teman-temannya yang cemas.
Narasi internal Orion terasa semakin gelap dan mendidih. "Kelinci kecil yang malang. Kau pikir kau bisa menyembunyikan kebenaran di balik kata 'adopsi'? Kau pikir kau bisa menipu dunia seolah-olah semuanya baik-baik saja? Tidak akan pernah. Setiap kata 'baik' yang keluar dari bibirmu adalah penghinaan bagi nafsu yang sudah aku tanam di dalam tubuhmu. Aku akan memastikan seluruh kampus ini tahu bahwa kau bukan sekadar anak angkat, melainkan jalang pribadiku yang akan aku gunakan sampai hancur. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi teman-temanmu saat mereka tahu bahwa setiap malam kau merintih di bawah tubuhku dengan memekmu yang basah dan bengkak karena gempuranku."
Tiba-tiba, ponsel Seraphina yang diletakkan di atas meja kantin bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar yang masih menyala. Nama pengirimnya membuat darah Seraphina seolah berhenti mengalir: Orion.
"Jangan lupa. Malam ini, kau harus makan malam bersamaku. Di ruang kerjaku. Ada hal yang sangat penting yang harus kita bicarakan secara pribadi. Sendiri tanpa ada gangguan siapapun."
Jantung Seraphina berdegup sangat kencang, suaranya terasa memekakkan telinganya sendiri. Pesan itu tidak terasa seperti ajakan, melainkan sebuah maklumat kematian bagi ketenangannya. Pesan itu seketika menghancurkan ilusi kenyamanan dan keamanan semu yang baru saja ia bangun di kampus. Ia menatap layar ponselnya dengan tangan yang mulai dingin, lalu secara refleks melirik ke arah luar gedung kantin, ke arah tempat mobil Orion terparkir.
Serigala itu masih ada di sana. Menunggu dengan sabar hingga waktu berburu tiba kembali.